Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu detik yang lalu
Setelah membayar, Galih terburu-buru ingin meninggalkan cafe. Perasaan tegang masih membungkusnya, pertemuan dengan Winda selalu saja membuatnya tidak nyaman.
"Ayah, tunggu aku, ayah!" seru Rama, saat Galih berjalan cepat meninggalkan Rama yang masih ngobrol dengan bu gurunya.
Galih menatap langit yang masih menjatuhkan airnya. Ia menghembuskan napas kasar, "hujan, apa kamu merasa tidak nyaman tingal di langit? Sampai-sampai kalian semua turun ke Tanah Wonosobo tanpa jeda, sebentar saja?" Gumamnya yang membuat Rama terbahak.
"Jangan larang hujan turun, ayah. Harusnya ayah mengerti isyarat dari langit." Ucap Rama sambil berdiri sejajar dengan ayahnya.
Galih menoleh, "isyarat?"
"Iya, isyarat. Ayah nggak tahu isyarat dari langit?" ucap Rama yang dijawab gelengan kepala oleh Galih. "Langit sedang mengutus hujan untuk menahan ayah, agar berlama-lama di sini, bersama bu Winda." Guraunya.
Ia mengernyit, lalu hujan-hujanan dari depan cafe menuju mobilnya. Lalu dengan terpaksa Rama mengikuti dari belakang.
"Ck, ayah nggak asyik dikasih kesempatan bagus malah nggak mau, gimana sih ayah?" Omel Rama setelah masuk ke dalam mobil.
Galih engan memberikan komentar, ia tetap melajukan mobilnya pelan, hingga sampai ke rumahnya.
Galih masuk rumah dalam keadaan basah kuyup akibat kehujanan tadi, air hujan masih menetes dari ujung rambutnya. Dan begitu juga dengan Rama.
"Ya Allah... Galih, Rama, kalian kenapa basah kuyup begini?" Sambut bu Susi, lalu buru-buru mengambil handuk untuk mereka.
"Aps... aduh, dingin banget, mbah ibu." Rengek Rama.
"Lagian kalian ini kenapa sampai kayak tikus kecebur goot begini?" tanya bu Susi yang hanya dijawab oleh Rama.
"Gara-gara ayah ini, mbah ibu." Ketus Rama saat meraih handuk dari tangan bu Susi, sambil saling lirik dengan ayahnya.
Rama langsung mengeringkan rambutnya mengunakan handuk, lalu berganti pakaian, begitupun dengan Galih.
"Hachiii...!!"
"Hachiii...!!"
Keduanya keluar dari kamar sambil terus bersin, tubuhnya mengigil meski sudah berpakaian tebal dan kaus kaki. Rama terus menyalahkan ayahnya yang tidak mau menunggu hujan reda. Sementara Galih engan memberi komentar yang pada ujungnya akan merujuk pada Winda.
* *
Seperti biasa, jika tahu Galih dan Arumni bersama, suasana hatinya mendadak berubah, meskipun emosinya tetap stabil, namun tetap saja ada sedikit rasa tak nyaman di hati Adit.
Arumni menyadari hal itu, ia duduk di sebelahnya, dipandangnya suami yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
"Mas, kamu pura-pura sibuk, ya?" pertanyaan yang tidak ditanggapi oleh Adit. "Mas—"
"Aku sibuk, sayang... Jangan ganggu dulu, ya." Kata Adit tanpa menoleh, "kalau mau tidur, tidur duluan saja. Kalau masih belum ngantuk ngobrol sama Tya dulu."
"Tya sudah tidur," katanya dengan nada kurang bersemangat.
"Kalau begitu nonton TV, atau main HP. Aku lagi buat laporan penting, nggak bisa diganggu. Maaf, ya..." Kata Adit, sementara di sampingnya ada laptop dengan tab game terbuka.
Arumni hendak pergi tanpa mengatakan apapun, ia tahu ada yang menganjal di hati suaminya akibat seharian bersama Galih, meskipun ada banyak remaja dan orang-orang yang berada di sana.
Adit merasa tak tega membiarkan istrinya keluar dari ruangan itu dengan membawa perasaan tak enak. "Sayang!" panggilnya.
Arumni tahu suaminya tidak mungkin membiarkan dirinya pergi begitu saja. Ia tersenyum tanpa menoleh, berpura-pura tetap membuka pintu lalu keluar dan menutup pintunya kembali, karena tahu suaminya pasti akan memanggil.
"Sayang! Kamu nggak dengar?" Seru Adit sambil menoleh, rupanya Arumni sudah tidak ada di sana, membuatnya jadi sedikit menyesal karena telah mengabaikan istrinya.
Adit merasa bahwa dia harus menyusul. Laptop dibiarkan terbuka, lalu ia bergegas akan keluar ruangan, namun saat membukanya, Arumni sedang berdiri di sana, dia tersenyum seolah tahu suaminya akan menyusul.
"Aku mau keluar," katanya, Ia salah tingkah yang membuat Arumni jadi ingin menahanya.
Arumni mendorong kuat dada Adit, meski tidak tergeser sedikitpun. "Katanya lagi sibuk? Ayo lanjutkan," paksa Arumni.
"Sudah selesai, ini baru mau keluar." Alasanya.
"Nggak usah bohong, satu detik yang lalu kamu bilang lagi sibuk, nggak mungkin tiba-tiba selesai, kan?" Arumni melihat ke dalam sambil menarik tangan Adit, "laptopnya masih nyala lo, mas." Kata Arumni yang akhirnya membuat Adit mengakui.
"Iya, iya, aku belum selesai." Ucap Adit sambil merangkulnya, "temani aku sebentar lagi, ya?"
Arumni melepas tangan Adit, lalu berjalan mendahuluinya ingin memastikan bahwa suaminya benar-benar sedang sibuk.
"Jangan, sayang." Kata Adit sambil menarik tangan Arumni.
"Kenapa? Aku nggak lihat saja sudah tahu lo, mas!" kata Arumni yang membuat Adit terbahak.
"Iya, harus aku akui kalau wanita memang hebat." Katanya sambil memberi acungan jempol, lalu menutup laptopnya.
Lalu mereka berjalan menuju kamar sambil ngobrol santai.
"Bagaimana rasanya seharian tadi bersama Galih, sayang?" tanya Adit.
"Biasa saja, nggak ada yang spesial." Jawabnya.
"Yang benar?"
"Kalau bukan atas ijin darimu, aku mana mungkin ke sana sama mas Galih." Katanya yang dijawab anggukan oleh Adit.
"Iya sih. Aku cuma kasihan sama Rama, aku melakukannya demi Rama." Ia menghela napas, "kasihan anak itu. Dia masih menyangka kamu ibunya."
"Iya," kata Arumni lalu diam sejenak.
"Cerita sama aku, tadi kalian ngapain saja di sana?" tanya Adit yang hanya dijawab tatapan oleh Arumni. "kenapa? Nggak mau cerita? Mau dirahasiakan? Atau kamu mau aku cari tahu sendiri?"
"Cari tahu sendiri saja, mas." Gurau Arumni.
Adit tahu, istrinya sedang mengoda. "Oke, besok aku kerahkan tim untuk menyelidiki tempat itu. Di mana kamu duduk bersama Galih, apa yang kalian obrolkan, dan apa yang kalian lakukan di sana." Kata Adit yang membuat Arumni merasa lucu.
"Wah, sudah pasti aku tidak akan bisa mengelak. Semuanya akan terungkap, dan tamat riwayat ku." Kata Arumni yang memicu gelak tawa diantara keduanya.
"Tapi aku nggak mau melakukan itu."
"Kenapa memangnya?"
"Kalau semuanya terungkap, pasti aku yang akan rugi." Kata Adit yang membuat Arumni terkekeh ingin tahu.
"Kok bisa kepikiran rugi? Memangnya orang jualan?"
"Ya rugi, pokoknya rugi aja." Jawab Adit santai.
"Ambil untung yang banyak, mas. Biar nggak rugi." Kata Arumni sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Lalu Adit menyalakan televisi yang ada di kamarnya, mereka menonton film sambil duduk berpelingan di atas ranjang, sesekali mereka berbisik—sesekali mereka tertawa.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/