NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I'm Back America

Pagi itu lahir dengan nafas yang tenang. Kabut tipis masih menggantung diatas sawah, embun menempel diujung daun seperti sisa rahasia yang belum sempat dihapus. Disebuah rumah sederhana yang lebih sering menyimpan tawa daripada sebuah rencana, Hani bangan lebih awal dari biasanya. Layar laptop yang berada dipangkuan nya tampak redup, seolah menghormati ketenangan yang ada. Dibalik ketenangan desa, pikirannya berlari cepat, menyusun kode dan kemungkinan, menutup celah yang ada, dan mencari jalan pulang.

Darren berdiri tak jauh dari keberadaan gadisnya, secangkir kopi kampung berada dalam genggaman nya. Ia tampak asing dengan tempat ini. Jasnya tergantung rapi, senjatanya berada jauh dari jangkauan, namun matanya membaca pagi dengan serius. Mafia yang terbiasa dengan kota-kota dingin kini belajar bahwa bahaya bisa bersembunyi dalam keindahan.

Hani tak menoleh dari fokus nya, namun ia sadar bahwa Darren berdiri dan fokus memperhatikan nya. Pesawat akan membawa mereka kembali ke Amerika Serikat, ke tanah yang menyimpan nama keluarga Hani dan bayangan masa lalu yang belum selesai. Misi yang menunggu lebih tajam, lebih sunyi, dan tak memberi ruang untuk ragu. Hani menutup laptop nya perlahan, bukan untuk berhenti melaikan untuk jeda sebelum badai.

"Hanya satu hal yang perlu kau pastikan tuan Darren, yaitu keselamatan. Karena dengan itu kita bisa memulai langkah yang selanjutnya." ucap Hani dingin sembari menatap manik mata tajam bewarna biru milik Darren.

"Aku sudah memastikan akan keselamatan itu Eleara, jadi percayalah padaku" yakin Darren.

Hani tersenyum tipis. "Keselamatan itu bisa dipastikan jika takdir tuhan tidak mengubahnya, aku baru saja melihat bahwa para pasukan Steven sudah siaga untuk melakukan penyerangan pada perjalanan kita. Rupanya dia memantau setiap gerak gerik mu Darren" ujarnya.

Darren menggeram marah mendengar penuturan Hani. "Bisa bisanya pria brengsek itu menguntit ku, kau tenang saja sayang aku akan tetap melakukan perjalanan ini dengan aman dan aku akan menambah pengawalan untuk kita" balas Darren.

"Itu lebih bagus, tapi kita harus tetap siap untuk mengatasi kemungkinan terburuknya. Aku tidak tahu apakah Raven akan menguasai ku nanti." ucap Hani terus terang.

"Baiklah sebaiknya kita berangkat sekarang, aku akan tetap melindungi mu apa pun yang terjadi" ajak Darren.

Hani mengangguk pelan, tetapi ia tidak langsung melangkah keluar melainkan pergi menjelajahi setiap sudut ruangan dari rumah tempat tinggal nya itu. "Seribu kenangan tidak akan pernah terlupakan, mungkin aku akan kembali namun dengan versi diriku yang baru" ucap Hani sembari melangkah pelan dan sesekali menyentuh tembok yang sedikit berdebu itu.

Darren tak begitu saja meninggalkan tetapi tetap mengikuti langkah kecil milik gadisnya itu. Tangan Darren menyentuh pelan pundak Hani dari belakang, yang mana membuat Hani menoleh ke arah nya. "Aku akan membawamu lagi kesini setelah kau menjadi bahagia bersamaku dan dapat kembali ke kehidupan lama mu" ucapnya.

Hani tersenyum tipis melihat keseriusan dari manik mata biru yang Darren pancarkan, ia hanya mengangguk kecil karena percaya akan ucapan pria itu. "Baiklah ayo kita berangkat." ucap Hani akhirnya.

Di halaman rumah tampak Mutia yang sudah menunggu, perpisahan itu sederhana, nyaris tanpa drama. "Hati-hati" ucap Mutia sembari berpelukan untuk terakhir kalinya, mau tidak mau dia harus tetap mendukung dan merelakan jalan yang sudah diambil oleh sahabatnya.

Hani mengangguk, menyimpan kampungnya dibalik dada, menyimpan suara pagi sebagai pengingat bahwa ia pernah pulang. Matahari tampak mulai naik, diiringi langkah mereka yang meninggalkan rumah. Kabut memudar, dan desa kembali pada rutinitas nya. Namun bagi Hani dan Darren, pagi itu menandai garis baru antara hidup yang ditinggalkan dan misi yang menuntut segalanya. Dan diantara dua jalan itu, Hani berjalan tenang membawa kecerdasan sebagai senjata, dan kenangan sebagai kompas.

Mobil beriringan mulai melaju meninggalkan kampung yang penuh kedamaian, dan menuju ke sebuah negara dimana misi yang baru akan segera dimulai. "I'm back America" ucap Hani lirih nyaris tak terdengar oleh siapapun sembari menatap ke arah luar jendela.

Hening beberapa saat diperjalanan, hingga mobil mereka kini sudah mulai memasuki kawasan perkotaan. Hani menoleh ke arah Darren yang duduk disebelah nya dengan tenang, nyaris tidak bergerak dan bersuara. "Darren" panggilnya lembut.

Darren yang sedari tadi diam sontak menoleh dan menatap mata Hani dengan lembut. "Ya sayang? kau baik-baik saja?" tanya nya.

Hani mengangguk kecil. "aku teringat akan suatu hal" ucapnya.

Dahi Darren berkerut. "Apa itu?" tanya nya.

Hani terdiam sejenak, sedikit ragu untuk mengatakan nya. "Tepat tanggal 3 November biasanya kakek dan nenek akan merayakan pesta anniversary sekaligus dengan pesta ulang tahun ku karena tanggal nya yang bersamaan, dan itu artinya adalah 5 hari lagi dari sekarang. Aku yakin orang tua mu diundang untuk menghadiri pesta itu, jadi...." Hani sedikit ragu untuk melanjutkan ucapan nya.

"Jadi apa sayang? katakan saja aku akan menuruti permintaan mu" sahut Darren yang tahu akan keraguan gadis didepan nya ini.

"Emm... bolehkan kita ikut menghadiri pesta itu juga? ah maksudku kau bisa membawa ku masuk ke dalam pesta itu" lanjut Hani.

Darren terdiam, ia masih memikirkan resiko jika membawa Hani ke dalam pesta sebesar itu, ia takut gadisnya akan menjadi incaran para musuhnya. "Baiklah sayang, akan aku usahakan untukmu, aku akan membicarakan hal ini kepada papa dan mama" jawab Darren akhirnya.

Hani mengangguk senang mendengarkan jawaban dari Darren, meskipun ia tahu resiko yang kemungkinan besar menyangkut dirinya ketika berdekatan dengan Darren.

Tak lama kemudian mobil mereka sudah sampai di sebuah bandara yang dituju. Hani keluar dari dalam mobil itu karena sudah tidak sabar kembali ke Amerika tempat asalnya.

"Kau semangat sekali sayang" ujar Darren yang berdiri dibelakang Hani.

Hani menjawab perkataan Darren tanpa menoleh dan masih sibuk melihat pemandangan bandara itu. "Tentu saja, sudah lama aku menantikan hal ini namun belum ada pendukung yang kuat untuk melakukannya" jawabnya.

"Baguslah jika kau bahagia, aku ingin setelah kita tiba di Amerika tidak ada satu orang pun yang mengenal mu atau memanggil mu dengan Hani, kau harus kembali menjadi Eleara yang seperti dulu sayang" ucap Darren.

Hani menoleh ke arah pria yang berdiri tak jauh dari tempat nya berada, sedikit mengerutkan kening. "Karena?" tanya nya.

Darren melangkah maju, mengikis jarak diantara keduanya. "Bukankah kau ingin kembali sepenuhnya menjadi sosok Eleara? Aku tahu kau sudah sangat lelah untuk selalu berpura-pura menjadi orang lain, jadi mulai sekarang kau bisa menjadi dirimu yang sebenarnya" ucap Darren lembut.

Hani tersenyum tipis mendengar penuturan itu. "Diriku yang sebenarnya ya?" ulang Hani.

Darren sedikit menangguk menanggapi ucapan itu. "Baiklah, mulai sekarang panggil aku Eleara dan bukan lagi Hani." ucap Hani atau Eleara akhirnya.

"Tentu queen Eleara" balas Darren.

Eleara tidak menjawab melainkan mulai melangkah menuju sebuah pesawat pribadi milik Darren, langkahnya perlahan tidak terburu buru dan terlalu tenang, namun dibalik ketenangan tersimpan sedikit rasa ketegangan.

' It's time for me to return to the real path of life, I've been patient enough all this time. (Sudah saatnya aku kembali ke jalan hidup yang sebenarnya, aku sudah cukup bersabar selama ini.) ' Batin Eleara ketika sudah menapakkan kaki nya ke tangga terakhir menuju pintu pesawat.

Perlahan pesawat itu terbang lepas landas meninggalkan negara Indonesia, sebuah tempat dimana Eleara dapat merasakan masa kecil dengan bahagia meskipun tidak bersama keluarganya.

Eleara menatap ke arah luar jendela yang menampilkan awan awan diketinggian, tepat disebelahnya Darren duduk dengan tenang.

Eleara menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia berbicara. "Mungkin kita akan mendapat sebuah sambutan menarik ketika sudah tiba" ucapnya kepada Darren tanpa menoleh sedikitpun.

Darren menoleh, seakan ia tahu akan sambutan yang dimaksud. "Apapun itu asalkan kau tetap bersamaku" balasnya.

Eleara melirik singkat. "Kenapa kau seperti sangat mencintai ku? bukankah kita belum lama berkenalan, atau kau ada sebuah maksud tertentu untuk mendekatiku?" tanya Eleara penuh selidik.

Darren tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Jadi kau tidak ingat kejadian pertama kali kita bertemu?" Darren bukan menjawab melainkan bertanya balik.

"Tentu saja aku ingat, kau menabrak ku malam itu" jawab Eleara cepat.

"Kau ternyata begitu pelupa sayang, baiklah biar aku ingatkan. Tepat ketika kau berusia 5 tahun saat kakek mu sedang mengadakan sebuah pesta dan ternyata mendapatkan serangan secara tiba-tiba, ada seorang pria remaja yang menarik mu dari kekacauan itu dan membawamu ke sebuah tempat aman, apa kau ingat sayang?" ucap Darren.

Eleara tampak diam memikirkan kejadian yang disebutkan oleh Darren, hingga beberapa saat akhirnya ia mengangguk. "Aku ingat, saat itu aku ditolong oleh pria remaja yang sangat tampan dan bola mata nya bewarna biru seperti mu." ucap Eleara.

"Itu aku sayang" balas Darren.

Bola mata hazel milik Eleara membulat sempurna mendengar pengakuan dari Darren. "Hah? bagaimana bisa itu kau? dan kenapa kau tahu jika gadis kecil yang kau tolong itu adalah aku sedangkan kita tidak berkenalan saat itu?" cecar Eleara dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan.

"Saat itu aku mendampingi ayahku hadir diacara pesta kakek mu, dan setelah aku menolong mu aku sedikit curiga bahwa kau adalah keturunan Arclight dan ternyata setelah kuselidiki dan mendengarkan pengakuan dari mu tebakan ku itu benar"ucap Darren.

Mata Eleara menyipit penuh kecurigaan pada perkataan yang diucapkan oleh Darren. " Benarkah? seberapa persen kau dapat dipercaya tuan Darren?" tanya nya sedikit aneh.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!