Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayam Untuk Sahur
Ramadhan telah tiba, Semua orang berburu daging untuk nanti Sahur pertama, tapi tidak dengan Keluarga bu Arumi, Mereka hanya bisa membeli dua liter beras saja, tanpa ada untuk membeli teman nasi nya.
Kali ini mereka sedang terduduk di ruang tamu, melihat berita Sidang isbat penentuan 1 Ramadhan .
Lesi menghela nafas " mau Ramadhan juga berasa biasa aja " keluh Lesi.
" Tiap Ramadhan dan lebaran juga begini terus ya kita, Gak pernah yang namanya ikut memeriahkan " Timbal Bu Arumi.
" Gak penting itu semua, yang penting ibadah nya, percuma apa pun ada, tapi ibadahnya gak Wushu buat apa ?" Tutur Pak Warto.
Bu Arumi melirik Suaminya sekilas " Ibu pusing pak, kita gak punya lauk buat nanti Sahur?, cuma ada nasi aja " Keluh Bu Arumi, Lesi pun mengangguk pelan.
" ya sudah tidak apa apa, yang penting niatnya, semoga besok buka puasa kita bisa makan enak " Harap Pak Warto.
" Bapak punya uang simpanan kek nya nih, mau ngasih kejutan ya ?" Ledek Lesi.
" Bapak kalo ada uang simpanan, bapak udah beli daging sapi Les, Ngapain bikin kalian ngehayal seperti sekarang ?" Timbal Pak Warto, Lesi langsung menekuk mukanya kembali.
Hening kembali, hanya ada suara dari siaran di televisi saja.
Lesi menyadarkan sesuatu yang menyeruak di rongga hidungnya.
" Wangi banget ini ?, siapa ya yang lagi masak rendang ?" Tanya Lesi sambil terus mengingus Bau masakan yang tercium olehnya, dan di ikuti juga oleh Bu Arumi.
" Kayak nya si Ratna deh Les " Tutur Bu Arumi.
" Ah masa dia sih bu, orang gak ada di rumah , Tadi bapak keluar juga pintu sama gorden nya pada tutup rapat tuh " Timbal Pak Warto .
Lesi masih penasaran, dari mana arah Bumbu rendang yang sedap ini, sampai bikin perutnya keroncongan.
" Udah lah ngapain sih pada cium'in aroma masakan kayak gak pernah makan rendang aja " Jengah Pak Warto, karena ia merasa seperti berada di antara dua kucing kelaparan.
" awas aja tuh si Ratna, kalo masak tapi gak bagi bagi kita, Dia kan kalo nyium masakan dari rumah kita, langsung aja tuh nyerobot masuk dan minta " oceh Lesi.
" Iya bener, Waktu ibu masak ayam goreng juga, padahal ibu beli cuma beberapa potong doang, malah dia minta katanya buat makan si Devon, terus gak lama si Riza balik lagi, minta katanya , ih gak tau malu " Ungkap Bu Arumi menanggapi Lesi.
" Bapak mah udah feeling dari gelagat laki nya juga, kalo ke sini tuh, mata nya udah mencar kemana mana , lihat lihat ke semua pojok murah udah kayak nyari apaan aja " Timbal Pak Warto soal sikap aneh Andri.
" Orang kayak gitu, emang pengen nya di kasih aja, tanpa tau terima kasih, pengen menang sendiri pula " Lanjutnya.
" Iya loh , Dia se enak nya sama kita, Bahkan berani pinjam barang ke kita , emang barang barang mereka kemana ?" Ucap Lesi yang dia pendam di otaknya.
" Ibu pernah lihat, waktu itU si Andri bawa ricecooker ke luar, ibu fikir dia bakalan Servis soalnya pas balik gak dia bawa lagi. eh besoknya malah pinjem kesini " Ungkap Bu Arumi, menjawab rasa penasaran Lesi.
" Dih barang rumah tangga kok, di jual jual sih, giliran butuh pinjem kek orang, gak tau diri banget ya " Timbal Lesi dengan rasa kesal yang memuncak, ia bersedekap dada.
tidak lama terdengar ketukan pintu, dan suara seorang wanita.
" Permisi Bu ?" Sapanya di balik pintu.
Lesi segera membuka pintu dan melihat Seorang ibu Paru baya yang tidak lain adalah tetangga sebrang nya .
" Bu Erni ?, Ada apa bu ?" Tanya Lesi.
" eh iya Les, Ini sedikit buat makan sahur besok pagi, kasih ibu Mu ya " Tuturnya dan memberikan sepiring Ayam goreng salundreng . Bu Erni segera berpamitan pergi kembali ke rumahnya.
Lesi disitu tidak sengaja melihat Andri yang sedang mengintip ke arah Lesi yang sedang memegang Pemberian Bu Erni.
Terlihat Andri yang terus menatap ke arah Piring yang ia bawa, merasa tidak nyaman, Lesi segera masuk ke dalam dan menutup pintu.