Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Sahabat Kakek
Rayi terdiam sesaat mendengar pertanyaan kakek Brata. Lalu kalimat demi kalimat yang diucapkan Rio berhamburan di benaknya.
"Dan aku juga berharap kamu sepakat dengan aku untuk menyelesaikan pernikahan ini setelah aku pulang dari Jepang. Satu lagi rahasiakan pernikahan ini dari teman-temanmu,"
Teringat pula ucapan kakek Satya kakek kandungnya yang begitu menjaga persahabatannya dengan kakek Brata.
"Bersahabat itu harus tetap dipupuk jika sahabat itu berhati tulus."
"Seperti persahabatan Kakek dengan kakek Brata?"
"Kakek Brata lelaki kuat dan rendah hati walau berada pada tingkatan atas dalam segi perekonomian. Sudah ditakdirkan menjadi pewaris tunggal dalam keluarganya. Namun beliau juga orang yang tekun dan pekerja keras, sehingga dengan sepak terjangnya bukan hanya menjaga warisan orang tuanya, tapi juga berhasil menambah sekian banyak aset dan keuntungan. Para pekerjanya sejahtera, menghormati dan menyayanginya karena kakek Brata seorang pimpinan yang murah hati pada karyawannya ..." saat bercerita mata kakek Satya berbinar pertanda menunjukkan kekagumannya pada sahabat sejatinya itu.
"Kakek sudah lama bersahabat dengan kakek Brata?"
"Selagi sama-sama muda," angguk kakek Satya, "Berniat jadi besan tapi ibumu memilih ayahmu, dan Hadi anaknya kakek Brata juga sudah punya kekasih, dan ..."
"Cucu penerus perjodohan kalian?"
"Cucu kakek pasti dong gadis yang tak ingin membuat kakeknya sedih, karena kakek yakin kamu bukan hanya akan membuat Kakek bahagia, tapi juga akan membuat kakek Brata akan senang," mata kakek Satya berkaca-kaca.
"Kek Rayi kan masih kecil," ujar Rayi waktu itu.
"Tapi gadis kakek kan akan semakin dewasa," ujar kakek Satya tersenyum dengan sikap tak memaksa saat mengutarakan janji perjodohan, tapi lebih pada berharap.
Berharap itu lebih mulia dari memaksakan kehendak, itulah yang membuat hatinya luluh dan berusaha untuk membuat kakek Satyanya bahagia.
"Rayi ..." suara kakek Brata memecah lamunan Rayi.
Aku tak boleh membuatnya kecewa. Batin Rayi, karena mengecewakan kakek Brata sama saja dengan mengkhianati kakek Satya.
"Mas Rio mengatakan saat dia kembali baru bisa membahagiakan Rayi, Kek," bohong Rayi dengan senyum di bibir, padahal dalam hatinya kesal benar pada cucunya kakek Brata ini.
Oh Rio ternyata perhatian pada Rayi, apa dia cuma pura-pura terlihat cuek, tapi diam-diam tertarik juga pada istrinya.
"Oh itu memang keadaan memisahkan kalian, Nak, ya nanti bisa saling mengenal kalau Rio sudah pulang," ujar kakek Brata, dia percaya pada ucapan cucu menantunya ini tentang Rio yang menjanjikan kebahagiaan pada istrinya, hem licik juga itu anak, pura-pura menolak padahal mau, atau mulanya memang menolak tapi begitu melihat gadis itu langsung tertarik, ah, yang mana saja yang penting Rio menyukai Rayi cucu sahabatnya.
Rayi mengangguk dengan menyungging senyum untuk meyakinkan kakek Brata kalau Rio memang tertarik pada dirinya.
Kakek Brata termakan omongan dan senyum manis Rayi, dasar Rio melihat istrinya cantik tergoda, batinnya tersenyum. Mas Satya cucu kita tampaknya menemukan kecocokan, jadi tenang sajalah kamu di sana jangan khawatir cucumu kami menyayanginya, serunya dalam hati.
Saat makan malam.
Kakek Brata makan malam untuk pertama kalinya dengan Rayi.
"Rayi ..."
"Ya, Kek,"
"Kalau kamu ingin makan dengan lauk atau menu yang kamu suka tinggal bilang sama si Suti,"
"Ya, Kek, tapi Rayi gak milih menu. Lauk apa saja suka," ujar Rayi.
"Mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini masalah rumahmu biar diurus dua asisten rumah tanggamu. Masalah keperluan mereka dan lain-lainnya biar Kakek urus, ya sesekali kalau kangen kamu boleh pulang ke rumahmu,"
"Tapi semua buku dan keperluan kuliah Rayi masih di rumah, Kek,"
"Hem besok ambil ruang kerja Rio luas, kalian bisa berbagi di sana," ujar kakek Brata menyarankan.
Sebenarnya Rayi ingin mengajukan permintaan supaya keperluan kuliahnya dan ruang belajar jangan menyatu dengan ruang kerja Rio. Tapi untuk memulai keinginannya itu dia tak berani khawatir dianggap banyak maunya, padahal hanya karena tak mau kena masalah jika Rio kembali nanti.
Mau tak mau Rayi menurut saja pada saran kakek Brata. Lebih baik diprotes oleh Rio nanti daripada membangkang apa yang disarankan kakek mertuanya.
Kakek Brata memang sengaja mengatur Rayi belajar di ruang kerja Rio, dengan maksud supaya antara keduanya selalu interaksi.
Saat makan malam selesai seseorang mengantarkan foto dalam figura berukuran cukup besar.
"Rayi ..."
"Ya, Kek,"
"Ini foto pernikahanmu dengan Rio,"
Rayi menerima figura yang berisi foto dirinya dengan Rio saat ijab kabul. Matanya melebar menatap raut muka Rio.
"Oh ini tampang suamiku ..." tanpa sadar Rayi berucap, tentu saja kakek Brata yang berdiri di sampingnya dapat mendengar. Wah dia boleh juga, walau terkesan dingin tapi tampan, batinnya.
Diam-diam Rayi tertawa kecil karena merasa aneh juga baru tahu ketampanan lelaki yang menikahinya.
Kakek Brata yang berdiri dan memandangnya tak mengerti jika cucu menantunya ini baru.saat ini melihat raut muka Rio.
Ini baru fotonya, orangnya apa lebih tampan dari fotonya atau sama saja, ya, pikir Rayi. Ih kenapa aku jadi mikirnya terlalu jauh?
"Biar digantung di dinding kamar kalian," ujar kakek Brata lalu memberikan foto itu pada seorang yang membawa foto itu tadi.
Jadi resmi foto pernikahan Rayi dengan Rio digantung di dinding di atas meja rias yang berhadapan dengan tempat tidur.
Mau tak mau Rayi jadi sering memandang foto pernikahannya, bahkan saat berbaring justru langsung tatapannya pada foto itu.
"Huh kelihatannya dia bukan hanya dingin tapi auranya menolak menikahiku," sungut Rayi menemukan bukti ketidakbahagiaan Rio saat melakukan ijab. Klop dengan ucapannya yang tajam menusuk.
Buku dan diktat keperluan kuliah Rayi sudah tertata rapi di sebuah rak di samping lemari yang menyimpan data pekerjaan Rio. Meja kerja Rio cukup besar jadi jika hanya ditambah satu laptop milik Rayi tak akan mengganggu sekali pun Rio tengah berkegiatan memeriksa laporan kegiatan perusahaan.
"Hem sepertinya sih masih aman walau dipergunakan dua orang ruangan ini," batin Rayi memandang ke seluruh ruangan yang cukup luas itu.
Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphonenya. Dari nomer tak dikenal.
"Siapa, ya ...?" Tapi Rayi membuka juga pesan yang terkirim ke layar handphonenya.
(Aku Rio ...)
Rayi terkejut ketika membaca nama Rio. Dia terdiam sesaat."Rio?" apa Rio yang jadi suamiku, ya, ih dia mengirim pesan apaan?
(Demi baktiku pada kakek kubiarkan kamu menempati kamarku. Tapi awas jangan menyampah jaga kebersihan jangan ada pakaian wanita tergantung di kamarku, apalagi berserakan pakaian dalam wanita! Lalu emoji marah)
Huh dia benar ternyata. Sadis banget pesannya. Kurain aku anak kecil nyampah apa. Dan dia nggak tahu jika kamarku tak pernah tergantung baju bekas pakai, apalagi celana dalam dan behaku.
"Huh menyebalkan!" Sungut Rayi tak berminat untuk membalasnya.
Tokyo pada hari yang sama.
Rio berada di kamar hotel setelah mengadakan pertemuan dengan tuan Tanaka dan melihat-lihat produksi alat kesehatan perusahaan lelaki yang akan memulai kerjasama dengan perusahaan kakeknya.
Segera dikirimnya pesan pada kakek Brata.
(Kakek aku sudah bertemu dengan tuan Tanaka dan sudah pula dibawa berkeliling ke pabriknya, aku baru melihat secara kasar kegiatan di pabriknya dan ajan dilanjutkan besok lagi. Sementara ini aku rasa oke aman. Kakek jaga kesehatan, ya)
Kakek Brata langsung membalas pesan cucunya.
(Ya harus lebih jeli dan perhatikan bahan-bahan yang dipergunakan. Kakek percaya dua bulan bisa mendapatkan hasil penelitian dan hasil yang menjadi titik awal kerjasama yang sedang kita rancang. Oh ya apa kamu sudah menelepon istrimu)
Rio membaca pesan kakek Brata dengan raut muka penuh semangat khas seorang Rio lelaki muda dua puluh tiga tahun calon CEO sekaligus pewaris.
Tapi senyum dan binar pada mukanya langsung berubah dingin saat membaca akhir pesan kakeknya diingatkan untuk menelepon Rayi.
Huh bocil itu semakin merasa menjadi nyonya Rio Hadi Subrata jika aku memberinya muka. Biar saja sudah cukup untuk sementara menjadi menantu kesayangan kakek Brata.
Lalu Rio ingat akan pesannya pada Rayi. Pasti dia sudah membacanya. Dan setelah diperiksa pesan yang terkirim sudah centang biru.
"Dia tak mau membalas pesanku. Biar saja aku juga tak berharap dibalas, karena aku tak sedang nego tapi memberi ultimatum"
suka banget alurnya