NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan di Balik Jubah

Debu dan serpihan batu runtuh dari langit-langit perpustakaan bawah tanah, menciptakan tirai gelap yang menyelimuti pertarungan antara Subosito dan Pasukan Panglimunan.

Cahaya emas dari punggung Subosito sesekali menyambar, menyingkapkan siluet para pembunuh yang bergerak seperti hantu.

Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah kekuatan baru muncul.

Sosok berpakaian abu-abu yang tadi sempat menghentikan gerak lawan dengan kekuatan tasbihnya kini berdiri tenang di antara jajaran rak buku.

Subosito menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan energi emasnya yang bergejolak. Saat sosok itu menurunkan tudungnya, jantung Subosito seolah berhenti berdetak. Bukan karena ketakutan, melainkan karena terkejut sekaligus bingung.

“Selo Tumiwo?” bisik Subosito.

Selo Tumiwo, adalah seorang murid senior di Padepokan Gagak Hitam. Salah satu dari sedikit orang yang berhasil meloloskan diri ketika api Garuda Paksi meluluhlantakkan padepokan itu.

Namun, wajahnya kini tidak lagi penuh dengan dendam yang membara seperti sisa-sisa pengikut Gagak Hitam lainnya. Selo Tumiwo tampak lelah, dengan memutar mata yang menyimpan rahasia kelam.

“Kau terkejut melihatku hidup, Subosito?” Selo Tumiwo melangkah maju, tasbih di tangannya masih memancarkan getaran energi biru yang aneh. "Atau kau lebih terkejut lagi, mengetahui bahwa orang yang kamu anggap penyelamat sebenarnya adalah dalang dari seluruh penderitaanmu?"

Dyah Ayuwangi menatap Selo Tumiwo dengan waspada. "Apa maksudmu? Siapa yang kau bicarakan?"

Selo Tumiwo tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang menggema di ruangan bawah tanah yang mulai runtuh. Dia menoleh ke arah Subosito, matanya menunjukkan rasa belas kasihan yang aneh.

"Subosito, apakah kau pernah bertanya-tanya mengapa seorang Resi sehebat Bhaskara mau memungut anak 'terkutuk' sepertimu? Mengapa dia begitu telaten melatihmu menjinakkan api, sementara dia tahu bahwa kekuatan itu adalah sumber dari segala maut?"

Subosito menggertakkan tangannya, "Resi Bhaskara adalah guruku. Dia yang menyelamatkanku dari kegelapan jiwaku sendiri!"

"Dia menyelamatkanmu agar kau bisa menjadi senjata yang matang, Subosito!"

Selo Tumiwo berteriak, suaranya terdengar dari atas. "Tahukah kau bahwa penyerangan Padepokan Gagak Hitam bukan sekadar ketidaksengajaan? Suro Digdoyo dan pasukannya diperintahkan oleh seseorang untuk menyiksa Sekar dan mengancam warga desa. Tujuannya hanya satu: memicu emosimu hingga meledak agar segel Garuda Paksi pecah dan kekuatan itu bangkit sepenuhnya. Dan orang yang memberikan instruksi itu lewat surat rahasia adalah, Resi Bhaskara sendiri!"

DEGG!!!

Dunia di sekitar Subosito seolah runtuh, “Bohong. Itu tidak mungkin!”

“Resi Bhaskara memiliki masa lalu yang sangat kelam dengan ayah sang Adipati,” Selo Tumiwo terus berbicara, seolah ingin menumpahkan seluruh kebenaran sebelum langit-langit runtuh sepenuhnya.

"Dahulu, Bhaskara adalah kandidat utama pelindung istana, namun ayah sang Adipati lebih memilih Senopati Arga Sangkara—ayahmu—karena dianggap memiliki hati yang lebih murni. Bhaskara merasa dikhianati. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menciptakan 'dewa' yang lebih kuat daripada yang bisa dilakukan istana. Bhaskara menggunakanmu sebagai percobaan, Subosito. Bhaskara ingin kau menghancurkan seluruh kadipaten!"

Dyah Ayuwangi menutup mulutnya dengan tangan, terperangah. "Jadi... Patih Mangkubumi dan Resi Bhaskara!" Perkataan Dyah Ayuwangi terpotong.

“Ya, mereka adalah dua sisi dari keping koin yang sama,” lanjut Selo Tumiwo.

"Mangkubumi menginginkan kekuasaan duniawi, sementara Bhaskara menginginkan balas dendam melalui kekuatan mistis. Penyerbuan padepokan itu adalah rencana rapi. Aku berada di sana, aku melihat surat dengan segel bunga cendana milik Bhaskara di meja Suro Digdoyo. Mereka memancingmu untuk menjadi setan api agar dunia membencimu, dan hanya Bhaskara yang bisa kau jadikan tempat bersandar!”

Subosito merasakan panas di punggungnya berubah menjadi dingin yang membeku. Kepercayaan yang selama ini dibangun, seketika hancur berkeping-keping.

Bayangan wajah tenang Resi Bhaskara saat memberikan cincin perak ayahnya kini tampak seperti topeng yang mengerikan.

Apakah setiap bimbingan, setiap ritual Tapa Pendem, dan setiap nasihat bijak itu hanyalah bagian dari cara untuk memoles senjata pembantai miliknya?

“Dan sekarang,” Selo Tumiwo menunjuk ke atas. "Mangkubumi telah menghidupkan Bhaskara karena dia tidak sabar menunggu kau 'matang'. Dia mengirim pasukan ini untuk mengambil Kitab Warangka Jati darimu sebelum Bhaskara sempat menggunakannya!"

Tiba-tiba, sebuah getaran hebat mengguncang fondasi perpustakaan. Suara tawa yang berat dan berwibawa, dan sarat akan ancaman terdengar dari arah tangga masuk yang telah hancur.

Dari balik debu yang mengepul, muncul sosok yang seharusnya berada jauh di puncak Lawu.

Resi Bhaskara berdiri di sana. Jubah abu-abunya tidak lagi tampak suci, melainkan memberikan kesan misterius yang pekat. Matanya menatap Subosito dengan ketenangan yang kini terasa mencekik.

“Kau terlalu banyak bicara, Selo,” ucap Resi Bhaskara dingin.

Subosito melangkah maju, api emas di tangannya bergetar hebat. "Benarkah itu, Guru? Apakah padepokan itu, apakah kematian kawan-kawanku adalah rencanamu?"

Resi Bhaskara tidak membantah, dia hanya menatap Subosito dengan pandangan layaknya seorang pengrajin yang bangga dengan hasil karyanya.

“Kau butuh tekanan untuk bersinar, Subosito. Intan tidak akan terbentuk tanpa tekanan dari bumi yang luar biasa. Jika aku tidak memaksamu ke titik nadir, kau tidak akan pernah bisa menjinakkan Garuda Paksi. Aku melakukan ini demi kebaikanmu sendiri, dan demi keadilan bagi ayahmu yang telah dibuang oleh keluarga Adipati ini!”

"Keadilan tidak dibangun di atas tumpukan mayat!" teriak Subosito. Amarahnya kembali mendidih, kali ini bukan kemarahan buta, melainkan kemarahan yang suci.

“Kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebuah kekuasaan, Nak,” Resi Bhaskara mengangkat tangan. Kekuatan elemen api suci yang dimilikinya ternyata jauh lebih besar dari yang pernah dia tunjukkan.

Udara di ruangan itu secara tiba-tiba menjadi sangat kering hingga kertas-kertas kitab mulai hangus secara cepat.

"Pilihannya sekarang: ikut denganku untuk merebut kembali takhta ini, atau mati bersama kitab yang membusuk di perpustakaan ini!"

Subosito menatap Dyah Ayuwangi, lalu menatap Selo Tumiwo yang tampak siap bertarung di sisinya. Pengkhianatan ini adalah luka terdalam yang pernah dia rasakan, lebih perih daripada racun hitam.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Kitab Warangka Jati di tangan Dyah memancarkan cahaya biru yang semakin terang.

“Aku bukan senjatamu, Guru,” ucap Subosito dengan nada yang sangat rendah, dan mengandung kekuatan yang mampu meredam panas ruangan itu. "Dan aku bukan lagi pengecut yang kau bentuk. Aku adalah pelindung mata angin Selatan, dan tugasku adalah menghapus segala bentuk kejahatan—termasuk menghentikanmu dari ambisi jahat!"

Resi Bhaskara tersenyum pahit. "Kalau itu pilihanmu, sejauh mana sayapmu bisa membawamu pergi!"

Pertempuran antara guru dan murid pun pecah. Ini bukan sekadar adu kesaktian fisik, ini adalah konflik filosofi dan energi.

Bhaskara melepaskan naga-naga api merah yang ganas, sementara Subosito bertahan dengan perisai emas yang stabil.

Subosito menyadari satu hal: di ruang bawah tanah yang sempit ini, kekuatannya terbatas, dirinya tidak bisa menggunakan potensi penuh Garuda Paksi jika dirinya tak bisa terbang. Sayapnya belum cukup kuat untuk mengangkat raganya menembus alam semesta ini.

"Subosito, kau harus pergi!" teriak Dyah Ayuwangi. "Kitab ini menyebutkan tentang ujian terakhir di Kawah Candradimuka. Kau harus menyempurnakan sayapmu di sana, atau kau tidak akan pernah bisa mengalahkan Bhaskara dan Mangkubumi!"

Selo Tumiwo melepaskan tasbihnya, hingga meledak menjadi bola-bola energi untuk menghalangi gerak Resi Bhaskara. "Pergilah! Biar aku yang menahan pengkhianat ini! Aku berhutang nyawamu atas apa yang terjadi di padepokan!"

Dengan berat hati, Subosito menarik tangan Dyah Ayuwangi. Menggunakan sisa energi emasnya, menghantam dinding belakang perpustakaan, menciptakan lubang yang mengarah ke saluran drainase kota.

Subosito menoleh sekali lagi ke arah Bhaskara, sebuah janji terpatri di matanya: dia akan kembali untuk menuntaskan semuanya.

**

Pelarian melalui saluran drainase, membawa Subosito dan sang Putri keluar ke pinggiran kota yang gelap. Di belakang mereka, istana Kadipaten tampak mulai terbakar.

Pengkhianatan Resi Bhaskara telah mengubah peta peperangan ini sepenuhnya. Subosito kini menyadari bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah mereka yang tampak jahat sejak awal, melainkan mereka yang menanamkan benih kebaikan dengan tujuan yang busuk.

“Kita harus ke puncak Lawu, tapi bukan ke tempat guru,” ucap Subosito sambil menatap kawah yang mengepul di kejauhan. "Aku butuh api yang lebih murni dari kemarahanku. Aku butuh api Candradimuka!"

Dyah Ayuwangi memegang lengan Subosito. "Aku akan bersamamu. Sampai sayapmu mampu menutupi seluruh tanah Jawa ini!"

Namun, di kegelapan hutan yang mereka lalui, kepakan sayap-sayap hitam mulai terdengar. Mangkubumi telah mengerahkan pasukannya di udara, untuk penunggang burung kuntul raksasa yang telah dipengaruhi sihir hitam.

Pertempuran di darat mungkin telah dia menangkan, tetapi pertempuran di udara baru saja dimulai.

Subosito kini harus berpacu dengan waktu menuju jantung gunung yang paling mematikan. Pengkhianatan sang guru telah meninggalkan lubang di hatinya, namun Kitab Warangka Jati memberikan petunjuk tentang kekuatan yang selama ini terpendam dalam dirinya.

Mampukah Subosito mencapai Kawah Candradimuka? Dan apa yang akan terjadi ketika ia harus menghadapi pasukan penunggang burung kuntul suruhan Mangkubumi?

Ikuti terus kelanjutan Subosito.

"KALAU SUBOSITO RAMAI, SELAMA BULAN PUASA NANTI, SAYA AKAN LEBIH SERING UP, TERIMA KASIH."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!