Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Malam Pertama
Yang puasa skip bacaan ini, lompat bab selanjutnya. " M A A F Ya Teman-teman Readers"
Setelah kebisingan pesta di hotel bintang lima mereda, Daren dan Mila akhirnya tiba di kamar Presidential Suite yang sudah disiapkan Daren. Kamar itu sangat luas, dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta.
Namun, di dalam ruangan yang sangat dingin karena AC pusat itu, suasana justru terasa sangat canggung.
Daren berdiri di dekat jendela, masih mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sudah dibuka.
Sementara itu, Mila duduk di pinggir tempat tidur yang bertabur kelopak bunga mawar merah berbentuk hati. Mila masih memakai gaun satin putihnya, tangannya sibuk memilin ujung kain.
"Mil..."
"Mas Ren..."
Mereka bicara berbarengan, lalu keduanya tertawa hambar karena gugup.
"Lo... lo mau mandi duluan?" tanya Mila. Suaranya agak bergetar, bukan karena kedinginan, tapi karena jantungnya kembali memainkan drum cover lagu metal sama seperti saat dilamar dulu.
"Gue udah mandi di ruang ganti tadi, Mil. Lo aja dulu. Bersihin make-up lo, pasti berat banget itu di muka," sahut Daren sambil berusaha santai, padahal ia berkali-kali membetulkan posisi jam tangannya yang sebenarnya sudah pas.
Setengah jam kemudian, Mila keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengganti gaunnya dengan piyama satin berwarna maroon. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, masih agak basah. Aroma sabun mawar menyerbak ke seluruh ruangan.
Daren menelan ludah. CEO yang biasanya sanggup menghadapi ribuan investor tanpa gemetar itu kini merasa tangannya dingin.
"Mas Ren, lo kok malah bengong di situ? Sini duduk," panggil Mila pelan.
Daren mendekat, duduk di samping Mila. Jarak mereka hanya sepuluh sentimeter, tapi rasanya seperti ada tegangan listrik ribuan volt di antara mereka.
"Gue... gue jujur ya, Mil. Gue gugup banget," aku Daren jujur.
"Gue belum terbiasa"
Mila tertawa kecil, rasa tegangnya sedikit mencair.
Daren memberanikan diri. Ia menggeser duduknya, lalu perlahan mengambil tangan Mila dan menggenggamnya. Jemari Daren yang panjang dan hangat menelusup di sela-sela jari Mila.
"Mila, liat gue," bisik Daren lembut.
Mila mendongak. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, mata Daren terlihat sangat tulus. Tidak ada lagi sosok bos galak atau bule nekat, yang ada hanya seorang laki-laki yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada gadis di depannya.
"Makasih ya, sudah milih gue. Gue tahu gue banyak kurangnya. Gue belum paham semua adat lo, gue belum bisa makan sambal terasi sehebat Engkong, tapi gue janji... gue bakal jadi rumah buat lo," ucap Daren.
Mila merasakan matanya memanas.
"Gue juga makasih, Ren. Lo mau nerima gue yang apa adanya, yang kalau ngomong nggak pake saringan, yang keluarganya ajaib kayak tadi siang. Gue... gue bakal belajar jadi istri yang baik buat lo."
Daren mendekatkan wajahnya. Ia mencium kening Mila lama sekali, seolah sedang menyalurkan seluruh rasa sayangnya. Mila memejamkan mata, menikmati detak jantung Daren yang kini seirama dengan detaknya.
Daren kemudian memeluk Mila, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Mereka terdiam cukup lama dalam pelukan itu, membiarkan rasa gugup menguap dan berganti dengan rasa aman.
"Masih gugup?" tanya Daren pelan di telinga Mila.
Mila menggeleng pelan, wajahnya memerah di balik dada Daren.
"Dikit. Tapi kalau sama lo... gue rasa semuanya bakal baik-baik saja."
Daren tersenyum nakal, sisi jahilnya kembali muncul sedikit.
"Eh, tapi tadi kata Arjuna lo tidurnya ngorok kayak mesin traktor ya? Gue udah siapin earplug nih."
Mila langsung mencubit pinggang Daren gemas.
"Itu mah fitnah mantan yang gagal move on, Ren! Rasain nih jurus cubitan maut istri sah!"
Daren tertawa kecil melihat Mila yang cemberut setelah dicubit. Ia kemudian menangkap kedua tangan Mila, menguncinya dengan lembut, lalu membawa Mila semakin merapat ke arahnya.
Aroma melati yang masih tersisa di rambut Mila membuat pertahanan Daren runtuh seketika.
"Oke, oke, ampun Nyonya Daren," bisik Daren, suaranya kini berubah menjadi berat dan serak, membuat bulu kuduk Mila meremang indah.
Daren menjauhkan sedikit wajahnya hanya untuk menatap mata Mila dalam-dalam.
Tangannya yang hangat kini berpindah ke pipi Mila, mengelusnya perlahan dengan ibu jari. Mila bisa merasakan deru napas Daren yang mulai tidak beraturan di permukaan kulitnya.
"Mil, malam ini bukan cuma soal status di KTP," kata Daren sambil menyelipkan helai rambut Mila ke belakang telinga.
"Malam ini tentang gue yang pengen buktiin kalau gue bakal jaga lo seumur hidup gue."
Mila tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menatap mata biru keabu-abuan milik suaminya yang kini berkilat penuh kasih sayang.
Tanpa sadar, Mila melingkarkan tangannya di leher Daren, menariknya sedikit lebih dekat.
"Ren... jangan banyak teori CEO deh. Langsung eksekusi aja bisa nggak?" canda Mila pelan, meski wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.
Daren tersenyum nakal senyum yang selalu membuat Mila meleleh.
"Oh, challenge accepted, Sayang."
Daren kemudian mendaratkan ciuman lembut di hidung Mila, lalu turun ke bibirnya dengan sangat perlahan dan penuh perasaan.
Ciuman yang awalnya ragu-ragu itu berubah menjadi ungkapan rindu yang selama ini mereka tahan.
Dengan gerakan yang sangat protektif, Daren merebahkan tubuh Mila di atas hamparan kelopak mawar. Ia memposisikan dirinya di atas Mila, namun tetap menumpu berat tubuhnya agar istrinya tetap nyaman. Ia menatap Mila dengan tatapan memuja, seolah-olah Mila adalah satu-satunya alasan mengapa dunia ini diciptakan.
"I love you, my 'Gadis Pohon," bisik Daren tepat di depan bibir Mila.
" I Love you more, Bos Galak," balas Mila sebelum mereka benar-benar tenggelam dalam kehangatan malam yang panjang dan penuh cinta itu.
Beribu-ribu kilometer dari kemegahan Jakarta, di sebuah apartemen minimalis di sudut kota Berlin yang dingin, suasana terasa mencekam. Sakura, gadis blasteran Jepang-Jerman yang telah menjadi bayangan di hidup Daren sejak mereka masih belajar bersepeda di Tiergarten, duduk meringkuk di depan layar laptopnya.
Matanya yang sembap menatap layar yang masih menampilkan sisa-sisa siaran langsung pernikahan Daren dan Mila. Tangannya gemetar hebat saat melihat adegan Daren mencium kening Mila dengan begitu tulus.
Sakura terisak, suaranya pecah di tengah keheningan malam Berlin.
"Why, Daren? Why her?" bisiknya lirih.
Ia teringat janji-janji masa kecil mereka. Daren yang selalu melindunginya dari bullies di sekolah, Daren yang selalu membagi cokelat hangatnya saat musim dingin tiba.
Namun, kenyataannya pahit. Daren justru jatuh hati pada seorang gadis dari belahan dunia lain yang bahkan tidak mengenal apa itu Bratwurst.
"I’ve been by your side for twenty years, Daren. Twenty years of waiting, of hoping... and now, you belong to someone else," ratapnya sambil memeluk lutut.
Ia menyeka air matanya, tapi air mata itu terus mengalir deras. Sakura merasa dunia ini tidak adil. Baginya, Mila hanyalah Gadis Pohon yang mendadak beruntung, sementara dirinya adalah sosialita Berlin yang sudah mempersiapkan segala hal untuk menjadi pendamping seorang CEO.
Sakura meraih segelas wine di meja, mencoba membasuh rasa sesak di dadanya. Ia kembali melihat foto Mila yang tersenyum manis di pelaminan.
"She doesn't even know how you like your coffee in the morning, or how you can't sleep without the sound of the rain. How could you choose her over me?" gumamnya ketus,
Meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
Dan sekarang, kesempatan itu tertutup rapat selamanya.
"Congratulations, Daren. You finally found your home, but unfortunately, it’s not with me. My heart is officially broken into pieces today,"
Sakura menutup laptopnya dengan kasar, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan kamar dan rasa sakit yang tak berujung.
Sakura, sahabat kecil Daren ,blasteran Jepang Jerman.
Wah, ternyata ada sad girl di balik kebahagiaan Daren dan Mila! Sakura benar-benar patah hati di Berlin.
wkwkwk..
Bising kali rebutin kipas doang
Atau ga beli kipas kicik itu nah🤭
Restunya keluarga Mila😭