NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Grand Palais — Pertempuran Terakhir

Kubah kaca Grand Palais yang megah berkilauan di bawah langit Paris yang biru pucat. Di dalamnya, ratusan kursi beludru terisi oleh elit finansial Eropa, menteri perdagangan Prancis, dan barisan jurnalis yang siap menerkam setiap kata.

Zerya berdiri di belakang panggung, mengenakan gaun sutra hitam yang tajam, sangat kontras dengan latar belakang panggung yang serba putih. Tangannya dingin, namun matanya tetap fokus pada layar monitor yang menampilkan Javian di atas panggung.

Javian tampil dengan ketenangan seorang pria yang sudah menerima takdirnya. Ia tidak memulai dengan angka pertumbuhan. Ia memulai dengan keheningan.

"Delapan tahun lalu, saya melakukan kesalahan besar di Praha," suara Javian menggelegar, jernih tanpa ragu.

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Napas Zerya tertahan.

"Demi menyelamatkan Talandra dari kebangkrutan, saya mengakuisisi sebuah laboratorium bioteknologi tanpa lisensi penuh dan memanipulasi laporan audit awal," lanjut Javian. Di layar raksasa di belakangnya, dokumen audit yang selama ini disembunyikan Bram muncul. "Saya berdiri di sini hari ini bukan untuk membela diri, tapi untuk membersihkan Talandra dari masa lalu saya. Saya menyerahkan pengunduran diri saya sebagai CEO efektif setelah presentasi ini berakhir, dan saya telah menyerahkan diri saya sepenuhnya kepada otoritas Prancis untuk diproses secara hukum."

Kehebohan pecah. Jurnalis berdiri, lampu kilat kamera membutakan. Javian baru saja melakukan seppuku korporat di depan dunia.

Namun, di barisan depan, Aldric Omerly berdiri. Ia tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum.

"Langkah yang sangat dramatis, Javian," suara Aldric terdengar lewat mikrofon yang sudah ia siapkan. "Kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan gadismu? Tapi sayangnya, kebenaran tidak sesederhana itu."

Aldric memberi kode, dan layar raksasa itu tiba-tiba berubah. Sebuah video muncul. Itu Bram, wajahnya tampak memar, duduk di sebuah ruangan gelap.

"Zerya Omerly yang merencanakan semuanya," ucap Bram dalam video itu. "Dia yang memalsukan data insider trading untuk menjebak ayahnya sendiri demi mendapatkan kendali atas Omerly Group lewat bantuan Talandra."

Zerya merasa dunianya berputar. Aldric baru saja memutarbalikkan fakta, mengubah Zerya menjadi penjahat licik yang mengkhianati darah dagingnya sendiri.

Aldric menatap ke arah belakang panggung, tepat ke arah di mana ia tahu Zerya berada. "Kau pikir kau bisa menang melawanku, Zerya? Kau hanyalah cerminan dari diriku. Dingin dan haus kekuasaan."

Javian masih berdiri di panggung, ia menatap Aldric, lalu menoleh ke arah sayap panggung. Matanya mencari Zerya. Bukan dengan pandangan panik, tapi dengan anggukan kecil. Waktunya.

Zerya melangkah keluar dari balik panggung. Ia tidak membawa mikrofon. Ia hanya membawa sebuah map merah. Di sampingnya, dua pria bersetelan gelap dari Brigade Financière (Kepolisian Finansial Prancis) mengikutinya.

"Ayah," suara Zerya terdengar tanpa bantuan alat pengeras suara, namun entah bagaimana, ruangan itu mendadak hening. "Kau benar tentang satu hal. Aku memang cerminanmu. Karena itu, aku tahu persis di mana kau menyimpan berkas suap asli untuk proyek reklamasi yang kau lakukan bulan lalu di Marseille."

Zerya menyerahkan map merah itu langsung kepada perwira polisi di depannya, tepat di depan wajah Aldric yang mulai memucat.

"Video Bram itu direkam di bawah tekanan," ucap Zerya, suaranya kini stabil. "Tapi dokumen di tangan polisi ini memiliki tanda tangan basahmu yang tidak bisa kau bantah. Selamat tinggal, Papih. Kali ini, tidak ada jalan pulang ke Singapura."

Polisi tersebut melangkah maju. "Monsieur Omerly, Anda ikut kami."

Di atas panggung, Javian turun dan berjalan mendekati Zerya. Di tengah kekacauan penangkapan Aldric dan hancurnya karier Javian, mereka berdiri bersisian.

"Kau melakukannya," bisik Javian.

"Kita melakukannya," jawab Zerya.

Javian menatap kerumunan jurnalis yang mulai mengerubungi mereka. "Saham Talandra akan hancur besok pagi. Dan saya mungkin akan dipenjara beberapa bulan."

"Saya akan menunggu," ucap Zerya tegas.

"Dan saya akan memastikan Talandra tetap berdiri sampai Anda kembali."

Javian tersenyum—kali ini senyum yang benar-benar sampai ke matanya. "Kalau begitu, mari kita hadapi badai ini bersama."

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!