Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Fakta, Yang Terlewat
Gelas berisi cairan merah itu saling beradu, dan langsung ditenggaknya hingga tandas. Desahan lega terdengar begitu cairan tersebut membasahi tenggorokan masing-masing.
"Kalau nyokap lo tahu lo mabok begini, bisa ngamuk dia"
Vincent terkekeh, "Selama ga ada yang cepu, aman aman aja" ucapnya setengah menyindir.
Haikal ikut tertawa, "Tahu aja lo"
"Otak lo kan busuk. Hapal banget gue" Karena bukan hanya sekali Haikal mengadukannya pada sang ibu, tapi berkali-kali. Akhirnya, ibunya justru mempercayai ucapan Haikal dan memarahinya.
Reaksi Haikal? Tentu saja pria itu puas.
"Keluarga lo terlalu cemara. Gue kesel liatnya" Antara mereka berdua tidak ada lagi kecanggungan apapun dalam berinteraksi. Menjadikan kondisi keluarga masing-masing sebagai lelucon, adalah hal biasa bagi mereka.
"Keluarga lo yang kacau, malah nyalahin keluarga gue. Sialan emang"
Meski tidak tahu secara detail dan juga belum pernah bertemu secara langsung, namun Vincent tahu tentang perpisahan kedua orangtua Haikal. dari mulut temannya itu sendiri.
Kadang saat mereka sudah mabuk parah, hal apapun akan mereka katakan. Semua unek unek yang mungkin saja sebelumnya sulit diungkapkan, akan mereka luapkan.
"Terus sekarang ada masalah apa lagi?" tanya Vincent penasaran. Haikal tadi tiba-tiba saja mengajaknya minum. Tidak mengatakan alasannya, tapi dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi.
"Bokap nyebelin" Haikal memulai ceritanya. "Kemarin gue diminta jemput sekretarisnya di restoran, terus nyuruh di anterin ke rumahnya. Gue turutin kan, males debat soalnya. Pas nyampe kesana, ternyata dia mabuk parah. Gue tanya dimana rumahnya, tapi dia ga jawab, malah ngoceh anter ke hotel. Gue bingung harus gimana, rumahnya juga gak tahu. Bokap juga ga angkat telepon. Jadi gue mutusin buat anter dia ke hotel deket minimarket yang waktu kita sempet mampir"
Vincent mengangguk, namun tidak menginterupsi.
"Di jalan gue ngasih obat pereda mabuk punya gue, dia mau, kondisinya juga lumayan baik. Dia sempet cerita kalau dia dijebak sama orang, tapi gagal gara-gara gue keburu datang. Disana gue sempet nanya lagi alamat rumahnya, tapi dia gak mau ngasih tahu, katanya takut sama tunangannya."
"Sekretaris bokap lo udah punya tunangan?" Vincent memastikan.
Haikal mengangguk. Karena itulah dia sempat di semprot Ayahnya karena mengira dia akan macam-macam dengan sekretarisnya itu di hotel. Dia bahkan perempuan itu langsung menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutup tutupi.
"Terus bokap lo gimana setelah denger penjelasan kalian berdua?"
Haikal mengangkat bahunya, "Ya ga gimana gimana. Mukanya tetep galak kaya biasanya, terus pergi ninggalin kita berdua"
"Terus yang bikin lo kesel apa?" Vincent masih bingung dimana letak masalah yang membuat Haikal sampai kesal pada Ayahnya? Jika Haikal mendapatkan pukulan, atau setidaknya hukuman apapun itu, baru dia mengerti.
Tapi ini?
"Ya gue ngerasa ga adil aja. Dia yang nyuruh, tapi dia juga yang marah-marah. Mana di tempat umum lagi. Kalau ada yang liat atau denger, terus mereka mikirnya gue cowo ga bener gimana?"
Mata Vincent menyipit penuh curiga, "Lo lagi naksir seseorang kan?" Kalimat terakhir Haikal sangat terdengar ambigu, seolah kekesalannya itu bukan karena apa yang ia alami, tapi takut penilaian orang lain terhadapnya.
Masalahnya adalah, sepengetahuannya Haikal ini adalah tipe orang yang sangat tidak peduli pada penilaian orang lain. Sekalipun itu memalukan, dia akan masa bodoh.
Ekspresi Haikal berubah. Dia tersenyum seperti orang bodoh. Kondisinya yang sudah setengah mabuk. cukup untuk membuatnya berkata jujur tanpa ada yang di tutup tutupi.
"Iya, gue lagi suka sama cewe"
"Siapa?" Vincent bertanya semakin tidak sabaran.
"Lo juga kayanya kenal. Coba tebak"
Vincent berdecak keras. Kenapa berbelit belit sekali coba? Kenapa tidak mengatakan langsung saja. Sok misterius sekali. Saking geramnya, dia menoyor kepala Haikal sambil berucap, "Gue tonjok juga lo!"
Respon Haikal, justru cengengesan. Dia meraih satu botol, lalu meminumnya langsung dari sana, tanpa menggunakam gelas.
"Namanya Keisya"
Raut wajah Vincent berubah serius, dahinya mengkerut dalam. "Keisya mana?"
Haikal cegukan sambil tertawa kecil "Temen Sisi, dia satu kampus sama lo" jarinya menunjuk Vincent "Lo pasti kenal, kan?"
Entah bagaimana ekspresi Vincent saat ini. Yang jelas dia benar-benar tercengang dengan apa yang dia dengar.
Ternyata mereka menyukai wanita yang sama.
Faktanya sampai sekarang dia masih menyukai gadis manis tersebut. Sekalipun sangat sulit, bahkan untuk sekadar mengobrol sekalipun, namun tidak membuat perasaannya ini menghilang.
Dia bukan tidak berusaha mengejar, tapi ada satu hal yang membuatnya tidak terlalu menggebu untuk mendekati gadis tersebut.
"Gue kasih tahu satu hal" Vincent menjeda, lalu mengambil satu botol lainnya dan menenggaknya seperti yang tengah Haikal lakukan, "Hati-hati kalau mau deketin Keisya. Kayanya ada orang berkuasa yang suka sama dia. Gue juga naksir dia, tapi dosen kampus datengin gue buat ingetin jangan deketin dia lagi."
Haikal tidak memberikan tanggapan atas ucapan tersebut.
Namun Haikal masih melanjutkan ucapannya, "Gue curiga sama satu orang. Kalau ga salah namanya, Bastian"
DUK.
Vincent mengentikan ucapannya begitu suara nyaring itu terdengar dari sampingnya. Ternyata suara itu berasal dari Haikal yang sudah tersungkur ke bawah dengan botol yang masih berada di genggamannya. Mata temannya itu benar-benar tertutup rapat.
"Cih, Sialan. Dari tadi gue ngomong sendiri" gerutunya, lalu kembali melanjutkan minum.
\=\=\=\=\=
"Kei, Papa boleh masuk?"
Keisya mendengar suara ketukan dan suara Papanya dari balik pintu. Dia beranjak dari duduknya, lalu membukakan pintu dengan lebar.
"Masuk Pa" dia mempersilahkan.
"Papa pikir kamu udah tidur" Gunawan masuk, dan duduk di kursi belajar anaknya. Sedangkan Keisya duduk di tepi tempat tidur.
"Belum ngantuk Pa. Masih Chatan sama Sisi"
Gunawan mengangguk.
"Ada apa Pa?" tanya Keisya. Papanya tampak ingin membicarakan sesuatu.
"Besok kamu ada acara ga?"
"Besok?" Keisya berpikir, lalu menggeleng. Besok weekend, seingatnya dia tidak memiliki rencana apapun. "Ga ada Pa. Emang kenapa?"
"Besok ikut Papa ke Butik yah, kita beli baju baru"
Keisya berpikir, sepertinya ini tidak sesederhana itu. "Emang ada acara apa Pa?"
Gunawan tersenyum. "Perusahaan Om Bastian ulang tahun, kita berdua di undang langsung buat datang"
Keisya meringis kecil. Kenapa sering sekali dia mendengar nama itu, seolah dunianya terus berputar di sekitarnya.
"Aku bisa nolak ga Pa?" tanya Keisya dengan nada bergurau.
"Sangat bisa" jawab Gunawan membuat Keisya bersemangat. Setidaknya itu sebelum kata lainnya terucap, "Tapi Papa udah terlanjur setuju"
Keisya mendesah lesu.
Pada akhirnya dia setuju dan keesokan harinya benar-benar pergi ke Butik yang di sebutkan Papanya semalam.
Mereka tidak berangkat bersama, karena Papanya harus bekerja terlebih dahulu pagi harinya. Dan siang harinya barulah mereka berangkat masing-masing dan bertemu langsung di butik.
Keisya tiba terlebih dahulu. Dia sempat terkejut saat menerima sambutan yang sangat eksklusif dari penjaga toko. Saat itu dia berpikir jika Papanya sudah mereservasi lebih awal, sampai para pegawai butik mengetahui namanya.
Sekitar sepuluh menit Keisya menunggu, sampai suara langkah mendekat membuatnya beranjak dari duduknya, ingin menyambut kedatangan Papanya.
Namun orang yang muncul sama sekali bukan Papanya, melainkan Bastian.
"Om Bastian?"
Kenapa pria ini selalu muncul dimana saja dia berada?