NovelToon NovelToon
Dekapan Bayang

Dekapan Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / CEO / Cintapertama
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: Queenca04

Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Sesampainya di rumah Ziva terus saja cemberut dan terlihat oleh Zian yang memang sedang ada di rumah bersama Zahra.

"Kenapa Kak kok cemberut gitu?" tanya Zahra.

Ziva tidak menjawab pertanyaan dari adiknya dan langsung saja pergi ke kamarnya.

"Kenapa sih Ma tuh anak?" tanya Zian pada ibunya yang ikut duduk di samping Zian.

"Dia marah karena Bu Rasti terus saja membicarakan tentang perjodohan Abang sama anaknya."

"Anaknya siapa Ma? Nia maksudnya?" Regina mengangguk. "Abang juga gak mau dan Ma kalau sampai berjodoh sama dia."

Zian bergidik dan membuat adik dan ibunya tertawa.

"Terus ngomong-ngomong soal ya dekat sama Abang itu siapa? Gimana sekarang?"

"Anggie. Gak tahu Abang juga udah cari tahu juga lewat Andre tapi masih belum bisa. Abang mau minta bantuan sama Papa buat nemuin dia dimana."

Namun pembicaraan itu pun tanpa sengaja terdengar sang Papa yang baru datang.

"Siapa yang mau minta bantuan Papa?"

"Papa baru pulang, kok gak biasanya pulang jam segini?"

"Papa harus ke Samarinda nanti malam jadi Papa pulang dulu buat persiapan. Tadi siapa yang minta bantuan Papa?"

"Abang Pa minta bantuan buat cariin Anggie," seru Zahra.

"Anggie siapa?"

"Ceweknya Abang lah Pa."

"Yakin udah jadi cewenya Abang?" goda sang Papa.

"Ayolah Pa Abang minta bantuan Papa buat cari Anggie," baru kali ini Zian memelas pada sang Papa.

"Okey Papa akan cari tahu tapi ada syaratnya."

"Apa Pa?"

"Abang harus bisa kuliah di luar negeri tapi menggunakan beasiswa."

"Deal," Zian langsung menyetujui permintaan dari ayahnya dengan menjabat tangan dan Dandi pun membalas jabatan tangan anaknya.

"Deal."

"Jadi kapan Papa mau cari tahu?"

"Setelah kamu dapat informasi tentang beasiswa."

***

Tanpa terasa kini sudah di ujung semester dua Zian dengan sepenuh jiwa belajar demi mendapatkan beasiswa ke Aussie sesuai perjanjian dengan ayahnya.

Hingga akhirnya Zian mendapatkan hasil yang memuaskan dan juga beasiswa yang yang selama ini jadi tujuan utama bisa diraih Zian.

"Pa aku sudah dapat beasiswa yang diinginkan Papa. Sesuai perjanjian Abang minta tempat tinggal Anggie. Abang mau menemui Anggie sebelum Abang berangkat ke Aussie."

"Maaf Bang Papa tidak menepati janji tapi sebenarnya Papa sudah mencoba mencari tapi keluarga Anggie menutup rapat akses tentang keluarganya. Papa punya saran kalau memang kamu mau tahu Anggie kenapa gak tanya Abangnya saja, bukannya dia pemilik perusahaan PT Angkasa."

Benar juga kenapa gak kepikiran dari dulu, itu yang ada di pikiran Zian saat itu.

"Nanti kamu coba hubungi Om Bagas dia akan membantu kamu buat ketemu sama Angkasa. Karena kebetulan perusahaan Papa melakukan kerja sama sama perusahaan dia."

Zian mengangguk setuju dengan apa yang telah disarankan ayahnya.

Setelah pulang sekolah Zian pergi ke perusahaan Papanya untuk menemui asisten sang Papa yaitu Bagas. Zian yang memang sudah dikenal di sana sebagai anak pemilik perusahaan langsung pergi ke ruangan Bagas.

Tok

Tok

"Masuk," seru Bagas.

Zian pun masuk membuka pintu.

"Abang Zian, ada apa kok tumben ke sini."

"Om aku mau minta tolong buat ketemu sama Bang Asa."

"Maksudnya Bang Asa siapa?"

"Maksudnya Bang Angkasa pemilik PT Angkasa."

"Kebetulan sebentar lagi Om juga ada pertemuan sama dia membahas tentang proyek yang sedang kita jalani. Kamu bisa ikut."

Dengan senang hati Zian ikut menemui Angkasa hanya sekedar mencari tahu keberadaan Anggie.

Kini Bagas sedang berada di sebuah restoran bersama Zian yang menunggu di meja yang berbeda. Tak lama Angkasa datang bersama sekertaris nya Bimo.

Akhirnya pembahasan tentang kerja sama antara perusahaan Angkasa dan sang Papa sudah selesai. Angkasa yang bergegas akan pulang tapi Zian tiba-tiba datang menghampiri Angkasa.

"Apa kabar Bang?" tanya Zian seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Angkasa pun menyambut jabatan tangan dari Zian.

"Baik," jawab Angkasa singkat.

"Bang boleh gak kalau saya bertemu dengan Anggie?"

Raut wajah Angkasa langsung tidak bersahabat tapi Zian mencoba menghadapi dengan tenang.

"Abang pernah mengijinkan kalau saya sudah sukses saya akan menjadikan Anggie sebagai masa depan saya. Saya akan memastikan kalau saya bisa sukses dan menjadikan Anggie masa depan saya nanti."

"Laki-laki yang dipegang itu ucapnya dan saya pegang ucapan kamu."

"Tapi apa saya bisa bertemu Anggie untuk terakhir kalinya karena saya akan pergi untuk sekolah ke Aussie."

Angkasa hanya manggut-manggut saja menanggapi ucapan dari Zian.

"Maaf Pak Angkasa harus segera berangkat," potong Bimo dan mengajak Angkasa pergi.

Di mobil Bimo bertanya-tanya tentang pria muda yang menghadangnya tadi.

"Cowok tadi siapa?" tanya Bimo sambil fokus melihat ke arah depan. Angkasa yang ada di samping kursi kemudi hanya melirik Bimo.

"Dia cowok yang ngejar-ngejar adek gue. Dan dia juga yang mengakibatkan trauma gue kambuh."

"Owhh jadi dia cowok itu. Tapi dia gak sepenuhnya salah dia juga kali Sa. Yang salah ya tetap saudara tiri lo yang ngejar-ngejar dia."

Angkasa hanya mendengus kesal saat Bimo bilang saudara tiri padahal dia sama sekali tidak suka kalau Nia sebagai saudaranya apalagi dia yang sudah membuat adiknya kembali trauma dan tidak mau bersosialisasi dengan orang baru.

"Kenapa lo gak ngasih tahu keberadaan Anggie aja Sa. Gue lihat cowok itu kayaknya beneran tulus suka sama adek lo."

"Buat apa? Lo mau adek gue kembali trauma."

"Gue tahu cowok itu akan jadi obat buat adek lo."

"Sok tahu lo kayak pernah pacaran aja bisa bilang kayak gitu," cibir Angkasa.

"Gue emang belum pernah pacaran karena lo terus aja ngasih gue tugas. Tapi walaupun gue belum pernah pacaran gue bisa lihat kalau cowok itu tulus sama Anggie."

"Sekarang lo fokus aja sama jalan jangan sok tahu."

Bimo hanya mendengus kesal, "gue bilangin lo gak mau dengar. Awas aja kalau nanti lo curhat lagi sama gue masalah adek lo," gumam Bimo yang masih terdengar Angkasa.

"Gak usah ngedumel lo, gue masih bisa denger."

Bimo pun akhirnya diam. Sebenarnya Angkasa juga memikirkan ucapan dari Bimo tadi yang sepenuhnya memang ada benarnya juga. Mungkin dengan Anggie dan Zian bertemu bisa mengobati trauma Anggie dan mengembalikan rasa percaya diri adik bungsunya itu.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Bimo sampai di sebuah apartemen.

"Gue gak ikut masuk ya masih ada yang harus gue selesaikan."

Angkasa pun turun dari mobil dan menuju ke unit miliknya. Di lift saat akan menuju unitnya ucapan Bimo masih terngiang.

"Apa mungkin adek akan sembuh jika dia bertemu Zian?" gumamnya.

1
Abah Pnd
pasti jatuh miskin anggoro
Queen: pantas ya buat seorang tukang selingkuh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!