NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

suasana di sekolah mulai berubah perlahan. Isu tentang pengeroyokan Rey mulai mereda, dan begitu pula ketegangan di antara para siswa.

Danzel berdiri di balkon lantai dua, memandangi halaman sekolah di bawah. Tatapannya tenang, tapi dalam pikirannya masih terbayang peristiwa beberapa hari lalu — terutama permintaan Alice.

"Danzel... kumohon, hentikan semuanya. Rey sudah cukup menerima balasannya."

Suara lembut Alice masih terngiang di kepalanya. Ia tahu, kalau bukan karena Alice , mungkin ia tidak akan pernah melunak seperti ini.

akhirnya Danzel mencabut hukuman kepada Rey, dan mengizinkan Rey kembali bersama Megan Stella dan Mike.

**

Suasana taman belakang sekolah,

 Di bangku kayu dekat kolam kecil, Rey duduk sendiri—menatap air yang beriak pelan setiap kali angin berhembus.

Sudah beberapa hari sejak Alice menolongnya, dan sejak Danzel mencabut hukuman. Tapi entah kenapa, Rey masih belum berani berbaur. Semua terasa berbeda, sepi, dan asing.

Namun langkah kaki dari arah belakang membuatnya menoleh.

“Rey...” suara lembut itu terdengar—suara yang dulu begitu familiar.

Rey menatap, terkejut melihat Stella berdiri tak jauh darinya, dengan Megan dan Mike di sisinya. 

“Kalian...?"

Mike yang biasanya ceria kini tampak sedikit kikuk. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana, menatap Rey dengan senyum kaku.

“Kita dengar... Danzel sudah mencabut larangan itu,” katanya. “Jadi... kita pikir, mungkin sudah saatnya...”

“Untuk kembali seperti dulu,” sambung Megan pelan, matanya menatap Rey penuh harap.

Stella melangkah mendekat. Tatapannya lembut tapi sarat perasaan bersalah. “Kita semua khawatir, Rey. Saat tahu apa yang terjadi padamu...”

Ia menarik napas dalam, lalu menunduk sedikit. “Dan... maaf, karena rencana kita waktu itu malah membuatmu terluka dan berada di posisi seperti ini.”

Rey menggeleng perlahan, tersenyum tipis. “Sudahlah, Stella. Semua sudah terjadi. Lagipula, itu juga karena kesalahanku sendiri—aku yang tidak bisa mengendalikan diri.”

“Tapi—”

“Sudah,” potong Rey lembut. “bisa kita membahas hal lain saja dan lupakan semuanya."

Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara angin yang menggoyang daun-daun di atas mereka. Rey menunduk, lalu tiba-tiba berkata, “Oh ya... apakah kalian tahu ? Aku baru sadar sesuatu.”

Ketiganya menatap Rey dengan bingung.

“Selama ini, aku pikir Alice itu cuma gadis cupu yang pantas dibully. Tapi aku salah besar.” Rey menghela napas pelan. “Dia... punya hati yang luar biasa tulus. Saat aku dipukuli habis-habisan, dia yang datang menolongku. Tanpa pikir panjang, tanpa dendam.”

Megan menaikkan alis. “Kau serius? Gadis itu?” katanya setengah tak percaya.

Rey mengangguk. “Iya. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang pernah kulakukan padanya.”

Mike terkekeh pelan, mencoba menutupi rasa canggung. “Hah... siapa sangka. Si kutu buku itu ternyata punya sisi pahlawan.”

Stella hanya diam. Tatapannya sulit dibaca, tapi bibirnya menekuk tipis — entah karena gengsi, atau karena tak tahu harus berkata apa.

“Dengar,” lanjut Rey lembut, “aku tidak menyalahkan kalian, tapi... aku rasa aku tidak bisa lagi memperlakukan orang seperti dulu. Aku sudah cukup melihat apa akibatnya.”

Hening. Hanya suara air kolam yang memecah keheningan itu.

Mike akhirnya menepuk bahu Rey. “Yah, terserah padamu, Bro. Asal kau tetap jadi bagian dari kita, itu cukup.”

Rey hanya tersenyum, meski di dalam hatinya tahu—ia sudah mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Rey, Megan, dan Mike kembali bercanda ringan, Stella hanya duduk memperhatikan mereka—seakan menyadari untuk pertama kalinya, betapa jauhnya jarak di antara mereka kini. terutama Rey, ya dia merasakan perubahan pada diri Rey.

Stella bisa merasakannya—firasatnya sejak awal ternyata benar.

Kejadian kemarin telah mengubah segalanya.

Mereka memang mendapatkan kembali sosok Rey yang selama ini mereka rindukan,

tapi di saat yang sama, mereka juga benar-benar kehilangan Rey versi dulu

meskipun wujudnya masih ada di sana bersama mereka.

**

Siang itu, suasana taman depan sekolah tampak tenang. Beberapa siswa lalu-lalang, namun perhatian Rey hanya tertuju pada dua sosok yang duduk di bangku dekat air mancur, Danzel dan Rachel 

Menarik napas panjang, Rey melangkah pelan menghampiri mereka.

“Danzel,” panggilnya dengan suara rendah.

Danzel menoleh, ekspresinya datar. Rachel juga ikut memandang.

“Ada apa, Rey?” tanya Danzel singkat.

Rey menunduk sejenak sebelum akhirnya berucap, “Aku... ingin meminta maaf.”

Danzel mengangkat alis, separuh sinis. “Maaf? Untuk apa? Karena baru sekarang sadar siapa yang selama ini kau sakiti?” ucapnya, nadanya dingin.

Rey tidak membalas, hanya menatap Danzel dengan tatapan bersalah. “Aku tahu selama ini aku sudah terlalu keterlaluan. Aku menyakiti banyak orang, terutama Alice. Aku dulu berpikir dia hanya gadis culun yang selalu merepotkan.”

Ia menelan ludah, suaranya sedikit bergetar.

“Tapi... ternyata aku salah. Dia justru orang paling tulus yang pernah aku kenal. Saat semua orang menjauh, hanya dia yang menolongku. Bahkan setelah apa yang aku lakukan padanya.”

Danzel terdiam cukup lama. Tatapannya menajam, tapi bukan karena marah—lebih karena tidak tahu harus berkata apa.

Namun Danzel perlahan berdiri, menghampiri Rey.

“Kalau kau sungguh menyesal, buktikan itu dengan sikapmu,” ucapnya datar namun tegas. “Aku tidak peduli dengan kata-kata. Tapi aku tahu, Alice akan senang kalau kau benar-benar berubah.”

Rey menunduk lagi, menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. “Aku akan melakukannya. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga sudah meminta maaf kepadanya. Dan aku berjanji akan menjaganya, sama seperti mu."

Danzel menarik napas pelan, pandangannya sedikit melunak. “Hmm... baiklah. Aku percaya padamu.”

“Terima kasih, Danzel. Terima kasih banyak,” ujar Rey tulus, “Apakah itu berarti... kau juga sudah memaafkanku?”

Danzel menatapnya sejenak sebelum balik bertanya, “Alice sudah memaafkanmu?”

Rey mengangguk. “Sudah.”

Senyum tipis muncul di wajah Danzel. “Kalau begitu, aku juga memaafkanmu.”

Tanpa berpikir panjang, Rey melangkah maju dan memeluk Danzel erat.

Danzel sempat terkejut, namun kemudian membalas pelukan itu—hangat, tulus, tanpa kata.

Untuk sesaat, semua masalah di pertemanan mereka telah selesai.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!