"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN PERTAMA
Malam itu, Catharina bekerja sangat larut di ruang kerjanya, menyelesaikan rilis pers yang akan dipublikasikan besok. Lucian ada di sana, duduk di sofa sambil membaca dokumen untuk memastikan semua fakta sudah benar.
"Catharina, ada kesalahan ketik di paragraf ketiga," ujarnya sambil menunjuk dengan jari.
"Mana? Oh, iya betul. Terima kasih." Catharina memperbaiki kesalahan itu dengan cepat.
Mereka bekerja dalam keheningan untuk beberapa menit, yang entah mengapa terasa nyaman. Lalu Lucian tiba-tiba berkata:
"Kamu tahu, di tengah semua kekacauan ini, aku kadang lupa bahwa kita seharusnya sedang merencanakan pernikahan kita." Ia berseloroh dengan terkekeh geli namun keseriusan yang tersedia dari nadanya.
Catharina berhenti mengetik sejenak dan menatap Lucian dengan ekspresi bersalah yang kentara. "Ya Tuhan. Kamu benar, pernikahan kita. Aku benar-benar belum menyentuh apa pun yang berhubungan dengan persiapan pernikahan."
"Aku tahu. Kita berdua terlalu sibuk dengan perang politik ini."
"Lucian, aku minta maaf. Ini seharusnya waktu yang bahagia untuk kita, tapi malah..." ucapnya sendu namun belum sempat ia berkata lagi, Lucian berdiri dan berjalan ke arah Catharina kemudian mengangkatnya dari kursi dengan lembut dan membawanya ke sofa untuk duduk di pangkuannya.
"Dengarkan aku," ujarnya sambil menatap mata Catharina dengan penuh cinta. "Aku tidak mengeluh sama sekali. Aku mengerti situasinya. Apa yang kita lakukan sekarang sangat penting. Pernikahan bisa ditunda. Tapi berjuang untuk masa depan kerajaan? Itu tidak bisa menunggu."
"Tapi kamu pantas mendapat lebih dari tunanganmu yang terlalu sibuk bahkan untuk sekedar memikirkan gaun pengantin."
Lucian tertawa hangat dan mencium kening Catharina dengan lembut. "Aku punya tunangan yang cemerlang, berani, dan berjuang untuk kebenaran. Itu jauh lebih dari yang bisa aku minta. Gaun pengantin bisa dipilih nanti. Tapi karakter? Itu permanen dan jauh lebih penting."
Catharina memeluk Lucian dengan sangat erat. "Oh Lucian... aku sangat, sangat mencintaimu." Nadanya terdengar begitu nyaring dan girang. Inilah yang dia butuhkan, laki-laki yang mengerti akan kondisi dan situasi, bukan hanya menghakimi dan mementingkan dirinya sendiri.
Lucian sedikit terkekeh mendengar suara tunangan nya yang begitu riang."Aku juga sangat, sangay mencintaimu. Dan bagaimana kalau nanti kita gabungkan pernikahan kita dengan perayaan kemenangan setelah Cassian menang?"
Catharina tertawa. "Itu ide yang bagus dan sangat optimis."
"Aku punya keyakinan penuh. Dengan kamu yang memimpin strategi, Cassian pasti menang."
Mereka kemudian duduk di sana, saling berpegangan erat, mengambil kenyamanan dari kehadiran satu sama lain di tengah badai yang sedang mengamuk.
***
Keesokan harinya, saat pertemuan terbuka pertama Cassian dimulai di alun-alun pusat, ratusan orang datang memenuhi tempat itu. Ada yang benar-benar penasaran tentang visi Cassian, ada yang datang karena makanan gratis yang disediakan, ada juga yang datang karena diutus Alexander untuk membuat kerusuhan.
Cassian berdiri di podium sederhana yang didirikan di tengah alun-alun. Victoria, Seraphina, Catharina, dan Lucian berdiri di samping sebagai dukungan moral. Penjaga dalam penyamaran tersebar di seluruh kerumunan dengan waspada.
"Warga kerajaan," Cassian memulai dengan suara yang tegas tapi hangat. "Terima kasih sudah datang hari ini. Aku tahu banyak dari kalian mendengar rumor tentang konflik perebutan tahta yang tengah terjadi. Tentang perbedaan antara aku dan kakakku, Pangeran Alexander."
Kerumunan bergeming, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku tidak di sini untuk menjelek-jelekkan kakakku. Aku di sini untuk berbagi visi yang aku miliki untuk kerajaan kita. Visi tentang kerajaan di mana setiap warga, tanpa memandang kelahiran atau jenis kelamin, punya kesempatan untuk berkembang. Visi tentang kerajaan di mana pemerintah melayani rakyat, bukan rakyat yang melayani pemerintah."
Beberapa orang di kerumunan mengangguk setuju, ada yang mulai bertepuk tangan.
Tapi tiba-tiba, seorang pria di tengah kerumunan berteriak dengan keras. "Mudah sekali bicara tentang visi! Tapi bagaimana dengan skandal orang-orang yang mendukungmu? Seperti Lady Catharina yang berselingkuh dengan Marquess Lucian?!" Nadanya begitu meyakinkan dengan sarkasme yang menonjol.
Mendengar itu, kerumunan menjadi sangat riuh. Ini jelas provokator yang ditanam dari kubu Alexander.
Tapi sebelum Cassian bisa merespons, Catharina melangkah maju ke podium dengan langkah yang sangat mantap. Buku-buku tangannya mengepal karena emosi, tapi dia harus tetap tenang.
"Aku Lady Catharina von Elsworth," ujarnya dengan suara yang sangat lugas dan tegas. "Dan aku ingin menanggapi rumor itu secara langsung di sini."
Kerumunan kembali hening, penuh rasa ingin tahu.
"Rumor bahwa aku berselingkuh dengan Marquess Lucian sebelum membatalkan pertunangan dengan Duke Raphael adalah kebohongan total yang dibuat-buat. Aku punya dokumentasi lengkap yang menunjukkan garis waktu yang sangat tepat. Aku bertemu Marquess Lucian secara resmi untuk pertama kalinya SETELAH aku sudah secara resmi menyatakan niat untuk membatalkan pertunangan."
Catharina mengeluarkan dokumen tebal dari tasnya dan mengangkatnya tinggi agar semua orang bisa melihat.
"Ini semua terdokumentasi dengan saksi dan tanggal yang jelas. Siapa pun yang ingin memverifikasi bisa datang dan memeriksa sendiri. Aku tidak menyembunyikan apa pun."
"Tapi kenapa kamu membatalkan pertunangan dengan Duke?!" teriak provokator yang sama dengan suara yang lebih keras.
"Karena kami tidak saling mencintai. Dan aku percaya dengan sepenuh hati bahwa pernikahan harus didasarkan pada cinta dan penghormatan yang tulus, bukan hanya karena pengaturan politik semata. Aku menolak menghabiskan hidupku dalam pernikahan tanpa cinta hanya untuk mempertahankan aliansi politik."
Beberapa wanita di kerumunan mulai bertepuk tangan dengan antusias. Mereka sangat bisa merasakan perjuangan Catharina.
"Dan itulah mengapa aku mendukung Pangeran Cassian dengan sepenuh hati," lanjut Catharina dengan penuh semangat. "Karena dia percaya pada prinsip yang sama. Dia percaya bahwa orang, termasuk perempuan, harus punya kebebasan dalam hidup mereka sendiri. Bahwa kita harus punya pilihan, punya kesempatan, punya suara yang didengar."
Tepuk tangan yang lebih ramai kali ini, jauh lebih keras dari sebelumnya.
Provokator mencoba berteriak lagi, tapi suaranya tenggelam oleh tepuk tangan yang terus berkumandang, wajahnya terlihat kesal.
Cassian tersenyum dengan sangat berterima kasih kepada Catharina, lalu melanjutkan dengan pidatonya tentang kebijakan spesifik yang akan dia terapkan.
Pertemuan terbuka berlanjut selama hampir tiga jam dengan Cassian menjawab pertanyaan dari warga. Ada yang skeptis, ada yang mendukung penuh, tapi secara keseluruhan suasananya sangat positif.
***
Saat pertemuan terbuka berakhir, mereka semua naik kereta untuk kembali ke rumah aman. Semua terlihat sangat lelah tapi puas dengan hasil yang dicapai.
"Itu berjalan dengan sangat baik," ujar Victoria sambil meregangkan tubuhnya yang pegal.
"Berkat Catharina yang dengan cemerlang menangani provokator itu," ujar Cassian dengan penuh kekaguman. "Aku hampir menjadi defensif, tapi kamu mengubahnya menjadi momen yang sangat kuat."
"Politik dasar," jawab Catharina dengan senyum kecil. "Jangan pernah menyia-nyiakan krisis yang baik. Ubah serangan menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesanmu."
Tiba-tiba, kereta berhenti dengan sangat mendadak dan keras. Semua yang ada di dalam terlempar ke depan dengan tidak terkendali.
Brak! Brak!
"Apa yang terjadi?!" seru Seraphina dengan panik.
Kusir berteriak dari luar dengan suara yang penuh ketakutan."Yang Mulia, Ada penghalang jalan! Ada orang..."
Suaranya terpotong dengan bunyi yang sangat mengkhawatirkan.
Lucian langsung berdiri dan menghalangi Catharina dengan seluruh tubuhnya. Cassian melakukan hal yang persis sama untuk melindungi Victoria dan Seraphina.
Pintu kereta tiba-tiba dibuka dengan sangat dipaksa sampai engselnya hampir lepas. Di luar, ada lima orang bertopeng dengan senjata tajam yang berkilau di cahaya senja.
"Keluar semua. Sekarang juga!" perintah salah satu dari mereka dengan suara yang sangat kasar dan mengancam.
Ini adalah serangan yang sangat nyata.
Dan mereka semua dalam bahaya yang besar.
***
BERSAMBUNG