Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Nayla mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Ponsel di tangannya hampir terjatuh karena jari-jarinya gemetar. Berkali-kali dia menatap layar, berharap ada satu saja balasan masuk dari Pandu. Tapi nihil. Pesan-pesannya cuma dibaca, itu pun tidak segera. Ada jeda membacanya.
“Sial, ke mana sih asisten bodoh itu, kenapa dari tadi tidak membalasnya" geram Nayla sambil menggigit bibirnya sendiri.
Dia sudah berkali kali menghubungi Pandu, berharap pria itu segera memberi tahu Adam soal kegilaan yang sedang terjadi di rumahnya. Tapi seolah semesta sengaja mempermainkannya, semua orang mendadak menghilang di saat genting seperti ini.
Di sudut ruangan, Aria berdiri dengan wajah tegang. Tatapannya bolak-balik antara Nayla dan Ina yang berdiri angkuh tak jauh dari depan rumahnya. Suara mesin excavator di luar terdengar makin jelas, membuat jantung Aria berdegup nggak karuan.
“Gimana Nay? Mama nggak rela mengembalikan semua pemberian Adam ke wanita itu. Itu semua bukan cuma soal harta, itu harga diri kita.” ucap Aria.
Nayla menghentikan langkahnya. Dia menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. Di dalam hatinya, dia juga tidak rela. Semua yang Adam berikan itu bukan cuma materi, tapi juga simbol kalau dia pernah jadi segalanya buat pria itu. Mengembalikannya berarti mengakui kekalahan.
“Tapi kita nggak punya pilihan lain, Ma, Wanita itu bukan cuma mengancam kita. Dia juga bakal menghancurkan rumah ini kalau kita tidak menurutinya” jawab Nayla lirih tapi tegas.
Seolah menunggu disebut namanya, Ina melangkah maju. Tatapan matanya tajam, penuh amarah, dan jelas merasa diremehkan sejak tadi. Bibirnya tersenyum sinis, senyum orang yang tahu dirinya sedang memegang kendali.
"Dari tadi saya berdiri di sini, kalian anggap angin lalu. Baik. Kalau itu yang kalian mau, jangan salahkan saya.”
Ina menoleh ke belakang, ke arah pria yang sedang duduk di balik kemudi excavator. Dia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat. Suara mesin langsung meraung lebih keras, membuat Nayla dan Aria refleks menutup telinga.
“Hitungan ketiga, Kamu hancurkan rumah ini.” ucap Ina datar tapi menusuk.
Jantung Nayla serasa mau copot. Dia melangkah maju keluar rumah dengan perasaan panik. Ancaman Ina tidak main-main, bucket excavator sudah terayun ke atas siap merobohnya rumahnya.
"Tunggu—”
“1,” ucap Ina tanpa peduli.
Aria memejamkan mata, napasnya terengah. Ingatan tentang rumah itu, tentang susah payah membangunnya, berkelebat di kepalanya.
“2.”
Suara excavator bergerak. Tanah bergetar. Debu mulai beterbangan.
“3.”
“OK! AKU AKAN NGEMBALIKANNYA!” teriak Nayla sekuat tenaga. Suaranya pecah, nyaris histeris. “Aku bakal mengembalikan semua properti pemberian Adam! Semua! Tolong hentikan!”
Ina mengangkat tangannya. Excavator itu berhenti tepat sebelum menghantam dinding rumah. Debu perlahan turun, menyisakan keheningan yang mencekam.
Nayla terjatuh berlutut di lantai. Dadanya naik turun nggak beraturan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Semua rasa sombong, semua kepercayaan diri yang selama ini dia banggakan, runtuh dalam satu detik.
Ina menatap Nayla dari dengan senyum tipis penuh kemenangan.
“Bagus. Dari tadi kalau nurut, nggak perlu sejauh ini,” ucap Ina santai, seolah barusan dia nggak hampir menghancurkan hidup orang lain.
Nada suaranya ringan, bahkan cenderung malas, tapi justru itu yang bikin Aria dan Nayla merinding. Ina berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, wajahnya dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun. Seolah semua ancaman barusan cuma permainan kecil buatnya.
Aria langsung menghampiri Nayla dan memeluk anaknya erat-erat. Tangis Nayla pecah seketika, bahunya naik turun hebat. Dia mencengkeram baju mamanya kuat-kuat, seperti anak kecil yang ketakutan. Bukan cuma takut kehilangan rumah, tapi ada rasa lain yang jauh lebih menyakitkan, rasa sadar kalau selama ini dia cuma pion. Di hadapan Ina, semua keberaniannya, semua kesombongannya, nggak ada artinya sama sekali.
Ina melangkah maju satu langkah. Suara sepatunya beradu dengan lantai terdengar jelas di tengah keheningan yang menekan.
“Berikan semua sertifikat itu. Sekarang,” pintanya tegas sambil menatap tajam ke arah mereka berdua. Tatapannya seperti pisau, membuat siapa pun yang melihatnya susah bernapas.
Nayla mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan sembab, tapi dia tahu nggak ada pilihan lagi. Dia menoleh ke arah Aria, suaranya bergetar.
“Ma, tolong ambil semua sertifikatnya di lemari kamarku,” ucap Nayla lirih.
Aria terdiam. Tangannya yang tadi memeluk Nayla perlahan mengendur. Wajah wanita paruh baya itu berubah kaku. Dadanya terasa sesak. Semua pengorbanan, semua rencana licik yang dia susun selama ini, seakan hancur dalam hitungan menit. Dia sudah susah payah menyuruh putrinya memoroti Adam, menahan harga diri, berpura-pura manis, demi semua aset itu. Dan sekarang… harus dikembalikan begitu saja?
Tidak. Dia nggak rela.
Aria menggelengkan kepalanya pelan tapi jelas. Tatapannya penuh penolakan, rahangnya mengeras menahan emosi yang berkecamuk.
Gerakan kecil itu langsung ditangkap Ina. Senyum tipis di bibirnya lenyap seketika, digantikan wajah garang penuh amarah. Dia melangkah maju dengan cepat, jarak mereka kini tinggal beberapa langkah saja.
“Heh, wanita tua, Kamu nggak denger apa yang putrimu bilang, hah? Cepat berikan! Atau aku suruh mesin itu maju sekarang juga.” bentak Ina kasar tanpa basa-basi.
Ina menunjuk ke arah luar, ke arah excavator yang masih siaga dengan mesin menyala. Suaranya meninggi, penuh ancaman.
“Aku udah nggak punya waktu untuk main-main lagi dengan kalian!”
Nayla tersentak. Dia mencengkeram lengan Aria dengan panik, air matanya makin deras mengalir.
“Ma…” panggil Nayla lirih, hampir seperti permohonan putus asa. “Tolong, Ma. Jangan membuatnya semuanya tambah parah. Aku mohon.”
Suara Nayla pecah. Ada ketakutan, ada kelelahan, ada rasa kalah yang nggak bisa lagi dia sembunyikan. Aria menatap wajah putrinya yang hancur, hatinya terasa diremas. Untuk pertama kalinya, dia sadar… keserakahannya sendiri yang membawa Nayla sampai di titik ini.
Sementara Ina berdiri menunggu dengan tatapan dingin, siap mengeluarkan perintah berikutnya tanpa ragu sedikit pun.
Tanpa banyak kata, Aria akhirnya berbalik badan. Langkahnya berat saat menaiki anak tangga menuju lantai atas. Setiap pijakan terasa menyakitkan, seolah harga dirinya diinjak-injak bersama debu yang masih beterbangan di udara. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan amarah dan rasa nggak rela yang terus mengaduk dada.
Sesampainya di kamar Nayla, Aria langsung menuju lemari besar di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci paling bawah. Di sanalah semua yang selama ini mereka dapatkan tersimpan rapi. Satu per satu dia menarik dokumen itu keluar, surat kepemilikan mobil, apartemen, sampai villa. Semua atas nama Nayla, semua hasil dari hubungan yang kini justru menjadi bumerang.
Aria menatap tumpukan kertas itu lama. Matanya panas, dadanya sesak. Hatinya berteriak menolak, tapi pikirannya tahu, mereka sudah kalah. Dengan napas berat, Aria menutup laci dan berbalik keluar kamar.
Beberapa menit kemudian, dia kembali ke ruang tamu. Ina berdiri dengan posisi yang sama, penuh wibawa dan kemenangan. Nayla masih terduduk lemas di lantai, wajahnya pucat, matanya sembab.
Aria melangkah mendekat lalu menyodorkan semua dokumen itu ke arah Ina tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
“Ini,” ucap Aria ketus.
Ina menerima dokumen tersebut dengan santai. Dia membuka sekilas, memastikan semuanya lengkap. Senyum puas langsung terukir di bibirnya.
“Sekarang pergi dari sini, jangan pernah ganggu kami lagi.”ujar Aria dingin, menahan emosi yang hampir meledak.
Ina mendongak, menatap Aria dengan sorot mata tajam. Senyumnya memudar, digantikan ekspresi sengit.
“Aku tidak akan datang ke sini, kalau putrimu nggak ganggu rumah tangga putraku.” balasnya dingin.
Ucapan itu seperti tamparan keras buat Nayla. Wanita itu menunduk semakin dalam, air matanya kembali jatuh tanpa suara.
Ina lalu berbalik, memberi kode singkat dengan tangannya ke arah operator excavator. Mesin besar itu akhirnya dimatikan. Suara raungan yang sejak tadi mengancam kini perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
Tanpa menoleh lagi, Ina melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Sementara Aria dan Nayla tetap diam di tempat, menatap kosong, menyadari kalau hari itu bukan cuma aset yang hilang… tapi juga harga diri dan sisa-sisa kekuatan mereka.
"Mama tidak mau tahu, kamu harus bisa mengambil semua itu, Nayla" ucap Aria setelah melihat kepergian Ina.
kejam ya tapi si nayla nya aja nggak niat berubah
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??