'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bicara dengan Zahra
Zahra keluar dari kamar ketika mendengar kegaduhan. Zafirah sebenarnya melarangnya untuk keluar. Tapi saat mendengar suara Aditya, Zahra kekeh melihatnya.
"Papa.." panggilan dari Zahra menghentikan Papa Yusuf yang ingin memukul Aditya untuk kesekian kalinya.
"Sayang.." mata Aditya berbinar ketika melihat Zahra. Meskipun keadaan Zahra tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Wajahnya sembab dan rambutnya acak-acakan.
"Zahra, masuk. Papa tidak akan izinkan laki-laki brengsek ini menemui kamu," kata Papa Yusuf penuh ketegasan.
"Tapi, Pa. Zahra mau bicara dengannya," kata Zahra tanpa menatap Aditya yang memandangnya dengan penuh kerinduan. Aditya memang merasa sangat rindu pada Zahra meskipun baru beberapa jam tidak bertemu.
"Tapi.." ucapan Papa Yusuf terhenti saat melihat Mama Febi yang baru saja datang dan memberikan kode padanya agar mengizinkan Zahra menemui Aditya.
"Papa ada di dalam jika kamu butuh bantuan," kata Papa Yusuf mendorong Aditya kemudian melihat kearah Zahra.
Zahra mengangguk kemudian duduk di sofa single. Aditya mendekat dan berusaha menyentuh Zahra namun berkali-kali Zahra menepisnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan ? jangan buang-buang waktu," Zahra mengingatkan Aditya.
"Aku mau menjelaskan semuanya sama kamu, sayang.." kata Aditya menangis. Ia duduk dilantai dan menatap Zahra dengan perasaan campur aduk. Jahat sekali ia menyakiti hati perempuan yang dicintai dan mencintai nya.
"Jelaskan," balas Zahra tanpa mau menatap wajah Aditya.
Aditya mulai menceritakan kejadian beberapa bulan lalu saat ia menghadiri reuni alumni angkatannya yang dimana disana juga hadir Nadia.
Mereka makan bersama, bercerita dari satu hal ke hal yang lainnya. Membahas bisnis dan pencapaian masing-masing serta saling membantu jika ada salah satu dari mereka membutuhkan bantuan maupun pekerjaan.
Di akhir acara yang sudah lewat tengah malam, mereka menutupnya dengan minum wine. Aditya ingat pesan Zahra untuk tidak menyentuh minuman tersebut jadi ia menolak untuk minum.
Tapi dengan bujuk rayu dan paksaan teman-temannya akhirnya Aditya meminumnya. Dan disinilah niat jahat Nadia muncul. Ia tau tidak akan ada kesempatan bagus selain hari ini untuk mendapatkan Aditya.
Nadia tau jika Zahra tidak ada dirumah. Ia ikut bersama orang tuanya menghadiri pesta pernikahan saudaranya yang berada di luar kota.
Entah bagaimana ceritanya, saat pagi hari Aditya terbangun ia sudah berada di dalam kamar hotel bersama dengan Nadia dengan keadaan mereka yang tidak mengenakan busana.
Ingin menyangkal jika tadi malam tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Namun nyatanya bercak darah di atas sprei putih seakan menjelaskan semuanya. Nadia mengatakan jika masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi. Ia juga tidak tau akan berakhir seperti ini.
Sejak hari itu, sikap Aditya pada Zahra semakin manis dan perhatian. Zahra menyangka cinta Aditya semakin besar untuknya. Namun kenyataannya, Aditya sedang menyembunyikan rahasia besarnya.
Meskipun mencoba tidak memikirkan masalah Nadia, namun hari-hari Aditya di hinggapi rasa bersalah. Ia sudah menghancurkan masa depan seorang gadis dan itu adalah teman masa kecilnya.
Hingga sekitar satu bulan yang lalu Nadia mendatangi Aditya dan mengatakan jika ia hamil dan sudah berjalan enam minggu tanpa ia ketahui. Ia merasa bingung dan tidak menemukan jalan keluar.
Nadia mengatakan akan menggugurkan janinnya saja tapi Aditya melarangnya. Mereka sudah berbuat dosa dengan melakukan zina. Jangan sampai neraka menunggu mereka karena berusaha menghilangkan nyawa calon bayi mereka.
Lama-lama kehamilan Nadia diketahui oleh orang tuanya dan Nadia menjelaskan kebenarannya jika bayi itu milik Aditya. Kedua orangtuanya menangis menyalahkan Nadia yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Hingga kabar itu akhirnya diketahui oleh Mama Lina. Ia meraung tanpa henti. Menyesali perbuatan Aditya yang sudah mengkhianati Zahra entah disengaja ataupun tidak.
Ia memang sangat ingin cucu dari Aditya. Tapi cucu yang tumbuh dan lahir dari rahim Zahra, menantunya. Bukan perempuan lain sekalipun itu Nadia yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Dengan semua keadaan yang menemui jalan buntu, akhirnya Aditya memutuskan menikahi Nadia sebagai bentuk pertanggungjawaban nya. Ia mengingatkan pada semua orang agar tidak memberitahu Zahra. Ia berpikir akan mengurusnya jika pernikahan selesai dilaksanakan. Tapi sebelum pernikahan usai, Zahra mengetahui hal tersebut.
Zahra diam tidak merespon semua penjelasan Aditya. Mulutnya terkunci rapat dengan pandangan kosong namun air matanya mengalir deras.
"Sayang, katakan sesuatu. Jangan diam saja," pinta Aditya menangis juga.
"Apa lagi yang harus aku katakan, mas ? nyatanya kamu memiliki istri lain selain aku," kata Zahra masih enggan menatap wajah Aditya.
"Aku dan Nadia sepakat akan bercerai saat bayi itu lahir, sayang.." ujar Aditya berusaha membuat Zahra menerima nya.
"Lalu, sebelum bayi itu lahir aku tetap harus menjadi istri yang melihat suaminya memperhatikan wanita lain. Begitu ?" tanya Zahra. Kali ini ia berani menatap ke dalam mata Aditya. Ia ingin Aditya tau seberapa dalam kesakitan yang diberikannya.
"Tidak, sayang. Aku akan tetap bersama kamu. Karena cuma kamu yang aku cinta. Aku menikahi Nadia hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban," kata Aditya.
"Mas, apa kamu tidak berpikir jika apa yang kamu lakukan itu suatu saat akan menyakiti anak kalian. Dan saat kamu menceraikan Nadia ketika dia sudah melahirkan itu artinya kamu mempermainkan sebuah pernikahan. Apa kamu tidak takut jika Allah akan melaknat mu, mas ?" suara Zahra bergetar menahan rasa yang campur aduk dalam dadanya.
"Lalu aku harus bagaimana, sayang ? aku mencintai kamu. Hanya kamu. Tapi aku juga tidak bisa menelantarkan anakku," kata Aditya putus asa.
Zahra diam. Meresapi rasa sakit membayangkan kemungkinan jika seandainya ia masih bertahan menjadi istri Aditya. Aditya memiliki anak dengan perempuan lain, sedangkan ia sendirian. Aditya akan bertahan di rumah yang penuh celotehan anak kecil. Ia yakin kelak Aditya akan begitu menyayangi anak dan ibunya tersebut dan perlahan meninggalkan ia dan rumahnya yang sunyi.
Dan juga, apa ia sanggup melihat suaminya memperhatikan perempuan lain berkedok keinginan anaknya dalam kandungan ? Tidak. Ia bukan seseorang yang sanggup berbagi.
Hari-hari nya kelak pasti akan dingin dan kesepian. Menanti Aditya yang tidak kunjung datang karena bertahan di rumah istrinya yang lain.
Membayangkan itu membuat Zahra ingin mengambil keputusan secepatnya. Memang tidak mudah. Tapi ia berkaca dari Zafirah.
"Seandainya aku hamil anak laki-laki lain, apa yang akan kamu lakukan mas ?" tanya Zahra tiba-tiba.
Aditya terkejut dengan pertanyaan yang Zahra lontarkan. Lidahnya kelu ingin menjawab akan menerima. Nyatanya hatinya merasa nyeri hanya dengan mendengar nya saja.
"Tidak mungkin kan kamu mau menerimaku dan anak yang bukan milikmu ?" tanya Zahra.
"Tidak, sayang. Aku akan menerima mu. Tapi tolong jangan katakan hal buruk. Aku tidak bisa membayangkan nya," tangis Aditya semakin kencang.
Zahra menghirup udara yang semakin lama semakin membuatnya sesak. Ia menganggukkan kepalanya kemudian berkata "beri aku waktu. Datanglah setelah satu minggu dan jangan temui aku dulu," lalu ia bangkit dari sofa dan meninggalkan Aditya yang masih berteriak memanggilnya.
...
Selamat pagi. Selamat hari Jumat. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan rizki yang barokah...
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪