Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penentuan Sang Raja
Keempat wilayah mulai bergerak menuju titik nol yang sudah disepakati—sebuah stadion indoor tua yang sudah lama ditinggalkan. Lokasinya tepat di perbatasan empat wilayah, kini terasa makin terisolasi dan mencekam di bawah kegelapan yang pekat.
Wilayah Utara:
Misca memimpin barisan dengan motor sport hitamnya. Lampu depan motornya membelah jalanan malam yang sunyi, menciptakan koridor cahaya di tengah gelap. Misca berkendara dalam diam total—pikirannya sekarang seperti superkomputer yang sedang beroperasi dalam mode efisiensi maksimal. Malam ini, dia nggak cuma datang buat menang; dia mau menang dengan "data" paling bersih, tanpa ada variabel yang terbuang sia-sia. Jeka dan Vino mengikuti dari belakang, mata mereka waspada. Vino dipenuhi amarah yang ditujukan pada Dian, sementara Jeka memanggul beban rahasia dari Raka. Kegelapan malam bikin beban di pundak mereka terasa dua kali lipat lebih berat.
Wilayah Selatan:
Nanda dan rombongannya memilih jalan kaki, memanfaatkan gang-gang belakang yang gelap buat menghindari patroli polisi. Langkah kaki Nanda terdengar berat dan keras, mencerminkan ketidaksabarannya yang udah mencapai puncak. Amarahnya terhadap isu pengkhianat dan kelicikan Tino, ditambah obsesi murni buat menghancurkan Misca, bikin dia pengen segera meledak. Dian berjalan tepat di belakangnya, wajahnya seperti topeng tanpa emosi yang sempurna. Cahaya bulan sesekali menyentuh matanya, menampakkan kilatan yang sangat dingin—dia adalah raja intrik yang siap melakukan apa pun, termasuk rencana pribadinya buat menantang Vino setelah semua ini selesai.
Wilayah Timur:
Tino datang dengan mobil, bersembunyi di balik kaca gelap yang nggak tembus pandang. Dia mencoba tersenyum licik, meskipun jari-jarinya sedikit gemetar. Di kegelapan malam, Tino merasa lebih aman buat merencanakan pengkhianatan, karena mata-mata lawan bakal susah melihat gerak-geriknya dan kode yang dia berikan ke dua orang kepercayaannya. Rencananya tetap sama: menjual harga dirinya demi informasi yang bisa dia pakai sebagai daya tawar.
Wilayah Barat:
Raka memilih jalan kaki dengan langkah cepat dan tergesa-gesa. Dari semua pemimpin, Raka yang paling cemas. Di bawah langit malam, ancaman The Phantom terasa jauh lebih nyata dan dekat di telinganya. Misi Raka buat menguji kelayakan Misca adalah satu-satunya tujuan yang menahan kakinya supaya nggak kabur dari malam yang sunyi ini.
Rumah Dhea
Raya dan Dhea duduk bersila di ruang tengah. Lampu utama sengaja dimatikan, cuma menyisakan lampu tidur yang redup di sudut ruangan. Mereka berdua memandang ke luar jendela, menembus pekatnya malam yang seolah menyembunyikan badai besar. Raya terlihat tenang di permukaan, tapi di dalam hatinya, dia terus berdoa. Dia memejamkan mata, berharap "perhitungan" Misca mampu bertahan melawan "Kekuatan" Nanda.
"Misca harus pulang," bisik Raya, lebih ke dirinya sendiri. "Dia harus menang buat menciptakan ketenangan yang dia inginkan."
Dhea, di sebelahnya, menggigit bibir bawahnya, nggak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Aku takut, Ray. Malam ini dingin banget, dan hati mereka... terasa lebih dingin lagi. Vino itu terlalu emosional kalau udah menyangkut kehormatan. Aku takut dia bakal melakukan hal bodoh di luar duel ini."
"Kita harus percaya sama cara yang dibuat Misca. Sekali Misca menang, semua harus tunduk pada kesepakatan itu. Semua harus jadi tenang lagi. Kita harus percaya pada keteraturan yang dia bawa, Dhea."
Keempat kubu tiba hampir bersamaan dari arah yang berbeda. Mereka berdiri di tengah lapangan yang berdebu dan luas. Cuma beberapa lampu sorot tua di langit-langit yang masih nyala, menyinari area pertarungan dengan cahaya kuning yang berkedip. Cahaya yang redup ini menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding stadion, nambah suasana tegang yang mencekik.
Nanda melangkah maju ke tengah, suara langkahnya menggema keras di stadion yang sunyi. "Aku nggak mau banyak basa-basi. Kita udah sepakat: Submission atau Knockout. Pemenang dengan total kemenangan terbanyak, dia yang bakal diakui sebagai Raja!"
Jeka, di bawah cahaya minim, maju sambil bawa mangkuk kecil berisi empat gulungan kertas undian. Keheningan di ruangan itu terasa begitu membebani sampai suara napas pun terdengar jelas.
Jeka membuka gulungan pertama: Tino.
Jeka membuka gulungan kedua: Raka.
Duel Pertama: Tino (Timur) vs. Raka (Barat)
Tino maju dengan senyum liciknya yang khas, sementara Raka maju dengan napas teratur, mencoba melawan kelelahan mental dan dinginnya malam. Tino mencoba trik lamanya—mendekat seolah mau merangkul, tapi dia berbisik dengan nada mendesak.
"Raka! Dengerin aku! The Phantom itu nyata! Kalau aku menang, aku bakal kasih semua cadangan data aku ke kamu! Kita harus bersatu secara aumber daya, bukan saling bunuh! Misca itu terlalu gila sama duel ini!"
Raka mengabaikan bisikan Tino sepenuhnya. Dia tahu Tino cuma mencoba menyerang mentalnya. Di mata Raka, Tino udah nggak layak dipercaya lagi.
Raka memfokuskan sisa energinya pada pertahanan, membiarkan Tino menyerang dengan pukulan-pukulan sembarangan, menunggu sampai Tino kelelahan.
Setelah beberapa menit, Tino mulai terengah-engah di tengah udara dingin. Saat Tino melancarkan satu pukulan terakhir yang lemah, Raka melihatnya sebagai peluang paling sempurna buat mengakhiri pertandingan. Raka pakai teknik taekwondo—memanfaatkan momentum berat tubuh Tino—dan membantingnya keras ke lantai beton yang berdebu.
BRUK! Suara hantaman itu bergema keras. Raka langsung mengunci lengan Tino dengan kuncian maut. Tino nggak bisa gerak lagi. Dia menepuk lantai dengan putus asa. Submission.
Raka Menang (1-0).
Duel Kedua: Tino (Timur) vs. Nanda (Selatan)
Tino yang masih terengah-engah dan penuh memar dipaksa berdiri lagi. Nanda maju seperti badai yang siap menghancurkan apa pun di depannya.
"Aku bakal hancurin kamu, Tino! Kamu pikir bisa buang sampah di wilayahku dan lolos begitu saja?!" Nanda meradang, amarahnya dipicu rasa sakit akibat begal yang dibuang Tino sebelumnya.
Nanda nggak ngasih sedikit pun kesempatan buat Tino bicara atau pakai trik kotor lagi. Nanda menyerang dengan kekuatan brutal yang sangat mengejutkan. Di bawah cahaya lampu, gerakan Nanda terlihat seperti bayangan ganas. Nanda menangkap tubuh Tino, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, lalu membantingnya secara vertikal ke lantai.
BRAK! Suara benturan itu memekakkan telinga. Tino terkapar, batuk darah, dan langsung kehilangan kesadaran.
Nanda Menang (Knockout). Nanda kembali ke barisannya sambil mendengus kasar. Rasa frustrasi emosionalnya sedikit teredam oleh kekerasan itu.
Duel Ketiga: Raka (Barat) vs. Misca (Utara)
Raka yang udah lelah maju menghadapi Misca. Misca melangkah maju dengan sangat tenang. Di bawah sorotan lampu tunggal, mata Misca tampak seperti kaca bening yang cuma memantulkan bayangan Raka tanpa emosi.
Raka tahu ini misinya. Dia harus memastikan Misca memang layak jadi pemimpin mereka. "Misca! Jangan pernah lupakan ancaman di luar sana! Buktikan kalau kamu memang yang paling layak, bukan cuma soal menang pertarungan!"
Duel dimulai.
Raka bergerak dengan teknik terbaiknya, menyerang Misca dengan pukulan-pukulan yang ditargetkan ke arah vital. Tapi Misca adalah master reaksi akurat. Dia bergerak sangat minim, menghindari serangan Raka cuma dengan geseran beberapa inci, memastikan Raka membuang semua sisa tenaganya tanpa hasil. Misca sedang mengumpulkan data pola serangan Raka.
Setelah sadar bahwa Raka adalah sekutu yang cuma pengen menguji kemampuannya, Misca memutuskan buat mengakhiri duel dengan kerusakan minimal, sesuai prinsip hemat tenaganya. Saat Raka mencoba melakukan gerakan putar, Misca menyelinap cepat ke belakangnya dan menerapkan kuncian leher (rear-naked choke) yang sempurna. Dia mematikan aliran oksigen secara presisi tanpa melukai tulang atau otot.
Raka langsung menepuk lengan Misca. Submission. Misca melepaskan kunciannya dan menahan tubuh Raka supaya nggak jatuh tersungkur. Raka tersenyum lemah. "Kamu memang layak, Misca. Kamu pemimpin kami."
Misca Menang (1-0).
Duel Keempat: Misca (Utara) vs. Tino (Timur)
Tino, yang udah dipulihkan oleh amggotanya, kembali maju dengan tubuh berlumuran debu. Matanya masih liar nyari cara buat menang secara non-fisik. Dia coba taktik terakhir yang paling berbahaya.
"Misca! Raya! Dia ada di sini gara-gara bapaknya! Aku tahu rahasia besar keluarganya! Kalau kamu hajar aku sekarang, kamu nggak bakal pernah tahu gimana cara melindunginya!"
Misca, yang biasanya bakal memproses informasi itu secara logis, kali ini membiarkan amarah dinginnya mengambil alih kendali. Nyebut nama Raya sebagai titik lemah di depan umum adalah pelanggaran etika terburuk di mata Misca.
Misca bergerak secepat kilat. Di bawah cahaya lampu, gerakannya tampak seperti kabut hitam. Dia melayangkan tiga pukulan beruntun ke titik vital Tino: ulu hati, rusuk kiri, dan rahang bawah. Pukulan-pukulan itu terhubung dengan presisi teknik yang fatal.
BUGH! BUK! TAK!
Tino ambruk seketika, matanya langsung terbalik dan tertutup. Duel selesai cuma dalam waktu satu menit.
Misca Menang (Knockout). Misca sekarang mengantongi dua kemenangan bersih.
Duel Kelima: Raka (Barat) vs. Nanda (Selatan)
Raka maju lagi, tapi Nanda menggeram. Nanda pengen menghancurkan Raka buat nyamain skor sama Misca. Tapi Raka berdiri di tengah arena dengan tenang. Dia menatap Misca, memastikan Misca melihat keputusannya.
"Aku menyerah!" teriak Raka lantang, suaranya memecah keheningan malam.
Nanda kaget dan murka. "Sialan! Kamu pengecut, Raka! Kamu nggak menghormati pertarungan ini!"
"Aku cuma menghormati pemimpin yang memang layak!" balas Raka tegas. "Dan pemimpin itu bukan kamu, Nanda! Misca! Kamulah yang harus memimpin kami!"
Raka udah mengamankan posisinya sebagai sekutu setia Misca, sekaligus bikin Nanda dapet kemenangan mudah dari dia.
Raka Menyerah (Concession). Skor sementara: Nanda 2, Misca 2.
Papan Skor:
Misca: 2 Kemenangan
Nanda: 2 Kemenangan
Raka: 1 Kemenangan
Tino: 0 Kemenangan
Di bawah sorot lampu tunggal yang dramatis di tengah lapangan, semua mata sekarang tertuju pada dua sosok yang tersisa. Duel terakhir, duel yang bakal menentukan takdir empat wilayah: Nanda vs. Misca.
Nanda melangkah maju, otot-ototnya terlihat menonjol dan membesar di bawah bayangan yang bergerak liar. Dia adalah personifikasi kekuatan murni, tanpa strategi rumit, cuma amarah yang mendidih.
"Misca. Malam ini kamu bakal tahu rasanya dikalahkan secara fisik. Kamubakal sadar bahwa semua buku dan rumus kamu nggak bakal bisa ngehentiin tinjuku!" raung Nanda, suaranya parau oleh emosi.
Misca berjalan dengan langkah yang sangat terukur. Dia terlihat jauh lebih kecil di hadapan Nanda yang raksasa, tapi aura kehadirannya seolah menelan seluruh stadion.
Nanda," jawab Misca, matanya tajam memancarkan cahaya dingin di tengah kegelapan. "Dalam tatanan yang akan aku bangun, kekuatan cuma sebuah bagian kecil. Dan malam ini, kekuatan lo bakal dihabisi oleh ketepatan mutlak."
Nanda bersiap menyerang, tapi dia sejenak merasakan atmosfir yang aneh di sekelilingnya. Di sisi lapangan, semua anggota Wilayah Utara dan Selatan menahan napas mereka. Namun, di tengah ketegangan kolosal itu, dua pasang mata bertemu dalam diam.
Vino menatap tajam ke arah Dian. Di bawah kegelapan malam, dia melihat kebencian dan tantangan yang sangat jelas di mata lelaki itu. Vino sudah mengetahui informasi dari Jeka dan dia tahu, setelah duel Misca selesai, gilirannya buat membersihkan semua kekacauan emosional ini.
Mata Vino seolah berkata: "Selesai dengan duel ini, kamu bakal jawab semua rahasia dan trik kotor yang kamu lakukan."
Mata Dian membalas dengan tatapan yang seolah menertawakan: "Aku udah siap. Dan kamu bakal kalah, Vino. Aku bakal tunjukin ke kamu betapa lemahnya Wilayah Utara tanpa perlindungan Misca."
Suasana jadi sangat sunyi, lebih mencekam dari sebelumnya. Duel antara Kekuatan Murni dan keakuratan Mutlak bakal segera meledak di bawah kegelapan malam, menentukan siapa yang bakal jadi Raja sejati, sekaligus memicu peperangan pribadi yang udah lama terpendam di antara tangan kanan mereka.
(Cahaya lampu meredup sejenak, lalu menyala lebih terang, siap menyinari pertarungan terakhir antara Misca dan Nanda.)