NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Tidak Untuk Kembali

Pagi Dalam Perjalanan Kampus

Perempuan itu bersenandung bahkan di persimpangan macet, bernyanyi pelan—lagu lama yang Dewa tidak tahu, nadanya hangat bahagia tanpa alasan jelas. Atau: bahagia dengan alasan yang tidak ia ceritakan.

"Ibu lagi seneng ya?" tanyanya melepas helm di parkiran.

" Kenapa ? Kamu dengar suara saya ?"

" Ya, Bu, suara ibu merdu."

" Ah..kamu pinter ngerayu, biasa aja kok."

" Bener kok Bu."

" Sudah ah," Ia melangkah ke area kampus, namun tiba-tiba berhenti di ambang pintu.

"Dewa."

"Iya, Bu?"

"Kamu jaga diri, teman-temanmu juga."

Dewa mengernyit. Nada itu—bukan sekadar nasihat pagi lebih seperti... firasat yang disampaikan dengan hati-hati. "Iya, Bu."

"Saya ada kelas, kamu lanjut dengan aktivitas mu."

Dewa berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya, terasa ganjil dihati, tapi dengan cepat dihapusnya. Pagi yang cerah tidak boleh dirusak oleh kecurigaan tidak berdasar

 

Pukul 08.00 — Parkiran Kampus

Dewa baru saja hendak masuk ke gedung ketika suara itu menahan langkahnya.

"Mas Dewa?" Lembut manis terlalu manis—seperti gula yang dituang diluka terbuka.

Dewa menoleh. Dunia seakan berhenti satu detik bukan karena keindahan tapi karena kenangan buruk berwujud manusia.

Seorang gadis berdiri di sana dengan rambut sebahu ditata rapi, ber-make up tipis tapi presisi—setiap garis terukur. Rok span membentuk siluet sempurna. High heels berdetak seperti metronom dan tas branded menggantung di lengan, lambang status tidak perlu diumumkan.

Senyumnya sempurna terlalu sempurna hasil editing berjam-jam.

"Sa… Sasha?" Dada laki laki itu tersentak.

Ia melangkah mendekat. Aroma parfum mahal memenuhi udara—Dewa mengenalnya. Chanel No. 5. Yang dulu ia beli untuk ulang tahunnya, dari uang tabungan semester sekarang seperti penghinaan.

"Lama nggak ketemu, Mas Dewa."

Tangannya terulur. Jari-jari manicure yang rapi, senyumnya manis, tapi mata itu memindai mencari dan menilai.

"Atau… gue masih boleh panggil 'Mas'?"

Dewa tidak menyambut, tangannya tetap di saku, terkepal. Tatapannya berubah dingin—lapisan perlindungan selalu ia pasang di depan perempuan ini.

"Lo ngapain di sini, Sha?"

Gadis itu tidak tersinggung justru tersenyum lebar menemukan reaksi yang ia cari. "Gue pindah kampus." Ia menoleh santai ke sekitar, gestur teatrikal "Sekarang di sini, Fakultas Ekonomi, satu kampus dengan lo"

Kalimat sederhana.

Tapi bagi Dewa… vonis yang ditunggu-tunggu. Atau: yang selama ini ia takuti.

 

Pukul 08.15 — Grup WA "EKONOMI 23 - TANPA DOSEN"

Rina : Genting, genting level maksimal

Budi: Apa lagi, Rin? Pak Dekan borong gorengan satu kantin?

Rina : Cewek cantik nyariin Dewa

Joko: Lo Rin, kepoin Dewa melulu

Rina : Gue liat dia di koridor.

Joko : Terus ?

Rina : Kaya' nya gue baru liat tu cewek.

Budi : Ciri cirinya?"

Rina : High heels, tas branded, senyumannya kaya iklan parfume Bulgari sewa kos Lo dua tahun

Budi: Gue segera meluncur ke TKP!

Sari: Pada ngomong apa sih kalian ? kenapa Dewa?

Rina : Lo telmi, Saritem, orang udah ke planet Mars Lo masih di bumi makan kacang tojin

Sari : Ya gue gak tau, rahasia apa yang Lo kepoin

Rina : Muka Dewa pucet banget, kaya' mahasiswa gagal Sempro, dibuang mantan ke laut dimakan ikan hiu.

Budi: …spesifik banget, Lo, Rin

Rina : Gue liat monyong.

 

Pukul 09.00 — Kantin

Mie goreng di depan Dewa dingin tidak tersentuh—sama seperti nafsu makannya lenyap sejak pukul 08.00 tadi.

Roby duduk di sampingnya, menatap serius. Tidak bertanya "kenapa"—menunggu Dewa bernapas

"Sasha."

Roby terdiam, tubuhnya menegang. "Sasha? Yang…"

"Iya." Dewa menunduk, suaranya turun. "Cincin salah alamat, mantan."

Roby bersiul pelan bukan kaget—tapi ia tahu. karena timing-nya. "Timing-nya jelek banget, Dewa, tapi seharusnya Lo senang bisa ketemu dengannya untuk jelasin. "

"Lo pikir gue senang?" Dewa tertawa hambar. Gue gak mau mengungkit cincin itu lagi, biarlah menjadi rahasia antara gue dengan Ibu Dian."

Roby menyandarkan punggungnya, memilih kata dengan hati-hati. " Apa dia tahu masalah Lo ? "

Sunyi menyergap terlalu panjang.

"…gue nggak tahu."

"Sempat dia tahu rahasia cincin itu …" Roby menatap matanya menyipit. "Ini menjadi preseden buruk masa depan Lo dengan Ibu Dian."

"Gue nggak peduli dia mau apa."

Roby mendengar sesuatu di balik—ketakutan ditutupi amarah, " Tapi Lo gak bisa lepas begitu saja, Dewa, Lo gak boleh menganggap ini remeh "

"Gue nggak akan balik."

" Gue mengerti, tapi Lo harus cepat mengambil sikap menjauh sebelum semuanya hancur, sebelum badai kedua datang Arif dengan Prof Hadi

Dewa tidak menjawab. Karena ia tahu: yang paling berbahaya bukan kembalinya Sasha. Tapi apakah ia benar-benar sudah sembuh untuk melupakan.

 

Pukul 12.00 — Kantin (Markas Darurat)

Semua berkumpul. Aura meja berubah seperti rapat intelijen kelas bawah— dengan menu nasi padang dan es teh manis.

Rina mengetuk meja. "Oke. Kita punya ancaman baru."

Budi: "Kode merah atau merah muda?"

Rina : "Merah. Dengan lipstik matte mahal."

Dewa menghela napas. "Dia mantan gue."

Meja langsung pecah.

"What ?!"

Roby angkat tangan. "Dengerin dulu."

Semua langsung diam. Karena Roby jarang serius—ketika ia serius, dunia harus mendengarkan.

"Kalau dugaan gue benar…"Ia menatap satu per satu, suaranya turun satu oktaf "Gadis itu bukan cuma datang buat nostalgia."

Sunyi. Bahkan Budi berhenti mengunyah.

Rina : "Maksud lo…?"

Roby: "Dia mungkin tahu sesuatu tentang Dewa. Tentang… proyek ini."

Semua otomatis melirik Dewa refleks.

Budi berbisik: "…Ibu Dian, Pak Dekan ?

Joko: " Bisa jadi, berarti sekarang kita punya dua target."

Rani: "Pak Dekan… dan Sasha."

Budi: "Gorengan gue cukup nggak ya buat dua musuh?"

\=\=

Pukul 14.00 — Lorong Perpustakaan

Langkah high heels berdetak pelan di lantai marmer. Sasha berjalan seperti pusat gravitasi baru—memaksa semua orbit untuk menyesuaikan.

Beberapa mahasiswa menoleh bahkan dosen ikut memperhatikan bukan karena kecantikan semata tapi aura yang dipancarkan— seseorang tahu ia sedang diperhatikan dan menikmatinya.

Rina muncul dari samping rak buku. Pura-pura membaca Ekonomi Mikro. Padahal… full mode pengintaian, matanya di atas buku.

Sasha berhenti tepat di depannya seperti sudah direncanakan.

"Hei, Lo mahasiswa Ekonomi di sini?"

Rina kaget melihatnya, "I-iya."

"Sasha." Jemari terulur dengan manicure sempurna.

"Rina

Tangannya terlalu dingin untuk seseorang tersenyum hangat.

" Lo kenal Dewa?" Pertanyaan langsung. tanpa basa-basi sudah dipersenjatai.

Rina berbisik didalam hatinya, " ini cewek bahaya, tahu permainannya."Kenal, teman sekelas."

"Oh, bagus." Matanya sedikit berubah lebih dalam seperti lensa kamera zoom in.

"Dulu gue dekat sama dia."

Rina pura-pura santai tidak terkejut. "Oh ya?"

"Dewa itu… baik."

Ia berhenti menatap dengan intensitas salah ukuran untuk obrolan di perpustakaan.

"Terlalu baik."

Kalimat itu—bukan pujian lebih seperti diagnosis. Atau: penjelasan mengapa ia pergi dulu.

Rina merasakan getaran frekuensi yang salah. "Terus… sekarang?" tanyanya dengan hati-hati.

Ia menatap lurus matanya tidak berkedip terlalu lama. "Sekarang… gue cuma ingin tahu gimana keadaanya setelah gue tinggal ."

--

Pukul 17.00 — Parkiran

Dewa menunggu dengan pikiran tidak berhenti berputar— menghadapi masalah pelik ini

Tidak lama Ibu Dosen keluar dengan langkah kaki sedikit lebih lambat

"Pulang, Bu?"

"Iya."

Motor berjalan. Beberapa menit sunyi yang menunggu.

Lalu—

"Kamu kenapa diam dari tadi ?"

"Nggak apa-apa, Bu."

"Dewa. Wajah kamu itu… nggak bisa bohong.

Dewa diam. Ada dorongan untuk mengatakan semuanya: tentang Sasha, masa lalu yang menganga, tentang ayahnya, tapi… tidak sekarang, tidak di sini tidak ketika ia belum siap.

"…nanti aja, Bu."

Dian tidak memaksa. Tapi matanya—tidak lepas menyimpan pertanyaan untuk nanti

1
D_wiwied
sayang Dewa apa kekayaannya?? dasar cewek licik bin matre
D_wiwied
loe sendiri msh perawan ga Sha,, bertanya dg nada selembut dering hp nokia jadul 🤭🤭
D_wiwied
Si tepung bumbu ini tipe oportunis, deketin Dewa lg krn tau kalo Dewa anak org kaya.. nyesel kan kau sekarang sha, sukuriiiin 😆🤣
ALWINDO BM
yes
Ddie: terimakasih sobatku 🙏
total 1 replies
D_wiwied
jauh banget ya jarak antara apartemen dg kampus, berangkat jam 6 pagi nyampe kampus jam 7.30 ga pegal tu pulang pergi tiap hari 🤭😆😁
Ddie: Itulah mba Wid ...kampus ibu Dian itu di planet mars, tapi demi ayang biby ...jarak tidak terasa hehe
Trims mba Wid koreksinya...emang benar...satu jam setengah...kalau author mungkin udah capek duluan 😄😄🙏
total 1 replies
D_wiwied
yg masih jd tanda tanya, kenapa bisa tiba-tiba sekonyong-konyong Sasha tepung bumbu pindah ke kampusnya Dewa, siapa yg nyuruh.. apakah pak dekan ato si mantan 🤔🤔
D_wiwied: kakk.. mlh ngajak berteka teki 😁
total 2 replies
D_wiwied
rasanya spt belum ditembak tp udah ditolak duluan ya Wa 🤭😆
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja
Ddie: Dewa takut kalau rahasia cincin nya tertukar mba..apa yng terjadi kalau Ibu dosen tahu cincin itu untuk Sasha
total 3 replies
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!