Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Gita!" Dewa memanggil istrinya yang masih di dalam kamar mandi.
"Buruan!"
"Pakai kamar mandi yang satunya, Mas Dewa!"
Gita menyahut tidak kalah keras, karena masih membilas rambutnya dari busa-busa sampo.
Dewa mendengus, kamar mandi sebelah hanya untuk pipis dan buang air besar. Sementara dia butuh mandi.
"Jangan lama-lama!" Dewa menggedor pintu kamar mandi.
"Aku juga butuh mandi, nanti bisa terlambat."
Gita mulai jengkel. Di rumahnya tidak ada yang berani mengganggunya waktu mandi.
"Iya, iya!" Gita meraih handuk, menutupi tubuhnya yang telanjang. Rambutnya yang basah dibiarkan meneteskan air.
Dewa yang melihatnya memberikan handuknya.
"Pake ini!"
"Jangan bentak-bentak gitu, Mas! Ingat kata papa, kamu harus memperlakukan aku baik-baik!" ucap Gita sangat berang.
"Aku nggak bentak. Ah, sudahlah!" Dewa membanting pintu kamar mandi.
Gita menendang pintu itu. Lantas masuk ke kamar tidur. Mulai berpakaian lengkap. Hari itu, Gita tidak masuk kerja.
Rumah Dewa cukup besar dengan tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga yang luas, ruang makan, dapur, garasi, dan dua kamar mandi.
Gita mengusap perutnya, ternyata tidak hamil setelah cek lewat tespek. Padahal berharap bisa hamil lagi. Selama berhubungan intim tidak memakai pengaman.
Dewa masuk ke kamar, hanya memakai boxer. Tubuh atletis itu mulai tertutup pakaian.
"Tolong buatkan kopi," pinta Dewa.
"Iya, sebentar. Nggak lihat apa, aku lagi keringin rambut," sahut Gita.
Dewa yang sedang mengancingkan baju hanya menarik napas panjang. Gita tidak pernah membuatkan sarapan, lebih sering makan roti.
Tidak masalah, karena dekat warung makan. Dewa cuma mempermasalahkan Gita yang tidak perhatian. Ingin dibuatkan teh atau kopi sebelum berangkat kerja.
"Cari pembantu aja, Mas. Aku kerja, kamu kerja. Aku nggak ada waktu buat masak," kata Gita.
"Kamu aja yang urus," tukas Dewa, yang menyisir rambutnya yang cepak.
"Oke. Nanti aku ke rumah mama, biar mama yang carikan pembantu." Gita keluar kamar.
Di dapur, Gita membuat dua cangkir kopi, yang kemudian ditaruh di meja. Selain kopi, ada dua bungkus nasi uduk.
Gita tidak nafsu makan. Kebiasaannya, yakni melihat kembali postingan. Senyum-senyum sendiri melihat komentar yang menyanjung kecantikannya.
"Aku ingin, bisa fokus pada pekerjaan," ujar Dewa, duduk di kursi lain. Membuka bungkusan nasi uduk.
"Harus itu." Gita tidak melihat Dewa. Lebih mementingkan scroll seraya minum kopi.
Dewa menghela napas. Mengapa Gita tidak sesuai ekspektasi selama belum menjadi suami istri. Kalau apel ke rumahnya, selalu dimasakkan.
Gita melebarkan kedua matanya karena melihat akun milik Rama. Sepengetahuannya, Rama tidak memiliki akun IG. Cangkir itu diletakkan di meja, melihat Nara dipangkuan Rama yang bertelanjang dada. Kolom komentar dinonaktifkan. Gita lantas stalking ke bawah. Hanya foto-foto mobil, jalanan, pemandangan.
"Hah, istri ...." desis Gita.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Dewa.
Gita menggeleng dan meletakkan ponsel. "Nggak apa-apa."
Sepuluh menit kemudian, Dewa berangkat kerja. Sedangkan Gita, lanjut stalking karena penasaran. Ada satu foto di kafe yang diunggah hampir dua tahun lalu yang membuat kening Gita berkerut.
"Ck...Mungkin diajak teman," gumam Gita.
"Mobil juga milik orang lain."
Gita kembali lagi melihat foto Rama yang memangku Nara, Panas sekali rasanya, apalagi tatapan itu penuh cinta.
...****************...
"Mau ikut?" tanya Sekar yang tengah bersiap pergi. Ia memakai celana jeans dan atasan kemeja putih lengan panjang. Penampilan Sekar sesuai umurnya, tidak begitu mencolok.
"Tidak." Restu meletakkan paper bag kecil di meja rias.
"Untuk Nara."
Sekar tersenyum simpul. "Wah, apa isinya?"
"Jam tangan."
"Nanti aku berikan. Ada pesan?"
"Pesan apa? Tidak ada pesan." Restu membuka laci meja.
"Nasehat pernikahan, mungkin...." sahut Sekar memasukkan paper bag itu ke dalam tanya.
Restu tidak merespons. Hanya menatap istrinya sebentar.
"Aku pergi dulu."
"Ya ...."
Sekar keluar kamar, menuruni anak tangga, lalu berbelok ke kamar Radit. Berpamitan pada putra sulungnya itu. Sekar juga meminta Nina datang lebih awal sekitar jam tiga sore. Hanya dua hari saja. Karena Sekar belum mempercayai sepenuhnya perawat baru yang bernama Ongky.
Jia sudah menunggu di dekat mobil, yang langsung sigap membukakan pintu kendaraan saat Sekar keluar rumah.
Di dalam kamar, di balik jendela yang bertirai putih, Bianca mengawasi ibu mertuanya yang masuk ke mobil. Betapa dia sangat tidak menyukai Sekar, karena pergi menemui keluarga Nara. Bianca keluar kamar, mencari keberadaan mertua lelaki.
Tidak sopan sekali membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Restu yang sedang duduk di kursi meja kerja, memandang tidak suka.
"Kenapa papa membiarkan mama pergi? Papa bilang akan membelaku. Anak bejat seperti Rama harusnya tidak diberikan kesempatan," cerocos Bianca.
Restu mengembuskan napas.
"Aku sebenarnya trauma dengan rumah ini juga....."
"Kamu mau pindah rumah?" potong Restu.
"Bukan itu maksudnya, Pa. Aku hanya menagih janji," sahut Bianca kesal.
"Apa lagi, Bia? Papa sudah mendepak Rama, sudah dikeluarkan dari kartu keluarga. Kalau istriku menemui anaknya itu lumrah. Sejahat-jahatnya anak, seorang ibu akan menyisakan sedikit ruang," kata Restu.
"Harusnya dulu aku melapor ke pihak berwajib. Aku menyesal menuruti papa," ujar Bianca yang mulai menangis.
"Setiap malam aku bermimpi buruk. Kejadian malam itu hadir terus, Pa!"
Bianca berlalu dari kamar itu dengan air mata yang berderai.
Restu menggeleng pelan, melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam mobil yang bergerak menuju bandara, Sekar mengaktifkan ponsel lain untuk menghubungi Abra. Kalau menggunakan ponsel dan nomor yang sering digunakan, khawatir ada menyadap.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Apakah ada informasi yang penting?"
Abra mengatakan ada orang lain yang mendahuluinya. "Saya hanya menemukan foto lawas yang sudah di-restorasi. Akan saya kirim."
Sekar menunggu foto yang dikirim Abra. Kedua matanya melihat ke luar jendela. Sepersekian detik kemudian kembali melihat ke ponsel. Sepertinya foto keluarga. Wajah gadis kecil di tengah mirip dengan Bianca.
"Abra, cari tahu siapa nama orang dewasa di foto itu. Itu bukan Karina dan suaminya."
"Baik, Bu Sekar."
"Aku yang akan menghubungi terlebih dahulu."
Sambungan telepon berakhir. Sekar memandangi foto itu lebih lama. Apakah benar gadis kecil berkucir dua di foto adalah Bianca? Atau hanya kebetulan mirip.
...****************...
Yuni mengintip dari balik jendela, melihat Nara turun dari kendaraan. Yuni penasaran karena kemarin Rahmat bersih-bersih halaman rumah. Biasanya kalau kelewat bersih akan ada tamu istimewa yang datang. Kira-kira siapa tamunya.
"Ma, ngapain ngintip? Nggak ada apa-apa, kan?" tegur Gita.
"Penasaran aja, Git .." Yuni menutup tirai.
"Kira-kira siapa tamunya."
"Paling orang nggak penting." Gita tiduran di sofa.
Nara datang di rumah orangtuanya siang hari. Tidak diantar Rama, karena suaminya itu sedang bekerja. Rama sangat gigih, tidak mau mengemis ke Sekar. Selain itu ingin menunjukkan bisa hidup layak tanpa harta orangtuanya.
Kedatangan Sekar diundur jadi akhir pekan yang sebelumnya akan datang hari Kamis.
"Ibuk masak apa?" tanya Nara, yang datang dua orang tapi Risna terlihat sibuk sekali di dapur. Sementara Yuda dan Rahmat berleha-leha di halaman belakang. Tiduran di atas kursi bambu panjang.
"Buat soto ayam, perkedel, ada tempe goreng, dan kerupuk," sahut Risna yang berdiri di depan kompor.
Untuk suguhan, Risna membuat sendiri kroket dan bolu keju. Minuman hangat jahe telah siap.
Risna mematikan kompor. Berpindah mengambil mangkok di lemari yang pintunya terbuat dari kaca, tempat menyimpan pecah belah yang hanya digunakan untuk waktu tertentu saja.
"Ibuk mandi sana Aku yang akan menyiapkan meja makan," kata Nara.
"Masih lama."
"Masih lama dari mana? Satu jam lagi, Buk," tukas Nara.
"Suamimu kok belum datang?"
"Katanya sekarang di hotel, ketemu lebih dulu," terang Nara.
Panjang umur, yang dibicarakan terlihat memasuki rumah. Rama menyapa istri dan mertuanya.
"Katanya tadi mau ke hotel dulu, Mas?" tanya Nara
"Nggak jadi, mama katanya sedang di mall...." Rama tanpa sungkan mencium pipi Nara.
"Nanti langsung ke sini."
"Yaudah kalo gitu ibuk mandi dulu," kata risna, yang berjalan cepat ke belakang.
"Yud, Pak, ganti baju. Buruan!!"
Rama melepas jaketnya, disampirkan di kursi plastik di sudut dapur. Tanpa disuruh, mencuci perkakas masak yang menumpuk di wastafel.
"Ini lauknya digoreng semua, Mas. Nggak apa-apa, kan?" Nara meletakkan piring berisi perkedel dan tempe goreng.
"Nggak apa-apa, masakan rumahan. Apalagi yang masak ibuk," sahut Rama, yang sedang menggosok pantat wajan.
Selesai mencuci perkakas, giliran Rama yang mandi. Nara dan Risna duduk santai di ruang tamu. Rahmat duduk di kursi teras, karena ada pak RT datang bertamu. Yuda masih di kamarnya.
Risna melihat jam dinding hadiah membeli motor. Jam dinding lawas yang masih berfungsi.
"Ibuk kok gugup, harusnya aku yang gugup ketemu calon ibu mertua. Eh, ibu mertua," seloroh Nara.
"Karena ibuk membayangkan ibunya Rama seperti ibu-ibu sosialita di film-film. Yang kinclong kayak porselen," sahut Risna.
"Santai aja, Buk." Nara bilang begitu padahal dirinya tidak bisa santai juga. Persis waktu ketemu Oma Hanum, gugup setengah mati. Cara berpikir, berpakaian, status ekonomi, status pendidikan yang berbeda.
"Berasa nunggu ratu Kerajaan ya," celetuk Yuda, yang mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.
Yuda pun hanya meringis.
Rama terlihat masuk ke kamar Nara. Lima menit kemudian keluar lagi. Nara membawakan pakaian dari rumah untuk suaminya itu
"Buk, itu ada mobil sedan...." kata Rahmat memberitahu.
"Rama, mungkin itu mamamu."
Rama keluar rumah, Nara dan Risna sama-sama beranjak dari kursi. Yuda pun mengekor di belakang.
Seunit mobil sedan hitam berhenti di halaman rumah. Rama bergegas mendekat, menyambut Sekar.
"Lama sekali tidak berjumpa, kamu tambah tampan dengan kulit cokelat," puji Sekar yang tersenyum sekaligus bahagia.
"Kenapa selalu kulitku yang diperhatikan. Mama apa kabarnya?" Rama memeluk Sekar.
"Cantik dan sehat, seperti yang kamu lihat." Sekar tergelak.
Nara dan yang lainnya belum berani menyapa, memberikan ruang untuk ibu dan putranya melepas rindu.
"Tuh, kan kinclong...." canda Risna mengagumi Sekar yang memakai celana kulot lebar dan blus.
"Ibuk ini." Nara menyenggol lengan ibunya.
Rama kemudian memperkenalkan Risna dan Rahmat terlebih dahulu. Lalu Nara yang terlihat tegang.
"Oh, ini, menantu cantik yang bikin Rama klepek-klepek." Sekar membingkai wajah Nara.
"Kamu harus sabar, Rama kadang cepat marah kalau barangnya tidak berada di tempat semula. Itu kekurangannya, kelebihannya kamu pasti tahu."
"Iya, Bu Sekar."
"Kalau marah terus kamu bisa laporan," gurau Sekar.
"Ini Yuda, adiknya Nara," ucap Rama.
"Halo, ganteng. Umur berapa?" Sekar memperhatikan Yuda.
"Empat belas tahun, Tante ...." jawab Yuda.
"Terima kasih atas pujiannya. Kata ibuk, aku nggak ganteng."
"Ibuk bosan lihat wajahmu," celetuk Nara.
Sekar menyuruh Jia mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya. Sebagian beli di mall.
"Kalau itu siapa?" Sekar menunjuk pak RT yang berdiri di dekat jendela rumah.
"Tamu saya, Bu Sekar. Pak RT," jelas Rahmat.
"Namanya Pak Suharno, RT baru."
"Oh ya ya ...." Sekar tersenyum ramah.
Di rumah sebelah, Yuni yang mengintip, penasaran siapa perempuan paruh baya yang elegan itu. Dari jarak cukup jauh dan terhalang kaca jendela, tercium aroma duit yang banyak.
"Gita, sini! Itu tamunya Nara. Kamu kenal nggak?" Yuni melambaikan tangan kanannya.
Gita terpaksa berdiri, ikutan mengintip. Melihat Sekar, lalu Jia yang membawa lima paper bag.
"Nggak, mungkin majikan Rama."
"Tapi tadi pelukan cukup lama dengan Rama loh ...." tukas Yuni.
"Nggak tahu ah!" Gita mencebik marah.
Yuni yang masih penasaran keluar rumah. Berlari cepat menyusul Pak RT yang sudah cukup jauh. Melewati rumah Nara, di mana semua orang sudah masuk.
"Pak Suha !!!" teriak Yuni.
Pak RT berhenti melangkah, membalikkan badan.
"Ada apa, Bu Yuni?"
"Itu tadi ...." Yuni yang ngos-ngosan menarik napas dalam-dalam.
"Tamunya Pak Rahmat, Siapa dia?" tanyanya.
"Oh, besannya Pak Rahmat. Namanya Bu Sekar. Ini aku dikasih oleh-oleh kue sisir mentega premium dan kemeja batik."
"Be... be... besan???"
*
*
*
*
*
*
Selamat menanti berbuka puasa semuanya 🥰
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬