Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ribuan malam ia lewati di apartemen itu, tidak banyak berubah sejak dulu. Remang-remang lampu di balkon kamarnya, udara pendingin ruangan yang stabil sesuai kemauan si empunya kediaman, pun keheningan nyaman seolah ia puas hidup seorang diri.
Cyan duduk di sofa dengan laptop tertutup di pangkuannya. Ia sudah menatap layar kosong itu hampir sepuluh menit, tanpa benar-benar berniat membukanya lagi. Pikiran kusut, suasana hati yang tidak bisa dikatakan baik. Urusan kantor menguras energinya, membuat ia tak bernafsu lagi ketika diajak hangout bersama Alya.
Di tengah kesyahduan itu, tiba-tiba ponsel di meja bergetar. Ia menoleh cepat, meraih benda pipih itu dan membaca nama yang tertera di layar.
Ibu.
Ia tidak langsung mengangkat. Tangannya diam di paha, sengaja memberi jeda beberapa saat. Berharap jeda itulah yang membuat tekanan di batinnya sedikit berkurang. Entahlah, sejak hari itu, ia trauma mengangkat telepon dari sang ibu.
“Halo, Bu.”
“Halo, Nduk. Kamu lagi di mana?”
“Di rumah,” jawab Cyan singkat.
“Sendiri?”
“Iya, Bu.”
Ada jeda di seberang, sesekali helaan napas membuat Cyan ikut termenung sesaat. Cyan bisa membayangkan ibunya duduk di ruang keluarga rumah mereka, dengan televisi menyala tanpa benar-benar ditonton.
“Kamu baru pulang kerja? Masih capek, ya, Nduk?” tanya sang ibu.
“Sedikit.”
“Kamu itu kok, yo, selalu bilang begitu.”
“Namanya juga kerja, Bu. Nggak ada kerja yang nggak capek. Bapak sering ngomong begitu,” balas Cyan apa adanya.
“Ibu sama Bapak tadi habis ngobrol,” lanjut ibunya pelan, “soal kamu.”
Cyan bersandar ke sofa, menatap langit-langit. Kalimat itu sudah cukup menjelaskan arah pembicaraan mereka kali ini.
“Ada apa, Bu?”
“Kamu ingat tetangga kita yang anaknya baru menikah bulan lalu?”
Cyan menutup mata. Ia sudah tahu ke mana ini akan berujung.
“Iya.”
“Mereka sudah bahagia sekarang,” ucap wanita setengah baya itu, seolah ingin memberi kode keras kepada Cyan.
“Aku senang dengarnya,” jawab Cyan jujur.
“Tapi Ibu pingin kamu yo iso ngerasain koyo ngono.”
Sontak, Cyan menghela napas panjang. Ia bersandar, menatap kosong ke depan tanpa arti. Mungkin jika ia melamun lebih dalam, zombie lift di kantornya datang dan merasuki Cyan.
Ah, ini tidak lucu. Obrolan berat Cyan dengan ibunya jauh lebih penting.
“Bu, maaf banget. Aku belum siap.”
“Siap atau nggak, umur kamu tetep mlaku, Nduk. Ibu gak minta kamu buru-buru, tapi yo ojo terus-terusan ditunda.”
Cyan menggigit bagian dalam pipinya.
“Kamu iku perempuan. Kamu kuat dan terbiasa mandiri, Ibu tahu itu. Tapi hidup gak selalu soal mbuktekke awakmu dewe. Nduk, perempuan di atas umur 30 tahun itu udah gak laku. Jarang ada yang mau,” jelas ibunya, seakan ingin menunjukkan kepada Cyan bahwa menikah adalah pencapaian paling besar.
“Aku gak lagi membuktikan apa-apa, Bu,” balas Cyan pelan.
“Ibu ngerti, Nduk. Justru itu, Ibu takut kamu terlalu terbiasa sendiri.”
Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara.
Cyan menghirup oksigen lebih dalam, tetapi justru semakin menekan dadanya. Sesak, panas dingin, dan gemetar hebat. Sementara di seberang sana, terdengar embusan napas lain. Ayahnya bergabung, ikut menimpali percakapan itu.
“Bapak dapat kenalan, anak temannya Bapak. Kerjanya mapan, keluarganya baik, latar belakangnya juga sudah pasti jelas,” ucap pria tua itu setelah menghela napas.
Cyan menelan ludah, matanya terpejam beberapa saat. Hampir saja ia menangis karena tertekan, tapi mencoba kuat meski tiada pasang mata yang melihat.
“Kami yo ora maksa, tapi Ibu sama Bapak kepengen kamu ketemu dulu. Ora ono salahe, Nduk.”
“Aku gak mau, Bu,” jawab Cyan.
“Ngapa, Nduk?” tanya ayahnya, mulai murka didengar dari caranya bertanya.
“Aku gak mau dijodohkan, Pak. Aku bisa milih sendiri.”
“Memangnya kamu sudah punya pilihan?”
Cyan terdiam sejenak. Detik demi detik itu terasa berlalu sangat panjang.
“Sudah ada seseorang?” tanya ibunya pelan.
“Ada,” katanya akhirnya.
Ibunya terkejut. Ayahnya mengangkat alis. “Sejak kapan, Nduk?”
“Beberapa waktu ini.”
“Kenapa gak pernah kamu ceritain, Nduk?” tanya ibunya.
“Karena aku belum siap, Bu,” jawab Cyan jujur, “dan aku gak mau hubungan itu berubah jadi tekanan. Kami masih menikmati masa-masa pacaran, jadi gak mau ada omongan tentang nikah-nikah dulu.
“Kamu yakin sama pilihan kamu?”
“Yakin, Pak.”
“Siapa dia?” tanya ibunya penuh selidik, sekaligus penasaran.
Cyan ragu sepersekian detik, tapi ia tahu kalau berhenti sekarang, semuanya akan kembali dipaksakan.
“Ada, kok. Dia baik, pekerja keras juga, dan aku nyaman sama dia.”
“Kerjanya apa?”
“Bukan orang sembarangan,” jawab Cyan singkat.
“Bapak gak mau kamu ngomong koyo ngono mung ben ora dijodohke.”
“Aku gak bohong. Aku gak akan sejauh ini kalau aku sendiri gak yakin.”
Keheningan kembali jatuh menyelimuti masing-masing dari ketiga orang itu. Ketika dua orang melawan Cyan seorang diri, teguh pada pendiriannya.
“Kami kepengen ketemu wonge,” kata sang ayah akhirnya, membuat Cyan membeku sejenak.
“Iya, tapi gak sekarang. Nanti kalau aku sudah siap.”
“Ibu mung pengen kamu bahagia, Nduk. Ibu pingin kamu dapet pasangan yang baik dan kalian bahagia, bukan sebaliknya.” Wanita itu mendengkus, memijat keningnya sendiri. Antara cemas dan takut, bagaimana jika calon yang dipilih sang putri ternyata bukanlah orang baik?
“Aku tahu dan untuk sekarang, ini caraku biar bisa bahagia.”
Panggilan ditutup tak lama kemudian. Tidak ada lagi bantahan dan pertanyaan lanjutan dari kedua orang tuanya. Mereka pun memilih bungkam.
Cyan menurunkan ponselnya perlahan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Peluh membasahi tubuh, percakapan barusan cukup membuat sekujur badannya gemetar tak keruan. Sekilas ia menyadari ucapannya, risikonya di masa depan.
Berani mengakui Magenta sebagai kekasih, berarti ia harus siap menanggung konsekuensi dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi
***
Pagi berikutnya, Cyan datang ke kantor lebih awal. Ia duduk di mejanya dengan secangkir kopi yang belum disentuh sejak tadi.
Alya meliriknya dari meja seberang, melepas earphone-nya untuk mendengar jawaban Cyan.
“Ssssh, Cyan. Lo kenapa?”
“Kenapa apa?” Cyan mengangkat kepala sedikit.
“Lo keliatan capek banget. Lagi ada pikiran?” tanya Alya bermaksud memastikan, bukan ingin menebar rasa kasihan.
“Aman. Gue baik-baik aja,” Cyan menjawab cepat sembari menutup layar laptopnya.
Magenta datang beberapa menit kemudian. Seperti biasa, ia sedikit tergesa dengan rambut yang belum sepenuhnya tersisir rapi. Namun, setidaknya wajah Magenta tampak jauh lebih segar, seolah ada sesuatu yang membuat tidurnya nyenyak semalam. Ia melirik Cyan, lalu berhenti sepersekian detik.
“Kopi kamu udah dingin Syan,” katanya.
Cyan menoleh, baru menyadari cangkir kopi miliknya memang sudah tidak beruap.
“Iya,” jawab Cyan seadanya.
Magenta mengangguk, lalu duduk di kursinya sendiri. Tidak bertanya apalagi mengganggu, tapi sesekali tatapannya kembali melirik Cyan.
***
Rapat pagi ini sedang berlangsung, Cyan menjelaskan alur kerja dengan suara lantang agar tidak ada bantahan. Magenta beberapa kali menyela, memberi tambahan, mengoreksi, atau ide-ide brilian.
Biasanya, Cyan akan langsung menanggapi. Namun hari ini, ia hanya mengangguk. Tidak ingin membiarkan sesuatu itu berlarut-larut. Biarlah terhenti di tempat semestinya.
“Bu Cyan? Bagian ini menurut saya bisa lebih dipercepat.”
“Iya. Catat aja dulu ya.”
Magenta mengerutkan kening. Ia menggumam, menoleh ke arah Raka.
“Syan kenapa, ya? Apa gue ada salah?” bisik Magenta yang membuat Raka mengedikkan bahu, tidak tahu.
“I don’t know. Mungkin udah capek gegara lo sering telat.”
***
Sore hari yang tidak begitu panas karena habis hujan, Cyan baru selesai merapikan tasnya dan bersiap pulang. Namun, baru hendak beranjak, ponsel Cyan kembali bergetar, membawa pesan dari ayahnya.
[Jangan lupa pulang akhir pekan.]
Cyan mematikan layar ponselnya tanpa membalas pesan singkat itu. Sadar bahwa jika semakin direspon, tekanan itu tidak pernah melunak. Ia terus dikejar-kejar seolah mati mengenaskan bila telat menikah.
Kantor mulai sepi dan Cyan masih duduk di meja kerjanya ketika Magenta berdiri di depannya.
“Syan, kamu lembur?” tanya Magenta.
“Sedikit.”
Magenta melihat sedikit kearah matanya. Cyan kelihatan mengeluarkan sedikit lelehan air dari dua kelopak mata. Badannya keliatan sedikit bergetar. Magenta sebenernya pengen banget meluk, tapi ia terlalu gengsi, bahkan takut dipukul sama singa ngamuk yang cantik itu. Orang bilang, perubahan hormon juga bisa mempengaruhi hati orang kan?
“Kenapa?”
“Nggak papa. Kamu pulang aja Gen.”
Genta menarik kursi sebelah meja Cyan asal, duduk di sebelah Cyan, “kamu nangis.”
“Maaf, Gen, aku nggak bisa bahas ini.”
“Kalau kamu mau ditemenin ....”
“Nggak usah,” jawab Cyan cepat, memotong tawaran Magenta, lalu menyesal begitu melihat ekspresi Magenta yang sejenak berubah.
“Maaf. Aku cuma lagi banyak pikiran dan gak mau diganggu.”
Magenta menatapnya sesaat, seolah ingin memastikan kata-kata itu benar, lalu manggut-manggut paham.
“Oke. Kalau ada apa-apa, panggil aku.”
Magenta berbalik pergi. Langkahnya pelan, tertahan sejenak sebelum akhirnya benar-benar menjauh. Ia memilih mundur bukan karena tidak peduli, tapi karena tahu kapan ia harus memberi ruang.
“Jangan pulang sendiri, zombie lift suka sama orang cantik kayak kamu,” ucapnya sebelum benar-benar hilang di balik pintu.
Yang Cyan nggak sadar adalah Magenta masih menunggu di lobby lantai 15. Memperhatikan Cyan dari balik kaca transparan ruangan.
“Kamu kenapa sih?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣