NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nekat

Mika berjalan pulang tanpa suara.

Jalan desa gelap, tapi ia mengenali setiap batu, setiap tikungan, setiap pohon pisang yang berdiri seperti biasa.

Hanya dirinya yang tidak lagi biasa. Tangannya gemetar ketika menyentuh pagar rumah.

Tidak ada lampu teras. Tidak ada suara batuk kecil dari dalam. Tidak ada langkah pincang. Rumah itu seperti ditinggalkan terlalu cepat.

Mika mendorong pintu. Engselnya berdecit pelan.

Ruang tengah kosong. Meja makan masih ada piring pagi tadi.

Kursi kayu Pak Raka tetap di tempatnya. Tapi orangnya hilang.

Mika berdiri lama. Seolah tubuhnya masih menunggu seseorang berkata ini hanya salah paham. Lalu ia memanggil pelan. “…Ayah?”

Tidak ada jawaban. Ia melangkah ke dapur. Air di teko dingin. Mika menelan napas yang terasa berat. “Jovan…?”

Nama itu jatuh seperti sesuatu yang seharusnya tidak ia ucapkan di rumah ini. Tapi rumah ini sudah kehilangan dua orang.

Ia duduk di lantai. Punggungnya menempel ke lemari. Untuk beberapa detik, ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri.

Lalu suara motor lewat di luar.

Desa masih hidup. Seolah tidak ada yang hilang. Padahal bagi Mika…dunia baru saja diambil.

.

Pagi datang terlalu cepat.

Kabut turun rendah. Ayam berkokok. Sumberjati bangun seperti biasa. Dan seperti biasa juga…pasar mulai bersuara.

Bu Sari lewat depan rumah Pak Raka sambil membawa keranjang. Ia berhenti. Biasanya Mika sudah keluar. Biasanya Pak Raka duduk di teras. Tapi pagi ini…pintu tertutup.

Bu Sari mengerutkan kening.

“Kok sepi?” Ia melanjutkan jalan. Tapi pertanyaan itu ikut berjalan bersamanya.

Di warung kopi, dua lelaki tua duduk. “Kemarin Mika nggak jualan.”

“Iya. Pak Raka juga nggak kelihatan.”

Satu orang menurunkan suara.

“Ada orang kota itu…”

Yang lain diam. Tidak ada yang menyebut nama. Di desa kecil, orang tidak butuh nama untuk takut.

Mika berdiri di sumur belakang.

Air dingin menyentuh wajahnya. Ia mencoba bernapas. Mencoba kembali jadi gadis desa. Tapi bayangan pabrik bata semalam masih menempel di kelopak matanya.

Levis.

Detonator.

Suara Pak Raka: Mika… pulang.

Dan Jovan…melangkah pergi tanpa bisa menoleh.

Mika menggenggam bibirnya.

Kalau ia diam…Pak Raka tidak akan kembali. Kalau ia diam, Jovan akan hilang.

Ia masuk ke kamar kecilnya. Di sudut, keranjang jambu masih ada. Seperti ejekan. Ia menatapnya lama. Lalu mengambil selendang. Memakainya pelan. Keputusan kecil. Tapi nyata.

Sementara itu…jauh dari desa…

mobil hitam melaju di jalan raya.

Lampu kota mulai muncul.

Gedung-gedung berdiri seperti dinding.

Jovan duduk di kursi belakang.

Tangan tidak diikat.

Levis tidak perlu itu.

Di dunia mereka…yang mengikat bukan tali. Tapi konsekuensi.

Levis duduk di depan, santai.

Seolah mengantar sepupu pulang dari sekolah. “Kau tahu,” katanya ringan. “Kota ini tidak pernah berubah.”

Jovan menatap keluar jendela.

“Kau yang tidak pernah berubah.”

Levis tertawa kecil. “Aku hanya realistis.”

Mobil memasuki kawasan industri. Gerbang besi tinggi.

Dua pria bersenjata membuka jalan.

Jovan mengenali tempat itu bahkan sebelum mobil berhenti. Bangunan lama. Markas lama. Neraka yang pernah ia tinggalkan.

Levis menoleh. “Selamat datang pulang.”

Jovan turun.

Udara kota berbeda. Lebih keras. Lebih tajam. Tidak ada kabut desa. Hanya asap dan lampu putih.

Di dalam gedung, beberapa orang berhenti bekerja. Tatapan mereka mengarah padanya. Ada yang terkejut. Ada yang tersenyum. Ada yang takut.

Satu bisikan menyebar pelan:

“Boss kembali…”

Jovan tidak menjawab. Karena ia bukan kembali. Ia dibawa.

Levis berjalan di sampingnya.

“Malam ini kau istirahat.”

Jovan menatapnya. “Aku mau Pak Raka.”

Levis mengangguk seolah itu permintaan wajar. “Besok.”

Jawaban itu membuat Jovan mengepalkan tangan.

Levis berhenti. Tatapannya turun. “Jovan…” Suaranya halus. “Tadi kau ikut aku supaya gadis itu pulang.”

Jovan diam.

Levis mendekat sedikit. “Sekarang kau ikut aku supaya orang pincang itu tetap hidup.”

Kalimat itu sederhana. Tapi seperti rantai.

Levis tersenyum tipis. “Kau lihat?”

“Kau sudah masuk lagi.”

.

Malam turun di Sumberjati.

Mika duduk di teras sendirian.

Lampu kecil menyala redup.

Desa sunyi. Tapi di dalam dirinya…sunyi itu pecah.

Ia berdiri dan melangkah keluar pagar. Jalan desa gelap. Namun langkahnya tidak lagi ragu.

Karena kalau lelaki-lelaki itu bermain dengan sandera…maka untuk pertama kalinya…gadis desa juga harus bergerak.

Dan di kota…Jovan berdiri di depan jendela markas.

Lampu-lampu menyala seperti mata. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Bukan pria kebun jambu. Bukan pria desa.

Wajah lama. Dunia lama.

Dan perang yang akhirnya benar-benar dimulai.

Lampu kamar itu padam. Dan malam tidak lagi milik desa.

.

Mika tidak tidur malam itu.

Rumah terasa terlalu besar untuk kosongnya. Terlalu sunyi untuk dua orang yang hilang.

Ia duduk di lantai ruang tengah, punggung bersandar pada dinding. Tangannya masih gemetar.

Jovan dan Pak Raka dibawa.

Dan ia…dipulangkan. Seolah ia hanya paket yang sudah selesai dipakai.

Di luar, desa tetap diam. Tidak ada sirene. Tidak ada teriakan.

Hanya malam yang berjalan seperti biasa.

Mika menatap jalan kecil di depan rumah. Lalu ia berdiri.

Keranjang pasar masih di sudut. Selendang masih tergantung. Semua benda desa tetap di tempatnya. Tapi hidupnya sudah tidak. Ia mengambil jaket tipis, menyampirkannya cepat. Bukan untuk hangat. Untuk merasa ada lapisan antara dirinya dan dunia.

Ia melangkah keluar. dengan sepeda matic nya. Udara dingin menampar wajahnya. Mika tidak menuju pasar. Ia menuju arah sebaliknya. Ke luar desa.

Ke tempat orang seperti Levis tidak perlu bersembunyi di balik obrolan warga.

Jovan pernah menyebut satu hal, tanpa sengaja. Bukan nama. Bukan alamat.

Hanya kalimat pendek waktu bahunya masih luka. “Di pinggir kecamatan… ada gudang tua yang sudah jadi tempat singgah orang-orang kota.”

Mika tidak tahu apakah itu markas.

Levis tidak akan membawa Jovan jauh. Orang seperti itu suka menonton dekat.

Mika berjalan menyusuri jalan tanah. Lampu rumah makin jarang. Suara jangkrik makin keras. Setiap langkah terasa seperti menyeberangi batas yang tidak tertulis.

Desa berhenti di belakangnya.

Dan dunia lain mulai. Di ujung kecamatan, bangunan itu berdiri. Tidak besar. Tapi terlalu gelap untuk disebut kosong.

Gudang tua. Pagar besi.

Dan dua motor terparkir rapi di samping. Bukan motor warga.

Mika berhenti di balik pohon.

Napasnya menahan. Ada suara laki-laki tertawa pelan. Ada asap rokok naik dari pos kecil.

Penjaga.

Levis tidak bodoh.

Mika menelan ludah.

Ia tidak punya rencana matang. Tidak punya senjata. Tidak punya siapa-siapa.

Tapi ia punya sesuatu yang lebih berbahaya, nekat.

Ia menunggu.

Satu menit. Dua menit.

Lalu sebuah mobil keluar dari halaman gudang. Lampunya redup. Gerbang terbuka sebentar. Dan itu cukup.

Mika bergerak cepat.

Langkahnya ringan, hampir tidak terdengar. Ia menyelinap masuk sebelum gerbang menutup lagi. Jantungnya seperti dipukul dari dalam.

Halaman belakang gudang lebih gelap. Ada karung-karung beras kosong. Ada peti kayu. Ada pintu samping setengah terbuka.

Mika mendekat. Dari dalam, suara samar terdengar. Bukan suara Jovan dan suara Pak Raka.

Hanya suara orang bicara rendah. “…sepupu itu akhirnya ikut.”

“…Levis puas.”

Mika membeku. Sepupu. Itu benar. Jovan benar-benar dibawa kembali. Mika menutup mulutnya dengan tangan sendiri.

Air matanya panas. Tapi ia tidak boleh menangis. Tangis hanya membuat suara.

Ia mundur pelan.

Namun, Kayu kecil di bawah kakinya patah.

Krek.

Suara itu kecil. Tapi di tempat seperti ini…kecil pun terdengar seperti tembakan.

Langkah berhenti di dalam.

Satu suara tajam, “Siapa di luar?”

Mika mundur cepat. Terlambat.

Pintu samping terbuka keras.

Seorang pria keluar.

Tubuh besar. Mata curiga.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!