Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 matahari palsu dan api sejati
Pulau Matahari Terbit tidak pernah mengenal malam yang benar-benar gelap. Berkat formasi raksasa Cermin Ungu yang melayang di atas pulau, cahaya bintang dikumpulkan dan dibiaskan menjadi pendaran ungu lembut yang menyinari seluruh markas cabang Sekte Matahari Ungu selama 24 jam.
Ini adalah surga bagi kultivator elemen api. Namun, bagi Su Lang, ini adalah bufet makan sepuasnya.
Tiga hari setelah kedatangannya, Su Lang belum sekalipun beristirahat. Dia menghabiskan waktunya di Paviliun Penempaan Tamu, sebuah fasilitas mewah yang diberikan Zi Ling padanya. Tetua Gu, pria tua yang awalnya meremehkannya, kini menjadi seperti murid kecil yang rajin mencatat setiap gerakan Su Lang.
"Tuan Su! Tuan Su!" Tetua Gu berlari membawa lempengan logam merah. "Saya berhasil memurnikan Besi Api Merah hingga tingkat kemurnian 80% menggunakan metode Pukulan Ganda yang Anda ajarkan!"
Su Lang, yang sedang duduk santai sambil memutar Fragmen Kuali di jarinya, melirik sekilas.
"Delapan puluh persen? Itu standar sampah di sekte saya," komentar Su Lang pedas. "Tapi untuk ukuran orang tua yang tangannya gemetar sepertimu, itu lumayan."
Tetua Gu tidak marah. Dia justru tersenyum lebar. "Terima kasih atas pujiannya! Saya akan mencoba lagi!"
Di mata Tetua Gu, Su Lang bukan manusia. Pemuda ini adalah reinkarnasi Dewa Api. Pengetahuannya tentang struktur material dan manipulasi suhu melampaui kitab-kitab kuno sekte.
Namun, kedamaian di paviliun itu tidak mencerminkan suasana di luar.
Kehadiran Su Lang sebagai "Tetua Tamu Kehormatan" dengan akses tanpa batas ke sumber daya sekte telah memicu gelombang ketidakpuasan di kalangan murid elit dan diaken cabang. Mereka melihat orang asing—seorang pemuda dari wilayah selatan yang terbelakang—mengambil jatah pil dan ruang latihan mereka.
Halaman Latihan Utama: Arena Batu Ungu
Li Yun dan Lin Yue sedang berlatih tanding di salah satu arena. Chen Ling duduk di pinggir, meracik obat pemulih stamina.
Mereka menjadi pusat perhatian. Ratusan murid Sekte Matahari Ungu berkumpul, berbisik-bisik sambil menunjuk mereka.
"Lihat itu. Murid-murid dari 'Sekte Aliran Abadi'. Nama yang norak."
"Kudengar guru mereka merayu Putri Ketiga untuk mendapatkan posisi."
"Cih. Lihat gaya bertarung bocah itu. Kasar sekali. Tidak ada keanggunan teknik Matahari Ungu kita."
Li Yun, yang telinganya tajam, mendengar semuanya. Urat di pelipisnya berdenyut.
"Abaikan mereka, Li Yun," bisik Lin Yue sambil menangkis serangan Cakar Guntur Li Yun dengan Pita Es-nya. "Kita di sini untuk berlatih, bukan mencari masalah."
"Mereka menghina Guru," geram Li Yun. "Aku bisa menerima dihina, tapi Guru?"
Tiba-tiba, sebuah bola api ungu melesat ke arah mereka, memotong alur latihan.
BOOM!
Li Yun dan Lin Yue melompat mundur. Di tempat mereka berdiri tadi, lantai batu hangus terbakar.
Seorang pemuda berjalan masuk ke arena. Dia mengenakan jubah ungu dengan sulaman tiga matahari emas di dadanya—tanda Murid Inti Peringkat 3. Rambutnya merah menyala, dan dia memegang sebuah kipas besi.
Wang Teng. Murid Inti Cabang Timur. Qi Condensation Tingkat 7 Awal.
"Arena ini khusus untuk murid elit," kata Wang Teng angkuh. "Anjing liar dari selatan dilarang mengotori lantai suci ini."
Kerumunan bersorak mendukung Wang Teng.
Li Yun menegakkan badannya. Aura guntur di tubuhnya mendesis. "Anjing liar? Kau bicara tentang dirimu sendiri yang menyalak sembarangan?"
Wajah Wang Teng merah padam. "Berani kau?! Aku menantangmu duel hidup mati! Biar kulihat apa yang diajarkan gurumu yang penipu itu!"
"Penipu?" Suara Li Yun menjadi dingin.
"Ya! Gurumu hanya seorang pencuri yang beruntung! Dia tidak pantas menjadi Tetua Tamu!"
Itu adalah batasnya.
Li Yun tidak menunggu aba-aba.
"MAKAN INI!"
Li Yun melesat. Kecepatannya meledak. Langkah Bayangan Awan yang dipadukan dengan elemen guntur membuatnya hampir tak terlihat.
Wang Teng terkejut. "Cepat!"
Dia segera membuka kipas besinya. Perisai Api Ungu!
CLANG!
Cakar Li Yun menghantam kipas besi itu. Percikan api dan listrik beradu. Li Yun terdorong mundur dua langkah, tapi Wang Teng terdorong mundur lima langkah.
"Kekuatan fisik macam apa ini?!" batin Wang Teng. Dia adalah Tingkat 7, sementara Li Yun hanya Tingkat 4. Seharusnya dia bisa meremukkan Li Yun dengan satu jari. Tapi pemuda di depannya ini memiliki kepadatan otot monster.
"Saudara Wang! Jangan remehkan dia!" teriak temannya.
Wang Teng merasa dipermalukan. Dia mengerahkan Qi-nya.
"Seni Matahari Ungu: Hujan Meteor!"
Wang Teng mengibaskan kipasnya. Puluhan bola api ungu meluncur ke arah Li Yun.
Li Yun tidak bisa menangkis semuanya.
"Li Yun!" Lin Yue hendak maju membantu.
"Jangan ikut campur!" teriak Li Yun. Dia tidak mundur. Dia justru menerjang menembus hujan api itu.
Cakar Guntur: Mode Penyalur!
Li Yun menggunakan cakarnya sebagai penangkal petir, menarik bola-bola api itu dan membelokkannya ke samping, meski beberapa mengenai bahu dan kakinya, membakar kulitnya.
Dia menahan rasa sakit itu dan muncul tepat di depan wajah Wang Teng.
"Kau menghina Guru... kau harus bayar!"
Li Yun mengayunkan cakarnya ke wajah Wang Teng.
Wang Teng panik. Dia mengeluarkan jimat pelindung.
TING!
Cakar Li Yun tertahan oleh perisai cahaya.
"Hahaha! Dasar udik miskin! Kau tidak punya artefak, kan?" ejek Wang Teng.
Namun, senyumnya hilang saat melihat Li Yun menyeringai gila.
"Artefak? Aku punya Guru."
Li Yun menekan sebuah tombol rahasia di cakarnya—mekanisme yang baru ditambahkan Su Lang kemarin.
KLIK.
Dari ujung cakar, jarum-jarum kecil melesat keluar, menembus perisai energi (karena jarum itu terbuat dari bahan Anti-Qi yang diuraikan Su Lang dari sisa kapal perang musuh).
Jarum itu menancap di bahu Wang Teng.
"ARGH!" Wang Teng menjerit. Racun lumpuh (racikan Chen Ling) langsung bekerja.
Li Yun menendang perut Wang Teng, membuatnya terpental keluar arena dan jatuh berguling di tanah.
Hening.
Seorang murid Tingkat 4 mengalahkan murid Tingkat 7? Ini melanggar logika kultivasi!
Li Yun berdiri terengah-engah, darah menetes dari luka bakarnya. Dia menunjuk Wang Teng yang kejang-kejang.
"Tarik kembali kata-katamu."
"KAU CURANG!" teriak seorang pria tua yang tiba-tiba muncul di udara.
Tekanan aura yang sangat berat turun ke arena. Itu adalah Tetua Penegak Hukum Cabang, seorang ahli Tingkat 8 Puncak. Dia adalah paman dari Wang Teng.
"Menggunakan senjata tersembunyi dan racun dalam duel? Dasar sampah licik! Aku akan melumpuhkan kultivasimu sebagai hukuman!"
Tetua itu mengayunkan tangannya. Sebuah tangan energi raksasa turun dari langit, hendak meremukkan Li Yun.
Li Yun tidak bisa bergerak. Tekanan Tingkat 8 terlalu kuat.
"Guru..." bisik Li Yun, menutup matanya pasrah.
WUUUUUNG!
Sebuah pedang hitam melesat dari kejauhan, menembus tangan energi raksasa itu dan memecahkannya menjadi butiran cahaya.
Pedang itu menancap di tanah di depan Li Yun, menciptakan gelombang kejut yang memukul mundur Tetua Penegak Hukum.
Suara langkah kaki yang tenang terdengar.
"Melumpuhkan muridku? Siapa yang memberimu hak itu, Anjing Tua?"
Su Lang berjalan masuk ke arena. Dia mengenakan jubah putih bersih tanpa hiasan, kontras dengan jubah ungu mewah orang-orang di sana. Tangannya kosong, tapi seluruh arena bergetar mengikuti langkah kakinya.
"Su Lang!" Tetua Penegak Hukum mendarat, wajahnya merah padam. "Muridmu menggunakan cara kotor!"
"Kotor?" Su Lang mencabut pedangnya dari tanah. "Di medan perang, pemenang adalah raja. Muridku menggunakan kecerdikan dan persiapan. Keponakanmu menggunakan kultivasi tinggi untuk menindas yang lemah, tapi kalah. Itu namanya tidak kompeten."
"Lancang! Kau hanya tamu di sini! Aku akan mengajarimu sopan santun!"
Tetua Penegak Hukum, didorong oleh amarah dan keinginan untuk membela keluarganya, menyerang Su Lang.
"Teknik Cakar Elang Matahari!"
Dia menerjang Su Lang dengan kecepatan penuh.
Su Lang tidak bergerak. Dia menatap tetua itu dengan tatapan bosan.
[Analisis Musuh: Tetua Tingkat 8.]
[Kelemahan: Fondasi Qi tidak murni. Terlalu banyak mengonsumsi pil peningkat instan. Api di tubuhnya kotor.]
"Kalian menyebut diri kalian Sekte Matahari Ungu?" kata Su Lang pelan.
Saat cakar tetua itu hampir menyentuh wajahnya, Su Lang mengangkat tangan kirinya.
Sebuah bola api kecil muncul.
Ukurannya hanya sebesar kelereng. Warnanya biru muda dengan inti putih. Tapi panas yang dipancarkannya... membuat udara di sekitar arena mendidih seketika.
Api Roh Langit Biru - Kompresi Maksimal.
"Biarkan aku tunjukkan apa itu Api Sejati."
Su Lang menjentikkan bola api kecil itu ke arah Tetua Penegak Hukum.
Tetua itu tertawa. "Api sekecil itu?!"
Dia memukul bola api itu.
BLARRRR!
Saat kulitnya menyentuh api itu, dia menyadari kesalahannya. Api itu tidak padam. Api itu memakan Qi pelindungnya. Api itu merambat ke tangannya, membakar daging hingga ke tulang dalam sekejap mata.
"AAAAAAHHH!"
Tetua itu menjerit, mundur sambil memegangi lengannya yang kini terbakar api biru yang tidak bisa padam. Dia mencoba memadamkannya dengan air, dengan tanah, tapi api itu terus membakar.
"Itu adalah Api Roh," kata Su Lang dingin, suaranya menggema di seluruh arena. "Itu membakar Qi, bukan daging. Semakin kau menggunakan Qi untuk melawannya, semakin besar apinya."
Tetua itu berguling-guling di tanah, memohon ampun. "Padamkan! Padamkan! Aku salah!"
Su Lang menjentikkan jarinya lagi. Api itu padam, menyisakan lengan yang hangus total (tapi tidak putus, Su Lang masih menahan diri).
Su Lang menyapu pandangannya ke seluruh murid yang hadir. Ribuan orang menahan napas.
"Aku adalah tamu di sini. Aku menghormati Tuan Rumah," kata Su Lang. "Tapi murid-muridku adalah garis batasku. Siapa pun yang menyentuh mereka, tidak peduli dia murid atau tetua, akan kubakar sampai jiwanya pun tidak bersisa."
Su Lang berbalik, membantu Li Yun berdiri dan menyalurkan energi penyembuh.
"Kerja bagus, Li Yun. Kau mengalahkan lawan yang tiga tingkat di atasmu. Tapi teknikmu masih kasar. Nanti malam, masuk ke Ruang Waktu. Latih ulang kuda-kudamu 10.000 kali."
"B-baik, Guru!" Li Yun menyeringai menahan sakit.
Lin Yue dan Chen Ling tersenyum bangga. Inilah guru mereka. Dominan. Tak terkalahkan.
Dari balkon menara utama yang menghadap arena, Zi Ling dan ayahnya—Ketua Cabang Timur—menyaksikan semuanya.
"Dia kejam," komentar Ketua Cabang, seorang pria kekar dengan janggut ungu. "Dia membakar lengan Tetua Penegak Hukum tanpa ragu."
"Dia bukan kejam, Ayah. Dia pelindung," Zi Ling tersenyum tipis, matanya berbinar kagum. "Dan apinya... kau lihat itu? Itu Api Roh Murni. Jika dia mewakili kita, peluang kita di turnamen bukan lagi nol."
"Beri dia akses penuh," perintah Ketua Cabang. "Buka Menara Api Ungu untuknya. Biarkan dia menyerap sebanyak yang dia mau. Kita harus mengikat naga ini sebelum dia terbang terlalu tinggi."
Pencurian Halus di Menara Api
Malam itu juga, Su Lang mendapatkan kunci akses ke Menara Api Ungu.
Ini adalah tempat suci kultivasi Sekte Matahari Ungu. Menara ini dibangun di atas kawah gunung berapi aktif, menyalurkan panas bumi dan memurnikannya menjadi "Qi Ungu" yang sangat padat.
Su Lang masuk sendirian ke ruang terdalam menara.
Suhu di sini mencapai 500 derajat celcius. Dindingnya merah membara. Di tengah ruangan, terdapat kolam magma ungu yang bergejolak.
"Energi yang luar biasa," gumam Su Lang. "Tapi teknik mereka kasar. Mereka membiarkan 40% energinya terbuang percuma ke udara."
Su Lang mengeluarkan Kuali Penempa Surga. Kuali itu melayang di atas kolam magma.
"Sistem. Kau lapar?"
[Mendeteksi Sumber Energi Api Tingkat Tinggi.]
[Fitur Pemurnian Cairan Siap.]
[Apakah pengguna ingin menyerap energi sisa?]
"Bukan sisa. Serap semuanya yang tidak terpakai, dan saring energi intinya untukku."
Su Lang tidak berniat menghancurkan fondasi sekte ini (karena mereka sekutu), tapi dia akan mengambil "buih" energi yang melimpah ini. Bagi orang lain, buih ini tidak berguna. Bagi Kuali Su Lang, ini adalah bahan bakar.
WUUUUUNG!
Kuali itu berputar, menciptakan pusaran angin. Uap ungu yang memenuhi menara disedot masuk ke dalam kuali.
Di dalam kuali, proses alkimia otomatis terjadi. Uap ungu itu dipadatkan, dimurnikan, dan diubah menjadi cairan.
Satu tetes... dua tetes... satu botol penuh.
[Memperoleh: Esensi Cairan Matahari Ungu (Tingkat Bumi).]
[Efek: Memperkuat tulang dan meningkatkan resistensi api.]
Su Lang meminum satu tetes.
Rasanya seperti menelan matahari cair. Panasnya meledak di perutnya, menyebar ke seluruh tulang rusuknya. Tulang-tulangnya yang pernah patah kini tersambung kembali, menjadi lebih padat dan berwarna kemerahan.
"Luar biasa," Su Lang menyeringai.
Dia menghabiskan malam itu dengan "merampok" energi menara secara halus. Dia tidak mengurangi level magma, tapi dia menyerap semua uap berlebih yang telah dikumpulkan selama ratusan tahun.
Keesokan paginya, ketika murid-murid sekte masuk untuk berlatih, mereka bingung.
"Kenapa udara di sini terasa... lebih segar? Tidak sesak lagi?"
"Dan kenapa aliranku lebih lancar?"
Mereka tidak sadar bahwa Su Lang telah membersihkan "polusi" energi di menara itu sambil mengambil bagian terbaiknya untuk dirinya sendiri.
Pertemuan dengan Tetua Agung
Saat Su Lang keluar dari menara dengan wajah segar bugar (dan kultivasi yang sedikit meningkat ke Tingkat 7 Pertengahan), dia disambut oleh Zi Ling.
"Ketua Su, Ayah saya ingin bertemu."
Su Lang mengangguk. Dia tahu momen ini akan tiba. Pembuktian kekuatan kemarin dan akses menara hari ini pasti memicu pembicaraan tingkat tinggi.
Dia dibawa ke Aula Puncak. Di sana, Ketua Cabang Timur duduk di singgasana, dikelilingi oleh aura Tingkat Foundation Establishment Akhir.
"Su Lang," suara Ketua Cabang berat dan berwibawa. "Kau mempermalukan tetuaku. Kau mencuri perhatian muridku. Dan kau masuk ke tempat suci kami seperti rumah sendiri."
Suasana tegang. Pengawal di sekitar ruangan memegang senjata.
Su Lang tetap tenang. "Saya hanya membersihkan sampah di arena dan membersihkan udara di menara. Seharusnya Anda berterima kasih."
Ketua Cabang menatapnya lama, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHA! Nyalimu memang besar! Aku suka!"
Ketua Cabang berdiri. "Lupakan soal tetua bodoh itu. Dia pantas mendapatkannya. Aku memanggilmu untuk satu hal. Turnamen Naga Langit."
Wajah Ketua Cabang menjadi serius.
"Tahun ini, aturannya berubah. Kaisar mengumumkan bahwa Reruntuhan Dewa Penempa tidak hanya dibuka untuk pemenang."
Su Lang mengangkat alis. "Oh?"
"Kaisar mengizinkan Pertarungan Bebas di dalam reruntuhan. Artinya, masuk ke sana bukan hadiah liburan. Itu adalah zona perang. Sekte-sekte lain sudah menyewa pembunuh bayaran dan membentuk aliansi gelap untuk menghabisi pesaing di dalam."
Ketua Cabang menatap Su Lang tajam.
"Kami butuh jaminan bahwa kau tidak akan mati di hari pertama. Jadi, dalam waktu enam bulan ini, aku ingin kau melatih pasukan khusus kami. Pasukan yang akan melindungimu, dan yang akan kau lindungi."
"Melatih pasukanmu?" Su Lang tersenyum miring. "Biayanya mahal, Ketua."
"Sebutkan hargamu."
"Akses ke Gudang Material Terlarang sekte Anda. Dan... aku ingin satu kapal perang kelas Sky-Grade untuk perjalanan ke Ibukota."
Para tetua lain terkesiap. Gudang Terlarang? Kapal Langit? Itu harta karun sekte!
Ketua Cabang tidak ragu. "Sepakat. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Putriku, Zi Ling, akan ikut denganmu. Dan kau harus menjamin dia kembali hidup-hidup."
Su Lang menatap Zi Ling. Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Baik," jawab Su Lang. "Tapi di pasukanku, tidak ada putri. Hanya ada prajurit."
Enam Bulan Kemudian.
Pulau Matahari Terbit telah berubah.
Di bawah bimbingan Su Lang (dan siksaan di Ruang Waktu), pasukan elit Sekte Matahari Ungu telah bertransformasi. Mereka tidak lagi bertarung dengan gaya kaku dan ortodoks. Mereka bertarung dengan gaya Aliran Abadi: Efisien, Brutal, dan Menggunakan Alat.
Su Lang sendiri?
Dia berdiri di puncak menara, menatap ke arah utara. Ke arah Ibukota.
Kultivasinya telah mencapai Qi Condensation Tingkat 8.
Fisiknya telah mencapai Tubuh Naga Api Tahap 2.
Dan Kualinya... dia baru saja merasakan lokasi Fragmen ke-6 bergerak mendekat.
"Waktunya berangkat," gumam Su Lang.
Di belakangnya, sebuah armada kapal terbang bersiap. Bukan hanya kapal kayu, tapi kapal yang dilapisi logam ungu dan hitam, dipersenjatai dengan meriam Qi hasil desain Su Lang.
Perang Naga Langit akan segera dimulai. Dan Su Lang tidak datang sebagai peserta. Dia datang sebagai predator.