Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Hana Dan Meta
Beberapa hari Kenzo tidak melihat Aldo membuat Kenzo selalu menanyakan tentang Aldo kepada Hana.
Kenzo: "Hari ini hari minggu, ma. Aku ingin jalan-jalan bersama papa." ucapnya.
Hana: "Papa masih berada di luar kota, sayang." ucapnya dengan berbohong. "Jalan-jalan sama mama saja, ya." ucapnya lagi dengan lembut.
Kenzo: "Kenapa papa sering ke luar kota, ma?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Hana: "Papa mempunyai tugas di luar kota, sayang." ucapnya lagi. Hana selalu menutupi tentang Aldo saat Kenzo menanyakannya, Hana juga terpaksa harus membohongi Kenzo yang masih tidak mengerti apa-apa. Hana dan Kenzo jalan-jalan berdua di hari minggu yang cerah itu. Walaupun Kenzo sangat merindukan Aldo, namun Hana selalu memberi penjelasan yang bisa diterima oleh anak seusia Kenzo.
Hana: "Kamu mau ke mana, Kenzo?" tanyanya dengan lembut di dalam mobil.
Kenzo: "Kita ke mall saja, ma. Aku ingin membeli mainan baru." ucapnya dengan antusias.
Hana: "Baiklah, sayang." sahutnya. Hana melaju dengan mobilnya menuju ke mall, Hana bahagia karena Kenzo tidak memaksakan diri untuk bertemu dengan Aldo. Hana tidak ingin jika Kenzo mengetahui tentang hubungannya yang bermasalah dengan suaminya. Beberapa menit berlalu, Hana dan Kenzo tiba di sebuah mall ternama di Jakarta. Kenzo keluar dari dalam mobil dengan antusias, Hana memegang tangan Kenzo dengan erat memasuki ruangan di dalam mall itu.
Hana: "Apakah kamu ingin makan dulu, Kenzo?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
Kenzo: "Kita beli mainan dulu, ma. Aku belum lapar." ucapnya.
Hana: "Baiklah, nak." sahutnya. Hana dan Kenzo berjalan santai mencari toko mainan, mall yang mereka kunjungi sangat luas dan besar sehingga membuat Kenzo sangat bahagia mengelilingi area mall itu. Beberapa menit kemudian, Hana menemukan toko mainan yang cukup besar, Hana dan Kenzo masuk ke dalam toko mainan itu dan terlihat berbagai jenis mainan terpajang di dalam toko itu sehingga Kenzo kebingunan untuk memilih mainan itu.
Hana: "Kamu mau yang mana, nak?" tanyanya dengan lembut. "Kamu bisa memilih mainan kesukaanmu." katanya sambil tersenyum kecil.
Kenzo: "Semuanya bagus, ma. Aku sangat suka." ucapnya sambil tersenyum lebar. "Apakah aku boleh memilih lebih dari satu mainan, ma?" tanyanya dengan penuh harap.
Hana: "Tentu saja, sayang. Pilihlah sesuka hatimu." ucapnya dengan lembut.
Kenzo: "Terima kasih, ma. Aku sayang mama." ucapnya dengan penuh kebahagiaan. Hana tersenyum bahagia melihat wajah Kenzo yang ceria. Kenzo mulai memilih beberapa mainan dan memberitahukan pada Hana tentang pilihannya. Setelah puas memilih mainan kesukaannya, Hana mengajak Kenzo untuk makan di sebuah kafe yang ada di dalam mall tersebut. Ibu dan anak itu masuk ke sebuah kafe yang memiliki pengunjung yang cukup ramai.
Hana: "Kamu mau makan apa, Kenzo?" tanyanya sambil memperlihatkan menu yang terletak di atas meja. Kenzo menatap dalam-dalam menu makanan itu, awalnya ia bingun dengan banyaknya pilihan menu. Perlahan-lahan Hana membantu putranya untuk memilih makanan yang boleh dimakannya.
Kenzo: "Yang ini saja, ma." ucapnya sambil menunjuk salah satu menu makanan yang merupakan ayam.
Hana: "Baiklah, Kenzo." ucapnya. "Apakah masih ada yang lain?" tanyanya pelan. Kenzo juga memilih minuman segar dan aneka snack untuk dijadikan cemilannya.
Kenzo: "Aku pingin jus anggur, ma." ucapnya lagi. Hana tersenyum kecil, lalu mulai memesan makanan dan minuman yang dipilih oleh Kenzo. Beberapa menit mereka menunggu pesanan makanan dan minuman, karena pengunjung di kafe itu cukup ramai. Tiba-tiba seorang pria menyapa Hana dari arah belakang tempat Hana duduk, Hana terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu yang tak lain adalah Peter.
Hana: "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Peter." ucapnya dengan hati yang riang. Peter tersenyum tipis, Peter tidak sendiri namun bersama dengan Meta.
Peter: "Senang bertemu denganmu lagi, Hana." ucapnya pelan. "Dia adalah istriku, Meta." ucapnya sambil menoleh pada Meta yang sedang berdiri di sampingnya. "Meta, dia adalah teman baruku. Namanya Hana." ucapnya pada Meta.
Meta: "Hai, Hana. Nice to meet you." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Hana.
Hana: "Me too, Meta." sahutnya sambil tersenyum kecil menatap wajah Meta yang cantik dan putih. "Kamu sangat cantik, Meta." pujinya.
Meta: "Terima kasih, Hana. Kamu juga wanita yang menawan." ucapnya sambil tersenyum. Peter menoleh ke arah Kenzo yang sedang duduk manis di tempat duduknya.
Peter: "Apakah anak kecil ini anakmu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Hana: "Iya, Peter. Namanya Kenzo, usianya 5 tahun." ucapnya.
Peter: "Dia anak yang tampan, Hana." ucapnya dengan rasa kagum. Hana dan Meta sama-sama tertawa kecil mendengar pernyataan Peter.
Hana: "Apakah kalian akan makan juga di sini?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Meta: "Kami sudah selesai makan. Saat kami ke kasir untuk membayar, Peter langsung menghampirimu." ucapnya dengan lembut.
Peter: "Di mana suamimu, Hana?" tanyanya dengan rasa penasaran. Wajah Hana berubah tegang, namun ia tidak ingin terlihat sedih di depan Peter dan Meta.
Hana: "Suamiku dinas ke luar kota, Peter. Aku dan Kenzo menghabiskan waktu berdua saja hari ini." ucapnya dengan penuh kebohongan.
Meta: "Kamu dan Kenzo terlihat bahagia." ucapnya sambil tersenyum tipis.
Hana: "Iya, Meta. Kami selalu berusaha untuk bahagia dalam segala suasana." ucapnya dengan sikap tenang. Meta hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan Hana. Pernyataan Hana membuatnya menyadari untuk menerima setiap kekurangan yang ada dalam dirinya. Seorang pelayan membawakan pesanan untuk Hana dan Kenzo. Peter tidak ingin lebih lama mengganggu waktu Hana dan Kenzo.
Peter: "Baiklah, Hana. Kami permisi dulu, ya." ucapnya. "Kami tidak ingin mengganggu waktumu dan putramu." ucapnya lagi.
Hana: "Iya, Peter. Semoga hari kalian menyenangkan." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Meta: "Terima kasih, Hana. Semoga kita bisa menjadi teman." ucapnya dengan penuh harap. "Apakah kamu tidak keberatan memberikan nomor ponselmu, Hana?" tanyanya dengan hati-hati.
Hana: "Tentu saja tidak, Meta." ucapnya. Hana mengambil pulpen dan kertas berukuran kecil dari dalam tasnya, lalu mulai mencatat nomor ponselnya dan memberikannya pada Meta. "Ini, Meta." ucapnya.
Meta: "Terima kasih, Hana. Aku akan menelponmu nanti." ucapnya. Meta dan Peter berjalan pelan meninggalkan Hana dan Kenzo di dalam kafe itu. Peter terheran-heran pada istrinya, Meta baru pertama kali bertemu dengan Hana namun Meta langsung meminta nomor ponsel Hana.
Peter: "Apa yang membuatmu ingin berteman dengan Hana, sayang? Kamu baru pertama kali bertemu dengan Hana, kan?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Meta: "Entahlah, sayang. Aku langsung menyukainya sebagai teman." ucapnya. "Aku merasa cocok dengannya. Selain Santi sepupuku, aku tidak punya teman lain." ucapnya lagi.
************************************