Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
penjelasan rayya
Devan sebenarnya sudah berniat mengakhiri percakapannya dengan Wilona. Sejak awal, ia merasa tidak nyaman berdiri terlalu lama di situ. Namun tanpa sengaja, matanya menangkap arah pandang Rayya yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Tatapan itu hanya sekejap, tapi cukup jelas bagi Devan.
Ada dorongan aneh yang muncul di dadanya, bukan untuk menjelaskan, melainkan justru sebaliknya.
Devan pun tetap berdiri. Ia menanggapi cerita Wilona dengan lebih santai, bahkan sesekali melemparkan humor ringan. Tidak berlebihan, tidak juga terlalu akrab, namun cukup untuk membuat suasana cair. Wilona tertawa beberapa kali, suaranya terdengar riang, seolah ia benar-benar menikmati perhatian Devan.
Dari kejauhan, Rayya melihat momen itu. Senyum kecil di wajah Wilona, cara Devan menanggapi dengan tenang, entah kenapa pemandangan itu membuat Rayya tidak nyaman. Ia tidak ingin berlama-lama memikirkan alasan di balik perasaannya sendiri. Rayya segera memalingkan wajah, mengalihkan fokusnya mencari sudut lain untuk difoto, berpura-pura sibuk menikmati keindahan alam di sekelilingnya.
Saat itulah Devan melihat Rayya tak lagi memperhatikan mereka.
Seolah ada sesuatu yang langsung padam di dalam dirinya, Devan menghentikan tawanya. Ia menatap Wilona dengan sopan lalu berkata,
“Maaf wilona, aku harus bergabung dengan yang lain.” ucap devan dengan sopan.
Wilona sedikit terkejut, namun tetap mempertahankan senyum.
“Oh… ya. Silakan.” ucapnya.
Devan mengangguk singkat, lalu melangkah menjauh, bergabung dengan para direksi yang sedang mendengarkan penjelasan pemandu. Langkahnya tenang, namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Sementara itu, Rayya yang sedang mengambil foto kembali melirik sekilas. Ia melihat Devan sudah tidak bersama Wilona lagi. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit lebih lega, perasaan yang sama sekali tidak ingin ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.
Tommy mendekati Rayya yang masih sibuk mengambil foto. Dari kejauhan, senyum Rayya terlihat lepas, seolah kejadian barusan tak membekas apa pun. Namun Tommy tahu, Rayya bukan tipe perempuan yang berbicara tanpa makna.
“Ray,” panggil Tommy pelan.
Rayya menurunkan kameranya dan menoleh.
“ada apa tom?” tanya rayya.
Tommy berdiri di sampingnya, menjaga jarak sopan. Matanya menatap Rayya dengan serius, jauh dari sikap santai yang biasanya ia tampilkan.
“Tentang yang kamu katakan tadi ke Wilona… maksudnya apa?” tanya tommy.
Rayya terdiam sejenak. Ia menarik napas perlahan, memandang laut biru yang terbentang di hadapannya.
“Awalnya, aku cuma ingin membalas keangkuhannya,” jawabnya jujur.
“Aku tidak suka dia merasa punya kendali atasmu, seolah masa lalumu masih miliknya.” sambung rayya.
Tommy mengangguk pelan, tidak memotong.
“ Tapi setelah aku mengatakannya,” lanjut Rayya, suaranya lebih tenang,
“aku sadar sesuatu. Umurku sudah cukup dewasa untuk memikirkan hubungan yang serius. Aku tidak ingin bermain-main lagi tom.” sambungnya.
Tommy menatap Rayya lebih dalam. Ada harap yang tumbuh, namun ia menahannya agar tidak terlihat berlebihan.
“Lalu… tentang kita?” tanya tommy hati - hati.
Rayya akhirnya menoleh menatap Tommy.
“Aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin waktu. Aku ingin benar-benar mengenalmu lagi, menilai apakah kamu memang sudah berbeda dari Tommy yang dulu.” jawab rayya
Tak ada penolakan di sana, tapi juga belum ada janji.
Namun bagi Tommy, itu sudah lebih dari cukup.
Ia tersenyum tipis, hangat.
“Aku tidak keberatan. Aku akan menunggu,” ucapnya mantap.
“Sampai kapan pun kamu butuh. Kali ini aku tidak ingin memaksamu.” sambungnya.
Rayya sedikit terkejut dengan ketenangan Tommy.
“Kamu yakin?” tanya rayya.
“Yakin,” jawab Tommy tanpa ragu.
“Aku sudah pernah kehilanganmu karena kesalahanku sendiri. Menunggu bukan apa-apa dibanding kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” sambungnya penuh keyakinan.
Rayya tidak berkata apa-apa. Ia hanya kembali mengangkat kameranya, memotret laut dan langit yang seolah menyatu di kejauhan. Namun di sudut bibirnya, terselip senyum kecil, bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang mulai mempertimbangkan kemungkinan baru.
Di tempat lain, tanpa mereka sadari, Devan berdiri tak jauh dari sana, mendengar potongan percakapan itu tanpa sengaja. Wajahnya tetap datar, namun ada sesuatu yang mengendap di dadanya, sesuatu yang tak bisa ia namai, dan memilih untuk ia abaikan.