Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Rhea
Malam itu berlalu begitu saja, menguras tenaga Azz dan Chorna yang mengawasi pemilik kamar yang belum sadar hingga matahari terbit.
Mereka berdua yang sengaja bergantian tidur setiap jam akhirnya sama-sama tertidur lelap begitu sinar matahari masuk melalui jendela.
Pada saat itu, seseorang menyelinap dari balkon jendela dengan langkah kaki yang sengaja dibuat lambat dan ringan.
Orang itu berjalan ke arah Azz dan Chorna yang duduk di kursi di samping ranjang, tertidur dalam keadaan duduk.
Mengendap mendekat perlahan. Baru saja ia sampai di tepi ranjang dan melihat orang yang berbaring di atasnya lebih jelas, mata Azz dan Chorna terbuka secara bersamaan, lalu menatapnya tajam.
“Siapa?!” Azz yang masih setengah sadar refleks berteriak waspada.
Di sisi lain, Chorna sudah bersiap menerkam.
“Aduh! Lepaskan, anak manis, aku bukan orang jahat!” Orang itu berteriak keras saat tangan kanannya digigit kuat oleh taring kucing palsu Chorna.
“Yang Mulia, tolong! Sa-saya Louise!” teriaknya.
Barulah setelah beberapa saat, Azz melihat sosok itu lebih jelas. Ia mengusap matanya yang mengantuk dan bergumam pelan,
“Komandan Louise? Kenapa kau di sini?”
Lucy, alias Komandan Louise, ksatria kekar berambut pirang itu merengek sambil menunjuk gigitan kucing di lengannya.
“Lihat, kucing kecil. Gigitanmu kuat sekali...”
Setelah gigitan di lengannya terlepas, Lucy menjawab pertanyaan putra mahkota itu dengan lugas,
“Tentu saja menjenguk seorang teman! Begitu mendengar berita, saya langsung datang!”
Di sampingnya, Chorna menyipitkan matanya dengan bingung. Naga itu merasakan sihir ilusi yang sama menempel pada tubuh pria kekar tersebut. Tanpa sadar ia menoleh ke arah Azz, dan Chorna mendapat anggukan yang mengisyaratkan agar ia diam saja.
Azz menarik kembali Chorna dan mendudukkannya di pangkuannya. Tatapannya beralih ke arah Lucy.
Sejak awal, ketika ayahnya merekrutnya sebagai ksatria, Azz sudah mengetahui bahwa Komandan Louise adalah wanita yang menyamar. Namun, ia baru tahu bahwa perempuan itu memiliki hubungan yang begitu dekat dengan gurunya di masa depan di masa perang dengan Kekaisaran Suci.
Azz mengangkat sudut mulutnya.
“Seingat saya, guru saat ini tidak dekat dengan Anda, Komandan Louise.”
Setelah menyatakan sebuah fakta dengan sedikit bumbu provokasi, ekspresi Lucy menjadi rumit.
“Lagipula, siapa yang memperbolehkan seorang pria menyelinap ke kamar wanita di istana ini? Kalau ketahuan, Anda akan dikenai sanksi,” tambahnya dengan sinis.
“Ti-tidak... Yang Mulia, tolong jangan laporkan pada siapa pun. Sa-saya tidak bermaksud apa-apa dan hanya murni menjenguk karena khawatir!”
“Oh ya? Tapi kenapa lewat jendela?”
“Itu karena saya tidak diperbolehkan masuk oleh penjaga di luar sejak pagi! Saya tidak bermaksud lain!”
Mendengar dia berkata jujur, Azz berhenti menekannya. Ia juga mengonfirmasi bahwa Louise baru saja datang dan tidak mendengar percakapannya tadi malam.
“Sekarang Anda sudah melihatnya.” Azz mengangkat dagunya, berkata dingin. “Guru baik-baik saja. Anda bisa pergi, Komandan Louise.”
“Ta-tapi...” Lucy ragu-ragu hendak memprotes, tetapi keberaniannya menciut ketika ditatap oleh mata ungu Azz yang memancarkan tekanan menusuk.
“Baiklah... saya permisi, Yang Mulia.”
Memberi salam dengan nada keengganan, Lucy membalik punggungnya dan berjalan kembali menuju jendela balkon. Dengan lincah, ia meloncat dan menghilang dari pandangan Azz.
Chorna bertanya padanya, “Kenapa Kakak Peri menggunakan mantra ilusi padanya? Apa yang perlu disembunyikan?”
Sebagai makhluk yang sama-sama harus mendapat penyamaran ilusi dari Rhea, Chorna merasa penasaran.
Kelopak mata Azz sedikit gatal dan ia menggosoknya.
“Hmm, dia perempuan,” jawabnya pelan. “Dan ksatria itu harus laki-laki.”
“Kenapa?”
“Aku juga tidak tahu.” Azz mengangkat bahu. “Kedudukan perempuan memang sedikit lebih rendah dibanding laki-laki. Untuk beberapa profesi, perempuan tidak boleh mendudukinya sama sekali, termasuk ksatria.”
“Kenapa harus begitu? Itu hanya gender, kan?”
“Aku tidak mau menjawab pertanyaan ini, karena mungkin akan menimbulkan salah persepsi padamu,” jawab Azz. “Kau adalah naga. Apa pun jenis kelaminmu, kau tetap dihormati. Jadi jangan pikirkan itu.”
Azz tidak memberi tahu Chorna bahwa Kekaisaran Arcana memiliki perlakuan yang lebih baik kepada perempuan dibandingkan Kekaisaran Suci. Di sini, meskipun perempuan tidak bisa meneruskan gelar bangsawan keluarganya, mereka masih bisa eksis dan menunjukkan bakatnya di bidang lain, seperti Rhea Celeste.
Sedangkan di Kekaisaran Suci, kedudukan perempuan hanyalah pendamping bagi laki-laki. Azz menggelengkan kepala tidak setuju saat mengingat cerita itu.
Beberapa saat kemudian, ketukan terdengar di pintu.
Setelah memberi tahu orang di luar untuk masuk, Azz membenarkan penampilannya dan menurunkan Chorna dari pangkuannya.
“Yang Mulia, Raja memanggil Anda ke tempatnya untuk audiensi.” Kepala pelayan tua membenarkan kacamata berlensa tunggalnya dan membungkuk.
“Ayah?” Jawaban Azz tidak terdengar bersemangat, bahkan penuh penolakan. “Aku sibuk dan tak bisa pergi. Katakan padanya aku akan menemuinya nanti.”
“Tapi, Yang Mulia...”
Azz membalik punggungnya dan tidak menghiraukan kata-katanya selanjutnya. Ia melirik acuh tak acuh sebelum mengambil kotak kue di meja Rhea dan duduk di sofa kecil.
“Aku lapar, Kepala Pelayan. Bisakah kau siapkan sarapanku lebih awal?” katanya sambil mengunyah kue kering di tangannya.
Azz melihat Kepala pelayan yang hendak berbicara, tetapi menutup kembali mulutnya dengan enggan. Setelah itu, ia melihatnya mundur dan menghilang dari pandangannya.
Memasukkan kue susu terakhir, Azz menemukan Chorna menempel pada bagian belakang lengan Rhea.
“Chorna, kau ingin makan apa? Biar aku beri tahu kepala pelayan saat ia datang ke sini lagi nanti.”
Kepala Chorna keluar dari lengan dan bergerak ke atas. Tiba-tiba ia merasakan gerakan dari tubuh di dekatnya. Matanya bersinar, kemudian ia mendengar gumaman.
“Azz! Lihat, Kakak Peri sudah bergerak-gerak! Dia sepertinya akan bangun!” serunya, hampir saja melompat ke tempat Azz duduk.
Jantung Azz menegang. Ia berdiri cepat hingga meja kecil di sampingnya sedikit bergeser. Ia melihat ke arah itu. Kelopak mata Rhea bergerak-gerak untuk sementara waktu.
Menahan napas, Azz dan Chorna saling mengawasi di samping. Mata keduanya sama-sama senang, tetapi juga khawatir.
Beberapa saat setelahnya, mata Rhea terbuka sepenuhnya. Biru safir matanya masih kosong, tertutup kabut, dan hanya berkedip perlahan.
“Guru?”
“Kakak Peri?”
Memanggilnya bersamaan, Azz dan Chorna menyentuh lengannya.
“Ah...” Rhea bereaksi terlambat dan bangun untuk duduk. “Kalian...”
Mata Rhea kosong seolah melamun. Setelah berkedip, dia bertanya sambil tersenyum, “Kenapa kalian berkumpul di sini? Apa aku kesiangan?”
Dia tersenyum, tetapi matanya masih kosong, membuat senyumnya terlihat tidak pada tempatnya. “Yang Mulia, ada lingkaran hitam di mata Anda. Jangan begadang, Anda masih di masa pertumbuhan.”
Azz mengatupkan bibirnya, sedikit menoleh ke Chorna yang juga membuat ekspresi wajah yang sama. Akhirnya dia mengonfirmasi bahwa bukan dia saja yang merasa aneh.
“Guru, karena Anda tertidur selama sehari semalam, Chorna khawatir dan memanggil saya,” ucap Azz sambil mengamati ekspresi Rhea dengan hati-hati.
“Kakak Peri, aku khawatir! Sebanyak apa pun aku berusaha membuatmu bangun, tidak ada respons! Aku sudah meneriaki telingamu, tetapi tidak ada tanda-tanda bangun!”
Rhea berkedip lambat sebelum menjawab dengan nada tenang, “Begitu rupanya...”
Dia mengangkat tangannya, mengusap pelipisnya pelan. “Aku bermimpi sangat panjang...”
“Jadi suasana hatiku agak aneh.”
Azz tidak menyangka Rhea mengatakan masalahnya dengan jujur. Dia mendekat dan bertanya hati-hati, “Apa yang Guru impikan?”
Hening sejenak tanpa tanggapan. Setelah beberapa detik sunyi, Rhea akhirnya membuka mulutnya.
“Kehidupan seseorang.”
Lalu dia menyapu pandangannya ke rambut putih keperakannya yang terurai di bahu dan berkata, “Kemungkinan ingatanku sendiri.”
Azz mengangguk dan melirik Chorna. Dia mengedipkan mata, lalu berbalik kembali.
Chorna mengerti dan menempelkan kepala halusnya ke telapak tangan Rhea, mengusap-usap dengan imut.
Tatapan kosong Rhea sedikit fokus saat merasakan sentuhan itu. Tangannya pun secara refleks membalas belaian Chorna dengan lembut.
Saat itu Azz bertanya, “Berarti Guru sudah ingat semuanya? Sihir Guru dan apa yang harus Guru ajarkan juga sudah ingat? Jadi Guru sudah bisa mengajariku dengan benar sekarang?”
Dia berpura-pura antusias, tetapi niatnya hanya mengalihkan perhatian Rhea agar tidak menceritakan ingatan-ingatan buruk dan fokus pada sisi positifnya.
“Benar.” Senyum tulus muncul di bibir Rhea pada akhirnya. “Karena sudah ingat semua, Guru bisa mengajar dengan benar sekarang.”
Azz membalas senyumnya. Nada bicaranya sedikit tinggi.
“Kalau begitu saya harus bersiap-siap, dan Guru juga istirahat dengan benar. Besok kita bisa belajar dengan normal.”
Saat Rhea mengangguk, pintu kembali terbuka. Kepala pelayan masuk sambil membawa sarapan.
“Nyonya Celeste sudah bangun rupanya. Saya senang." Ia membungkuk hormat. “Yang Mulia, apakah saya harus membawa porsi sarapan lain?”
Azz mengambil semangkuk bubur labu dan segelas susu di tangan kepala pelayan dan menjawab, “Tidak perlu, aku sudah kenyang. Biar guru makan lebih dulu."
Mangkuk dan segelas susu hangat itu dia taruh di tangan Rhea. Dengan sungguh sungguh, Azz berkata, “Guru sudah tidak makan seharian,jadi makanlah perlahan."
Kilatan keraguan muncul di sudut mata Rhea. Merasa perilakunya yang perhatian sulit dipercaya. Namun karena Azz sendiri sulit ditebak dan kadang terlihat munafik, tidak lama sebelum ia melupakannya.
Setelah seteguk susu dan dua sendokan, Rhea menolak melanjutkan, dengan alasan perutnya mual.
“Kakak peri, ada sesuatu yang ingin aku beritahu padamu!"
Chorna tiba-tiba membuka topik pembicaraan setelah Azz mengambil beberapa kue dari kepala pelayan.
“Chorna?" Azz menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan.
Tak menghiraukan kebingungan Azz, Chorna merentangkan lengannya yang berbulu dan menunjuk ke dahi Rhea kemudian ke dahinya sendiri.
“Kita sekarang adalah rekan kontrak! Sekarang kakak peri bisa menggunakan sebagian kekuatanku dan aku bisa berubah wujud manusia atas keinginan kakak peri!"
Rhea menatap Chorna dalam diam, sebelum membuka mulutnya dan berkata pelan, “Oke, Chorna boleh berubah jika emang ingin."
Ia melanjutkan dengan nada melayang, “Tapi kalau sudah menjadi manusia, jangan jauh-jauh dariku oke? Apalagi sebagai naga perak, rambutmu pasti memiliki warna itu."
“Oh, oke..." Hanya itu yang bisa dikatakan Chorna untuk menjawab peringatan Rhea.
Azz melihat hal itu dari samping dan hanya bisa menghela napas pelan. Setelah menengok jarum jam yang berada di pukul delapan, dia berdiri dari tempatnya dan menghampiri Rhea.
“Guru, bisa tidak saya bawa Chorna keluar? Ada sesuatu yang harus kami lakukan bersama." Azz menarik Chorna dari lengan Rhea dan meminta izin.
“Hmm, oke, aku juga ingin lanjut tidur." Rhea terlihat tak mempermasalahkan hal itu dan malah terlihat lega.
“Benar, Guru pasti masih pusing karena ingatan yang kembali tiba-tiba." kata Azz sambil memberi isyarat pada Chorna.
Chorna paham maksud Azz dan bergeser ke samping, lalu melambai pada Rhea.“Selamat istirahat kakak peri! Aku pergi dulu dengan putra mahkota,sampai ketemu nanti!" katanya ceria.
Seelah itu Azz menggendong Chorna dan keluar dari kamar setelah memberi salam pada Rhea sambil tersenyum.
Ketika pintu ditutup sepenuhnya, ekpresi tenang Rhea langsung runtuh dan ia meringis sambil memegang kepalanya.
“Rasanya menjijikkan," gumamnya dengan getir.