NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34 Kalau Sudah Jatuh, Semua Orang Punya Cerita

Gang kecil itu pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya.

Padahal tidak ada acara apa-apa.

Tidak ada hajatan.

Tidak ada keributan besar.

Tapi sejak kemarin orang yang menagih utang datang dan berteriak di depan rumah kontrakan Bagas, suasana langsung berubah.

Semua orang seperti punya bahan cerita baru.

Di depan rumah Bu Rukmini, kursi plastik sudah tersusun lagi.

Bu Rukmini duduk di tengah.

Bu Sari di sebelahnya.

Bu Lina di sisi lain.

Dari wajah mereka saja sudah kelihatan satu hal:

mereka sedang menikmati pembicaraan.

Bu Rukmini menghela napas panjang.

“Ya ampun… hidup orang itu memang tidak ada yang tahu ya.”

Bu Sari langsung menyambut.

“Benar sekali.”

Bu Lina mengangguk pelan.

“Dulu katanya suaminya Pipit orang besar.”

Bu Rukmini tertawa kecil.

“Orang besar bagaimana? Kalau memang benar besar, tidak mungkin sampai ada orang datang menagih utang di depan rumah begitu.”

Ia mencondongkan tubuhnya.

“Bayangkan saja. Gang kecil seperti ini tiba-tiba didatangi orang yang bicara soal utang besar. Orang di sini mana pernah melihat hal begitu.”

Bu Sari ikut bersandar.

“Aku malah kasihan sama Pipit.”

Bu Lina menoleh.

“Kasihan bagaimana?”

Bu Sari berkata pelan.

“Perempuan kalau sudah ikut suami yang jatuh begitu biasanya ikut menanggung malu.”

Bu Rukmini langsung menyela.

“Lho jangan salah. Kadang perempuan juga punya andil.”

Ia menyipitkan mata.

“Kalian ingat kan cerita kemarin? Katanya Pipit dulu kerja di perusahaan besar.”

Bu Lina mengangguk.

“Iya.”

Bu Rukmini melanjutkan.

“Dan katanya dia keluar dari sana dengan cerita yang tidak jelas.”

Ia mengangkat bahu.

“Kalau orang keluar kerja dengan cara baik, biasanya tidak ada gosip macam-macam.”

Bu Sari menimpali.

“Betul juga sih.”

Bu Rukmini mendecakkan lidah.

“Makanya aku bilang dari awal… pasangan itu kelihatannya memang membawa cerita yang panjang.”

Tepat saat itu—

pintu rumah kontrakan Pipit terbuka.

Pipit keluar membawa dua kantong plastik kecil.

Ia hendak pergi ke warung.

Namun langkahnya langsung berhenti ketika melihat tiga ibu-ibu itu menatapnya.

Bu Rukmini memanggil.

“Pipit.”

Pipit menoleh.

“Iya Bu?”

Bu Rukmini tidak langsung bicara.

Ia menatap Pipit lama sekali.

Seolah sedang menilai sesuatu.

Lalu akhirnya ia berkata.

“Dari kemarin aku mau tanya tapi belum sempat.”

Pipit menunggu.

Namun seperti biasa—

pertanyaan Bu Rukmini tidak pernah singkat.

“Kamu ini ya Pipit… hidupnya sebenarnya bagaimana sih?”

Pipit mengerutkan dahi.

“Maksud Ibu?”

Bu Rukmini mengangkat tangan sedikit.

“Ya maksudku jelas. Dulu kamu kerja di perusahaan besar, sekarang tinggal di kontrakan kecil. Suami kamu katanya dulu pengusaha, sekarang didatangi penagih utang.”

Ia menghela napas panjang.

“Orang yang melihat pasti bingung.”

Bu Sari ikut menimpali.

“Iya Pipit… kita ini tetangga. Masa tidak boleh tahu sedikit cerita?”

Pipit menjawab pelan.

“Tidak ada cerita apa-apa Bu.”

Bu Rukmini langsung tertawa.

“Tidak ada?”

Ia menggeleng berkali-kali.

“Aduh Pipit… kamu ini terlalu polos kalau mau bicara begitu.”

Ia menunjuk rumah kontrakan itu.

“Orang datang menagih utang di depan rumah kamu. Ada perempuan datang bilang hidup suami kamu mau dihancurkan. Lalu kamu bilang tidak ada cerita apa-apa?”

Ia mendesah panjang.

“Kalau aku jadi kamu ya, Pipit… aku sudah dari awal jujur saja.”

Pipit menunduk.

Namun omelan itu belum berhenti.

Bu Rukmini malah semakin panjang.

“Perempuan itu kalau hidupnya penuh rahasia biasanya tidak pernah benar-benar tenang. Apalagi kalau masa lalunya tidak jelas.”

Ia menyipitkan mata.

“Jangan-jangan kamu juga dulu punya masalah di tempat kerja kamu.”

Kalimat itu membuat Pipit sedikit mengangkat kepala.

Namun sebelum ia menjawab—

suara mobil berhenti terdengar di ujung gang.

Semua orang menoleh.

Kali ini bukan satu orang yang turun.

Tiga orang pria keluar dari mobil.

Salah satunya adalah pria yang kemarin datang menagih utang.

Ia berjalan masuk dengan langkah lebar.

Wajahnya tidak sabar.

Bu Rukmini berbisik pelan.

“Lho… datang lagi.”

Pria itu berhenti di depan rumah kontrakan Bagas.

“Bagas!”

Bagas keluar dari dalam rumah.

Ia melihat tiga orang itu tanpa ekspresi.

Pria penagih itu tersenyum tipis.

“Sepertinya kamu belum benar-benar mengerti situasi kamu.”

Ia menunjuk dua orang di belakangnya.

“Kali ini aku tidak datang sendiri.”

Suasana gang langsung sunyi.

Beberapa tetangga mundur sedikit.

Namun Bu Rukmini tetap berdiri.

Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Pria itu melanjutkan.

“Aku sudah bilang kemarin. Hutangmu belum selesai.”

Ia melangkah mendekat.

“Dan kalau kamu pikir tinggal di tempat seperti ini bisa membuat kami lupa, kamu salah besar.”

Bagas menjawab tenang.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

Pria itu tertawa pendek.

“Bagus.”

Ia menoleh ke sekitar.

“Biar sekalian semua orang dengar.”

Ia menunjuk Bagas.

“Orang ini punya utang besar yang belum dibayar.”

Bisik-bisik langsung muncul.

Pria itu menambahkan lagi.

“Dan kalau dalam waktu dekat dia tidak bisa menyelesaikannya… hidupnya akan semakin sempit.”

Ia melirik Pipit.

“Termasuk hidup istrinya.”

Pipit menegang.

Namun sebelum situasi semakin panas—

sebuah motor berhenti di ujung gang.

Seorang pria muda turun sambil membawa map.

Ia melihat Bagas.

“Pak Bagas?”

Bagas menoleh.

“Iya.”

Pria itu berjalan mendekat.

“Saya dari perusahaan konstruksi Mandala. Bapak kemarin melamar pekerjaan sebagai konsultan proyek.”

Beberapa tetangga langsung saling pandang.

Namun pria itu melanjutkan dengan nada canggung.

“Maaf Pak… saya hanya disuruh menyampaikan pesan.”

Ia membuka mapnya.

“Pihak perusahaan membatalkan proses perekrutan.”

Bagas mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Pria itu ragu sebentar.

Lalu berkata pelan.

“Karena ada pihak yang memberi informasi bahwa Bapak memiliki… masalah finansial dan hukum.”

Ia menutup mapnya.

“Perusahaan tidak ingin mengambil risiko.”

Pria itu membungkuk sedikit lalu pergi.

Gang kecil itu benar-benar sunyi.

Penagih utang tersenyum tipis.

“Sepertinya hidupmu makin sempit, Bagas.”

Ia berbalik pergi bersama dua orangnya.

Sementara itu—

Bu Rukmini hanya menggeleng panjang.

“Aduh Pipit…”

Ia menatap Pipit dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Sekarang aku mulai mengerti.”

Ia menarik napas panjang.

“Hidup kalian ini ternyata memang penuh cerita.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan kelihatannya cerita itu belum selesai.”

Di ujung gang—

mobil hitam yang sama kembali terparkir.

Di dalam mobil itu seorang pria sedang melapor lewat telepon.

“Pak Armand… semua berjalan sesuai rencana.”

Ia melihat Bagas yang berdiri diam di depan rumah kecilnya.

“Orang itu sekarang tidak punya apa-apa lagi.”

Suara di telepon tertawa pelan.

“Bagus.”

Pria itu menjawab.

“Langkah berikutnya?”

Jawaban dari telepon membuatnya tersenyum.

“Baik Pak.”

Ia menutup telepon.

Lalu berkata pelan pada dirinya sendiri.

“Sekarang giliran istrinya.”

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!