Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 23
Aveline masih belum sadar.
Tubuhnya terbaring lemah di ranjang Ken.
Infus menggantung pelan.
Napasnya tipis.
Ken berdiri di sampingnya cukup lama.
Zara berdiri lebih jauh.
Ia tidak tahu harus melihat ke mana.
Akhirnya Ken menoleh padanya.
“Aku antar kamu pulang ya…Bibi pasti khawatir.”
Zara langsung menggeleng pelan.
“Ken… nggak usah, biar aku pulang sendiri ya.”
Nada suaranya lembut. Tidak marah. Tidak dingin.
Justru terlalu tenang.
“Kamu harus di sini.”
Ken menatapnya.
“Aku baik-baik saja.”
Kalimat kebohongan yang zara sendiri terkejut telah mengucapkannya.
Kakek Jo akhirnya angkat suara.
“Biar Kakek yang antar.”
Ken tampak ragu.
Tapi ia tahu.
ia memang tidak bisa pergi.
Tidak malam ini.
Tidak saat masa lalu terbaring di tempat tidurnya.
Zara tersenyum kecil.
“Semuanya lagi butuh kamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi seperti pisau kecil di dada sendiri.
Ken ingin berkata sesuatu.
Namun tidak ada kata yang tepat.
Akhirnya ia hanya mengangguk pelan.
Dan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Mobil melaju membelah malam.
Lampu kota berkelip indah di luar jendela.
Sama seperti beberapa jam lalu ketika Zara pulang dari Malang dengan hati penuh kebahagiaan.
Namun sekarang…
Lampu itu tetap terang.
Tapi hatinya terasa gelap.
Zara menatap keluar tanpa benar-benar melihat.
Pikirannya berputar.
Eve.
Nama itu seperti gema.
Cara Ken memanggilnya.
Cara ia berteriak tadi.
Cara tangannya gemetar.
Cara ia memeluk tubuh kurus itu tanpa ragu.
Perasaannya benar-benar seperti roller coaster di Jatim Park 1.
Naik tinggi saat di Malang.
Turun tajam malam ini.
“Zara.”
Suara Kakek Jo memecah kesunyian.
Zara menoleh pelan.
“Iya, Kek.”
“Kamu pasti lagi banyak mikir.”
Zara tersenyum tipis.
“Kelihatan ya?”
“Kakek sudah hidup lama sekali. Wajah bingung dan patah hati itu beda tipis.”
Zara terkekeh kecil meski terasa berat.
“Patah hati belum, Kek.”
“Belum?” Kakek Jo mengangkat alisnya.
Zara menunduk.
“Hanya… rasanya kayak berdiri di tempat yang bukan punyaku.”
Sunyi sebentar.
Kakek Jo menghela napas pelan.
“Kakek tahu ini berat.”
Zara menatapnya.
“Tapi Kakek juga tahu hati kamu tidak kecil.”
Zara terdiam.
“Kamu gadis kuat. Tapi bukan berarti tidak boleh sedih.”
Lampu merah membuat mobil berhenti.
Cahaya merah memantul di wajah Zara yang manis itu.
Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Ken masih… sayang ya, Kek?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Sangat pelan.
Kakek Jo tidak langsung menjawab.
“Yang Kakek tahu… Ken belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.”
Zara mengangguk kecil.
Jawaban yang sudah ia duga.
“Tapi yang juga Kakek tahu… sejak kamu masuk dalam hidupnya, cucu Kakek berubah.”
Zara diam.
“Kamu pikir dia pernah tertawa seperti di Malang itu dengan siapa pun?”
Zara teringat wajah Ken saat naik wahana, lari larian di pinggir Pantai, tertawa saat ia hampir menjerit di bianglala.
Dadanya terasa hangat… dan sakit bersamaan.
“Kakek ingin menceritakan semuanya ,” lanjut Kakek pelan,
“tapi bukan kewajiban kakek untuk menjelaskan.”
Zara menoleh.
“Biarkan Ken yang bicara.”
Mobil kembali melaju.
Kakek Jo melirik Zara lagi.
“Dan satu lagi.”
“Iya, Kek?”
“Kamu tidak sedang bersaing dengan hantu.”
Kalimat itu menggantung.
“Tapi kalau hantu itu benar-benar kembali hidup… maka semuanya memang harus dibicarakan.”
Zara menatap jalan lagi.
Kali ini matanya tidak kosong.
Hanya… berat.
Mobil berhenti di depan rumah Zara.
Zara menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
“Terima kasih ya, Kek.”
Kakek Jo tersenyum hangat.
“Terima kasih juga sudah jadi cahaya buat cucu Kakek.”
Zara tersenyum tipis.
“Hati-hati di jalan.”
“Kamu juga hati-hati sama perasaanmu.”
Zara terkekeh kecil.
Ia turun.
Dan berjalan masuk ke rumah.
Begitu pintu dibuka,
Bibi sudah berdiri dengan wajah berbinar.
“ZARAAA! Gimana? Seru? Kamu senyum terus dari tadi Bibi lihat di foto yang kamu kirim!”
Zara langsung tersenyum lebar.
Refleks.
“Iya, Bi! Seruuuu banget!”
Ia memeluk bibinya erat.
Bibi tertawa kecil.
“Akhirnya keponakan Bibi jalan-jalan juga sama calon suami!”
Zara menelan sesuatu di tenggorokan.
Calon suami.
“Iya…” jawabnya pelan.
Bibi mundur sedikit, memperhatikan wajah Zara.
“Kamu capek?”
“Sedikit.”
“Kamu bahagia kan?”
Zara tersenyum lagi.
Senyum yang hampir sempurna.
“Hemm.”
Bibi mengacak rambutnya lembut.
“Bibi senang lihat kamu begini.”
Zara mengangguk.
Ia tidak ingin membuat bibinya khawatir.
Tidak ingin merusak kebahagiaan yang sudah lama mereka rasakan.
Ia masuk ke kamar.
Menutup pintu pelan.
Begitu sendirian,
Senyumnya perlahan memudar.
Ia duduk di tepi ranjang.
Mengingat satu hal yang tidak bisa ia hapus dari pikirannya.
Ken memanggil nama itu.
“Eve…”
Bukan dengan nada biasa.
Tapi dengan nada seseorang yang pernah kehilangan segalanya.
Zara memeluk lututnya.
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di luar…
Lampu kota tetap gemerlap.
Di dalam…
Hatinya redup.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi Bersama.
Zara takut.
Takut kalau kebahagiaan di Malang hanyalah jeda singkat…
Sebelum kenyataan benar-benar menguji siapa yang akan dipilih Ken.