NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 35

Matahari pagi perlahan naik di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyapu atap-atap rumah yang masih basah dan tembok kota Chuwei yang kokoh. Udara pagi itu masih menyimpan sisa embun malam yang dingin, namun suasana di alun-alun kota sudah dipenuhi gelora semangat yang membara. Sejak fajar menyingsing, rakyat telah berbondong-bondong datang dari segala penjuru, mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki sebagai bentuk penghormatan bagi era baru yang dijanjikan. Petani dengan telapak tangan kasar, pedagang yang menutup kedainya demi momen ini, pengrajin, bahkan anak-anak kecil berdiri rapi membentuk lautan manusia yang tertib namun penuh antusiasme.

Di atas panggung kehormatan yang telah diperbaiki sepenuhnya dan dibersihkan dari segala jejak kemewahan berlebih milik pemerintahan lama, Raja Yan Liao berdiri dengan gagah. Jubah merah tua bersulam naga emas yang dikenakannya berkilau menyilaukan saat tersentuh cahaya matahari pagi. Wajah sang raja tampak tenang, mencerminkan kedamaian yang ingin ia bawa, tetapi sorot matanya tetap tajam dan penuh wibawa, memperingatkan siapa pun bahwa keadilan tidak akan lagi bisa ditawar.

Di sisi kanannya berdiri Permaisuri Bai Ling Yin. Ia mengenakan busana putih gading yang sederhana namun memancarkan keanggunan alami seorang bangsawan sejati. Kehadirannya memberikan sentuhan kelembutan di tengah ketegasan militer yang mendominasi panggung. Sementara itu, di sisi kiri, Lu Ying sang calon Selir Agung berdiri tegak.

Namun, sosok yang paling menarik perhatian bagi mereka yang jeli adalah Cao Yi. Ia tidak berdiri sejajar dengan para petinggi lainnya. Cao Yi memilih berada sedikit di belakang, berdiri tenang di dalam bayang-bayang pilar kayu besar panggung. Matanya yang jernih terus bergerak, mengamati setiap sudut alun-alun dan setiap pergerakan di kerumunan.

Hari ini bukan sekadar upacara pelantikan jabatan. Ini adalah sebuah penegasan ulang bahwa hukum dan keadilan yang selama ini terkubur oleh keserakahan kini telah kembali hidup di bumi Chuwei.

Raja Yan Liao melangkah maju ke tepi panggung. Ia mengatur napasnya, membiarkan tenaga dalamnya mengalir dengan lembut ke tenggorokan. Teknik ini membuat suaranya menggema dengan jelas dan bertenaga hingga ke ujung alun-alun yang paling jauh tanpa perlu berteriak sedikit pun.

"Tuan Zhang. Kapten Feng. Majulah."

Kedua pria yang dipanggil itu berjalan naik ke panggung dengan langkah yang berusaha mereka mantapkan, meskipun ketegangan yang nyata terpahat di wajah mereka. Tuan Zhang adalah seorang guru sastra yang rambutnya telah memutih sepenuhnya karena usia. Ia dikenal sebagai sosok yang jujur, bersahaja, dan memiliki watak keras kepala jika menyangkut pembelaan terhadap rakyat kecil yang tertindas. Di sampingnya, Kapten Feng berjalan dengan tegap. Ia adalah perwira tua yang telah menghabiskan puluhan tahun menjaga gerbang kota. Reputasinya bersih, ia adalah satu dari sedikit pejabat militer yang tidak pernah terseret dalam arus suap yang sempat membusukkan sistem keamanan kota.

Mereka berdua dipilih melalui mekanisme yang unik, yakni musyawarah terbuka yang diadakan sehari sebelumnya. Rakyatlah yang menyebutkan nama mereka, rakyat pulalah yang memberikan mandat tersebut.

"Kalian berdiri di sini bukan karena perintah dari seorang bangsawan yang ingin mencari muka," ujar Yan Liao dengan suara berat namun terasa hangat di telinga. "Kalian berdiri di sini karena kepercayaan rakyat yang telah terlalu lama terluka oleh pengkhianatan. Letakkan tangan kalian di atas kitab hukum kerajaan ini."

Seorang prajurit maju membawa sebuah kotak kayu berukir yang berisi kitab hukum resmi kerajaan. Kotak seperti ini seharusnya ada di setiap kediaman pejabat, namun selama ini seringkali hanya menjadi hiasan yang berdebu. Kedua pria itu berlutut dengan khidmat dan meletakkan tangan mereka di atas lembaran tua tersebut. Tangan mereka sedikit gemetar, namun itu bukan karena rasa takut akan kematian, melainkan karena beban tanggung jawab yang tiba-tiba terasa begitu nyata dan berat di pundak mereka.

"Aku, Zhang Wei, bersumpah akan menjalankan jabatan ini dengan hati yang bersih, setia sepenuhnya kepada takhta dan rakyat, serta tidak akan pernah menerima suap atau menyelewengkan hukum demi kepentingan pribadi maupun golongan," ucap Tuan Zhang dengan suara bergetar namun tegas.

"Aku, Feng Guo, bersumpah akan menjaga keamanan kota ini beserta seluruh wilayahnya dengan penuh kejujuran, tanpa akan pernah tunduk pada tekanan para bangsawan maupun godaan kekayaan yang tidak halal," sambung Kapten Feng.

Raja Yan Liao mengangguk puas. Ia mengambil dua lencana kepemimpinan yang terbuat dari logam mulia dari atas baki emas, lalu menyematkannya di pundak mereka masing-masing. Seketika itu juga, tepuk tangan bergemuruh dari ribuan rakyat yang hadir. Sorak-sorai itu memecah kesunyian pagi, dan di antara kerumunan, tidak sedikit warga yang meneteskan air mata haru. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka menyaksikan seorang pejabat diangkat bukan karena garis keturunan atau koneksi politik, melainkan karena reputasi dan integritas mereka di mata publik.

Setelah prosesi sumpah tersebut selesai, Letnan Bai Wang melangkah maju dengan membawa gulungan perkamen besar yang masih tersegel lilin merah kerajaan. Dengan gerakan yang tegas dan terlatih, ia membuka gulungan tersebut di hadapan massa.

"Dengarkan baik-baik, rakyat Chuwei," seru Letnan Bai Wang dengan lantang.

Suasana alun-alun mendadak hening seketika.

"Atas perintah langsung dari Paduka Raja Yan Liao, mulai hari ini setiap keping pajak yang dipungut dari rakyat wajib dicatat secara transparan dan dipublikasikan setiap bulan di papan pengumuman kota. Siapa pun, tanpa terkecuali, berhak untuk melihat dan mempertanyakannya. Kedua, setiap pejabat yang terbukti secara sah menerima suap atau menggelapkan dana rakyat tidak akan lagi diberi kemewahan di dalam penjara kota. Mereka akan langsung diasingkan ke tambang garam di perbatasan utara untuk bekerja seumur hidup. Seluruh harta kekayaan mereka akan disita tanpa sisa untuk dikembalikan ke kas rakyat."

Mendengar pengumuman itu, riuh sorak kembali membahana bahkan lebih keras dari sebelumnya, seolah-olah mengguncang udara pagi itu. Rakyat saling berpelukan dan memandang dengan mata yang berbinar penuh harapan. Hukum kini tidak lagi terasa seperti jaring yang hanya menangkap ikan kecil, melainkan telah menjadi pedang yang benar-benar memiliki mata tajam untuk menebas siapa pun yang bersalah.

Cao Yi memperhatikan reaksi massa itu dengan tatapan tenang yang sulit diartikan. Baginya, sorak-sorai adalah hal yang mudah didapat, namun sulit dipertahankan. Yang paling penting dalam benaknya adalah apakah aturan ketat ini akan benar-benar ditegakkan dengan konsisten setelah rombongan kerajaan meninggalkan kota ini.

Upacara besar itu berakhir menjelang siang hari saat matahari mulai menyengat kulit. Namun, tepat sebelum rombongan kerajaan bersiap untuk meninggalkan kota, sebuah laporan tak terduga datang dari tim pembersihan.

Di dalam ruang kerja sementara Raja yang dijaga ketat, Tuan Zhang datang dengan terburu-buru. Ia berlutut sambil membawa sebuah kotak kayu hitam tua yang tampak sangat kuno. Kayu itu terlihat kusam dan penuh goresan, tetapi mekanisme kuncinya terbuat dari logam berkualitas tinggi yang sangat rumit.

"Yang Mulia, benda ini ditemukan oleh para pekerja di ruang bawah tanah rahasia bekas kediaman Han Zao. Benda ini disembunyikan dengan sangat rapi di balik dinding palsu yang berlapis besi," lapor Tuan Zhang.

Yan Liao membuka kotak itu dengan perlahan. Di dalamnya, terbaring sebuah peta kuno yang digambar di atas kulit domba yang sudah menguning, serta sebuah lencana perak yang unik. Lencana itu mengukir lambang sebatang bambu yang patah tepat di bagian tengahnya.

Tatapan mata Raja Yan Liao langsung berubah menjadi sangat dingin dan kelam begitu melihat benda tersebut. Ia segera memanggil Cao Yi untuk mendekat.

Cao Yi melangkah maju. Saat jemarinya yang ramping menyentuh lencana perak itu, hawa dingin yang sangat tipis seolah merambat keluar dari tubuhnya, sebuah reaksi dari Qi yang ia miliki terhadap benda yang memiliki sejarah kelam. Matanya menyipit dengan penuh selidik.

"Lambang Bambu Patah," ucap Cao Yi dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman. "Ini adalah lambang dari sebuah divisi rahasia militer yang seharusnya sudah dibubarkan secara total sepuluh tahun yang lalu setelah kegagalan pemberontakan Yan Jiayi. Mereka adalah unit pembunuh bayaran yang berada di bawah komando langsung Menteri Pertahanan saat itu."

Lu Ying yang baru saja memasuki ruangan ikut mendekat dan menatap peta tersebut dengan kening berkerut. Garis-garis tipis pada peta itu menunjukkan jalur-jalur tikus yang tersembunyi, membentang dari arah Chuwei langsung menuju sebuah lembah yang terletak sangat dekat dengan Ibu Kota Liungyi.

Yan Liao mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak yang pelan.

"Ternyata Chuwei bukan hanya sekadar ladang uang bagi Han Zao," ujar Yan Liao dengan nada suara yang penuh dengan amarah yang tertahan. "Tempat ini adalah markas logistik utama untuk menggerakkan pasukan bayaran rahasia menuju ibu kota. Mereka berniat melakukan pengepungan dari dalam tanpa kita sadari."

Wajah sang raja kini tidak lagi menunjukkan kemarahan biasa. Itu adalah kemarahan seorang penguasa yang menyadari bahwa ada pengkhianat besar di dalam istananya sendiri yang sedang bermain dengan api.

"Kita harus bergerak dengan sangat cepat. Jika Menteri Pertahanan sampai mendengar kabar bahwa Han Zao telah tertangkap dan rahasia ini terungkap, ia tidak akan tinggal diam menunggu kita datang. Ia pasti akan segera meluncurkan serangan prematur," Yan Liao menatap Bai Wang.

Letnan Bai Wang segera berdiri tegak dan memberi hormat militer yang sempurna. "Perintah Anda, Yang Mulia?"

"Kita berangkat malam ini juga," tegas Yan Liao dengan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Kita tidak akan kembali melalui jalan utama yang biasa dilalui rombongan kerajaan. Kita akan menggunakan rute rahasia yang tertera di peta ini. Kita harus memotong jalur komunikasi mereka dan muncul tepat di depan gerbang mereka sebelum mereka sempat menyadari bahwa kita telah bergerak."

Malam pun turun dengan sunyi di kota Chuwei. Rombongan para pasukan pilihan bergerak keluar dari gerbang kota tanpa menggunakan obor besar. Mereka hanya mengandalkan cahaya redup dari beberapa lentera kecil yang disembunyikan di balik kain penutup.

Di langit, bulan tampak bersinar dengan damai, seolah tidak terjadi apa pun. Namun di dalam dada setiap anggota rombongan, bara peperangan telah menyala dengan sangat hebat.

Cao Yi tetap berada di posisi paling belakang, menjaga barisan agar tetap tertutup. Angin malam yang kencang menggerakkan ujung jubah hitamnya yang menyatu dengan kegelapan. Tatapannya tertuju lurus ke arah utara, ke arah Ibu Kota Liungyi yang megah namun kini terasa seperti sarang ular yang penuh dengan intrik mematikan.

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!