NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Malam pun datang.

Aku, Senja…

sering merasa seperti hanya anak tiri di rumah ini.

Seperti hanya bayangan yang kebetulan tinggal bersama mereka.

Pernahkah mereka benar-benar bertanya bagaimana keadaanku?

Bagaimana perasaanku?

Apa aku lelah?

Apa aku sedih?

Atau selama ini mereka hanya melihatku sebagai seseorang yang harus kuat… tanpa pernah diberi ruang untuk rapuh?

Sejak kecil aku sudah terbiasa merasa sendiri.

Aku ikut berjualan sejak usia yang seharusnya masih dipenuhi permainan.

Saat teman-teman sepantaranku pulang sekolah dan beristirahat,

aku membantu, berdiri berjam-jam, menahan lelah.

Dari kecil sampai aku SMA,

aku jarang mengeluh.

Bahkan saat makan, ketika laukku selalu lebih sedikit dari yang lain,

aku hanya diam.

Aku belajar menelan rasa lapar bersama rasa kecewa.

Tanpa protes.

Tanpa air mata di depan mEreka.

Kupikir setelah aku bekerja, hidupku akan sedikit berubah.

Kupikir aku akan punya kendali atas diriku sendiri.

Tapi ternyata… tidak.

Sekarang aku sudah bekerja.

Setiap pagi berangkat lebih awal, pulang saat tubuh terasa berat.

Namun uang hasil keringatku sendiri tidak pernah benar-benar ada di tanganku.

Gajiku dipegang oleh Kak Rita.

Aku hanya tahu jumlahnya lewat slip gaji.

Aku tidak pernah benar-benar memegang hasil kerjaku sendiri.

Setiap bulan, aku hanya diberi uang sekadarnya.

Cukup untuk makan.

Cukup untuk ongkos kerja.

Seolah-olah aku masih anak kecil yang belum bisa dipercaya.

Padahal aku yang bekerja.

Aku yang lelah.

Aku yang berdiri berjam-jam.

Sepatu yang kupakai untuk kerja pun bekas dari Kak Rita.

Sudah lama sobek.

Sudah lama tidak layak pakai.

Jempol kakiku bahkan sudah terlihat keluar.

Setiap melangkah terasa perih,

tapi aku tetap memakainya.

Karena aku tidak punya pilihan.

Saat akhirnya aku memberanikan diri meminta uangku sendiri untuk membeli sepatu baru,

bukan sepatu mahal,

hanya sepatu yang pantas dipakai bekerja…

Aku justru merasa seperti orang yang terlalu banyak meminta.

Padahal itu uangku.

Hasil keringatku.

Hak ku.

Di mana salahku?

Kenapa aku harus merasa bersalah hanya untuk sesuatu yang seharusnya memang milikku?

Malam itu aku kembali bertanya pada diri sendiri…

Apakah aku memang dianggap tidak berharga?

Atau mereka hanya sudah terlalu terbiasa mengatur hidupku?

Aku lelah menjadi kuat sendirian.

Aku lelah dianggap tidak punya suara.

Aku lelah merasa seperti tidak pernah benar-benar dimiliki.

Tapi di dalam hatiku masih ada satu hal yang membuatku bertahan—

aku tidak ingin selamanya seperti ini.

Suatu hari nanti,

aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri.

Memegang hasil kerjaku sendiri.

Membeli sepatu dengan uangku sendiri.

Dan berjalan tanpa merasa kecil di rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang.

Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Senja berdiri cukup lama di depan pintu kamar Kak Rita.

Tangannya terasa dingin.

Bukan karena takut… tapi karena lelah terlalu lama diam.

Tok. Tok.

“Masuk,” suara Kak Rita terdengar datar dari dalam.

Senja melangkah pelan.

Kak Rita sedang duduk di tempat tidur, memegang ponsel, wajahnya tanpa ekspresi.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Senja menarik napas.

“Kak… aku mau minta uang gajiku bulan ini. Aku mau beli sepatu kerja. Sepatuku sudah sobek… jempol kakiku sampai keluar.”

Kak Rita menoleh sekilas, lalu kembali melihat ponselnya.

“Sepatu itu masih bisa dipakai,” jawabnya ringan.

“Jangan boros.”

Senja menahan diri.

“Sudah tidak layak, Kak. Di tempat kerja juga sudah ditegur.”

Kak Rita meletakkan ponselnya, menatap Senja dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Kamu itu harus belajar hemat,” katanya.

“Uang kamu bukan cuma buat kamu.”

Senja terdiam.

“Maksudnya?”

“Kamu harus mikir panjang. Alfa nanti butuh biaya sekolah. Kamu harus bantu sekolahkan dia sampai sarjana.”

Kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan tepat di dadanya.

“Aku sayang Alfa, Kak. Aku mau bantu. Tapi itu bukan berarti aku tidak boleh pakai uangku sendiri untuk kebutuhanku.”

Kak Rita menghela napas panjang, seolah Senja anak kecil yang keras kepala.

“Kalau kamu tidak hemat dari sekarang, nanti kamu menyesal. Kita ini bukan orang kaya.”

Senja menggenggam tangannya erat.

“Tapi Kak… ini uang hasil kerjaku. Setiap hari aku berangkat pagi, pulang sore. Kakak yang pegang semua. Aku cuma dikasih secukupnya. Aku bahkan nggak pernah tahu uangku dipakai apa saja.”

Suasana mendadak hening.

“Kamu nggak percaya sama Kakak?” suara Kak Rita mulai meninggi.

“Bukan begitu. Aku cuma ingin pegang uangku sendiri. Aku ingin belajar mengatur sendiri.”

Kak Rita berdiri.

“Kalau semua kamu pegang sendiri, nanti kamu habis-habiskan. Kamu itu nggak ngerti tanggung jawab besar.”

Senja menatap lurus.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk.

“Tanggung jawab bukan berarti aku harus kehilangan hakku, Kak.”

Kata-kata itu keluar pelan… tapi tegas.

“Aku nggak pernah nolak bantu Alfa. Aku nggak pernah nolak bantu Ibu. Tapi aku juga punya kebutuhan. Aku kerja bukan untuk terus merasa kekurangan.”

Kak Rita terdiam, mungkin tidak menyangka Senja akan berbicara setenang itu.

“Sepatu saja aku harus minta. Padahal itu uangku.”

Suara Senja mulai bergetar, tapi ia tidak menangis.

“Aku cuma mau dihargai sebagai orang yang bekerja. Bukan seperti anak kecil yang harus minta izin untuk pakai hasil keringatnya sendiri.”

Ruangan itu sunyi.

Untuk pertama kalinya, Senja merasa dadanya lebih ringan.

Bukan karena masalahnya selesai…

tapi karena ia akhirnya berani bersuara.Wajah Kak Rita berubah.

Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam.

“Kalau kamu merasa nggak dihargai,” suaranya mulai meninggi,

“ya sudah. Kos saja sendiri.”

Senja terdiam.

“Apa, Kak?”

“Kamu kan sudah merasa bisa atur hidup sendiri. Sudah merasa dewasa. Ya sudah, cari kos. Jangan tinggal di kontrakan ini lagi.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Ringan di bibir Kak Rita.

Berat di dada Senja.

“Kontrakan ini bukan cuma tempat tinggal,” lanjut Kak Rita.

“Kalau kamu tinggal di sini, kamu ikut aturan di sini.”

Senja merasakan sesuatu di dalam dirinya retak.

Bukan karena diusir…

tapi karena cara itu diucapkan.

“Jadi cuma karena aku minta uangku sendiri… aku harus pergi?”

“Kamu yang mulai,” jawab Kak Rita cepat.

“Kamu yang nggak percaya sama Kakak.”

Sunyi.

Senja menelan ludah.

Hatinya sakit.

Namun entah kenapa, kali ini ia tidak menangis.

“Baik, Kak,” ucapnya pelan.

Kak Rita terlihat sedikit terkejut dengan jawaban itu.

“Aku memang ingin belajar mandiri. Tapi bukan berarti aku tidak sayang keluarga.”

Ia menarik napas dalam.

“Kalau tinggal di sini berarti aku harus terus merasa kecil… mungkin memang sudah waktunya aku belajar berdiri sendiri.”

Kak Rita tidak langsung menjawab.

Mungkin ia mengira Senja akan memohon.

Akan takut.

Akan menarik kembali ucapannya.

Tapi Senja hanya berdiri tenang.

“Aku tidak pernah berniat melawan. Aku cuma ingin dihargai.”

Matanya mulai berkaca-kaca, tapi suaranya tetap stabil.

“Kalau harus pergi supaya aku bisa punya kendali atas hidupku sendiri… mungkin itu jalan yang harus aku ambil.”

Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya.

Kak Rita memalingkan wajah.

“Ya sudah. Terserah kamu.”

Senja mengangguk pelan.

Di dalam hatinya ada campuran rasa takut dan lega.

Takut karena harus memulai dari nol.

Lega karena akhirnya ia tidak lagi membungkam dirinya sendiri.

Malam itu, di kamar kecilnya, Senja duduk sendirian.

Ia melihat sepatu sobeknya.

Melihat tas kerjanya.

Melihat slip gaji yang selama ini hanya menjadi kertas tanpa arti.

Air matanya jatuh pelan.

Tapi untuk pertama kalinya…

air mata itu bukan karena merasa tidak berharga.

Melainkan karena ia sadar—

ia sedang melangkah menuju hidupnya sendiri.

Dan mungkin…

menguat bukan berarti melawan.

Menguat berarti berani keluar dari tempat yang membuatmu terus merasa kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!