NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANGGUNG JAWAB SEORANG AYAH

Mendengar Adrian demam, Farhan yang tengah berada di perjalanan langsung memutar stir mobil.

Ia menelpon sekretarisnya, Lina.

"Halo Lin. Tolong schedule ulang semua pertemuan hari ini. Saya asa keperluan mendadak!" serunya saat telepon diangkat.

"Baik, Pak!' sahut Lina di seberang telepon.

"Oh ya, buat janji dengan dokter Rivaldi! Katakan Saya ke rumah sakitnya dalam waktu sepuluh menit!" lanjut Farhan memerintah.

"Baik, Pak!" sahut Lina lagi.

Farhan menutup sambungan telepon. Matanya fokus ke jalan, berusaha tenang dan berdoa agar putra bungsunya, baik-baik saja.

Sampai rumah besar itu, ia gegas turun dan berlari ke lantai dua di mana kamar Adrian.

"Adrian!" serunya lalu melihat Sinta dan Leo menangis ketakutan.

'Mas!" airmata Sinta mengalir deras. Sementara Leo hanya diam membisu.

Farhan langsung mengambil alih Adrian. Dengan enteng tubuh bocah itu berada di gendongan Farhan.

"Sinta, kau langsung siapkan semua pakaian Adrian. Kau menyusul ke rumah sakit Dokter Rivaldi!" lanjutnya memberi perintah.

Lalu matanya menatap Leo yang hanya diam membisu.

"Leo ... Ikut Ayah. Ayah butuh bantuanmu!" sambungnya.

Leo mendongak, ia tak menyangka dirinya akan ikut andil membantu.

"Iya Ayah!" angguk Leo tegas. .

Lalu ia berlari ke bawah bersama Leo. Sementara Sinta mengemasi baju-baju Adrian.

Di mobil, Farhan menelpon pihak sekolah. Ia meminta ijin atas ketidak hadiran Leo dan Adrian.

"Kedua anak saya sakit, Bu. Saya minta ijinnya. Jika perlu, nanti ibu dari anak-anak akan bawa surat keterangan dokter!" ujarnya memberi alasan pada pihak sekolah.

"Baik, Pak. Kami beri ijin. Yang penting kesehatan Nanda Leo dan Nanda Adrian bisa pulih seperti sedia kala!" ujar guru piket yang menerima telepon.

"Aamiin, terimakasih atas pengertiannya, Bu. Assalamualaikum!" Farhan menutup telepon setelah mendengar balasan salam.

Kendaraan itu melaju cepat, klakson terus dibunyikan tanda bahaya. Farhan menyalakan lampu mobil berkedip tanda darurat.

Sepuluh menit, kendaraan itu langsung sampai. Tak lama mobil Sinta menyusul. Di sana ia bisa lihat sendiri. Bagaimana koneksi berbicara.

Farhan yang tentu banyak kolega dan kenalan. Tak akan sulit baginya mendapatkan layanan eklusif. Tak ada pemberhentian di lajur administrasi atau akses asuransi yang berbelit-belit. Adrian langsung dilarikan ke UGD untuk penanganan.

Sinta, Leo dan Farhan duduk di kursi stainless. Menunggu perkembangan. Tak lama, brangkar Adrian keluar. Farhan dan Sinta langsung berdiri termasuk Leo.

"Dok?" Farhan dan Sinta tentu cemas.

Dokter Rivaldi, spesial anak, pria itu tersenyum dan menepuk bahu Farhan.

"Alhamdulillah. Hanya gejala flu dan sedikit tekanan mental. Selebihnya, Adek tidak apa-apa!" ujar pria berjas sneli itu.

Farhan dan Sinta bernafas lega, keduanya mengucapkan hamdalah.

"Bisa kita bicara?" Rivaldi menatap Sinta dan Farhan.

Farhan mengerti, ia lalu berjongkok menatap putra sulungnya yang sudah makin tinggi.

"Nak, Ayah minta tolong boleh?" Leo mengangguk.

"Abang jaga Adek ya. Tanya Suster apa yang harus dilakukan ketika Adek bangun!" Leo kembali mengangguk kuat.

Farhan menghela nafas panjang, tampaknya Leo belum memaafkannya. Ia pun mengangguk pada Rivaldi, sementara Leo dibawa perawat menuju kamar rawat sang adik.

Ketika keduanya duduk di depan Rivaldi. Tampak baik wajah Farhan dan Sinta sedikit canggung.

"Aku langsung saja ya!" sahut Rivaldi tanpa mau basa-basi.

"Aku tau tentang perceraian kalian. Tapi bisakah, jangan libatkan anak-anak dalam masalah kalian?"

Pernyataan Dokter Rivaldi menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di ruang konsultasi itu. Sinta menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri, sementara Farhan menatap kosong ke arah deretan piagam di dinding ruang dokter.

“Anak tidak pernah minta orang tuanya bercerai,” lanjutnya pelan.

“Tapi merekalah yang paling sering dipaksa menanggung akibatnya.”

Sinta menunduk. Jari-jarinya saling mencengkeram hingga memutih.

“Adrian demam bukan semata karena flu,” sambung Rivaldi.

“Imunitasnya turun karena stres. Ketakutan. Rasa kehilangan yang tidak bisa ia pahami," lanjutnya lagi.

Farhan mengusap wajahnya kasar, sementara Sinta hanya menunduk dalam.

"Aku tak minta kalian rujuk. Tapi, Sinta. Di sini peranmu sangat besar. Kau harusnya memberi mereka pengertian terlebih, Farhan sudah punya keluarga baru!' sambung Rivaldi tajam.

Nyut! Sakit! Dada Sinta seperti disayat sembilu mendengar kata-kata dokter di depannya.

"Dan Kau Farhan. Aku juga tetap menyalahkanmu. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti jika ayahnya tidak lagi pulang ke rumah!" imbuh Rivaldi tegas pada Farhan.

Pria itu hanya diam, ia tau jika dirinya terlalu keras kemarin pada kedua putranya.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Farhan lirih. .

"Aku bukan konsultan pernikahan. Aku dokter!" sinis Rivaldi pada teman bisnisnya itu.

"Maaf ...," sahut Farhan malu.

Rivaldi menghela nafas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Melipat tangan di atas perutnya.

"Saranku, berbagilah waktu, Farhan. Aku tau itu sulit. Tapi resiko mu, kau punya anak di sini!" ujarnya setelah sekian lama diam.

"Sekali lagi aku tekankan pada kalian berdua. Silahkan kalian ribut. Tapi jangan di depan anak-anak!" lanjutnya menatap tajam keduanya.

Farhan dan Sinta mengangguk, mereka harus menurunkan ego lebih banyak sekarang. Kedua anak-anak mereka sangat penting. Masa depan mereka berpengaruh dengan perkembangan psikologi mereka saat ini.

Mereka bertiga pun ke ruang VVIP di mana Adrian di rawat. Di sana, Keduanya menatap bagaimana Leo menenangkan adiknya yang menangis.

"Kak, Ayah nggak akan pernah pulang lagi ke rumah ya. .. Hiks ... Hiks!"

Perkataan itu membuat tiga orang dewasa langsung mematung.

"Ayah pulang kok. Tapi nggak. Ke rumah kita, Dek. Ayah sudah punya rumah baru," ujar Leo dengan suara bergetar.

"Kenapa nggak Ayah jual aja rumahnya dan tinggal lagi sama kita. Kenapa Kak. .. Hiks ... Hiks ... Huuuu!"

"Kita nggak apa-apa Dek, walau tanpa Ayah!' airmata Leo luruh ketika mengatakan itu.

Farhan tak tahan, ia gegas mendekat dan memeluk keduanya.

"Ayah tidak pernah pergi dari hidup kalian, Nak! Tidak akan!" ujarnya tegas.

Sinta mendekat, berusaha kuat. Jujur ia mau semua anak-anak membenci mantan suaminya itu. Tapi,.jika ia lakukan itu. Sama saja ia menghancurkan hidup kedua anaknya.

"Ayah akan selalu jadi ayah kalian, Nak," sahut Sinta.

"Tapi Ayah nggak lagi pulang ke rumah ... Hiks ... Hiks!' sahut Adrian.

"Fisik Ayah memang jarang hadir. Yapi seluruh jiwa ayah akan ayah berikan untuk kalian!" sahut Farhan tegas.

Rivaldi mendongak untuk menahan airmatanya agar tak jatuh. Ia tau bagaimana beratnya seorang anak korban perceraian. Ia salah satunya dan sangat lama untuk mengobati luka.

"Ehem!' dia berdehem untuk menetralkan hatinya.

Semua menoleh, kikuk. Rivaldi tersenyum ramah.

'Sekarang kita periksa Adek dulu ya!" ujarnya tersenyum.

Selesai diperiksa, Rivaldi pergi dari sana. Adrian harus dirawat inap untuk memulihkan staminanya.

'Kalian pulanglah," suruh Farhan.

"Leo, Ayah minta tolong lagi boleh?" Leo mengangguk kuat.

"Tolong jaga Bunda ya!" lanjutnya dengan suara gemetar.

"Aku akan menjaga Bunda walau tanpa Ayah suruh!" sahut Leo tegas.

"Ayah tau. Tapi sekarang, kamu sudah tambah besar. Jadi kamu harus lebih kuat. Ayah pasti akan selalu ada jika kalian butuh Ayah!" sebuah kata-kata yang Leo sangat mengerti artinya.

"Aku akan jaga Bunda ... Jangan khawatir ... Ayah!" ujar Leo sekali lagi tegas.

Sinta membawa si sulung pulang, Farhan menghela nafas panjang. Leo belum sepenuhnya memaafkannya.

'Aku tau ini berat. Tapi Rivaldi benar. Aku harus berbagi waktu untuk semuanya," gumamnya dalam hati.

Sementara di rumah, Rina yang tau jika Farhan menunggu putranya di rumah sakit melalui SMS, terdiam.

Tangannya mengepal erat benda canggih itu seakan ingin meremukkan nya. Lalu perlahan ia mengusap perutnya yang masih rata.

'Aku harus hamil. Anak laki-laki!"

Bersambung.

Huwooo ... Bener kan ada udang di balik peyek!

Next?

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!