Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan dingin siapa itu?
"Le… Seno… anak ibu…" Isaknya sambil mengguncang bahu anaknya pelan.
Beberapa ibu-ibu segera menghampiri mencoba menahannya.
"Sudah, Bu… sabar, Bu…"
Namun Bu Ranti seperti tidak mendengar.
Ia menatap wajah anaknya dengan mata penuh ketakutan.
"Kenapa begini, Le…? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu…?" Tangisnya yang pecah.
Ustadz Sakari menatap Pak Sugeng dan Bu Ranti dengan wajah penuh iba. Ia lalu menundukkan kepala sejenak, seolah memohon petunjuk dalam hati.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya kembali.
"Pak Sugeng." ucapnya pelan.
"Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kita meminta petunjuk kepada Allah."
Beberapa warga langsung memperhatikan dengan serius.
"Kita lakukan sholat istikharah." lanjut Ustadz Sakari.
"Semoga Allah memberi jalan keluar dan kemudahan untuk kita semua."
Pak Warsito mengangguk pelan.
"Iya, Ustadz. Mungkin itu yang terbaik."
Ustadz Sakari kemudian menoleh ke arah para pemuda yang masih berdiri di sekitar jenazah.
"Jaka… Udin…"
"Iya, Ustadz." Jawab Jaka.
"Untuk sementara kalian dan beberapa pemuda lain tetap di sini. Jaga jenazah Seno baik-baik."
Jaka dan Udin saling berpandangan sebentar, lalu mengangguk.
"Baik, Ustadz."
Ustadz Sakari lalu menoleh ke arah para lelaki yang lebih tua.
"Yang lain ikut saya ke masjid. Kita sholat dan memohon petunjuk."
Beberapa warga langsung berdiri.
Pak Warsito menepuk bahu Jaka sebelum berjalan keluar.
"Kalian jaga di sini, ya."
"Iya, Pak." Jawab Jaka.
"Ayo, Bu… sebaiknya kita juga sholat di dalam. Kita memohon petunjuk dari Gusti Allah." Ujar Bu Endah, istri Pak Warsito, dengan suara lembut.
Beberapa ibu-ibu lain mengangguk setuju. Mereka lalu perlahan membantu Bu Ranti yang masih terduduk lemah di lantai.
"Ayo, Bu, pelan-pelan." kata salah satu dari mereka sambil memapah lengannya.
Bu Ranti masih terisak. Tubuhnya gemetar ketika berdiri. Matanya masih tertuju pada wajah Seno yang terbaring kaku di atas tikar.
"Le… ibu tinggal sebentar ya…" Bisiknya lirih dengan suara patah.
Tangisnya kembali pecah, namun Bu Endah memeluknya pelan.
"Sabar, Bu. kita doakan Seno."
Dengan langkah pelan, para ibu membawa Bu Ranti masuk ke kamar untuk sholat bersama dengan ibu-ibu yang lain.
Tak lama kemudian, beberapa lelaki dewasa keluar dari rumah menuju masjid yang tidak jauh dari situ. Cahaya senter mereka perlahan menjauh di jalan desa yang gelap.
Kini rumah Pak Sugeng menjadi lebih sunyi.
Di ruang tamu, hanya tersisa Jaka, Udin, Daud, dan beberapa pemuda lain yang duduk mengelilingi jenazah Seno.
Lampu minyak bergoyang pelan. Tak ada yang banyak bicara.
Jaka duduk bersila tidak jauh dari tubuh Seno. Matanya beberapa kali menatap tubuh Seno, lalu segera ia alihkan pandangannya. Ada rasa tidak enak yang sulit ia jelaskan.
Udin duduk di sampingnya, sesekali mengusap kedua telapak tangannya yang dingin.
"Jak…" Bisik Udin pelan.
Jaka menoleh.
"Iya?"
Udin melirik ke arah tubuh Seno yang terbaring di atas tikar.
"Menurutmu, kenapa tadi tidak bisa diangkat?"
Jaka terdiam beberapa saat. Ia menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tahu, Din."
Daud yang duduk tidak jauh dari mereka ikut menyahut.
"Dari tadi, sebenarnya aku merinding." katanya pelan.
Ucapan itu membuat beberapa pemuda lain saling berpandangan.
Lampu minyak yang digantung di dinding berayun pelan tertiup angin dari celah jendela. Bayangannya bergerak-gerak di dinding rumah yang terbuat dari papan tua.
Di kejauhan terdengar suara anjing menggonggong panjang.
"Dengar itu?" Udin menelan ludah.
"Ah, paling anjing biasa," jawab Daud mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Namun tak lama kemudian.....
Krek…
Terdengar suara seperti papan kayu diinjak dari arah dapur.
Semua pemuda langsung menoleh bersamaan.
"Ada yang dengar?" bisik salah satu dari mereka.
Ruangan tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Jaka perlahan berdiri. Ia menoleh ke arah pintu dapur.
"Din… ayo lihat ke belakang."
Udin terlihat ragu, namun akhirnya ia ikut berdiri.
Perlahan mereka melangkah menuju pintu dapur.
Sesampainya di dapur, Jaka dan Udin berhenti sejenak. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada meja kayu, beberapa piring, dan ember air di sudut ruangan. Tidak ada siapa pun.
"Tidak ada apa-apa." Kata Udin.
"Mungkin cuma suara kayu rumah saja." Jaka mengangguk pelan.
Keduanya pun kembali berjalan menuju ruang tamu.
Namun baru beberapa langkah mereka duduk kembali.
Angin tiba-tiba bertiup cukup kencang dari arah jendela.
Lampu minyak yang tadi bergoyang pelan mendadak padam.
Plak!
Ruangan langsung tenggelam dalam gelap gulita.
"Eh! Lampunya mati!" seru salah satu pemuda.
Suasana langsung menjadi kelang-kabut. Beberapa pemuda berdiri panik, ada yang menabrak kursi, ada pula yang meraba-raba dinding.
"Mana korek api?"
"Dud, korekmu mana?" Tanya Udin dalam gelap.
"Ngaco kamu Din, minta korek ke aku, aku kan tidak merokok, mana mungkin bawa korek." Protes Daud.
"HP-ku di mana tadi?" Pemuda lain sibuk mencari hp mereka yang di letakkan sembarang tempat saat tadi mencoba mengangkat jenazah Seno.
"Aduh gelap sekali! Sep, korekmu mana Sep?" Tanya Jaka. Karena diantara mereka hanya Asep yang merokok.
"Aduh, sudah dua hari ini aku tidak punya korek Jak, selalu pinjam punya orang." Sahut Asep.
Dalam kegelapan tidak satu pun dari mereka yang ingat meletakkan ponsel mereka dimana.
Mendengar keributan itu, Jaka segera bersuara.
"Tenang! Tenang dulu!" Katanya tegas. "Jangan panik!"
Perlahan Jaka berdiri lalu meraba-raba meja di dekatnya.
"Cari apa saja yang bisa jadi penerang." Ujarnya.
Udin juga ikut meraba-raba udara di sekitarnya.
Namun tiba-tiba....
Tangannya menyentuh sesuatu.
Dingin.
Lembut… seperti tangan seseorang.
Udin langsung membeku.
"Jak…?" Bisiknya pelan.
"Ini kamu?"
"Bukan." Jawab Jaka dari arah lain.
Udin menelan ludah.
"Daud…?"
"Bukan aku." sahut Daud cepat.
Beberapa pemuda lain ikut bersuara.
"Bukan kami juga…"
Tubuh Udin langsung merinding.
Tangannya masih menyentuh tangan itu… yang terasa sangat dingin.
Perlahan.. jari-jari itu seperti bergerak sedikit menggenggam balik tangannya.
"Lalu... tangan siapa yang aku pegang ini…?" Tanya Udin dengan suara bergetar.
Ruangan yang gelap itu langsung terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun pemuda yang berani bergerak. Mereka hanya berdiri kaku di tempat masing-masing.
Udin masih membeku. Tangannya masih menyentuh tangan dingin itu. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Tiba-tiba......
Hhhhhh…
Sebuah hembusan napas terdengar tepat di dekat telinganya.
Tubuh Udin langsung merinding dari kepala sampai kaki.
Napasnya tercekat.
Dengan suara yang hampir tidak keluar, ia memanggil temannya.
"Jak…" Panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Udin menelan ludah.
"Jak…" panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Di sisi lain ruangan, Jaka masih sibuk meraba-raba meja dan dinding.
"Aku lagi cari penerang… sabar sebentar!" Jawabnya.
Namun suara Udin terdengar semakin panik.
"Jak… sepertinya ada yang berdiri di depanku…"
"Apa?" Jaka berhenti meraba-raba sejenak.
Suara Udin gemetar.
"Aku… aku sedang memegang tangannya."