Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Surat Panggilan Pulang
Musim berganti tanpa terasa.
Satu bulan telah berlalu sejak jatuhnya Duke Albrecht. Dan untuk pertama kalinya—Kerajaan Asterism benar-benar tenang.
Langit cerah membentang di atas ibu kota. Jalanan kembali ramai. Namun bukan oleh keributan—melainkan oleh kehidupan. Manusia dan beastman berjalan berdampingan. Tertawa. Berbicara. Bekerja.
Bekas luka konflik masih ada—namun kini hanya menjadi pengingat. Bukan pemisah.
Di distrik timur—bangunan yang dulu hancur kini berdiri kembali. Lebih kokoh. Lebih tertata. Para pekerja mengangkat bahan bangunan. Para pedagang kembali membuka lapak. Dan di tengah semuanya—suplai makanan mengalir stabil.
Berkat kerja keras Phino, Lyra, dan Risa.
“Oi, hati-hati bawa itu!”
“Tumpukannya jangan miring!”
“Distribusi ke sektor tiga jangan telat!”
Suara Phino terdengar seperti biasa. Santai. Namun jelas.
Risa berdiri di sampingnya, mencatat dengan cepat.
“Pengiriman besok sudah siap.”
Lyra mengangguk kecil.
“Gudang barat juga sudah aman.”
Phino menyeringai.
“Bagus. Kalau rakyat kenyang, setengah masalah dunia langsung hilang.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam istana—suasana juga berubah. Tidak lagi penuh tekanan. Tidak lagi penuh rapat darurat.
Namun—kesibukan tetap ada.
Di ruang kerja—Noa duduk di balik meja. Tumpukan dokumen masih tinggi. Namun ekspresinya jauh lebih tenang. Tangannya bergerak cepat. Rapih. Efisien.
“Distribusi minggu ini stabil…”
“Anggaran pembangunan meningkat…”
Ia menghela napas kecil.
“Akhirnya.”
Pintu terbuka pelan. Licia masuk. Langkahnya ringan. Namun tetap anggun.
“Masih bekerja?” tanyanya.
Noa melirik.
“Sudah kebiasaan.”
Licia tersenyum tipis.
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Noa mengangguk kecil. Namun matanya kembali ke dokumen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di balkon istana—Ferisu berdiri sendirian. Angin sore meniup rambut hitamnya perlahan. Tatapannya mengarah ke kota. Tenang. Namun dalam. Tangannya sedikit mengepal. Lalu dibuka.
Ia bisa merasakan—kekuatan itu. Kecil. Namun ada.
“Sedikit kembali.” Ia bergumam pelan.
Namun tidak cukup. Masih jauh dari apa yang dulu ia miliki. Dan ia tahu—alasannya. Ingatan itu muncul. Tentang sosok Dewi. Tentang syarat yang… konyol.
Ferisu menghela napas panjang. “Ciuman…”
Ia menutup wajahnya sebentar. Jelas sekali—ia tidak berniat membicarakan itu. Setidaknya untuk sekarang.
“Aku belum bisa melakukannya...” gumamnya.
Namun di balik itu—ia tahu. Cepat atau lambat—ia harus melakukannya.
.
.
.
Sore itu—seorang kesatria mengetuk pintu ruang santai.
“Permisi.”
Di dalam—Licia, Noa, dan Eliza sedang beristirahat.
“Masuk,” jawab Licia.
Kesatria itu melangkah masuk. Membungkuk.
“Surat untuk Anda, Nona Licia.”
Licia mengernyit sedikit.
“Untukku?”
Ia menerima surat itu. Dan—langsung menyadari sesuatu. Segel di surat itu—berbentuk pohon besar. Akar menjalar. Cabang menjulang. Simbol yang sangat familiar.
Noa sedikit terkejut. “Itu… lambang…”
Licia mengangguk pelan. “Ya.” Matanya menjadi serius. “Kerajaan elf…”
Eliza memiringkan kepala. “Elvengarden?”
Licia tidak menjawab. Namun tangannya sudah membuka segel itu. Perlahan. Hening menyelimuti ruangan. Saat ia mulai membaca—ekspresinya berubah. Dari tenang—menjadi serius.
Lalu—sedikit… berat.
Noa memperhatikan. “Apa isinya?”
Licia tidak langsung menjawab. Ia menurunkan surat itu perlahan. Menatap ke depan. Beberapa detik.
Lalu akhirnya—berbicara. “Aku dipanggil pulang.”
Sunyi.
Eliza berkedip. “Pulang?”
Noa mengernyit. “Perintah resmi?”
Licia mengangguk. “Ya.”
Tangannya menggenggam surat itu sedikit lebih erat. “Dari kerajaan Elvengarden.”
Di luar—angin bertiup lebih kencang. Membawa aroma hutan yang jauh. Seolah sesuatu—sedang memanggil.
Di balkon—Ferisu membuka matanya. Ia menoleh sedikit. Seolah merasakan sesuatu.
“Elf, ya…”
Di dalam ruang santai—Licia masih memegang surat itu. Tatapannya tidak goyah. Namun jelas—ini bukan sekadar undangan biasa.
Di bagian bawah surat—tertulis satu kalimat tambahan. Tulisan tangan. Bukan resmi. Namun jelas ditujukan hanya untuk Licia.
“Kembalilah segera.”
“Pohon Dunia… mulai layu.”
Mata Licia membesar sedikit. Untuk pertama kalinya—emosinya terlihat jelas. Khawatir. Dan di tempat yang jauh—di dalam hutan yang sangat luas—sebuah pohon raksasa berdiri.
Namun—daun-daunnya mulai gugur. Perlahan. Satu per satu. Pertanda—sesuatu yang tidak seharusnya terjadi—telah dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Asterism pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya.
Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, menyinari ruangan rapat yang kini hanya diisi oleh beberapa orang inti. Di tengah ruangan, Ferisu berdiri sambil menatap peta wilayah hutan yang terbentang di atas meja.
Hutan Elvengarden.
Tempat yang indah… sekaligus penuh ketegangan.
Ferisu menarik napas pelan, lalu akhirnya membuka suara.
“Aku sudah memutuskan siapa saja yang akan ikut.”
Semua yang ada di ruangan langsung memusatkan perhatian padanya.
“Yang ikut hanya… Licia, Reliza/Eliza… dan Anor.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“Hah?” Suara itu keluar hampir bersamaan dari dua orang.
Noa dan Erica. Keduanya langsung menatap Ferisu dengan ekspresi yang jelas tidak terima.
“Aku tidak ikut?” Noa menyilangkan tangan, alisnya mengernyit. “Serius?”
“Aku juga?” Erica menatap Ferisu dengan wajah tidak percaya. “Padahal aku bisa membantu!”
Ferisu menghela napas kecil. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa,” jelasnya tenang. “Ini wilayah elf. Kita harus menjaga kesan dan tidak membawa terlalu banyak orang.”
“Itu bukan alasan,” potong Noa cepat. Matanya menatap tajam. “Aku punya Maori yang bisa jadi bantuan besar.”
“Dan aku juga punya dua roh kontrak!” tambah Erica, sedikit meninggikan suara. “Aku juga tidak akan jadi beban!”
Ferisu menatap mereka berdua.
Ia tidak membantah.
Karena mereka benar.
Namun—
“Justru karena itu,” ucapnya pelan, “aku butuh kalian di sini.”
Keduanya terdiam sejenak.
“Situasi Asterism memang sudah stabil,” lanjut Ferisu, “tapi itu bukan berarti aman sepenuhnya.”
Ia melirik ke arah jendela, seolah melihat sesuatu yang jauh.
“Setelah kejadian dengan Duke Albrecht… kita tidak tahu siapa lagi yang bergerak di balik layar.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Aku butuh seseorang yang bisa menjaga wilayah ini jika sesuatu terjadi.”
Noa terdiam.
Erica menggigit bibirnya.
Mereka tahu…
Itu masuk akal.
Tapi tetap saja—
“Tetap saja tidak adil,” gumam Erica pelan.
Di sudut ruangan, Reliza, saat ini dia sudah membuat kesepakatan dengan Eliza dimana mereka akan secara bergantian dalam mengendalikan tubuh.
Mendengar dua orang itu tidak terima dengan keputusan Ferisu, akhirnya membuka suara.
“Berisik.”
Semua mata langsung tertuju padanya.
Ia menatap Noa dan Erica dengan tatapan datar.
“Kalau kalian ikut, malah akan merepotkan.”
“—Apa katamu?” Erica langsung bereaksi.
Noa juga menyipitkan mata.
Namun Reliza hanya mendengus kecil.
“Aku sudah cukup untuk melindunginya.”
Nada suaranya dingin.
Tapi jelas.
Ferisu hanya bisa menghela napas kecil melihat itu.
“Aku tidak setuju,” kata Noa tegas. “Ini bukan soal siapa yang lebih kuat.”
“Benar!” Erica mengangguk. “Ini soal—”
Ia berhenti sejenak.
Wajahnya sedikit memerah.
“Soalnya... kita juga ingin ada di sana...”
Ruangan kembali hening.
Kali ini, Ferisu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap mereka berdua.
Lalu—tersenyum tipis.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya.
Noa dan Erica langsung menoleh cepat.
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku memberi kompensasi?”
“Kompensasi?” ulang Noa.
Ferisu mengangguk.
“Selama beberapa hari sebelum keberangkatan… aku akan meluangkan waktu khusus untuk kalian berdua.”
Erica berkedip.
Noa menyipitkan mata sedikit.
“Waktu khusus… maksudnya?”
Ferisu tersenyum tipis, sedikit canggung.
“Berdua. Secara bergantian.”
Sunyi.
Lalu—wajah Erica langsung memerah total.
“B-berdua!?”
Noa juga tampak sedikit terkejut, meski mencoba tetap tenang.
“Kau serius?”
Ferisu mengangguk.
“Iya.”
Jawabannya sederhana.
Tapi cukup untuk—menghentikan perdebatan.
Erica menunduk, menutup sebagian wajahnya.
“Kalau begitu… aku tidak keberatan.”
Noa menghela napas kecil.
Lalu tersenyum tipis.
“Baiklah. Aku akan menerimanya.”
Reliza yang melihat itu mendecakkan lidahnya pelan.
“Menyebalkan.”
Namun ia tidak protes lebih jauh.
Keputusan akhirnya ditetapkan.
Tim kecil yang akan menuju Elvengarden:
Ferisu
Licia
Eliza / Reliza
Anor
Sementara—Noa dan Erica tetap di Asterism.
Namun dengan satu janji. Waktu yang hanya untuk mereka.
Ferisu menatap peta sekali lagi.
Hutan Elvengarden menunggunya.
Dan tanpa ia sadari—perjalanan ini bukan hanya tentang diplomasi.
Tapi juga—awal dari konflik yang jauh lebih besar.
...ARC BARU DIMULAI — ELVENGARDEN...