Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 — Pertarungan akan dimulai
Satu minggu kemudian.
Rombongan dari Kerajaan Shi akhirnya tiba di sekitar hutan. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu tetap memakan waktu cukup lama karena medan yang tidak bersahabat dan persiapan yang harus dilakukan dengan hati-hati.
Kereta-kereta kuda berhenti di tepian hutan yang lebat. Udara terasa lebih berat dibandingkan wilayah luar.
Xiang Malingsheng turun dari keretanya dan menatap hutan yang menjadi tempat tinggal Keturunan Darah Berdosa. Pepohonan tinggi menjulang rapat, seolah menjadi dinding alami yang melindungi sesuatu di dalamnya.
Ia bisa merasakan sesuatu yang samar menyelimuti desa di balik hutan itu. Sebuah energi yang tidak biasa. Tidak jelas bentuknya, namun cukup untuk membuatnya waspada.
Ia mengerutkan kening.
"Perasaanku tidak enak."
Puk.
Sebuah tangan menepuk bahunya dengan santai.
"Ayolah, Malingsheng. Apa yang kau takutkan?" Xu Tang bertingkah seolah semua ini hanyalah perjalanan biasa.
"Kita harus bereskan ini dulu, setelah itu... kau bisa pulang dan anuu dengan istrimu, hehehe." Xu Tang membentuk senyum.
Malingsheng menoleh perlahan dengan tatapan jijik yang tidak disembunyikan.
"Sekali lagi kau membayangkan istriku akan kubunuh kau," ucapnya datar tapi menyeramkan.
Xu Tang langsung membungkuk dengan panik. "Maafkan aku!"
Jian Yu yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya menepuk keningnya sendiri. Ia benar-benar tidak menyangka keduanya masih bisa bercanda santai di tempat seperti ini, tepat di depan wilayah Keturunan Darah Berdosa.
Satu per satu yang lain juga turun dari kereta. Tidak ada wajah yang menunjukkan ketakutan. Justru yang terlihat adalah rasa percaya diri yang tinggi.
"Hutan ini mengandung energi aneh, tidak berbahaya, namun sedikit mengganggu."
Jian Yu mengatakannya sambil menatap lurus ke dalam hutan, mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik pepohonan.
"Ayo segera lakukan, lebih cepat lebih baik."
Seorang pria dengan pedang panjang di punggungnya melangkah maju. Namanya Ye Yu. Meski seorang penyihir tingkat 4, sifatnya terkenal buruk. Ia menyukai wanita dan tidak pernah puas hanya dengan satu.
"Sabar, Ye Yu. Kita akan berpencar, mengerti?" Jian Yu berbalik dan mulai menyusun strategi.
Mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil di atas tanah yang ditutupi dedaunan kering.
"Xiang Malingsheng, Ye Yu. Kalian berdua pergi ke sini." Ia menunjuk sebuah titik di peta yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Lalu Xu Tang pergi kebagian sini. Xiao Han, Ji Ziyue, akan bersama menyusup dekat, tapi jangan sampai ketahuan. Tidak perlu menyerang, hanya perlu memperhatikan."
Ji Ziyue dan Xiao Han mengangguk tanpa ragu.
"Untuk Xun Qian, Xian Huan, Xiao Peng. Kalian juga sama-sama mengawasi, namun lebih jauh."
Mereka semua mengangguk tanda paham.
"Han Jiuye, ikut bersamaku."
Xu Tang yang sejak tadi mendengarkan akhirnya menyadari sesuatu yang janggal.
"Tunggu! Kenapa aku sendiri?"
"Karena kau memang lebih cocok bertarung sendiri, kekuatanmu bisa mengenai rekanmu nanti!" Ye Yu yang menjawab.
Yang lain mengangguk setuju dengan alasan itu.
"Apaaa! Ini tidak adil!"
Malingsheng menepuk bahunya dengan tenang. "Ayolah, Xu Tang. Kau adalah tingkat 5, meski kalah juga tidak akan begitu menyedihkan."
"Xiang Malingsheng...! Kau pikir aku akan kalah? Tentu saja tidak akan!"
Jian Yu tersenyum lebar, kedua tangannya bertumpu di pinggangnya. "Bagus! Semangat yang bagus! Ayo segera selesaikan ini. Tidak boleh ada yang mati, kalian mengerti?! Jika ada yang berani mati, maka aku akan membunuhnya!"
Xiao Han mengangkat tangan dengan wajah serius. "Bagaimana caranya membunuh orang yang sudah mati?" tanyanya.
"Aku akan mendatangimu ke neraka lalu membunuhmu sekali lagi."
Ucapan itu membuat beberapa dari mereka tertawa ringan. Ketegangan yang sempat muncul sedikit mencair.
"Sudah, sudah. Ayo fokus."
Sepuluh orang itu akhirnya melangkah memasuki hutan. Dedaunan berderak di bawah kaki mereka. Cahaya matahari perlahan terhalang oleh rimbunnya pepohonan.
Langkah mereka mantap dan penuh keyakinan. Tidak satu pun dari mereka meragukan keberhasilan misi kali ini.
Namun jauh di dalam hutan, sesuatu yang tak terlihat perlahan mulai bergerak
...---...
Sementara itu, di desa, Miju Xie telah berdiri di pusat area terbuka. Kedua tangannya terangkat perlahan, energi merah mulai terkumpul di sekelilingnya.
Penghalang besar harus dipasang sebelum orang-orang luar benar-benar menyusup lebih dalam.
"Aktifkan penghalang."
Perlahan, cahaya merah muncul di batas desa. Awalnya samar seperti kabut tipis, lalu semakin jelas dan terang.
Cahaya itu naik dari tanah, bergerak mengelilingi desa seperti air pasang yang tenang namun tak bisa dihentikan. Ia terus meninggi hingga akhirnya bertemu di udara, menyatu membentuk lapisan tembus pandang yang menyelimuti seluruh wilayah.
Udara bergetar sesaat sebelum semuanya kembali sunyi.
"Selesai."
Miju Xie menghela napas pelan lalu berbalik. Pandangannya jatuh pada Xinyi yang duduk di kursi kayu di bawah pohon besar. Di sampingnya, Xun'er dan Yao Li tengah membantu menyusun rencana terbaik.
Tidak jauh dari sana, Yuan Xi duduk di batang pohon yang tumbang. Ia mengasah pedangnya perlahan. Suara gesekan logam terdengar ritmis dan tenang, namun menyimpan kesiapan untuk pertarungan yang akan datang.
Miju Xie menghampirinya.
"Yuan Xi, bagaimana menurutmu tentang ini?" tanyanya sembari ikut duduk disebelah Yuan Xi.
"Ini akan menjadi pengalaman bagus untuk melihat bagaimana orang luar sesungguhnya. Terakhir kali mereka masuk, mereka hanyalah sampah tidak berperasaan yang menciptakan kekacauan."
Ia menjawab tanpa menoleh. Nadanya rendah, seolah tidak ingin terlalu lama mengingat kejadian itu.
"Benar, yah. Saat itu benar-benar buruk... tapi kali ini hasilnya akan berbeda." Miju Xie menatap langit melalui celah dedaunan.
"Bagaimana Tetua bisa yakin tentang itu?" Yuan Xi akhirnya menoleh.
"Karena ada dia."
Meski nama itu tidak disebutkan, Yuan Xi tahu jelas siapa yang dimaksud.
Xinyi.
Namun keraguan tetap mengganggunya. Bagaimanapun juga, Xinyi adalah orang luar. Bagaimana jika ia berkhianat? Bagaimana jika semua ini hanya kebohongan?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Lebih buruk lagi, ia tidak memiliki satu pun bukti untuk mendukung kecurigaannya. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Xinyi akan berkhianat.
Tetapi ia juga tidak mampu percaya sepenuhnya.
Yuan Xi memegangi pelipisnya pelan.
"Aku benci ini..."
Di sisi lain, Xinyi tengah fokus pada peta yang terbentang di atas meja kayu kecil. Ia memperhatikan titik-titik penting yang sudah ditandai, meski kepalanya sedikit pusing melihat banyaknya kemungkinan.
"Chu atas... mungkin akan dijaga Yao Li."
Ia menoleh pada Yao Li di sampingnya. "Bagaimana, Yao Li?"
"Saya mengerti, itu tempat yang cocok."
"Xinyi, mereka tidak bodoh, kan? Dalam keadaan seperti ini, mereka pasti akan berpencar. Yan bawah dan Xuan bawah akan menjadi tempat yang paling cocok untuk bersembunyi."
"Aku tau itu," jawab Xinyi. "Hanya saja... siapa yang harus kuletakkan di San atas?"
Xun'er memperhatikan peta dengan serius. Tangannya menyentuh dagu sejenak sebelum berbicara. "Aku akan berada di Chu atas bersama Yao Li. Karena itu ada di paling atas dan mungkin akan sulit jika banyak musuh."
"Benar juga." Xinyi mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Yuan Xi dan Miju Xie.
"Tetua dan Yuan Xi, kalian berdua akan berada di San atas. Kalian setuju?"
Miju Xie langsung berdiri dan menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk penghormatan kecil. "Siap, laksanakan."
Ia lalu mengangkat kepala dan menatap Xinyi dengan sedikit heran. "Tapi... kenapa Yuan Xi juga di San atas?"
"Karena dia akan cocok bersamamu."
Yuan Xi tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya, tidak jelas apakah itu tanda setuju atau sekadar menghindari pembicaraan.
"Lalu Xiao Yun akan berada di Yan bawah. Terakhir aku di Xuan bawah."
"Tunggu, Dewi. Bukankah terlalu berbahaya jika Anda hanya sendiri?" Miju Xie bertanya lebih dulu sebelum Yao Li sempat mengatakan hal yang sama.
"Tidak. Sebaliknya ini akan sangat sempurna, aku bisa mengeluarkan sihir-sihir yang belum pernah kucoba."
Beberapa saat kemudian, suara Jiang Yun terdengar langsung di dalam kepala Xinyi.
"Xinyi... mereka sudah masuk."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia berdiri perlahan dan menggulung kembali petanya.
"Ayo lakukan. Saatnya untuk kita mengusir orang-orang itu."
Angin berhembus pelan di antara pepohonan. Penghalang merah berkilau samar di atas desa.
Pertarungan akhirnya benar-benar dimulai.
apa ada sejarah dengan nama itu?