Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Gangguan Kecil
Satu jam pertama, Gaby masih antusias memperhatikan bagaimana kakaknya bekerja. Emrys di balik meja jati raksasanya adalah pemandangan yang mengintimidasi sekaligus memukau. Suaranya saat berbicara di telepon beralih dari bahasa Inggris ke Jerman, lalu ke Prancis. Terdengar sangat berwibawa.
Namun, memasuki jam kedua, antusiasme Gaby menguap. Suasana ruangan itu terlalu sunyi, hanya diinterupsi oleh ketukan jemari Emrys di atas keyboard atau suara sapaan sopan sekretarisnya yang masuk mengantarkan dokumen.
Gaby menghela napas panjang, sengaja dikeraskan agar kakaknya sadar ada makhluk hidup lain di ruangan itu.
"Kak, aku bosan," gumam Gaby, kakinya berayun-ayun di sofa kulit.
Emrys tidak mendongak. "Read a book, Gaby. Or use your iPad," jawabnya datar.
"Sudah. Aku sudah menamatkan tiga bab novel. Aku ingin jalan-jalan di kantor ini. Gedung ini punya kantin yang bagus, kan?"
Emrys menghentikan ketikannya sejenak, melirik Gaby dari balik kacamata bacanya. "No. Stay here. Terakhir kali aku membiarkan orang sepertimu berkeliaran di kantin, dia berakhir memicu alarm kebakaran karena mencoba membuat kopi sendiri."
"Itu kan Keytlon! Aku bukan dia!" Gaby beranjak dari sofa dan menghampiri meja Emrys. Ia bersandar di tepian meja, menatap tumpukan berkas yang terlihat sangat membosankan. "Setidaknya beri aku sesuatu untuk dilakukan. Aku bisa jadi asistenmu? Menyusun jadwal? Atau menghancurkan kertas-kertas ini?"
Emrys menatap sepupunya yang kini memasang wajah memelas. Ia tahu Gaby tidak akan diam jika tidak diberi kesibukan. Dengan helaan napas menyerah, Emrys menarik sebuah folder tebal berwarna biru dari tumpukan berkasnya.
"Fine. Here," Emrys menyodorkan folder itu. "Ini adalah laporan riset pasar untuk koleksi fashion musim gugur anak perusahaan kita. Baca dan beri aku ringkasan poin-poin pentingnya dalam dua halaman. Jika hasilnya bagus, aku akan membawamu makan siang di The Shard."
Mata Gaby berbinar. The Shard? Restoran mewah di gedung tertinggi di London? Itu tawaran yang tidak bisa ditolak.
"Oke! Tantangan diterima, Mr. Managing Director!" Gaby menyambar folder itu dan kembali ke sofanya dengan semangat baru.
Emrys kembali fokus pada layarnya, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia sengaja memberikan laporan tentang fashion karena ia tahu itu adalah bidang yang Gaby sukai. Di tengah kesibukannya yang menyesakkan, melihat Gaby yang kini tampak serius mencatat sambil sesekali mengerutkan kening karena istilah bisnis yang sulit, memberikan rasa hangat yang asing di dada Emrys.
Diam-diam, Emrys mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat pada asisten pribadinya.“Book a table for two at Oblix, The Shard. 1 PM sharp. And make sure they have the best view.”
.
.
Tepat pukul satu siang, mereka sudah duduk di Oblix, The Shard. Dari lantai 32, seluruh keindahan London terbentang di bawah kaki mereka. Sungai Thames yang meliuk perak, katedral St. Paul yang megah, hingga gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti miniatur dari balik dinding kaca raksasa.
"Nilai laporanmu... lumayan," ujar Emrys sembari menyesap air mineralnya. "Analisis kumu tentang tren Douyin makeup yang memengaruhi penjualan lipstik di Asia Tenggara cukup tajam. Tidak buruk untuk seorang pemula."
Gaby tersenyum bangga, memotong wagyu steak-nya dengan ceria. "Lumayan? Itu jenius, Kak! Akui saja kau butuh asisten sepertiku di Kaito Group."
Emrys baru saja akan membalas dengan sindiran tajam khasnya, namun gerakannya terhenti. Matanya beralih ke arah pintu masuk restoran. Seorang wanita dengan gaun blazer berwarna putih gading dan sepatu hak tinggi berujung runcing melangkah mendekat. Rambut pirang gelapnya tertata rapi, dan sebuah tas Birkin tersampir elegan di lengannya.
"Emrys? I thought that was you!" suara wanita itu terdengar sangat berkelas, dengan aksen British yang lebih kental dan formal daripada milik Keytlon.
Emrys segera berdiri, sebuah gestur sopan santun yang jarang ia tunjukkan sembarangan. "Diva. Good afternoon."
Wanita itu melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai kayu restoran yang mewah. Berbeda dengan ekspektasi Gaby, tidak ada kecupan di pipi atau gestur akrab lainnya.
Diva Smith. Ia hanya mengulurkan tangan yang terawat rapi, memberikan jabatan tangan formal yang singkat namun penuh penekanan. Emrys menyambutnya dengan sopan santun yang kaku, gestur khasnya yang selalu menjaga jarak aman dari siapa pun yang mencoba masuk ke ruang pribadinya.
"Mr. Kaito. A pleasure to see you in such a... scenic setting," ucap Diva dengan aksen London yang tajam dan profesional. Suaranya terdengar seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah di ruang rapat.
Matanya yang tajam kemudian beralih, terkunci pada Gaby yang masih memegang garpu di udara. Diva menatap Gaby dari atas sampai bawah, seolah sedang memindai setiap detail dari penampilan gadis itu dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
"And who might this be, Emrys? I don't recall seeing her on your schedule for today," tanya Diva, sudut bibirnya terangkat sedikit, namun matanya tetap dingin dan analitis.
Emrys segera berdiri tegak, tangannya secara instan berada di belakang kursi Gaby, sebuah gerakan protektif yang sangat halus.
"Diva, perkenalkan ini Gabriella Queensa Vanessa, adik sepupuku. Dia baru saja tiba dari Indonesia untuk melanjutkan studinya di Oxford," jelas Emrys dengan nada suara yang kembali ke mode 'Managing Director'. "Gaby, ini Diva Smith. Rekan bisnis sekaligus konsultan strategis untuk proyek ekspansi Kaito Group di Eropa Utara."
Gaby menelan potongan dagingnya dengan cepat, sedikit merasa terintimidasi oleh aura wanita di depannya. "Halo, saya Gaby. Senang bertemu denganmu, Miss Smith."
Diva tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi di meja sebelah, memutarnya sedikit agar bisa menghadap ke arah mereka. "Oxford, eh? A bold choice for someone who looks so... delicate. Are you sure you're ready for the British winter, Gabriella?"
Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tapi Gaby bisa merasakan ada sedikit nada meremehkan di sana.
Emrys, yang menyadari perubahan suasana meja makan itu, segera memotong. "Gaby lebih tangguh dari kelihatannya, Diva. Dan hari ini adalah waktu pribadiku bersamanya sebelum aku kembali ke kantor."
Diva tertawa kecil, suara tawanya kering. "Of course. Family first, as always. But since I'm already here, maybe we could quickly discuss the Nordic contract? Your secretary said you were 'unavailable', but seeing as you're just having dessert..."
Gaby melirik Emrys. Ia bisa melihat rahang kakaknya mengeras. Di satu sisi, Diva adalah rekan bisnis yang sangat penting, tapi di sisi lain, Emrys sudah berjanji pada Gaby.
Gaby meletakkan garpunya dengan denting pelan di atas piring porselen, lalu ia menyandarkan tubuhnya ke arah Emrys. Wajahnya yang tadi antusias kini berubah menjadi lesu, matanya dibuat sayu seolah tenaganya baru saja habis tersedot oleh suasana restoran yang dingin.
"Kak Emrys..." rengek Gaby dengan nada manja yang sengaja dikeraskan agar Diva bisa mendengarnya dengan jelas. Ia meraih lengan jas charcoal Emrys dan mengguncangnya pelan. "Aku tiba-tiba pusing sekali. Mungkin aku belum terbiasa dengan suasana kota ini."
Emrys menoleh, alisnya bertaut heran. Ia tahu persis sepupunya ini baru saja menghabiskan steak dengan lahap lima menit yang lalu. Namun, saat melihat kerlingan mata Gaby yang tersembunyi dari pandangan Diva, Emrys langsung menangkap sinyal itu.
"Is everything alright, Gaby?" tanya Emrys, suaranya melembut. Perubahan nada yang membuat Diva Smith mengangkat sebelah alisnya dengan heran.
"Ayo pulang, Kak? Aku lelah sekali, ingin istirahat di penthouse saja. Kepalaku benar-benar berat," lanjut Gaby sembari menyandarkan kepalanya di bahu Emrys, benar-benar mengabaikan keberadaan Diva.
Diva berdeham, mencoba mengembalikan otoritasnya di meja itu. "Emrys, kontrak Nordic ini hanya butuh sepuluh menit dari waktumu. Kita bisa menyelesaikannya sembari menunggu bill datang."
Emrys melirik Diva, lalu kembali menatap Gaby yang masih berakting lemas di bahunya. Baginya, kenyamanan keluarganya selalu berada di atas angka-angka kontrak, sedingin apa pun citranya di kantor.
"Mohon maaf, Diva. Seperti yang kau lihat, kondisi adik sepupuku lebih mendesak sekarang," ucap Emrys sembari meraih kartu kreditnya dari dompet kulit. "Kirimkan drafnya ke asistenku. Kita bahas di ruang rapat besok pagi pukul delapan tajam. Tidak ada pengecualian."
Diva tampak tertegun. Ia tidak menyangka seorang Managing Director yang gila kerja seperti Emrys akan membatalkan diskusi penting demi "pusing" seorang remaja. "Well... if you say so, Mr. Kaito. I'll see you tomorrow then."
Diva berbalik dengan langkah kaki yang terdengar kesal, meninggalkan aroma parfumnya yang tajam di udara. Begitu sosok Diva menghilang di balik pintu lift, Gaby langsung menegakkan tubuhnya dan tersenyum lebar tanpa dosa.
"Wah, aktingku bagus juga ya?" goda Gaby riang.
Emrys hanya menggelengkan kepala, namun tangannya tetap merapikan rambut Gaby yang sedikit berantakan. "Kau benar-benar licik, Gaby. Tapi ya sudah, ayo kita pulang sebelum kau benar-benar pusing karena terlalu banyak bicara."
Meskipun mulutnya berkata begitu, Emrys tidak melepaskan rangkulannya di pundak Gaby saat mereka berjalan keluar menuju mobil. Ia merasa sedikit lega karena punya alasan untuk menghindari Diva siang ini.