Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya ada Ayah
Keesokan harinya, suasana di kantor pusat Wiratama Group terasa sangat menekan. Elang duduk di balik meja eksekutifnya, menatap nanar laporan audit independen yang baru saja selesai dibahas. Di depannya, Rian berdiri dengan wajah lelah namun tetap waspada.
“Tidak mungkin, Rian. Pasti ada yang terlewat,” desis Elang melempar dokumen tebal itu ke atas meja.
“Saya mengerti kekecewaan Anda, Pak. Tapi tim audit tidak menemukan aliran dana yang mencurigakan di luar rekening Pak Hendra. Semua jejak digital, tanda tangan elektronik, hingga otorisasi transaksi memang berpusat pada beliau. Pelaku ini… dia bukan hanya pintar, tapi juga lihai menghilangkan jejak,” lapor Rian dengan nada menyesal.
Elang memijit pelipisnya, bisikan Kanara semalam, 'Ibu… ibu,' terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Bagaimana Kanara bisa menyebutkan kata Ibu tanpa ada regresi? Dan, kenapa kata itu keluar saat Kanara melihat Aditya?
‘blis itu sangat dekat dengan Anda', kali ini ucapan Pak Hendra yang terngiang di telinganya. Apakah ada hubungannya antara pengkhianatan di kantor dengan kematian Mentari, dan ketakutan Kanara pada Aditya?
“Bagaimana dengan Siska?” tanya Elang, suaranya kini lebih tajam. “Aku tidak percaya dia dikirim oleh agensi tanpa ada campur tangan seseorang.”
Rian membuka tabletnya, menampilkan profil detail yang tidak ada dalam berkas yang diberikan Bu Sofia. “Anda benar, Pak. Siska memang terapis berlisensi, tapi ada yang janggal. Dua tahun lalu, dia menerima ‘dana hibah’ dari satu perusahaan cangkang SeyChelles.”
“Siapa pemilik perusahaan itu?”
“Masih anonim, Pak. Tapi saya dapat bocoran, jika Siska masuk ke rumah Bapak atas rekomendasi ‘koneksi rahasia’ yang diberikan kepada ibu Sofia melalui pihak ketiga.”
Elang menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menyipit menatap langit-langit. “Rian, tolong periksa CCTV rumahku sejak kedatangan Siska. Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apakah Bapak curiga Siska ada kaitannya dengan kondisi Kanara yang memburuk?”
Elang mengangguk. “Periksa dengan teliti. Jangan sampai ada yang terlewat.”
“Baik, Pak,” ucap Rian mantap. “Bapak mau ke mana?” tanyanya melihat Elang mengenakan jas dan mengambil kunci mobilnya. Seingatnya hari ini tidak ada jadwal meeting di luar.
“Aku keluar sebentar. Aku harus mencoba untuk terakhir kalinya…”
**********
Sore itu, Elang kembali di depan kontrakan Nura. Ia berdiri di sana dengan gurat kelelahan yang luar biasa di wajahnya. Matanya yang merah menatap Nura penuh permohonan.
“Ra, aku mohon… bukan untukku. Lakukan untuk Kanara,” suara Elang parau. “Dia regresi total. Dia menyakiti dirinya sendiri. Dia hanya memanggil namamu, Nura. Kalau kamu tidak kembali sekarang, aku takut dia tidak akan pernah bisa keluar dari kegelapan itu.”
Nura berdiri di ambang pintu. Jantungnya terasa diremas melihat Elang begitu hancur, namun bayangan ancaman Pak Darmawan melintas di pikirannya. Ia tahu jika ia goyah sekarang, mereka semua akan hancur. Ia harus mematikan perasaan Elang agar pria itu berhenti berharap dan menjadi sosok yang kuat bagi putrinya.
Nura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia memasang wajah yang paling dingin yang pernah ia miliki, menatap Elang dengan tatapan kosong dan tidak berperasaan.
“Mas Elang… sudah cukup,” ucap Nura datar. Suaranya sangat asing di telinga Elang.
“Ra, apa maksudmu?”
“Mas sepertinya terlalu terbawa perasaan sampai Mas lupa satu hal,” lanjut Nura dengan bibir sedikit bergetar, namun ia terus memaksakan diri. “Bagi saya, Kanara hanyalah seorang pasien. Dia adalah pekerjaan. Saya dibayar untuk merawatnya, dan ketika kontrak itu selesai, atau ketika situasinya sudah tidak menguntungkan saya lagi secara profesional, saya berhak untuk pergi.”
Elang tersentak seolah baru saja ditampar. “Pekerjaan? Kamu bilang cinta yang kamu berikan untuk Kanara itu hanya sebuah pekerjaan?”
“Tentu saja,” Nura tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit dan menyakitkan. “Saya seorang terapis profesional, Mas. Tugas saya adalah membuat pasien merasa nyaman. Kalau Mas pikir ada ikatan batin yang spesial, itu artinya saya sukses menjalankan peran saya. Tapi tolong, jangan jadikan itu alasan untuk terus mengejar saya dan mengganggu hidup saya.”
Nura melangkah mundur, perlahan mulai menutup pintu. “Cari terapis lain. Ada banyak yang lebih kompeten dari saya jika Mas punya uang untuk membayarnya. Jangan datang lagi ke sini, karena bagi saya, urusan saya dengan Kanara, dan dengan Mas, sudah berakhir begitu saya keluar dari rumah itu. Tidak lebih dari itu.”
Brak!
Pintu tertutup rapat. Nura langsung merosot di balik pintu, menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan jeritan tangis yang meledak di dadanya. Di balik pintu, ia baru saja membunuh separuh jiwanya sendiri untuk menyelamatkan Elang dari kehancuran yang lebih besar.
Di luar, Elang mematung. Kata-kata Nura berulang-ulang menghantam kepalanya. Hanya pekerjaan, bahwa semua perhatian itu hanyalah teknis medis demi bayaran, menjadi palu gada yang menghancurkan kewarasan terakhirnya.
Ia mengepalkan tangannya hingga berdarah, lalu perlahan berbalik menuju mobilnya dengan langkah yang lunglai. Sesuatu di dalam diri Elang mati sore itu. Tatapan matanya yang biasanya penuh duka berubah menjadi gelap, kosong dan sangat tajam. Elang tidak lagi terlihat seperti seorang ayah yang patah hati, tapi terlihat seperti mesin yang sudah kehilangan semua empati.
*********
Sementara itu, di rumah, Siska memegang penuh kendali atas pengobatan Kanara. Di dalam kamar Kanara yang kini selalu tertutup rapat, Siska menunjukkan wajah aslinya. Tidak ada lagi senyum ramah seperti di depan Elang atau Bu Sofia.
Siska sengaja mematikan semua lampu kamar, hanya menyisakan sebuah senter kecil yang ia sorotkan ke wajahnya sendiri, menciptakan bayangan yang menakutkan bagi anak sekecil Kanara. Tidak berhenti di sana, Siska mulai menggunakan ‘terapi’ yang ia sebut sebagai penguatan mental, namun kenyataannya penyiksaan sistematis.
"Kamu lihat foto ini?" desis Siska sambil menyodorkan ponselnya di depan wajah Kanara yang sembab. Itu adalah foto yang Nura yang sedang tertawa bersama Zoya di depan kontrakannya.
“Kak Nura-mu sedang merayakan kebebasannya. Dia tertawa karena akhirnya bisa lepas dari anak pembawa sial sepertimu.”
Kanara menggeleng lemah, tubuhnya meringkuk di sudut ranjang. “Kak… Nura… Kanara…”
Siska menarik tubuh mungil Kanara ke dalam kamar mandi yang gelap. Ia sengaja menaruh cermin besar di depan Kanara saat bocah itu sedang gemetar hebat, memaksanya melihat pantulan dirinya yang hancur.
“Lihat dirimu, kamu menakutkan! Tidak akan ada yang memeluk anak seperti ini,” bentak Siska.
Setelahnya ia mendorong Kanara hingga meringkuk di dalam sudut kamar. Ia kemudian keluar dari kamar, memasang wajah terapis ramah.
Sepulang dari kontrakan Nura, Elang masuk ke kamar putrinya yang gelap. Kanara masih meringkuk di sudut, tubuhnya bergetar. Elang duduk di lantai, beberapa meter dari putrinya. Ia tidak lagi membujuk dengan suara lembut atau janji-janji manis tentang Nura.
“Kanara,” suara Elang tegas. “Dia tidak akan kembali. Dia pergi karena dia mau pergi. Dan mulai sekarang, hanya ada Ayah di sini.”
Kanara mulai merintih, kepalanya menggeleng-geleng. “Kak Nura… Kak Nura…”
“Diam, Kanara!” Elang membentak, membuat Kanara tersentak diam dalam ketakutan. “Kak Nura-mu bilang kamu hanya pasien. Hanya pekerjaan. Kamu dengar itu? Dunia memang seperti ini. Tidak ada tempat untuk orang lemah.”
Elang berdiri, berjalan ke arah jendela dan menarik tirainya hingga tertutup rapat. Ia membiarkan ruangan itu dalam kegelapan.
“Kalau kamu mau sembuh, lakukan untuk dirimu sendiri. Bukan karena terapis itu. Mulai besok, Ayah yang akan melatihmu. Ayah yang akan mengobatimu dengan cara Ayah sendiri.”
Elang keluar dan mengunci pintu kamar Kanara dari luar. Ia tidak peduli ketika mendengar isakan Kanara yang terdengar lirih.