Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab spesial : Di balik mihrab kesabaran (Perspektif gus Haidar)
Malam di Pesantren Al-Fatih bukan sekadar ketiadaan cahaya; ia adalah ruang tunggu yang sunyi bagi mereka yang sedang berdialog dengan Tuhan. Gus Haidar duduk bersila di atas sajadah usangnya, tepat di bawah lengkungan mihrab masjid yang sudah berusia ratusan tahun. Di depannya, lilin kecil menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari sela ventilasi kayu. Keadaan sudah sangat larut, namun matanya tetap terjaga, sebagaimana hatinya terjaga selama dua puluh tahun ini. Di sekelilingnya, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali dipecahkan oleh suara kayu bangunan yang memuai atau detak jam dinding kuno yang suaranya menggema laksana detak jantung waktu.
Haidar membuka sebuah kotak kayu kecil dari pohon jati yang diletakkan di samping tempat sujudnya. Di dalamnya, tersimpan selembar surat lama dari Ayah Zayna dan sebuah foto kecil yang tepiannya sudah mulai terkoyak. Di foto itu, Zayna masih berusia lima tahun, mengenakan gaun putih dengan bando merah, sedang tertawa lebar di sebuah taman di Jakarta. Itulah satu-satunya jendela Haidar untuk melihat sosok yang kelak akan menjadi separuh jiwanya—sebuah wajah polos yang belum tersentuh oleh debu kota dan hiruk-pikuk ambisi.
"Ya Rabb," Haidar berbisik, suaranya parau menembus sunyi, mengalun di antara pilar-pilar masjid yang dingin. "Dulu aku bertanya-tanya, mengapa Engkau menitipkan amanah seberat ini di pundakku? Mengapa aku harus mencintai seseorang yang bahkan belum mengenal sujud? Apakah aku sedang mengejar bayang-bayang yang akan hilang saat matahari terbit, atau sedang menanti fajar yang tak kunjung datang?"
Haidar teringat hari pertama Zayna menginjakkan kaki di pesantren. Saat itu, hatinya seperti dihantam ombak besar yang menghancurkan karang ketenangannya. Ia melihat Zayna bukan sebagai wanita yang cantik secara fisik semata, tapi sebagai jiwa yang sedang berteriak meminta pertolongan di balik topeng kemarahan yang dipakainya dengan rapi. Zayna datang dengan aroma parfum kota yang kuat, kontras dengan bau tanah dan zikir yang mengendap di Al-Fatih. Ketika Zayna memaki-makinya, menyebut pesantren ini sebagai penjara yang menyesakkan, Haidar tidak merasa marah. Ia justru merasakan perih yang mendalam di dadanya. Perih karena ia tahu betapa lelahnya Zayna harus berpura-pura kuat dan membenci segalanya hanya untuk menutupi kerapuhan hatinya.
Selama Zayna menjalani masa "asing" di awal kepindahannya, Haidar seringkali menghabiskan malam dengan berdiri di depan jendela Ndalem, menatap lampu kamar Zayna yang masih menyala hingga fajar menyingsing. Ia tahu Zayna menangis. Ia tahu Zayna merindukan kebebasan semu dan gelak tawa di Jakarta. Namun Haidar juga tahu satu rahasia alam: bahwa untuk menjadi permata yang paling berkilau, tanah yang membungkusnya harus dikikis habis dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia adalah pengamat yang sabar, yang tidak akan menginterupsi proses Tuhan dalam menempa jiwa manusia.
"Cinta bagiku bukan tentang bagaimana ia memandangku dengan penuh kekaguman," Haidar menuliskan catatan di pinggiran kitabnya dengan tangan yang sedikit gemetar oleh emosi. "Cinta adalah bagaimana aku memandangnya melalui pandangan kasih sayang Sang Pencipta. Jika Allah yang Maha Tinggi saja Maha Pemaaf dan menunggu hamba-Nya kembali, siapa aku, makhluk tanah yang fana ini, yang berani menghakimi atau merasa lebih suci dari masa lalunya? Aku mencintainya bukan karena siapa dia di mata dunia, tapi karena aku ingin menjadi jalan baginya untuk menemukan kembali rumah sejatinya."
Haidar memejamkan mata, membiarkan memori membawanya pada momen-momen saat ia secara diam-diam menghubungi rekan-rekan alumninya di Jakarta. Ia menggerakkan jaringan yang ia miliki tanpa suara. Para jaksa yang dulu pernah mengaji padanya, para polisi yang menghormati ayahnya, hingga para pengusaha yang ia bimbing nuraninya—semuanya ia minta untuk menjadi mata dan telinga bagi Zayna. Haidar menjadi tembok yang tak terlihat, sayap yang tak nampak yang melingkupi Zayna saat ia berjuang di belantara Jakarta. Baginya, kebahagiaan sejati bukanlah saat Zayna memujinya, melainkan saat ia melihat Zayna bisa sujud dengan tenang di atas sajadah, tanpa pernah tahu bahwa ada seorang laki-laki yang telah menyerahkan seluruh waktu tidurnya dan mempertaruhkan segala doanya demi satu momen kedamaian sujud tersebut.
Haidar mencium foto masa kecil Zayna itu, lalu menyimpannya kembali dengan takzim. Ia menyadari bahwa perjalanannya menjaga Zayna adalah sebuah "riyadhah" atau latihan spiritual yang paling tinggi. Melalui keras kepalanya Zayna, Haidar belajar arti sabar. Melalui noda masa lalu Zayna, Haidar belajar arti murni. Dan melalui kembalinya Zayna ke pelukannya, Haidar belajar bahwa Allah tidak pernah ingkar pada hamba yang berpegang teguh pada tali-Nya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp