NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - Merasa Kehilangan

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, udara yang masuk dari jendela besar ruang makan membawa hawa yang lebih segar namun juga sedikit menusuk. Alyssa sudah berada di sana lebih awal, duduk dengan tenang di kursinya, secangkir teh hangat di depannya sementara uap tipis masih terlihat naik perlahan. Di samping piringnya, sebuah buku tipis terbuka rapi, menandakan bahwa ia sudah cukup lama berada di tempat itu.

Penampilannya tetap sederhana seperti biasa, tidak ada yang berlebihan, tidak ada usaha untuk menarik perhatian siapa pun. Namun cara ia membawa dirinya terasa berbeda, lebih tenang dari sebelumnya, seolah tidak lagi dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Ada jarak yang tidak terlihat, tetapi cukup jelas untuk dirasakan oleh siapa pun yang memperhatikan.

Daren masuk beberapa menit kemudian dengan langkah mantap yang sudah menjadi kebiasaannya. Wajahnya tetap tenang, ekspresinya sulit ditebak seperti biasanya, tetapi matanya langsung menemukan satu sosok yang kini tanpa sadar selalu menarik perhatiannya.

Alyssa.

Ia duduk tidak jauh darinya, tetapi terasa sangat jauh dengan cara yang sulit dijelaskan. Daren menarik kursi di seberangnya, suara gesekan kayu terdengar pelan di ruangan yang tidak terlalu ramai, cukup untuk membuat Alyssa mengangkat pandangan sekilas.

Hanya sekilas.

Setelah itu, ia kembali pada bukunya tanpa menunjukkan reaksi lain. Tidak ada sapaan yang diberikan, tidak ada perubahan dalam sikapnya, seolah kehadiran Daren tidak membawa arti khusus.

Hal kecil itu membuat sesuatu di dalam diri Daren terasa tertahan, seperti ada reaksi yang tidak bisa ia keluarkan dengan mudah. Ia mengambil cangkir kopi di depannya, menyeruputnya pelan sebelum akhirnya membuka percakapan dengan nada yang terdengar biasa.

“Kamu bangun lebih pagi.”

Alyssa menutup bukunya perlahan, memberi jeda sebelum menjawab tanpa mengangkat emosi dalam suaranya.

“Iya.”

Satu kata yang cukup untuk menjawab, tanpa tambahan apa pun. Daren menunggu beberapa detik, seolah berharap ada kalimat lain yang menyusul, tetapi tidak ada.

Ia menghela napas kecil yang hampir tidak terdengar, lalu mencoba lagi.

“Ada rencana hari ini?”

Alyssa menatapnya sebentar, matanya tenang tanpa menunjukkan keinginan untuk memperpanjang percakapan.

“Tidak ada. ”

Jawaban itu terdengar formal, bukan seperti percakapan biasa antara dua orang yang tinggal dalam satu rumah. Daren sedikit mengernyit, merasa ada jarak yang semakin jelas terasa.

“Aku hanya bertanya.”

Alyssa tidak langsung menjawab, ia menyesap tehnya lebih dulu sebelum akhirnya berkata dengan nada yang tetap sama.

“Dan saya sudah menjawab.”

Kalimat itu tidak terdengar kasar, namun cukup jelas menunjukkan batas yang ia jaga. Daren terdiam, menyadari bahwa percakapan itu tidak akan berkembang lebih jauh.

Keheningan yang tersisa terasa lebih berat daripada pertengkaran, karena tidak ada emosi yang bisa ditanggapi. Alyssa kembali membuka bukunya dan melanjutkan membaca, sementara Daren hanya duduk tanpa benar-benar menikmati kopi yang ada di tangannya.

---

Hari itu, Alyssa menghabiskan waktunya di perpustakaan kecil yang jarang digunakan oleh anggota keluarga lain. Ia memilih tempat di dekat jendela, membiarkan cahaya matahari masuk melalui tirai tipis dan jatuh lembut di atas meja tempat ia duduk.

Ia membaca dengan fokus, halaman demi halaman berlalu tanpa terganggu. Tidak ada kegelisahan dalam gerakannya, tidak ada tanda bahwa ia menunggu sesuatu seperti dulu.

Dulu, tanpa ia sadari, ia sering memperhatikan waktu, berharap Daren pulang lebih cepat atau setidaknya melewati tempat di mana ia berada. Sekarang, waktu berjalan tanpa arti seperti itu, dan ia hanya menjalani hari seperti biasa tanpa mengaitkannya dengan siapa pun.

Langkah kaki terdengar di ambang pintu, cukup jelas di tengah suasana yang tenang. Alyssa tidak langsung menoleh, karena ia sudah tahu siapa yang datang.

Daren berdiri di sana beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju pada Alyssa yang tetap duduk di tempatnya.

“Kamu di sini.”

Alyssa menutup bukunya, menandai halaman yang ia baca dengan hati-hati.

“Iya.”

Daren berjalan mendekat, tetapi tidak langsung duduk. Ia berdiri di samping meja, seolah mencari alasan untuk tetap berada di sana tanpa terlihat jelas.

“Aku mencari kamu.”

Kalimat itu keluar tanpa banyak pertimbangan. Alyssa mengangkat kepala, menatapnya dengan ekspresi yang tetap tenang.

“Ada keperluan apa?”

Pertanyaan itu terdengar formal, seperti percakapan antara dua orang yang tidak memiliki kedekatan. Daren terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

“Tidak ada hal khusus.”

Alyssa mengangguk kecil.

“Kalau begitu, saya ingin melanjutkan membaca.”

Ia membuka bukunya kembali tanpa menunggu respon. Sikap itu tidak memberi ruang untuk percakapan tambahan, seolah kehadiran Daren tidak cukup untuk mengubah apa yang sedang ia lakukan.

Daren tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di depannya. Gerakan itu membuat Alyssa kembali menutup bukunya, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih fokus.

“Ada sesuatu?”

Nada suaranya tetap sama, tidak dingin, tetapi juga tidak hangat. Daren menatapnya beberapa detik, seolah mencari kata yang tepat.

“Kamu terlihat berbeda.”

Alyssa tidak langsung menjawab.

“Setiap orang bisa berubah.”

“Bukan seperti itu maksudku.”

Alyssa menunggu, tetapi Daren tidak segera melanjutkan. Ia sendiri tidak yakin bagaimana menjelaskan apa yang ia rasakan.

“Aku hanya melihat kamu sekarang.”

Kalimat itu terdengar jujur, tetapi juga terlambat. Alyssa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang tetap tenang.

“Saya selalu ada di sini.”

Jawaban itu sederhana, namun maknanya jelas dan sulit diabaikan. Daren terdiam, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Alyssa sudah berdiri dari kursinya.

“Saya ada urusan lain.”

Ia membawa bukunya dan melangkah pergi tanpa terburu-buru. Daren tidak menghentikannya, hanya duduk di tempatnya, memperhatikan punggung Alyssa yang semakin menjauh.

Perasaan itu kembali muncul, lebih jelas dari sebelumnya.

---

Sore hari, taman belakang kembali menjadi tempat yang tenang dengan angin yang berhembus pelan di antara pepohonan. Alyssa duduk di bangku yang sama, kali ini sendirian, buku di tangannya terbuka meskipun matanya sesekali tidak fokus pada halaman.

Langkah kaki mendekat, suara kerikil yang terinjak membuat kehadiran seseorang tidak bisa disembunyikan. Alyssa tidak langsung menoleh, karena ia sudah mengenali langkah itu.

Daren berdiri beberapa langkah darinya, tidak langsung duduk.

“Alyssa.”

Namanya dipanggil dengan nada yang lebih rendah dari biasanya. Alyssa menutup bukunya perlahan sebelum akhirnya menoleh.

“Iya.”

Daren mendekat sedikit.

“Bisa bicara sebentar?”

Alyssa mengangguk kecil, tetapi ia tetap duduk di tempatnya. Daren akhirnya duduk di bangku yang sama dengan jarak yang cukup, menjaga ruang yang tidak ia sadari kini menjadi penting.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hanya suara angin yang terdengar di sekitar mereka.

“Aku ingin memperbaiki beberapa hal.”

Alyssa menatap ke depan, tidak langsung memberikan reaksi.

“Hal seperti apa?”

“Yang terjadi sebelumnya.”

Alyssa mengangguk pelan, seolah memahami maksudnya tanpa perlu penjelasan panjang.

“Aku mungkin salah menilai kamu.”

Kalimat itu terdengar berat, tidak mudah diucapkan. Namun Alyssa tetap tenang, tidak menunjukkan perubahan ekspresi.

“Dan sekarang?”

Daren menoleh.

“Sekarang aku ingin mengubah itu.”

Alyssa akhirnya menatapnya, pandangannya lurus dan sulit dibaca.

“Kamu tidak perlu.”

Jawaban itu keluar tanpa ragu, membuat Daren terdiam sejenak.

“Kita tidak perlu mengubah apa pun.”

“Alyssa—”

“Hubungan kita jelas.”

Kalimat itu memotong dengan tegas, meskipun nadanya tetap tenang. Daren tidak melanjutkan, ia hanya menunggu.

“Kita hanya terikat pernikahan. Tidak lebih.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan tenang, tetapi terasa berat. Tidak ada emosi berlebihan dalam suara Alyssa, hanya kejelasan yang tidak memberi ruang untuk salah paham.

Daren menatapnya tanpa segera bereaksi, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Namun ekspresi Alyssa tidak berubah, tetap sama seperti sebelumnya.

“Alyssa…”

Namun Alyssa sudah berdiri.

“Saya tidak ingin membahas ini lagi.”

Ia memegang bukunya dan melangkah pergi tanpa ragu. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru, seolah keputusan itu sudah lama ada dalam pikirannya.

Daren tetap duduk di sana, sendirian.

---

Senja mulai turun perlahan, warna langit berubah dari terang menjadi lebih redup. Namun Daren masih berada di tempat yang sama, tidak bergerak sejak Alyssa pergi.

Pikirannya terasa kosong, tetapi juga penuh dengan hal-hal yang sulit ia susun dengan rapi. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, tidak hilang meskipun ia mencoba mengabaikannya.

Ia tahu itu adalah kenyataan yang seharusnya tidak mengejutkan. Namun tetap saja, ada sesuatu yang terasa tidak tepat.

Daren menunduk, tangannya mengepal pelan tanpa ia sadari. Ia mengingat kembali semua hal yang pernah terjadi, setiap sikap dan kata yang ia berikan pada Alyssa.

Ia melihat perubahan itu dengan lebih jelas sekarang, dari seseorang yang dulu berusaha mendekat menjadi seseorang yang kini memilih menjaga jarak. Perubahan itu tidak terjadi tiba-tiba, tetapi perlahan, tanpa ia sadari.

Ia berdiri akhirnya, langkahnya terasa lebih berat saat ia berjalan kembali ke dalam rumah. Ada perasaan yang mulai muncul dengan jelas, tidak besar, tetapi cukup untuk membuatnya tidak nyaman.

Bukan sesuatu yang bisa langsung dijelaskan.

Namun cukup untuk membuatnya merasa kosong.

Sesuatu yang dulu selalu ada tanpa ia sadari, sesuatu yang dulu ia abaikan begitu saja. Kini, hal itu tidak lagi berada di tempat yang sama, dan jarak yang terbentuk terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke belakang, tetapi pikirannya tetap tertinggal di taman itu.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!