Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Mencintai Sisa Reruntuhan
Lampu kristal ballroom itu bersinar megah, seolah ikut merayakan hari di mana Aruna, putri tunggal keluarga Adiwangsa, resmi menjadi milik Tristan. Aruna yang lugu hanya bisa tersenyum malu. Ia tak menyadari bahwa di balik janji manis laki-laki sederhana itu, ada reputasi playboy yang siap menghancurkan segalanya.
"Aku nggak bisa berhenti menatapmu. Kamu cantik sekali hari ini, Aruna," bisik Tristan di telinganya saat mereka berdansa. Aruna tersenyum tersipu, merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa jam. Saat acara resepsi masih berlangsung, Aruna pergi ke ruang rias untuk membetulkan gaunnya. Di lorong sepi menuju balkon, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenali.
"Sabar, Sayang. Pernikahan ini cuma urusan bisnis. Begitu saham ayahnya resmi jadi milikku, dia bakal langsung aku singkirkan. Kita buang saja dia ke desa biar nggak jadi pengganggu," suara Tristan terdengar begitu dingin, sangat berbeda dengan suara lembut yang Aruna dengar di pelaminan tadi.
"Tapi mau sampai kapan aku menunggu? Aku muak melihatmu berakting mesra dengan dia!" suara seorang wanita menyahut, terdengar penuh tuntutan.
Dunia Aruna mendadak hancur. Buket bunga di genggamannya jatuh begitu saja, kelopaknya hancur berserakan di atas lantai marmer yang dingin. Di malam yang seharusnya penuh tawa ini, Aruna justru menyadari bahwa pria yang baru saja mengecup keningnya adalah orang yang akan menghancurkan hidupnya.
Aruna menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak yang menghantam dada. Air mata yang nyaris jatuh segera ia hapus dengan punggung tangan. "Nggak akan," gumamnya tajam. "Jangan harap kalian bisa tidur nyenyak setelah ini."
Alih-alih melabrak Tristan, Aruna memilih berdiri di depan cermin lorong. Ia memoles ulang lipstiknya, memastikan warna merahnya terlihat sempurna. Ia memaksakan sebuah senyum. Jenis senyum paling manis yang pernah ia miliki, tepat di atas luka yang masih menganga. Jika Tristan ingin bermain peran, Aruna akan memastikan dirinyalah yang memenangkan piala aktris terbaik.
Saat Tristan kembali menemukannya di dekat ruang rias, Aruna langsung menyambutnya. "Mas? Ke mana saja, sih? Aku cari dari tadi nggak ketemu," ucap Aruna sambil mengalungkan tangan di leher Tristan, suaranya dibuat semanja mungkin.
Tristan tersenyum, mengelus rambut Aruna tanpa rasa bersalah. "Sebentar saja, Sayang. Tadi di depan ramai sekali. Kamu oke? Kok pucat begitu? Capek, ya?"
"Aku cuma terlalu senang, Mas. Sampai-sampai rasanya sesak di dada," jawab Aruna dengan senyum lebar. Tristan tertawa, menganggap itu hanyalah ungkapan cinta yang berlebihan.
Aruna membiarkan Tristan merasa menang. Di depan kamera dan kolega, ia tetaplah istri yang memuja suaminya tanpa syarat. Namun, di balik pintu yang tertutup, jemarinya bergerak lincah di layar ponsel, mengamankan aset-aset yang bisa ia selamatkan sebelum Tristan sempat menyentuhnya.
***
Malam itu, di dalam Presidential Suite yang berhiaskan kelopak mawar merah, Aruna merasakan mual yang luar biasa. Aroma parfum Tristan yang dulu ia puja, kini terasa seperti racun yang menyesakkan paru-parunya.
"Sini, Sayang. Cuma ada kita sekarang," bisik Tristan pelan. Aruna mematung saat merasakan tangan Tristan melingkar di pinggangnya. Tangan yang sama yang baru saja ia bayangkan sedang mencekik lehernya.
Aruna menelan rasa jijik yang nyaris membuatnya muntah. Ia memutar tubuh, memasang senyum terbaiknya. "Mandi dulu, ganti baju. Aku nggak mau malam pertama kita terganggu bau asap rokok," bisiknya manja sambil mengelus dada kemeja Tristan.
Tristan tertawa, lalu mengecup kening Aruna dengan perasaan puas. "Oke, Sayang. Tunggu sebentar ya, jangan tidur dulu."
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Aruna langsung lari ke arah balkon. Ia menghirup udara malam dalam-dalam.
"Nikmati saja dulu, Mas," bisik Aruna dingin. "Aku bakal bikin kamu kehilangan segalanya, bahkan sebelum kamu sadar apa yang terjadi."
Aruna bergerak cepat. Ia mentransfer dana darurat dari rekening pribadinya ke rekening rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Ketika Tristan keluar hanya dengan lilitan handuk, Aruna sudah duduk di tepi ranjang, berakting sebagai istri yang menunggu suaminya dengan penuh cinta.
Tristan mendekat, aroma sabun menyatu dengan hawa panas tubuhnya. Aruna memejamkan mata saat pria itu menariknya ke dalam dekapan. Di balik kelopak matanya yang tertutup, Aruna membayangkan wajah wanita di lorong tadi. Setiap sentuhan Tristan terasa seperti duri yang menusuk kulitnya, namun Aruna tetap diam, membiarkan suaminya melakukan apa yang ia anggap sebagai haknya.
Aruna menahan isak tangis. Ia harus bertahan. Malam pertama ini tak lebih dari sekadar transaksi kotor untuk membeli waktu.
Keesokan Harinya.
Cahaya matahari pagi menembus celah gorden. Aruna segera bangun, merasakan pegal dan sisa rasa jijik yang membekas. Di sampingnya, Tristan masih tertidur lelap dengan senyum kemenangan.
Aruna menatap kosong pria itu.
"Puas-puasin tidurnya, Mas. Karena setelah ini, kamu bahkan tidak akan punya waktu buat sekadar memejamkan mata."
Tanpa membuang waktu, Aruna membersihkan diri dan mengenakan setelan kantor yang elegan. Ia meninggalkan secarik kertas di atas nakas: 'Mas, aku ke kantor Ayah sebentar karena ada urusan mendadak. Sampai ketemu di rumah.'
Ia menuju basemen, menghampiri mobil sport merah pemberian ayahnya. Ia menggenggam kemudi erat-erat seolah sedang mencekik leher Tristan, lalu memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta.
***
Di hotel, Tristan terbangun. Ia tertawa sinis setelah membaca pesan Aruna. "Istri yang pintar," gumamnya. "Teruslah jadi anak baik, Aruna, sementara aku meruntuhkan kerajaan ayahmu."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Siska masuk dengan gaun merah ketatnya. "Tenang saja, Mas. Aku sudah lihat mobil merahnya keluar basemen tadi. Dia terjebak macet, kita punya banyak waktu."
Siska mendekat, melingkarkan tangannya di leher Tristan yang masih tampak tegang. "Lagipula, aku nggak tahan. Semalam itu seharusnya jadi malamku, bukan malam perempuan lugu itu."
Tristan tertawa kecil, ketegangannya menghilang begitu saja. Ia menarik pinggang Siska agar lebih merapat. "Sabar dong. Bentar lagi semua harta Adiwangsa bakal pindah ke rekening aku. Habis itu kita nggak perlu main petak umpet kayak begini. Aruna? Dia cuma alat buat aku sampai ke sana."
"Kamu harus cepat, Mas. Aku nggak mau berbagi kamu lebih lama lagi dengan dia," rengek Siska manja.
Tristan tertawa rendah, merasa berada di atas angin. Ia tidak tahu bahwa saat ini Aruna sedang bersama pengacara paling tangguh, merancang jerat yang akan mencekik mereka berdua hingga ke titik termiskin.
***
Di tengah macetnya Jakarta yang membosankan, Aruna meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi yang terhubung ke kamera tersembunyi di kamar hotel tadi. Sebuah firasat yang ternyata langsung terbukti. Di layar kecil itu, ia melihat pemandangan yang sanggup menghancurkan sisa-sisa hatinya.
Aruna menyaksikan kemesraan itu dengan napas yang tertahan. Tangannya kaku di atas kemudi. Ia tidak menangis Ia sudah lelah untuk itu. Di matanya kini hanya ada perhitungan dingin tentang bagaimana cara menghancurkan mereka berdua seadil mungkin.
"Kalian benar-benar tidak tahu malu," bisik Aruna dingin. "Terima kasih sudah memberiku bukti tambahan untuk menghancurkan kalian di pengadilan nanti."
Begitu lampu berubah hijau, Aruna langsung tancap gas. Ia membiarkan mobil sport merahnya meluncur cepat ke arah gedung Pak Baskara. Tak ada lagi air mata, yang ada sekarang hanyalah rencana matang untuk menghancurkan Tristan sampai ke akar-akarnya.