NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM12

Setelah panggilan itu berakhir, Johan kembali ke ruang tengah. Mia yang sejak tadi duduk bersandar di sofa menoleh sekilas.

“Siapa yang telepon?” tanyanya.

“Kak Alice,” jawab Johan santai. “Mama sebentar lagi ulang tahun. Mereka mau buat kejutan.”

“Oh…” sahut Mia pendek. Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi dadanya mendadak terasa sesak.

Mia tahu, dalam acara keluarga sebesar itu, hampir mustahil ia tak ikut hadir. Dan bersamaan dengan pikiran itu, bayangan akan sindiran, tatapan dingin, serta kata-kata yang sering melukai perlahan kembali mengusik benaknya. Ia menunduk, berusaha menenangkan diri, meski kegelisahan itu sudah lebih dulu menetap di hatinya.

Beberapa hari setelah percakapan Johan dengan kakaknya, ponselnya kembali berdering. Nama ibunya muncul di layar. Johan menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Jo, nanti kamu datang ke rumah, kan?” tanya ibunya tanpa basa-basi.

Johan menyandarkan punggung ke sofa. Nada suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. “Aku lihat nanti ya, Ma.”

“Apa maksudnya lihat nanti?, kamu blum pasti datang?."” suara ibunya meninggi.

Johan menarik napas dalam-dalam.

 “Gini, Ma. aku memang anak Mama, tapi Mia juga istriku, aku nggak tega kalau Mia terus diperlakukan seperti itu.”

Di seberang sana terdengar hening sesaat, lalu suara ibunya kembali terdengar, kali ini lebih tertahan.

“Ooh… kakakmu sudah ngomong sama Mama. Mama janji nggak akan menyinggung apa pun nanti. Mana Mia? Mama mau ngomong.”

Johan tampak ragu. Ia melirik Mia yang sejak tadi duduk di sampingnya, mencoba membaca ekspresi wajah istrinya. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia akhirnya menyodorkan ponsel itu.

“Mi, Mama mau ngomong,” ujarnya pelan.

Mia terlihat bingung. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat ia menerima ponsel itu. “Halo, Ma,” sapanya hati-hati.

“Mia, nanti jangan sampai nggak datang ya ke ulang tahun Mama,” kata ibu mertuanya dengan nada yang terdengar lebih lembut dari biasanya.

Mia menelan ludah. Ada perasaan ragu bercampur sungkan di dadanya.

“Iya, Ma… saya usahakan.”

“Ya sudah. Mama tunggu,” ujar ibunya singkat sebelum panggilan itu ditutup.

Mia menurunkan ponsel perlahan dan mengembalikannya pada Johan. Ia tidak langsung bicara. Ada ketenangan semu yang menggantung di udara tenang yang justru membuat hatinya semakin waspada.

Johan menatap istrinya.

 “Kalau kamu nggak siap, kita nggak usah datang,” katanya pelan.

Mia menggeleng tipis.

“Kita lihat nanti saja, Jo.”

Meski kalimat itu terdengar sederhana, keduanya sama-sama tahu ada sesuatu yang sedang menunggu di depan.

Keesokan harinya, Mia mengajak Johan keluar untuk mencari kado bagi ibu mertuanya. Mereka berjalan berdampingan di dalam toko, berpindah dari satu rak ke rak lain, sesekali berhenti untuk menimbang pilihan.

 Di sela-sela itu, Johan melirik Mia, ada raut khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Mia, kamu jangan memaksakan diri,” ujar Johan pelan.

“Nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Kamu juga nggak perlu merasa segan. Aku lebih tahu bagaimana Mama.”

Mia menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Johan dan tersenyum tipis.

“Aku nggak terpaksa, Jo. Dia juga Mama-ku,” sahutnya lirih. Kalimat itu membuat hati Johan terenyuh. Ia melihat ketulusan di wajah istrinya ketulusan yang sejak awal ia tahu belum sepenuhnya bisa diterima oleh ibunya.

Malamnya , mereka bersiap menghadiri ulang tahun ibunya Johan. Dari ruang tengah, Johan sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. “Mia sudah siap?” serunya.

“Iya, sebentar lagi,” sahut Mia dari dalam kamar. Tak lama kemudian ia keluar dengan langkah agak gopoh, sambil memasang giwang di telinganya.

Penampilannya terlihat berbeda malam itu sederhana, tapi anggun.

“Wow… cantiknya,” puji Johan tanpa sadar, menatap Mia beberapa detik lebih lama.

Mia tersenyum tersipu.

“Ayo, nanti kita terlambat,” ujarnya sambil meraih kado yang terletak di atas meja. Johan mengangguk, lalu ikut melangkah. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata terucap. Hanya sesekali Johan melirik Mia lewat kaca spion, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar baik-baik saja.

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Johan dan Mia disambut hangat oleh kedua kakak iparnya. Kakak tertua Johan langsung menghampiri lebih dulu.

“Miaaa… aiih, cantiknya kamu, akhirnya datang juga,” ujarnya dengan senyum tulus. Mereka berpelukan singkat, diakhiri ciuman ringan di pipi. Florence menyusul, memeluk Mia dengan kehangatan yang sama, membuat sedikit tegang di dada Mia perlahan mencair.

Di dalam rumah, suasana sudah ramai. Saat Mia melangkah ke ruang tamu, ibunya Johan menyambut dengan senyum merekah rapi, terjaga, namun terasa kaku. Mia membalas dengan sopan, menunduk sedikit, lalu duduk di samping Johan.

 Acara pun diJohan tawa, obrolan, dan ucapan selamat memenuhi ruangan. Beberapa kerabat memuji penampilan Mia, menyebutnya anggun dan pantas mendampingi Johan.

Di sudut lain, dua kerabat berbisik pelan.

“Sui ho istrinya Johan ini,” ujar salah satunya, setengah berdecak kagum.

"Tapi itu si… Si Ai-ai memang agak-agak sifatnya.” Suaminya segera menyikut halus.

 “Ssst, sudahlah tidak usah ikut campur,” katanya sambil melirik ke arah ibu mertua Mia, memastikan Ibu Mertuanya Mia itu tidak mendengar percakapan mereka.

Tak lama kemudian, salah satu sepupu Johan menepuk-nepuk tangan, memberi isyarat agar semua perhatian tertuju ke meja tengah. Kue ulang tahun berwarna putih gading sudah diletakkan di sana, lilinnya menyala terang. Lampu ruang makan sedikit diredupkan.

“Sekarang tiup lilinnya, Ma,” ujar kakak tertua Johan sambil tersenyum.

Anak-anak segera berkumpul di depan nenek mereka. Suara mereka bercampur, ada yang berteriak, ada yang tertawa, ada pula yang terlalu bersemangat sampai salah menyebut usia.

Ibunya Johan tertawa lepas, wajahnya tampak berseri saat meniup lilin diiringi tepuk tangan semua orang.

“Selamat ulang tahun, Ma,” ucap anak-anaknya hampir bersamaan. Mereka bergantian memeluk sang ibu. Momen itu hangat, penuh tawa, penuh kebanggaan tentang anak, tentang keluarga, tentang keberlanjutan.

Mia berdiri sedikit ke samping, ikut tersenyum dan bertepuk tangan. Senyumnya terjaga, rapi, tapi ada rasa asing yang menyelinap di dadanya. Ia menyadari satu hal yang sederhana namun menyakitkan: semua kebahagiaan malam itu selalu kembali pada satu poros yang sama anak.

Setelah kue dipotong dan dibagikan, acara berlanjut ke makan malam. Hidangan tersaji berjejer di meja panjang. Orang-orang kembali duduk berkelompok, bercakap ringan sambil menyendok makanan. Suasana kembali riuh, seolah tak pernah ada jeda.

Johan duduk di samping Mia. Sesekali ia mencondongkan tubuh, berbisik menanyakan apakah Mia baik-baik saja. Mia mengangguk setiap kali, tetap menyuap makanannya meski rasanya hambar.

Suasana yang semula cair mendadak terasa berbeda., saat seorang perempuan muda seumuran dengan Mia dari muncul arah pintu

Beberapa pasang mata kembali saling bertukar pandang, mencoba menebak-nebak gerakan siapa perempuan yang baru datang itu.

Ibunya Johan langsung tersenyum dan menyambut si wanita

"Eeeh Mey masuk siini sini. "

Ia menggandeng si wanita bernama mey itu masuk kedalam.

" Maaf ya tante macet tadi di jalan. "

" Nggak apa apa, bukan jakarta kalau gak macet." Hibur Ibu mertua mia.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!