NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah satu jam berlalu, seluruh keluarga Aru sudah berkumpul di kamar rawat Alvian. Ayah Dika dan Bisma sudah kembali dari ruangan Nathan, sedangkan Kenan dan Joe telah lebih dulu pamit karena masih ada urusan di kantor Baskara Group.

Aru tetap duduk di sisi ranjang Alvian, tangannya tak lepas menggenggam tangan kakaknya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, meski dadanya masih terasa sesak. Mata Alvian yang tertutup itu membuat hatinya bergetar,betapa rapuhnya manusia di hadapan sakit, sekecil apapun penyebabnya.

“Bagaimana kondisi Kak Vian, Phi?” tanya Aru, suaranya masih terdengar cemas.

“Vian mengalami dehidrasi, asam lambung naik, kelelahan, dan stres ringan,” jawab bohong Bisma sambil menepuk punggung adiknya.

Di ruangan Nathan, ia menjelaskan semuanya pada Ayah Dika dan Bisma kalau kondisi Vian sebenarnya sedikit mengkhawatirkan, karena Alvian mengidap GERD—Gastroesophageal Reflux Disease. Itu karena otot LES-nya melemah, ditambah dia kelelahan dan banyak pikiran, mengakibatkan Vian menjadi pusing dan mengalami demam tinggi. Sebagai seorang dokter Bisma dan Alvaro sangat tau tentang penyakit ini, namun mereka tidak ingin Aru dan mamanya tau tentang sakit yang di derita oleh Vian. Oleh karena itu Bisma, Alvaro dan juga ayah Dika sepakat untuk tidak memberitahu Aru dan mama Yasmine tentang kondisi Alvian yang sebenarnya.

Aru menatap kakaknya, wajahnya memucat karena khawatir. “Kok bisa, Phi? Bukannya Kak Vian sudah dijadwalin makan sama Phi Bisma? Apa di kantor terlalu banyak pekerjaan sampai dia kelelahan dan stres?”

Ayah Dika terdiam, menatap ke bawah. Mama Yasmin ikut memandang serius, tapi tidak berbicara. Aru menoleh ke Alvaro dan Bisma, tapi keduanya hanya menunduk, enggan menjawab.

“Kenapa kalian cuma diam aja? Apa ada yang kalian sembunyikan dari adek?” tanya Aru, sambil menggenggam tangan Alvaro lembut.

Mendapat tatapan sedih Aru, Alvaro menelan ludah. Ia tahu tidak bisa berbohong. Dengan suara berat, ia akhirnya mengangkat kepala.

“Huft… baiklah, dek. Abang akan jujur… tapi kamu harus janji dulu sama abang. Jangan marah sama kami, oke?”

Aru mengangguk mantap. “Janji, bang. Aru nggak akan marah.”

Alvaro menatap Bisma, Mama Yasmin, dan Ayah Dika. Mereka semua mengangguk setuju, memberi izin agar ia menceritakan semuanya.

“Vian ribut sama ayah,” ucap Alvaro akhirnya.

Aru terkejut. Ia jarang mendengar kakaknya ribut, apalagi dengan Ayah Dika yang biasanya sangat dihormati Alvian.

“Ribut? Kok bisa? Ada masalah apa sampai Ayah harus ribut sama Kak Vian?” tanya Aru, menoleh ke Ayah Dika untuk memastikan.

“Ayo jelaskan semuanya, Alvaro. Aru berhak tahu,” ucap Ayah Dika akhirnya.

Alvaro menarik napas panjang. “Setelah kita pulang lari pagi minggu kemarin, Phi Bisma menyuruh kita semua ke ruang kerja Ayah. Ada yang ingin dibicarakan.”

“Tentang apa?” Aru penasaran.

“Tentang lamaran Kenan,” jawab Alvaro singkat.

Aru menatap kakaknya, terkejut. “Lamaran? Maksud abang…?”

“Kenan ingin melamarmu, dek,” ujar Alvaro sambil menatap Aru dengan serius.

Aru terdiam sejenak, otaknya mencoba mencerna semua yang baru saja didengar.

Semua ingatan tentang sikap Kenan yang manis beberapa jam lalu, perkataan Kenan di lobi, semuanya muncul dalam benaknya.

“Jadi itu alasan Mas Kenan selalu bersikap manis pada, adek?” tanya Aru pelan, suaranya hampir berbisik.

“Bukan begitu. Kenan bahkan tidak tahu kalau Om Bas melamar kamu untuknya,” jelas Bisma, yang ikut bicara dari samping.

Aru hanya mengangguk, masih mencoba mencerna semua informasi itu.

“Terus… apa hubungannya dengan Kak Vian yang ribut sama Ayah?” tanya Aru.

“Karena Vian nggak setuju kalau Ayah menerima lamaran itu. Vian merasa Kenan tidak cocok untukmu karena dia seorang duda."

"Menurut Vian, Kenan tidak akan bisa membuatmu bahagia sepenuhnya. Perbedaan pendapat ini yang bikin dia marah sama Ayah. Sejak itu, dia lebih banyak mengurung diri di kamar,” jelas Alvaro.

Aru menarik napas berat, tak menyangka ada rahasia sebesar ini yang disembunyikan keluarganya. “Terus makan siang dan malamnya? Apa dia tetap di kamar?”

“Iya, dia tetap di kamar,” jawab Alvaro.

Aru bersandar di kepala sofa, memijat keningnya sendiri. Hatinya campur aduk: marah, khawatir, dan sedikit lega karena akhirnya tahu penyebab semua ini.

“Kakak minta maaf, dek… sudah menyembunyikan masalah ini dari adek,” ucap Alvaro, memegang tangan Aru dengan lembut.

“Phi juga minta maaf, dek. Seharusnya Phi jujur sejak awal,” sambung Bisma.

“Mama dan Ayah juga minta maaf, Nak. Seharusnya kami melibatkan kamu dalam pembicaraan ini karena menyangkut hidupmu,” ujar Mama Yasmin lembut.

Aru hanya bisa diam, menatap semua anggota keluarga yang menunduk malu sambil meminta maaf. Suasana hening sesaat memenuhi kamar VVIP.

Tiba-tiba terdengar suara lemah dari ranjang:

“A-Aru…”

Aru seketika bangkit, berlari ke sisi ranjang. Ia memegang tangan Alvian, mengusapnya lembut.

“Iya, Kak… ini Aru. Ada yang sakit nggak?” tanya Aru khawatir, tapi senangnya jelas terlihat karena kakaknya mulai sadar.

“M-mau… minum…” gumam Alvian pelan.

Bisma segera mengambil botol air mineral yang berada di atas nampan. Ia menyerahkannya ke Aru.

“Mau duduk sambil minum, Kak, atau tiduran aja?” tanya Aru sambil membantu Alvian bersandar.

“Duduk aja, dek…” jawab Alvian pelan.

Alvaro dan Bisma sigap membantu Alvian agar bisa duduk nyaman di ranjang. Aru lalu memasang sedotan di botol air mineral, perlahan membantu Alvian minum.

Aru menatap kakaknya dengan lembut, memastikan Alvian bisa duduk nyaman. Ia menahan napas sebentar, menunggu respons dari kakaknya.

“Kak… gimana rasanya sekarang? Masih pusing nggak?” tanya Aru pelan.

Alvian hanya mengerjap pelan, menunduk, dan tidak menjawab.

Bisma menepuk bahu Alvian pelan. “Santai aja, Vain. Kita di sini buat nemenin kamu, nggak usah ngomong kalau nggak bisa.”

Aru menatap Bisma, sedikit tersenyum lega. “Iya, Kak. Aru cuma mau pastiin kakak minum cukup air aja dan istirahat. Nanti kalau mau cerita, kakak bisa bilang sendiri.”

Mama Yasmin duduk lebih dekat, menatap wajah pucat Alvian. “Nak… jangan diam terus ya. Mama di sini sama kamu.”

Alvian menunduk, bibirnya bergerak kecil tapi tetap tak bersuara.

Alvaro menarik napas panjang, mencoba mencairkan suasana. “Heh, Udin...kalau ngomong sekarang, kita nggak bakal marah kok. Cuma pengin denger suara suara lo aja.”

Alvian tetap diam, tapi matanya menatap tangan Aru yang menggenggamnya erat.

Aru tersenyum lembut, menepuk tangan kakaknya. “Tenang aja, Kak. Aru ngerti kok… kalau kakak nggak mau ngomong sekarang, nggak apa-apa. Yang penting sekarang kakak baik-baik aja.”

Alvian menyesap air pelan-pelan melalui sedotan, tetap diam.

"Kakak mau tidur. " satu kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Alvian.

Aru mengangguk "Iya, kak. " Mereka segera membantu Alvian untuk berbaring. Aru menyelimuti Vian.

Suasana hening, tapi hangat. Aru tetap duduk di sisi ranjang, menatap kakaknya, sementara Mama Yasmin, Bisma, dan Alvaro duduk di sofa, menjaga dan menenangkan diri mereka sendiri. Meski Alvian tetap diam, kehadiran mereka membuat kamar itu terasa aman, penuh perhatian, dan kasih sayang.

Bersambung.............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!