NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Cahaya lampu neon putih benderang di ruang rapat utama terasa seperti interogasi tersendiri. Ia memantul dengan kejam di atas permukaan meja kayu jati yang panjang dan berkilau, menerangi setiap debu yang beterbangan dan setiap kerutan di wajah orang-orang yang hadir. Suasana di ruangan itu padat dan statis, diisi oleh aroma kertas laporan yang dicetak baru, kopi dingin yang terabaikan dalam cangkir styrofoam, dan keringat dingin dari satu orang yang duduk di ujung meja—seorang wanita muda berseragam perawat, wajahnya pucat bagai lilin.

Lisa berdiri di hadapannya, punggungnya lurus, kedua tangannya menempel di atas permukaan meja yang dingin. Dengan gerakan yang disengaja, lambat, dan penuh teater, ia meletakkan sebuah kantong bukti transparan di atas meja. Di dalamnya, sebuah botol vial kaca kecil berguling pelan, cairan bening di dalamnya menangkap cahaya seperti air mata beracun. Bunyi plastik menempel di kayu terdengar nyaring di keheningan.

"Hasil laboratorium forensik keluar dua jam yang lalu." Suara Lisa mengiris udara dan tanpa ampun. Ia tidak berteriak. Justru ketenangan itulah yang lebih mengerikan. "Senyawa di dalam botol ini identik sempurna dengan residu yang ditemukan di lambung dan aliran darah mendiang Tuan Park. Kalium klorida murni." Ia memiringkan kepalanya, menatap langsung ke mata perawat yang sudah mulai berkaca-kaca. "Sebagai perawat, tentu kau tahu persis apa efeknya pada otot jantung manusia yang sudah tua dan lemah. Ia bukan mati karena sakit. Jantungnya dihentikan dengan paksa."

Perawat itu, Ji-soo, menggigit bibir bawahnya hingga putih. Tangannya yang diletakkan di atas pangkuan bergetar tak terkendali, jemarinya saling meremas. "Saya… saya hanya tidak tahan melihatnya menderita. Setiap hari dia merintih, dia bilang lebih baik mati…" Suaranya pecah, dikalahkan oleh isakan.

"Kau membunuhnya untuk mengosongkan rekening banknya, bukan untuk mengosongkan penderitaannya." Potong Lisa, tajam dan tepat. Tangannya beralih ke setumpuk dokumen lain, laporan transaksi bank yang ia gelapkan di atas meja. "Lima hari setelah kematiannya, kau mencairkan semua deposito Tuan Park di tiga bank berbeda. Total hampir 800 juta won. Itu bukan belas kasihan. Itu keserakahan."

Hening yang menyergap setelah itu terasa seperti zat padat. Ji-soo tampak mengecil di kursinya, bahunya yang semula tegang kini melengkung ke dalam, seperti cangkang yang retak. Ia tidak lagi bisa menatap Lisa. Matanya kosong menatap vial beracun itu, benda yang menjadi titik akhir dari rencananya. Lalu, dengan perlahan, ia menelungkupkan wajahnya ke atas lengan yang ditekuk di meja, dan tubuhnya diguncang oleh tangisan yang hebat, tersedu-sedu, campuran penyesalan dan kehancuran. Gumaman "maaf" yang berulang terdengar seperti mantra yang terlambat.

Dua petugas berseragam masuk setelah Lisa memberikan anggukan halus. Mereka membimbing Ji-soo yang lemas berdiri dan membawanya pergi. Bunyi langkah kaki mereka menghilang di koridor, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang berbeda—sebuah keheningan karena sesuatu telah berakhir.

Kapten Kepolisian Yang, pria beruban dengan kacamata tebal, berdiri dari kursinya di barisan depan. Wajahnya yang biasanya keriput oleh beban administrasi sekarang terlihat lebih ringan. Ia memberikan anggukan hormat yang jarang ia tunjukkan.

"Kerja yang luar biasa, Detektif Ahn. Sungguh. Perhatianmu pada detail di TKP yang oleh semua orang dianggap sebagai kematian alami… itu yang membedakan detektif yang baik dan yang hebat." Pujian itu tulus, dan terdengar oleh semua orang di ruangan, termasuk beberapa detektif senior yang dulu mencibir. "Ini adalah kemenangan yang membanggakan untuk divisi kita. Kasus tertutup yang bersih."

Lisa membungkuk hormat, rasa hangat kebanggaan mulai merambat dari dadanya ke seluruh tubuhnya yang lelah. "Terima kasih, Kapten. Saya hanya melakukan tugas saya."

Namun, saat ia meluruskan punggung dan mengangkat wajah, matanya secara tak sengaja tersangkut pada sepasang mata lain di sudut ruangan. Hendry. Pria itu duduk bersandar di kursinya, tangan bersedekap di dada, kaki disilangkan. Dia tidak ikut bertepuk tangan, tidak tersenyum. Wajahnya seperti topeng batu yang diukir dengan hati-hati. Tapi matanya menatap Lisa bukan dengan kebanggaan kolega, melainkan dengan analisis dingin seorang penyidik yang dihadapkan pada sebuah anomali. Tatapan itu seolah berkata, Aku melihatmu. Dan aku tahu ada yang kau sembunyikan.

"Pertanyaan kecil, Detektif Ahn." Suara Hendry akhirnya memecah riuh rendah pujian. Suaranya datar, tenang, namun memotong seperti pisau bedah. "Loker farmasi pojok kanan bawah, tersembunyi di balik tumpukan kasa. Lokasi yang sangat spesifik. Bahkan tim penyergap kita mungkin butuh waktu lebih lama untuk menemukannya tanpa petunjuk. Bagaimana 'insting'-mu bisa begitu tepat menuju titik itu?"

Semua mata di ruangan beralih ke Lisa. Kapten Yang berkerut, tampak sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan yang terdengar seperti interogasi di tengah kemenangan. Lisa merasakan kerongkongannya mengering. Ia bisa merasakan Sam, yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, menjadi tegang.

"Saya hanya mencoba berpikir seperti pelakunya, Senior Hwang." Jawab Lisa, berusaha menjaga suaranya tetap netral. "Tempat yang mudah diakses oleh staf, tapi tersembunyi dari pemeriksaan sekilas. Itu logis."

Hendry mendengus pelan. Matanya masih menancap pada Lisa, memindai dan menganalisis. "Logis." Ia mengulangi kata itu, seolah mencicipinya. "Ya. Sangat logis." Akhirnya ia memalingkan pandangan, mengambil cangkir kopi dinginnya dan menyesapnya, mengakhiri konfrontasi itu—untuk sementara.

Di tengah ketegangan yang baru saja mereda itu, justru Sam yang terlihat paling santai. Setelah Ji-soo dibawa keluar, ia dengan enteng melompat dan duduk bersila di atas meja rapat panjang—tepat di sebelah Kapten Yang yang sama sekali tidak menyadarinya. Di tangan Sam, sebungkus kerupuk pedas kecil yang ia ambil diam-diam dari meja kerja Lisa pagi tadi. Tangannya melakukan pantomim yang sempurna: meremas kantong sampai berbunyi kress, menjumput kerupuk imajiner, lalu memasukkannya ke mulut sambil mengunyah dengan ekspresi puas, lengkap dengan suara kriuk yang hanya bisa didengar Lisa.

"Wah, Lisa! Luar biasa!" Bisik Sam dengan penuh semangat, sambil mengunyah-ngunyah. "Saat kau bilang 'itu keserakahan yang dingin', aku merinding! Kau seperti detektif jagoan di TV. Aku sampai lupa napasku." Ia tertawa kecil pada leluconnya sendiri.

Lisa meliriknya sepersekian detik, mata yang berbicara: Diam dan turun dari meja itu! Tapi di dalam, ada gelembung kecil kegembiraan yang ikut terpicu oleh antusiasme Sam.

Sam melompat turun dengan gerakan melayang yang elegan, lalu berdiri di samping Lisa. Ekspresinya yang tadi jenaka berubah, menjadi lembut. Suaranya ketika berbisik berikutnya, hanya untuk Lisa, kehilangan semua nada main-main.

"Kau tahu, Lis? Ini… pertama kalinya. Dalam tiga puluh tiga tahun panjang yang sunyi ini. Aku merasa… berguna. Bukan sekadar bayangan yang membuat orang merinding, atau bola yang bergerak sendiri. Melalui kau, aku bisa membantu seseorang menemukan keadilan. Kakek itu… sekarang dia bisa tenang. Benar-benar tenang." Ia berhenti, seolah mencari kata. "Terima kasih."

Lisa tidak bisa membalas. Tidak di sini, di depan semua orang. Tapi jari-jarinya yang menempel di sisi meja berangsur melonggar dari kepalan tegangnya. Sebuah kehangatan yang aneh dan dalam, berbeda dari pujian kapten, mengalir di dadanya. Ini lebih dari sekadar menyelesaikan kasus. Ini tentang memberikan suara pada yang bisu. Dan Sam, dengan caranya yang ganjil, adalah bagian tak terpisahkan dari itu.

Namun, perasaan itu dengan cepat diredam oleh kewaspadaan. Dari sudut matanya, ia melihat Hendry kembali mengeluarkan buku catatan kecilnya yang sudah usang. Pena bergerak cepat di atas kertas, alisnya berkerut dalam konsentrasi. Ia bukan mencatat kemenangan. Ia mencatat ketidakwajaran.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘳𝘶𝘵, 𝘓𝘪𝘴𝘢. Batinnya mengingatkan diri sendiri sambil ia mulai merapikan berkas-berkas di depannya, menata ulang topeng profesionalnya. 𝘒𝘢𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘏𝘦𝘯𝘥𝘳𝘺 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢.

Sam, yang menangkap perubahan sikap Lisa, mengangguk pelan. Senyum kecilnya masih ada, tapi kini disertai kesadaran. Dia berbalik, berdiri setengah di belakang Lisa, seperti bayangan yang setia—sebuah penjaga rahasia yang kini memiliki alasan untuk ada, dan musuh tersembunyi yang mulai mengendus-jejak keberadaannya.

Bersama mereka meninggalkan ruang rapat yang masih dipenuhi sisa-sisa ketegangan dan pujian, cahaya neon terasa sedikit lebih menyilaukan, dan jalan di depan terasa sedikit lebih rumit daripada sekadar mencari bukti di TKP berikutnya.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!