NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Jaring yang mengetat

Malam di kediaman Bramasta selalu memiliki aura yang sama: megah, dingin, dan kedap suara.

Sejak kepulangan paksa Aluna siang tadi dari kampus, atmosfer di rumah itu terasa jauh lebih berat, seolah-olah oksigen di dalamnya telah ditarik keluar oleh dominasi pria yang kini duduk di ujung meja makan.

Ruangan itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal yang menggantung kaku, namun bagi Aluna, dinding-dingin berbahan marmer itu seolah bergerak merapat, menjepitnya dalam keheningan yang sangat menyiksa.

Aluna menunduk, memandangi potongan wagyu steak di piring porselennya yang masih utuh. Lemak daging yang mahal itu kini mulai membeku, memutih di pinggiran piring, sama seperti perasaan Aluna yang membeku sejak kaki melangkah masuk ke rumah ini.

 Pikirannya kalut. Rasa takut yang hebat saat Anwar mengatakan ada "keadaan darurat" masih menyisakan getaran di dadanya.

Ia telah berlari masuk ke rumah dengan air mata bercucuran, membayangkan hal terburuk menimpa "Daddy"-nya—kecelakaan mobil, serangan jantung, atau apa pun yang bisa merenggut satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Pria itu sehat, bugar, dan sedang menyesap wiski seolah-olah ketakutan Aluna adalah sebuah pertunjukan komedi yang layak dinikmati dengan santai.

"Kau tidak menyentuh makananmu, Aluna. Apa koki melakukan kesalahan?" Suara bariton Bram memecah keheningan. Nadanya tenang, namun mengandung tuntutan yang tidak bisa dibantah.

Aluna tersentak kecil. Ia mendongak, menatap wajah pria yang selama ini menjadi pusat dunianya. Wajah itu tetap tampan dengan rahang tegas yang maskulin, namun mata elang itu malam ini tampak lebih gelap, seperti sumur tanpa dasar yang siap menelan siapa pun yang menatapnya terlalu lama.

 Cahaya lampu lilin di atas meja memantul di bola matanya, memberikan kilatan predator yang sangat berbahaya.

"Aku... aku hanya tidak lapar, Daddy. Perutku masih terasa mual karena kejadian tadi siang," jawab Aluna jujur, suaranya sedikit bergetar.

Ia meletakkan garpunya dengan tangan yang lemas. "Aku benar-benar mengira sesuatu terjadi padamu. Aku hampir gila di jalan tadi, memikirkan bagaimana jika aku tidak sempat melihatmu lagi."

Bram meletakkan gelas wiskinya dengan perlahan. Bunyi denting kaca yang beradu dengan meja marmer terdengar sangat nyaring di ruang makan yang sunyi itu.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mahoni, menatap Aluna dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin bersembunyi.

"Mual karena takut kehilangan aku? Atau mual karena aku mengganggu waktu berhargamu dengan pria bernama Rio itu?"

Pertanyaan itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran. Aluna terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

"Daddy, aku sudah bilang, Rio hanya teman. Dia hanya bertanya tentang tugas manajemen. Tidak ada yang lain. Kami hanya bicara di tempat umum, di kafetaria yang ramai."

Bram tertawa kecil, sebuah suara yang kering dan tanpa humor. Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja makan yang sangat panjang itu.

Langkah kakinya yang berat beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang mengancam, seolah-olah waktu sedang dihitung mundur menuju sebuah hukuman.

Ia berhenti tepat di belakang kursi Aluna.

Tangannya yang besar dan hangat mendarat di bahu Aluna, meremasnya lembut namun kuat.

Jari-jarinya yang panjang menyentuh kulit leher Aluna yang terbuka, membuat gadis itu merinding seketika. Aluna bisa merasakan kekuatan di balik tangan itu, sebuah kekuatan yang bisa melindunginya sekaligus menghancurkannya dalam sekejap.

"Teman tidak menatapmu seolah kau adalah satu-satunya oksigen di ruangan itu, Aluna. Teman tidak mencoba mencondongkan tubuhnya hingga napasnya bisa mengenai wajahmu," bisik Bram tepat di telinga Aluna.

Hawa napasnya yang beraroma mint dan alkohol mahal menerpa kulit Aluna, memberikan sensasi antara rasa aman yang akrab dan ketakutan yang asing.

"Bagaimana Daddy tahu dia mencondongkan tubuh? Daddy tidak ada di sana," tanya Aluna spontan, menoleh sedikit ke arah Bram dengan wajah bingung.

Bram tidak menjawab secara langsung. Ia justru meraih tangan kiri Aluna, mengangkat pergelangan tangan yang melingkar gelang emas putih inisial 'B' itu ke depan wajah Aluna.

Di bawah cahaya lampu, berlian di gelang itu berkilau sangat indah, memantulkan cahaya pelangi yang menyilaukan mata.

"Aku tahu segalanya tentangmu, Sayang. Bahkan saat kau menarik napas panjang karena bosan di kelas, aku tahu. Kau tidak perlu bercerita, karena aku bisa merasakan detak jantungmu dari sini," ujar Bram sambil mengusap permukaan dingin gelang itu dengan ibu jarinya.

Aluna merasa hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia mengira itu hanya ungkapan puitis tentang betapa Bram memperhatikannya, tanpa menyadari bahwa sebuah microchip dan mikrofon sensitif sedang bekerja di dalam perhiasan itu.

Baginya, gelang itu adalah janji kebebasan, namun bagi Bram, itu adalah borgol yang tak kasat mata.

"Mulai besok," lanjut Bram dengan nada yang lebih tegas, "Aku meningkatkan protokol keamananmu. Anwar tidak akan lagi menunggumu di gerbang kampus. Dia akan berada di lobi gedung fakultasmu, berdiri tepat di depan pintu setiap kelas yang kau masuki. Tidak ada lagi jalan-jalan sendirian ke perpustakaan atau kafetaria."

"Apa?! Tapi Daddy janji kalau aku jadi anak baik, aku boleh bebas!" protes Aluna, keberaniannya muncul sejenak.

"Jika Anwar berdiri di depan pintu kelas, semua orang akan menatapku seperti aku ini tawanan atau anak kecil! Aku akan kehilangan teman-temanku, Daddy! Mereka akan takut mendekatiku!"

"Teman yang mana? Rio?" Bram memotong dengan suara yang meninggi satu oktaf.

Ia melepaskan tangan Aluna dan berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada, menatap Aluna dari ketinggian yang mengintimidasi.

"Aku membatalkan janji itu saat kau membiarkan pria lain masuk ke ruang pribadimu. Kau gagal menjaga batasan yang aku minta, Aluna. Kau menyalahgunakan kepercayaanku hanya dalam hitungan jam."

"Itu hanya percakapan lima menit tentang pelajaran, Daddy! Kenapa kau jadi sekejam ini?" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Aluna. Rasa frustrasi mulai membakar dadanya.

"Kekejaman adalah saat aku membiarkanmu hanyut dalam pergaulan yang salah dan membiarkan pria-pria tak berguna itu menyentuhmu, Aluna. Apa yang aku lakukan sekarang adalah perlindungan mutlak," balas Bram dingin.

"Dan satu lagi. Mulai malam ini, ponselmu akan disinkronkan secara otomatis dengan komputer kerjaku. Setiap pesan masuk, setiap panggilan, bahkan setiap foto yang kau ambil, akan masuk ke penyimpananku secara real-time. Aku tidak ingin ada 'sampah' yang mengganggu fokus belajarmu."

Aluna membelalakkan mata. "Itu berlebihan! Itu privasiku! Aku sudah dewasa, aku mahasiswa!"

Bram menatapnya dengan pandangan yang membuat keberanian Aluna menciut seketika. Matanya berkilat penuh otoritas yang tak tergoyahkan.

"Di rumah ini, kata 'dewasa' tidak berlaku jika kau masih menggunakan fasilitas dariku, memakai baju dari uangku, dan tidur di bawah atapku. Kau adalah tanggung jawabku, Aluna. Dan aku tidak akan membiarkan investasiku dirusak oleh lingkungan kampus yang terlalu bebas."

Investasi. Kata itu menghujam jantung Aluna lebih dalam daripada kecemburuan Bram. Selama ini ia merasa disayangi sebagai seorang anak, atau mungkin sebagai seorang wanita yang dicintai secara mendalam.

Tapi mendengar kata 'investasi', ia merasa seperti barang koleksi yang hanya dijaga nilainya agar tidak jatuh. Ia merasa seperti lukisan mahal yang harus dikunci di dalam lemari kaca agar tidak terkena debu.

"Aku bukan barang, Daddy," bisik Aluna dengan suara serak, nyaris tak terdengar.

Bram menyadari perubahan raut wajah Aluna.

Ia berjalan mendekat lagi, kali ini ia berlutut di samping kursi Aluna agar mata mereka sejajar. Ia menghapus air mata yang mulai jatuh di pipi Aluna dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah kontras yang membingungkan antara tindakan dan perkataannya.

"Kau bukan barang, Aluna. Kau adalah duniaku. Dan aku tidak akan membiarkan duniaku hancur hanya karena seorang mahasiswa rendahan yang tidak punya masa depan. Kau mengerti? Aku melakukan ini karena aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku ingin menjagamu tetap murni."

Aluna hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan dirinya ditarik ke dalam pelukan Bram yang hangat namun terasa seperti penjara. Dominasi Bram terlalu besar untuk dilawan oleh gadis semuda dia.

Ia tenggelam dalam wangi parfum kayu cendana milik Bram, sebuah aroma yang biasanya menenangkan namun kini terasa seperti asap yang menyesakkan paru-parunya.

Malam semakin larut. Aluna sudah kembali ke kamarnya, namun tidurnya tidak nyenyak. Ia berbaring miring, menatap gelang di tangannya yang berkilau di bawah lampu tidur yang remang-remang.

Entah kenapa, gelang itu kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Gelang itu seolah-olah memiliki beban satu ton yang menahan tangannya agar tidak bisa bergerak bebas.

Ia mencoba mencari pengait untuk melepasnya, berniat untuk meletakkannya sejenak di atas nakas agar tangannya merasa ringan.

Namun, tidak ada celah sedikit pun. Sambungan emas putih itu sangat halus, seolah-olah telah menyatu dengan kulit dan tulang pergelangan tangannya.

Sementara itu, di lantai bawah, ruang kerja Bram masih menyala benderang. Pria itu duduk di depan tiga monitor besar yang menampilkan grafik frekuensi suara yang sangat stabil. Ia mengenakan earpiece nirkabel di telinga kanannya.

Srekk... srekk...

Suara gesekan kain sprei sutra di kamar Aluna terdengar sangat jelas di telinganya. Bram bisa mendengar setiap desahan napas Aluna yang gelisah.

Ia bahkan bisa mendengar isakan kecil yang sesekali keluar dari bibir gadis itu saat dia terlelap sesaat lalu terbangun lagi.

Bram tersenyum kemenangan, sebuah senyuman yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada dunia.

"Coba saja, Aluna. Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kau adalah bagian dari diriku sekarang," gumamnya pelan.

Ia kemudian membuka sebuah folder rahasia di komputernya. Isinya adalah rekaman pembicaraan Aluna dan Rio tadi siang yang tertangkap dengan jernih oleh transduser di dalam gelang tersebut.

Ia memutar bagian saat Rio mengajak Aluna ke sebuah seminar.

"Ayolah, Luna. Hanya dua jam. Lagipula, kau butuh melihat dunia luar, bukan cuma rumah dan kampus saja..."

Bram meremas gelas wiskinya hingga buku jarinya memutih, urat-urat di tangannya menonjol penuh kemarahan.

"Dunia luar adalah racun untukmu, Aluna. Dan aku adalah satu-satunya penawar yang kau butuhkan."

Bram meraih ponselnya dan melakukan panggilan singkat ke Anwar yang sedang berjaga di pos depan.

"Anwar. Mulai besok pagi, pastikan tidak ada satu pun mahasiswa pria yang duduk dalam radius dua meter dari Aluna di dalam kelas. Gunakan cara apa pun. Jika perlu, beli semua kursi di sekitarnya melalui pihak dekanat. Dan pastikan Rio mendapatkan 'peringatan' pertama malam ini juga agar dia tahu dengan siapa dia sedang berurusan."

"Dimengerti, Tuan Besar. Semuanya akan beres sebelum fajar."

Bram mematikan ponselnya. Ia kembali menyandarkan tubuh di kursi kulitnya, menutup mata, dan menikmati suara napas Aluna yang mulai teratur melalui earpiece-nya.

Baginya, memantau Aluna adalah candu yang lebih kuat dari wiski mana pun. Ia tidak akan berhenti sampai Aluna benar-benar menyerah pada kehendaknya, sampai gadis itu menyadari bahwa di dunia ini, tidak ada tempat yang lebih aman atau lebih baik selain berada di bawah kuasa Bramasta.

Besok adalah hari baru dalam eksperimen kendalinya. Bram belum akan muncul di kampus secara langsung. Ia ingin memberikan tekanan perlahan-lahan, seperti air yang mendidih secara bertahap.

Ia ingin Aluna merasa terisolasi, merasa aneh, hingga akhirnya Aluna sendiri yang akan merasa asing dengan dunianya dan memohon kepada Bram untuk menjemputnya dan membawanya pulang ke rumah—satu-satunya tempat di mana Aluna diperbolehkan merasa "bebas" selama ia tetap berada di bawah pengawasan matanya.

Di kegelapan kamarnya, Aluna tidak sadar bahwa gelang di tangannya baru saja memancarkan lampu merah kecil yang sangat redup dan singkat—tanda bahwa sinkronisasi data 24 jam baru saja dimulai kembali. Jaring-jaring emas itu kini telah benar-benar menjeratnya, dan pintu sangkar itu telah dikunci rapat-rapat oleh pria yang ia panggil 'Daddy'.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!