Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN DAN BABAK BARU.
Dua minggu telah berlalu sejak malam mencekam di gudang tua itu. Bagi Haris, waktu empat belas hari tersebut terasa seperti ujian kesabaran yang paling berat dalam hidupnya. Setiap hari ia menghabiskan waktu di samping tempat tidur rumah sakit, memperhatikan setiap hela napas Haniyah dan memastikan tidak ada satu pun kebutuhan istrinya yang terlewat. Trauma hampir kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupnya membuat Haris menjadi jauh lebih protektif.
Pagi itu, suasana kamar rawat Haniyah terasa jauh lebih cerah. Haris baru saja menutup telepon dari Farel yang berada di pengadilan untuk memantau jalannya sidang putusan Juragan Darwis. Senyum puas tersungging di bibir Haris.
"Bagaimana hasilnya, Mas?" tanya Haniyah yang sedang bersandar pada tumpukan bantal.
Haris menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Darwis dijatuhi hukuman seumur hidup, Sayang. Ratih benar-benar luar biasa di ruang sidang. Dia membawa semua bukti korupsi, pencucian uang, hingga kesaksian warga desa dan Pak Kades. Tidak ada celah bagi bandot tua itu untuk lolos."
Haniyah menghela napas lega, seolah beban berat yang menghimpit dadanya selama ini luruh seketika. "Syukurlah. Setidaknya warga desa sekarang bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang ancaman lagi."
"Dan ada berita bagus kedua," sambung Haris dengan binar mata bahagia. "Dokter baru saja memberikan lampu hijau. Kandunganmu sudah dinyatakan sangat kuat dan kita diperbolehkan pulang hari ini."
Mendengar hal itu, Haniyah hampir saja melompat kegirangan jika tidak diingat oleh Haris untuk tetap tenang. Masa pemulihan yang membosankan di rumah sakit akhirnya berakhir. Namun, sebelum mereka mengemas barang, Rosita masuk ke dalam kamar dengan wajah penuh harap.
"Haris, Ibu ingin mengusulkan sesuatu," ujar Rosita sambil mengusap pundak menantunya dengan lembut. "Bawalah Haniyah ke rumah besar kita. Ibu ingin menjaganya sendiri selama masa ngidam ini. Ibu merasa bersalah jika kalian hanya berdua di rumah tanpa ada orang tua yang mengawasi, apalagi setelah kejadian kemarin."
Haris sempat terdiam, ia melirik Haniyah dengan ragu. Ingatan tentang bagaimana ibunya dulu sering menyudutkan Haniyah masih membekas jelas. Ia takut istrinya merasa tidak nyaman atau tertekan di rumah besar tersebut.
"Bu, aku bukannya menolak, tapi aku ingin Haniyah merasa tenang tanpa tekanan apa pun," jawab Haris hati-hati.
Rosita mengangguk paham, matanya berkaca-kaca. "Ibu mengerti, Haris. Ibu berjanji tidak akan ada lagi tuntutan atau kata-kata kasar. Ibu hanya ingin menebus kesalahan Ibu. Tolong, izinkan Ibu menjadi nenek yang baik bagi cucu Ibu."
Haniyah yang melihat ketulusan mertuanya pun luluh. Ia memegang tangan Haris. "Mas, aku tidak keberatan. Aku juga ingin merasakan kehangatan rumah keluarga besar. Kita coba dulu ya?"
Haris akhirnya setuju dengan satu syarat tegas. "Baiklah, tapi jika Haniyah sudah benar-benar pulih dan merasa ingin kembali ke rumah kami sendiri, Ibu harus mengizinkannya tanpa syarat. Kenyamanan Haniyah adalah prioritas utama."
Kepulangan mereka ke rumah besar keluarga Haris disambut dengan penuh suka cita. Rosita benar-benar menepati janjinya. Ia menyiapkan kamar lama Haris dengan dekorasi yang lebih hangat dan wangi aromaterapi yang menenangkan. Tidak ada lagi sindiran, yang ada hanyalah perhatian tulus. Rosita bahkan sering menghabiskan waktu di dapur untuk memasak makanan sehat demi menantunya.
Sore itu, saat Rosita sedang menyuapi Haniyah dengan bubur kacang hijau buatannya, pintu depan terbuka. Ratih datang dengan langkah anggun dan wajah yang berseri-seri. Ia mengenakan setelan kantor yang sangat rapi, menandakan ia baru saja kembali dari medan pertempuran di pengadilan.
"Kemenangan besar untuk kita semua!" seru Ratih sambil meletakkan tasnya di sofa.
Haris yang sedang membaca dokumen di dekat sana berpura-pura tidak tahu, padahal ia sudah mendapat laporan lengkap dari Farel. "Wah, ada angin apa ini? Apakah si pengacara hebat ini membawa kabar baik?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Haris! Farel pasti sudah melapor padamu bukan?" ledek Ratih sambil menghampiri tempat tidur Haniyah dan memeluk sahabatnya. "Hani, Darwis sudah tamat. Dia akan membusuk di penjara seumur hidupnya."
"Terima kasih banyak, Ratih. Kamu memang yang terbaik," puji Haniyah dengan tulus.
Di ambang pintu, Farel berdiri diam. Matanya tidak lepas dari sosok Ratih. Selama di pengadilan tadi, ia benar-benar terpesona melihat bagaimana Ratih menguasai ruang sidang. Wanita yang biasanya cerewet dan bar-bar di depannya itu berubah menjadi singa betina yang sangat cerdas dan berwibawa di depan hakim. Kekaguman yang tadinya hanya berupa getaran kecil, kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Haris yang menyadari tatapan asistennya itu segera berdehem keras, mencoba menggoda Farel. "Farel, kenapa kau hanya berdiri di sana seperti patung pajangan? Apakah ada sesuatu yang menarik perhatianmu di ruangan ini?"
Farel tersentak, ia segera membuang muka meski telinganya mulai memerah. "Tidak ada, Bos. Saya hanya sedang menunggu instruksi selanjutnya."
Ratih menoleh ke arah Farel dan tersenyum jahil. "Hai, Pahlawan Berkemeja Putih. Bagaimana lukamu? Apakah masih sakit?"
"Sudah jauh lebih baik, Nona. Terima kasih," jawab Farel singkat namun suaranya terdengar sedikit bergetar.
Haris tidak melewatkan kesempatan emas itu. Ia mendekati Farel dan berbisik namun cukup keras agar bisa didengar oleh Ratih. "Farel, ingat pesanku. Wanita sehebat Ratih ini banyak yang mengincar. Kalau kau hanya diam dan terus bersikap dingin, jangan salahkan aku jika besok tiba-tiba ada undangan pernikahan darinya dengan pria lain."
Wajah Farel yang biasanya kaku kini benar-benar menunjukkan ekspresi salah tingkah. "Bos, tolong jangan mulai lagi."
Ratih tertawa renyah melihat Farel yang mulai tidak nyaman. "Biarkan saja, Haris. Farel memang lebih suka bertarung dengan preman daripada bicara dengan wanita. Tapi aku suka kok pria yang tidak banyak bicara, asalkan tindakannya nyata."
Perkataan Ratih itu seolah menjadi kode hijau bagi Farel. Ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat di bibir sang asisten. Suasana di rumah besar itu kini tidak lagi terasa kaku dan sunyi. Kehadiran Haniyah yang sedang hamil, kembalinya kasih sayang Rosita, serta benih-benih cinta yang mulai tumbuh antara Farel dan Ratih menciptakan harmoni yang indah.
Haris menatap sekeliling ruang tamunya dengan perasaan syukur yang tak terhingga. Badai telah berlalu, dan kini ia siap membangun masa depan yang lebih cerah bersama keluarga kecilnya. Namun, ia tahu perjalanan masih panjang, dan ia harus memastikan bahwa setiap orang di sekitarnya juga mendapatkan kebahagiaan yang layak mereka dapatkan, termasuk Farel yang telah setia mendampinginya selama bertahun-tahun.
"Farel," panggil Haris lagi dengan nada lebih serius namun tetap santai. "Malam ini kau tidak perlu mengantarku ke kantor. Temani Ratih makan malam sebagai perayaan kemenangannya. Pakai mobilku yang mana saja yang kau mau."
Farel menatap Haris, lalu beralih pada Ratih yang tampak sedang menunggu jawabannya. Kali ini, Farel tidak menolak. "Baik, Bos. Saya akan melaksanakannya."
Ratih mengedipkan mata pada Haniyah, memberi isyarat bahwa rencana mereka mulai membuahkan hasil. Babak baru kehidupan mereka baru saja dimulai, dipenuhi dengan harapan dan cinta yang lebih kuat dari sebelumnya.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪