sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini jantung bukan rollercoaster
Di keramaian pesta yang sederhana itu Laluna duduk bersama Ibu Rahayu,Laila dan Dandy mengawasi Azka yang ternyata suka sekali dengan bola basket, hadiah dari Laluna yang biasa biasa saja menjadi hadiah teristimewa diantara hadiah hadiah mewah lainnya, memang semua hadiah belum di buka tetapi hadiah dari Laluna di bukanya lebih dulu dan di tenteng kesana kemari, sampai ibu Rahayu dan yang lainnya geleng geleng kepala.
"Dia suka sekali basket, hobi nya sama dengan Abi nya". kata ibu Rahayu dan sekarang Laluna baru sadar bahwa salah satu hobi boss besar itu adalah basketball.
Dari kejauhan seseorang datang dengan di gandeng oleh seorang wanita, ya laki laki itu bukannya menggandeng tapi di gandeng terlihat dari mimik sang laki-laki yang kelihatan tidak enak hati dan risih, sementara di belakang keduanya sang asisten tengah membawa kue ulang tahun dan buket berupa jajanan anak kecil coklat dan biskuit.
"Hallo Azka sayang, selamat ulang tahun ya, ini Tante belikan hadiah buat kamu bahkan di mobil masih banyak Azka tinggal pilih". Suara wanita yang dibuat buat dan di manja manja lebay membuat Azka menoleh sekilas dan tetap bermain dengan basketball nya, ketika wanita itu pingin memeluk dan mencium Azka mendorongnya hingga wanita yang tengah duduk jongkok mengimbangi nya itu jatuh terjengkang ke belakang dengan sepatu hell nya yang terlalu tinggi menjadikan duduknya kurang balance hingga daleman nya kelihatan, semua mata yang memandang memalingkan muka karena malu, dan tentang wanita itu tentu saja dia malu bukan kepalang, Fadli memandang putranya bukan nya melarang malah mengacungkan dua jempolnya.
Sementara wanita yang ternyata Salwa itu lari ke dalam, Bu Rahayu yang memang seorang ibu yang sangat keibuan dan netral ,baik sama siapa saja bergegas menyusul Salwa ke dalam untuk menghibur nya, dan Laluna yang melihat dan mengenali wanita itu bergumam " si wanita muka plastik?" gumamnya dan di dengar oleh Dandy dan Laila.
"Siapa kak?' tanya Laila.
"Ah enggak, wanita itu tadi siapa, istri baru kakakmu?" tanya Laluna balik.
"Bukan lah, itu namanya Salwa, sepupu uminya Azka dia tergila gila dengan bang Fadli tapi bang Fadli menganggapnya adik ,sebetulnya risih juga Abang sama wanita itu tetapi dia selalu mengejar tak kenal waktu dan tempat, dasar muka tembok". Cibir Laila sambil berdecak tak respect.
"Dia bukan muka tembok, tapi muka plastik ". Bisik Luna di telinga Laila, dan keduanya tertawa ngikik , dasar gadis² dimana pun juga sama saja kalau sudah ketemu species nya pasti akan julid.
Hasan dan Fadli mendekati Laluna dan yang lainnya setelah tadi masuk sebentar untuk ganti baju santai, pesona dari laki-laki macho itu sungguh perfect membuat mata kaum wanita sayang untuk sekedar berkedip, dengan memakai celana bahan berwarna hitam dan kaos lengan pendek berkerah warna coklat membuat tangan kekar Fadli terlihat berotot dan bulu bulu halus yang tumbuh di kulitnya yang putih membuat siapapun menelan ludah melihatnya, tubuh kekarnya yang tanpa lemak membuat Laluna terperangah sejenak sebelum kemudian dia sadar diri dimana saat ini berada, Fadli duduk begitu saja di dekat sofa yang di duduki Luna dan berbisik lirih, "kenapa? Terpesona ya?" bisiknya penuh percaya diri.
"Ah enggak biasa saja" jawab Luna dengan jantung yang berputar macam rollercoaster seakan ingin melompat keluar apalagi mencium bau harum parfum maskulin yang dipakai Fadli membuatnya sungguh lupa sejenak bahwa dirinya adalah Laluna sang gadis ksatria gagah berani berubah melankolis jadi gadis kecil yang manis dan lugu, dan untuk menutupi kegugupannya Laluna membuka tasnya, ini juga kesempatan baginya untuk mengembalikan kartu yang di berikan oleh Hasan tempo lalu.
"oh ya bang, ini aku kembalikan kartunya, aku nggak tahu sama sekali ketika memberiku kartu saat itu ada satu kartu ATM di antaranya, aku langsung memasukkan ke dalam tas begitu saja.
Azka mendekat dan mencium Abi nya, tapi dia malah bergelayut dan duduk di pangkuan Laluna.
"Kak Luna main basket yuk di belakang". Ajaknya, Fadli dan Hasan saling bertatapan, Azka yang introvert dan pendiam tak mau di sentuh siapapun kenapa malah peluk peluk gadis ini?.
"Nanti ya sayang, setelah Azka tiup lilin lalu kita main, sekarang tamunya masih banyak dan teman teman azka juga masih banyak tuh?" Luna memberi pengertian pada cowok imut itu.
"Janji ya nanti kita main?" tagihnya.
"iya kakak janji". Jawab Luna dan mereka saling menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda Syah nya perjanjian mereka, harus di tepati kalau tidak salah satunya bisa di tuntut.
"ini kartu memang kuberikan ikhlas buatmu Luna, pakailah sesukamu aku rela". Fadli menyerahkan kembali kartu gold itu ke tangan Luna.
"Saya tak terbiasa menerima pemberian tanpa alasan, atau alasan karena balas budi? Itu tak masuk dalam kamus saya, pertolongan yang ku berikan pada siapapun tanpa meminta imbalan, karena saya suka menolong ,tolong hargai itu". Jawaban Laluna membuat Fadli makin kagum pada gadis dua puluh lima tahun itu, Fadli tak memaksa, mungkin lain kali dia bisa memberikan hadiah Laluna sebuah mobil misalnya ketika Luna ulang tahun, padahal tak tahu saja Fadli ketika kemarin dapat hadiah mobil roll ROYCE malah di uangkan oleh Laluna, dan hasil dari penjualan itu untuk memperluas bisnisnya.
Ketika Luna menyerah kan kartu dan Fadli ingin menerimanya seorang wanita tiba tiba menyerobot kartu tersebut sambil ngomong kalimat yang tak pantas di ucapkan apalagi di hadapan banyak orang.
"Sini berikan padaku kartunya, ini adalah kartu tunangan ku, tentunya aku yang berhak memakai nya, oh jadi kamu si miskin yang tadi cari gara gara denganku? Apa kamu merasa pantas masuk ke dalam rumah keluarga Aslan meskipun sebagai tamu,o aku tahu pasti kamu tukang bersih bersih dan pelayan yang di bayar umi untuk membersihkan tempat ini kan, tempatmu di dapur bukan disini kampungan!" cerocos Salwa, dan membuat Fadli kehilangan muka dan 'plakk' Fadli yang sebenarnya anti menyentuh wanita dengan kekerasan itu menampar wajah Salwa meski tak sepenuh tenaga tetapi membuat muka plastik Salwa memerah, Luna takut jika sampai muka itu meleleh, tamparan itu Fadli lakukan ketika mendengar ucapan Salwa yang benar-benar keterlaluan jadi membuat akal sehatnya hilang.
"ada apa nak?" tanya ibu Rahayu yang sebenarnya sudah jengah ketika Salwa datang pasti hanya ingin membuat huru hara.
" Umi, wanita kere itu tadi yang meludahi mukaku ku di mall, dan ternyata dia adalah seorang pelakor yang akan merebut bang Fadli dari Salwa ". Teriak Salwa mengadu pada Bu Rahayu, padahal sudah beribu kali Bu Ayu tak suka di panggil Umi tapi si Salwa ini memang bandel tak menghargai keinginan orang.
Fadli, Hasan dan Laila menahan tawa dengan menutup mulut mereka berbarengan ketika Salwa bercerita bahwa dia di ludahi mukanya oleh Luna, betapa jijik dan tak ada anggun anggunnya meludah di muka orang.
"Sudah saat ini Salwa pulang dulu ya, kasihan Azka di hari ulang tahun kamu malah bikin huru hara, lain kali main kesini lagi tapi sekarang pulang, Hasan antar dia pulang dulu nak". Perintah Bu Ayu, Hasan yang di panggil dengan cekatan membawa Salwa pergi, sementara Salwa dengan mata tajamnya melotot kearah Laluna, Laluna tak gentar sama sekali malah bilang "mau aku ludahin lagi ". Ejek Luna, membuat semua orang dewasa tertawa dan Salwa jiper berlalu dari tempat pesta itu tak lupa Laila merebut kembali kartu ATM yang berada di tangan salwa.
@@$@@