Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Kampung Bersama
Perjalanan panjang menuju Jawa terasa tenang. Usai shalat Maghrib, mereka memulai perjalanan.
Di dalam mobil, hanya ada suara deru mesin dan murrotal yang diputar pelan oleh Qais. Mbah tertidur lelap di kursi belakang yang sudah disulap Aiza senyaman mungkin dengan bantal dan selimut. Sesekali, Qais melirik melalui spion tengah, memastikan pasien istimewanya itu tetap stabil, lalu tatapannya beralih singkat pada Aiza yang duduk di sampingnya. Tak banyak kata yang terucap, namun keheningan itu tidak canggung, ada rasa saling percaya yang tumbuh di antara mereka dalam perjalanan pulang ke akar kehidupan mereka.
Aiza mulai memejamkan mata, menyusul Mbah yang sudah nyenyak sedari tadi. Sementara Qais fokus dengan perjalanan malamnya, sambil sesekali melirik ke belakang, memastikan dua penumpangnya itu tetap aman sampai tujuan.
___
Tepat pukul delapan pagi, mobil hitam Qais perlahan memasuki gang sempit yang menuju rumah lama Aiza. Burung gereja terdengar bernyanyi merdu, menyambut sang surya yang mulai terasa terik. Suasana itu tak berubah, masih terasa jauh lebih hidup daripada hiruk-pikuk Jakarta.
Suasana yang semula sepi mendadak riuh. Mbok Sulis, yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi, seketika mematung. Matanya membelalak, sapunya terlepas begitu saja.
"Ya Allah... Aiza? Mbah?!”
Seorang wanita paruh baya dengan daster dan kerudung instan berlari kecil menghampiri mobil. Itu Mbok Sulis. Wajahnya yang semula tegang seketika pecah dalam tangis haru saat melihat Aiza turun dari mobil.
Tanpa basa-basi, Mbok Sulis langsung memeluk Aiza erat. "Nduk, alhamdulillah kamu pulang! Mbok kepikiran terus sejak kamu dibawa paksa sama keluarga Den Arjuna itu. Mbok ngerasa berdosa nggak bisa bantu apa-apa waktu Mbah sendirian di sini sebelum dibawa ke Jakarta.”
Namun, suara cempreng Mbok Sulis seperti alarm bagi tetangga sekitar. Dalam hitungan detik, ibu-ibu yang sedang menenteng belanjaan sayur atau sekadar memakai daster pagi langsung berhamburan keluar rumah.
"Ya Allah, Aiza! Kamu pulang, Nduk!" seru bu RT sambil berlari kecil.
Qais turun terlebih dahulu, memutari mobil untuk membukakan pintu belakang dengan sangat hati-hati. Ia membantu Mbah untuk duduk tegak, sementara Aiza turun dengan mata yang berkaca-kaca melihat kerumunan itu.
"Mbok Sulis... Bi Nani... Bu RT" bisik Aiza parau.
Bu RT mengusap pundak Aiza. "Kami semua di sini mendoakan kalian. Syukur ada Gus Qais yang dulu langsung sigap bawa Mbah ke Jakarta waktu Mbah sakit, kalau ndak, kami bingung harus gimana.”
Ibu-ibu yang lain mulai membantu membawakan tas-tas Aiza dari bagasi mobil. Suasana di depan rumah itu penuh dengan haru. Mereka tidak bertanya tentang kemewahan kota, tentang keluarga Arjuna, mereka hanya peduli bahwa Aiza dan Mbah telah kembali dengan selamat.
Qais berdiri bersandar di pintu mobil, memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis yang teduh. Ia merasa lega melihat Aiza kembali ke pelukan orang-orang yang tulus mencintainya, jauh dari fitnah keji Briana.
"Matur nuwun sanget nggih, Gus Qais," ucap Mbok Sulis sambil menyalami tangan Qais dengan takzim. "Gus ini benar-benar penolong. Dulu waktu baru lulus kuliah sudah telaten urus Mbah, sekarang sudah jadi dokter hebat di kota pun masih sudi antar mereka pulang ke desa.”
"Sudah kewajiban saya, Mbok," jawab Qais lembut, suaranya menenangkan keributan pagi itu. "Tolong bantu Aiza memapah Mbah masuk ya. Saya harus segera ke pesantren karena Abah dan Umi sudah menunggu.”
Aiza menoleh ke arah Qais di tengah kerumunan ibu-ibu. Tatapan mereka bertemu sejenak, sebuah tatapan penuh terima kasih dari Aiza, dan tatapan pelindung dari Qais.
"Istirahatlah, Za. Nanti siang atau sore setelah saya cek kondisi Abah, saya akan mampir lagi ke sini," pamit Qais.
Saat mobil Qais perlahan menjauh menuju pesantren, Mbok Sulis merangkul bahu Aiza. "Lihat itu, Nduk. Gus Qais itu hatinya emas. Kamu tenang saja di sini, biar Mbok yang masakin sarapan spesial buat kamu dan Mbah pagi ini.”
***
Qais memacu mobilnya sedikit lebih cepat menuju gerbang pesantren yang sudah tampak megah dengan ukiran kaligrafi di depan gerbangnya. Sesampainya di ndalem, ia langsung menuju kamar Abah. Kyai Mukhtar tampak berbaring lemah, namun matanya berbinar melihat putra kebanggaannya pulang.
"Assalamu’alaikum, Bah, Ummi," Qais melangkah cepat, lalu bersimpuh mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam... Le, anakku," suara Abah parau, tangannya yang gemetar mengusap kepala Qais. "Terima kasih sudah mau pulang. Abah sudah tidak kuat kalau harus keliling bulan ini.”
Qais segera mengeluarkan stetoskop dari tas medisnya, melakukan pemeriksaan cepat. "Tensi Abah sedikit tinggi, dan paru-parunya masih agak sesak. Abah harus istirahat total. Biar Qais yang gantikan semua jadwal ceramah di cabang-cabang pesantren.”
Ummi menghela napas lega, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah. Ummi sudah bilang ke Abah, tapi dia keras kepala mau berangkat terus. Oh ya, semalam kamu bilang Aiza dan Mbah ikut pulang, apa jadi?"
Qais mengangguk pelan sembari merapikan alat medisnya. "Inggeh, Ummi. Qais bawa Aiza dan Mbah pulang sekalian karena kondisi Mbah butuh udara desa, dan Aiza... dia butuh tempat yang aman.”
Kyai Mukhtar tersenyum tipis, seolah paham maksud tersirat putranya. "Bagus, Le. Menolong orang lemah itu lebih utama daripada sekadar ceramah di podium. Jaga mereka, karena Aiza itu sudah seperti bagian dari kita sendiri.”
"Inggeh, Bah. Siang ini Qais pamit mau ke sana lagi untuk memastikan obat Mbah diminum teratur," jawab Qais dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh ketetapan hati.
Siang di rumah Aiza.
Matahari sudah tepat di atas kepala saat Qais kembali memarkirkan mobilnya di depan rumah Aiza. Namun, suasana di sana masih ramai. Sejak shalat Dzuhur bersama di rumah Aiza, mbok Sulis ternyata belum pulang, ia sedang duduk di teras bersama Aiza sambil mengupas bawang.
"Nah, itu panjang umur! Gus Qais datang lagi!" seru Mbok Sulis girang.
Aiza berdiri, merapikan sedikit kerudungnya yang agak berantakan karena habis membantu Mbok Sulis di dapur. "Gus Qais... mari duduk dulu.”
Qais berjalan mendekat, membawa tas kecil berisi beberapa botol vitamin tambahan. "Bagaimana kondisi Mbah setelah sarapan tadi, Za?”
"Sudah jauh lebih segar, Gus. Sekarang sedang tidur siang," jawab Aiza dengan senyum yang jauh lebih rileks daripada saat di Jakarta.
Mbok Sulis yang lincah itu tiba-tiba berdiri dan menepuk bahu Aiza. "Nduk, daripada kamu di sini terus lihatin bawang, mending kamu ikut Gus Qais ke pesantren sebentar. Katanya tadi Gus mau cek panggung Maulid?”
Aiza tertegun. "Lho, Mbok... kan saya harus jaga Mbah.”
"Halah, Mbahmu biar Mbok yang jaga. Kamu itu butuh jalan-jalan biar nggak pucat terus!" Mbok Sulis beralih menatap Qais dengan maksud menjodoh-jodohkan yang kentara. "Gus, ajak Aiza jalan-jalan ke pesantren ya? Sekalian biar dia lihat santri-santri yang lagi latihan buat persiapan nanti malam.
Qais melirik Aiza, menyadari keraguan di wajah gadis itu namun juga melihat binar rindu di matanya. "Kalau Aiza tidak keberatan, saya memang butuh bantuan untuk mengecek daftar konsumsi santri untuk acara nanti malam. Kamu dulu yang paling paham selera anak-anak panti dan madrasah, kan?”
Aiza akhirnya tersenyum kecil. "Baiklah, Gus. Saya pamit Mbah sebentar.”
Siang menjelang sore itu, Aiza dan Qais tiba di pesantren yang sebenarnya tak begitu jauh dari rumah Aiza.
Langkah Aiza melambat saat memasuki gerbang pesantren yang sudah dihiasi umbul-umbul perayaan Maulid. Suasana riuh rendah suara santri yang sedang menghafal nadhom seketika pecah saat mereka menyadari kehadiran sosok yang sangat mereka rindukan.
"Mbak Aiza!"
"Ya Allah, beneran Mbak Aiza sudah pulang!"
Anak-anak Madrasah Ibtidaiyah yang sedang beristirahat di pelataran masjid langsung berlarian menghampiri. Mereka berebut menyalami tangan Aiza, beberapa bahkan langsung memeluk pinggangnya dengan erat. Aiza berjongkok, matanya berkaca-kaca menyambut pelukan tulus dari jiwa-jiwa mungil itu.
Namun, di tengah keriuhan itu, seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berdiri agak jauh. Ia mengenakan mukena berwarna merah muda yang senada dengan jilbab Aiza. Namanya Aisyah. Ia tidak ikut berlari, melainkan menatap Aiza dengan mata bulat yang berkaca-kaca, seolah takut bahwa sosok di depannya hanyalah mimpi.
"Mbak Aiza?" suara kecilnya bergetar.
Aiza menoleh, dan senyumnya merekah lebar. "Aisyah... Sini, Sayang.”
Aisyah langsung berlari kencang dan menubruk pelukan Aiza, menangis sesenggukan di bahunya. "Mbak Aiza jahat... Kenapa perginya lama sekali? Aisyah kira Mbak Aiza nggak sayang lagi sama Aisyah.”
Aiza mengusap punggung bocah itu dengan lembut, hatinya ikut teriris. "Maafin Mbak, ya? Mbak nggak akan pergi lagi.”
Aisyah kemudian melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Qais yang berdiri tenang di samping Aiza. Anak kecil itu meraih tangan Qais, lalu menariknya agar mendekat ke arah Aiza.
"Gus Qais juga," ucap Aisyah sambil menghapus air matanya. "Dulu Aisyah senang sekali kalau lihat Gus Qais sama Mbak Aiza jalan bareng ke masjid. Aisyah selalu doa supaya Gus Qais cepat bawa Mbak Aiza ke ndalem biar bisa main sama Aisyah tiap hari. Apa Mbak Aiza ke sini mau jadi Ummi-nya anak-anak pesantren?”
Pertanyaan polos itu membuat suasana mendadak hening. Aiza tertunduk, pipinya merona karena malu sekaligus sedih mengingat status pertunangan mereka yang sempat terputus karena keadaan.
Qais, yang biasanya sangat menjaga ekspresi, tampak tertegun sejenak. Ia berjongkok di samping Aisyah, mengacak pelan puncak kepala bocah itu dengan kasih sayang yang tulus.
"Aisyah sayang," suara Qais terdengar sangat lembut, namun penuh wibawa. "Doakan saja yang terbaik untuk Mbak Aiza dan Gus Qais, ya? Sekarang, bantu Mbak Aiza cek persiapan panggung, mau kan?”
Aisyah mengangguk mantap, lalu dengan ceria ia menggandeng tangan kanan Aiza dan tangan kiri Qais, memaksa mereka berjalan bersisian di antara koridor pesantren. Qais dan Aiza hanya bisa saling lirik dalam diam, namun ada getaran halus yang kembali hadir—sebuah rasa yang seolah mengatakan bahwa meski badai Jakarta telah mereka lalui, tempat paling damai bagi hati mereka tetaplah di sini, di pesantren ini, di desa ini.
***
Kontras dengan kedamaian yang dirasakan Aiza di pesantren, suasana di kota justru mendidih. Siang itu, wajah Arjuna tampak kaku, guratan kelelahan di matanya tertutup oleh amarah yang dingin dan terukur.
Gedung Polres nampak sibuk siang itu, namun Arjuna melangkah masuk dengan aura yang membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir. Ia tidak lagi membawa bunga atau kata-kata manis, ia membawa map tebal berisi bukti-bukti medis yang diberikan Gus Qais kemarin—bukti yang menghancurkan seluruh sandiwara Briana.
Di ruang penyidik, Arjuna duduk tegak di hadapan seorang petugas. Suaranya rendah namun tajam, setiap katanya penuh penekanan.
"Saya ingin melaporkan dua perkara sekaligus," ucap Arjuna, meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja besi.
"Pertama, laporan pencemaran nama baik dan fitnah keji terhadap mantan istri saya. Wanita itu dituduh menyebabkan kematian janin yang—berdasarkan bukti medis dari Dokter Qais ini—sama sekali tidak pernah ada.”
Petugas polisi itu mengerutkan dahi, mulai membaca laporan hasil pemeriksaan rahim Briana yang menunjukkan kemandulan permanen, bukan keguguran.
"Dan yang kedua?" tanya petugas itu sambil mencatat.
"Penipuan materiil dan immateriil terhadap keluarga saya," lanjut Arjuna, rahangnya mengeras. "Briana telah memanipulasi kami selama berbulan-bulan, memeras empati dan harta keluarga saya dengan kehamilan palsu. Dia menghancurkan reputasi seseorang yang tidak bersalah demi ambisi pribadinya.”
Arjuna teringat bagaimana dirinya begitu membenci Aiza karena percaya pada tangisan buaya Briana. Ia teringat bagaimana ia nyaris kehilangan akal sehat karena merasa bersalah pada bayi yang ternyata hanya fatamorgana.
"Saya minta proses ini berjalan secepat mungkin," tegas Arjuna. "Saya ingin surat pemanggilan segera dikirim ke kediaman Briana hari ini juga. Saya tidak akan mencabut laporan ini, apa pun alasannya."
Setelah keluar dari kantor polisi, Arjuna berdiri di bawah terik matahari, menatap jalanan dengan pandangan kosong. Ia telah memulai perang hukum untuk membersihkan nama Aiza, namun di dalam hatinya, ia tahu luka yang ia torehkan pada Aiza mungkin tak bisa sembuh hanya dengan selembar surat laporan polisi.
“Besok, aku harus menemui Aiza. Aku harus mencari tempat tinggalnya segera.” Pria itu mengangguk mantap pada dirinya sendiri. "Ya, aku harus minta maaf segera.”
Hatinya begitu mantap untuk menemui wanita itu besok, tanpa ia tahu bahwa Aiza, wanita yang pernah ia sia-siakan itu sedang berbahagia dengan dunianya.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍