"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.35
Hadi menatap tuannya yang sedang diliputi amarah besar. Ini baru berita tentang cucu menantunya, bagaimana jika ia menyampaikan berita soal kelakuan menantu Harsa sendiri? Hadi yang sempat melamun sambil menggelengkan kepala perlahan rupanya tertangkap oleh penglihatan tajam Harsa.
"Ada apa lagi, Hadi? Ceritakan semuanya. Jangan ada yang disembunyikan," titah Harsa dengan suara berat yang mengintimidasi.
Hadi berdehem pelan, mencoba menetralkan kegugupannya. "I-itu, Tuan... Nyonya Kinara. Beliau..." Hadi menjeda ucapannya, menatap Harsa dengan keraguan yang nyata.
"Kenapa dengan Kirana?" tanya Harsa, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Nyonya Kinara baru saja bertemu dengan Emilia. Tampaknya, beliau sedang memberikan jalan bagi Emilia untuk kembali mendekati Tuan Aksara," jelas Hadi dengan hati-hati.
Hadi mengira Harsa akan meledak marah, namun di luar dugaan, pria tua itu justru mengulas senyum tipis yang sarat akan makna. Ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan gerakan santai, seolah baru saja mendengar kabar yang sepele.
"Biarkan saja dia, Hadi. Kita lihat saja sejauh mana usaha menantuku yang ambisius itu akan bertahan," kekeh Harsa sambil menggeleng pelan. Ada nada meremehkan dalam suaranya, seolah ia sudah menyiapkan perangkap yang jauh lebih besar.
Hadi yang melihat ketenangan tuannya hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Kalau begitu, saya pamit undur diri terlebih dahulu."
"Ya, istirahatlah, Hadi. Terima kasih atas laporannya."
"Sama-sama, Tuan."
Hadi pun keluar dari ruangan pribadi Harsa. Begitu pintu tertutup dengan rapat, kesunyian kembali menyelimuti kamar itu. Harsa menatap langit-langit ruangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sudah memikirkan semuanya. Baginya, Kinara dan Emilia hanyalah kerikil kecil, namun ia tak akan membiarkan siapa pun menghancurkan masa depan Aksara dan Aylin—terutama jika itu menyangkut kebahagiaan cucu menantunya yang malang.
*
*
Siang itu, Aylin akhirnya diperbolehkan pulang. Meski fisiknya mulai membaik, ada satu catatan penting dari dokter: ia harus mulai kontrol ke psikolog untuk menyembuhkan traumanya. Obat penenang bukan solusi permanen; itu hanya sekadar pereda cemas yang tidak akan menyentuh akar luka di jiwanya.
Aylin hanya bisa setuju tanpa sanggup membantah, setidaknya tidak di depan Rosalind yang tampak sangat berharap pada kesembuhannya. Setelah urusan administrasi selesai, Aksara segera mendekat dengan kursi roda di tangannya.
"Aku masih bisa jalan sendiri, tahu!" protes Aylin, menatap kursi roda itu dengan dahi berkerut.
"Tidak. Aku tidak mau kamu kecapekan, kamu baru saja pulih," balas Aksara tegas namun lembut. Ia tidak menerima penolakan.
Rosalind yang berdiri di belakang mereka hanya bisa tersenyum tipis. Ada rasa hangat di hatinya melihat perhatian Aksara pada putrinya, meski ia tahu ada mendung yang masih menyelimuti pernikahan mereka.
"Nurut ya, Nak," bujuk Rosalind sambil mengusap lembut lengan Aylin.
Aylin akhirnya menyerah. Dengan helaan napas pasrah, ia mendudukkan dirinya di kursi roda sementara Aksara mulai mendorongnya perlahan menuju parkiran.
Saat mereka melewati koridor utama rumah sakit yang ramai, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan seorang pria. Langkah pria itu mendadak terhenti, matanya terpaku pada sosok wanita yang duduk di kursi roda itu.
Pria itu menoleh, menatap punggung Aylin yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah senyum tipis—yang entah bermakna kerinduan atau sesuatu yang lebih gelap—tersungging di bibirnya.
"Setelah dewasa pun, kamu makin cantik, Aylin," gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan angin, sebelum akhirnya ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Tepat saat pria itu bergumam, Aylin tiba-tiba merapatkan jaketnya. Bulu kuduknya berdiri. Perasaan tidak enak yang sangat akrab—rasa takut yang dulu selalu menghantuinya setiap malam—tiba-tiba menyergap tanpa alasan.
"Kenapa, Aylin? Kamu kedinginan?" tanya Aksara menyadari perubahan sikap istrinya.
"Enggak... aku cuma... merasa ada yang sedang memperhatikanku," bisik Aylin sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor yang ramai, namun ia tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan.
Aksara dan Rosalind ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor, namun mereka tidak menemukan sosok yang mencurigakan di antara kerumunan orang sakit, perawat dan dokter yang lalu lalang.
"Tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaanku saja," ujar Aylin, berusaha menenangkan dirinya sendiri meski detak jantungnya masih belum stabil.
Rosalind dan Aksara mengangguk, lalu Aksara membantu Aylin masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan posisi duduk Aylin nyaman, Aksara duduk di depan bersama Jo. Kali ini Jo yang menyetir, sementara mobil pribadi Aksara dibawa oleh Arvano yang sudah lebih dulu berangkat kembali ke Jakarta.
Selama perjalanan, Aylin hanya diam memperhatikan luar jendela. Ia menatap deretan tiang lampu di jalan tol yang melesat cepat, seolah ingin meninggalkan semua kenangan pahit di rumah sakit itu.
Malam mengerikan saat ia hampir dilecehkan kemarin benar-benar membuka kotak pandora dalam ingatannya. Meski ia belum mengingat detail wajah pelakunya di masa lalu, namun perasaan tercekik, hina, dan ketakutan itu kembali dengan sangat nyata.
"Semoga ini bukan pertanda buruk," bisiknya sangat lirih, nyaris tertelan suara mesin mobil.
Rosalind yang duduk di sampingnya seolah bisa merasakan kegelisahan itu. Ia segera menggenggam tangan Aylin yang dingin dan sedikit gemetar.
"Semua akan baik-baik saja, Aylin. Mama ada di sini," bisik Rosalind menenangkan.
"Iya, Ma," balas Aylin dengan senyum yang dipaksakan, hanya demi meyakinkan sang ibu.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Aylin terus bertanya-tanya. Aku tidak pernah tahu, apakah semua ini benar-benar akan baik untukku, atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar.
Bersambung ....
ko' bisa masukkkk....
Aksara wwoooiii., selamatkan istri'muuuuuu....
Aay : hhuuuuaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ngaku Kamu bedeb4hhhhh.....
dasar laki² bedeb4hhhhh...
astagaaaaaaaa......
hhuuaaaaaaaaaa.....
Otorrrrrrr tegaaaaa......
terlalu banyak beban berat d'berikan...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayah durjana'mu akan runtuh., Paman psikopet'mu ini akan d'penjara....
Emil : Nona., Jumi !!!! N o n a
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣