NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.30

Pengemudi ojek itu benar-benar panik. Napasnya tersengal melihat tubuh Aylin yang terkapar tak berdaya di atas tanah. Ia merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berniat mencari bantuan, namun sialnya sinyal di dalam gang sempit itu benar-benar mati.

"Aduh, gimana ini? Neng, bangun Neng!" serunya lirih sambil menepuk pelan bahu Aylin, namun tak ada respon.

Rasa takut mulai menguasai benak si pengemudi. Khawatir dituduh macam-macam, ia pun terpaksa meninggalkan Aylin sendirian di sana untuk berlari ke arah jalan raya, berharap bisa menemukan warga atau petugas yang bisa membantu.

Di dalam mobil mewah yang kedap suara, Aksara mendadak mencengkeram dadanya. Ada rasa sesak yang menghimpit, sebuah kegelisahan yang tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas. Jantungnya berdegup tidak keruan, seolah sedang memberikan alarm tanda bahaya.

Kegelisahan itu tertangkap jelas oleh Arvano yang sejak tadi tak pernah melepas pandangannya dari Aksara.

"Kamu kenapa, Sa?" tanya Arvano, suaranya terdengar lembut namun penuh selidik.

Aksara menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya. "Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kelelahan," balas Aksara singkat. Tatapannya tetap lurus ke depan, sesekali ia sengaja memperlambat laju mobilnya, berharap melihat sosok Aylin di pinggir jalan yang mereka lalui.

Namun, jalanan Jatinangor yang padat hanya menyuguhkan keramaian orang-orang yang tak ia kenal.

"Lebih baik kita cari hotel saja. Aku capek, ingin istirahat," lanjut Aksara, mencoba mengalihkan pikirannya dari rasa khawatir yang kian membesar.

"Terserah kamu saja," jawab Arvano cepat. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan senyum kemenangan yang tersirat di sudut bibir. Ia merasa lega karena akhirnya Aksara menyerah untuk mencari Aylin.

*

*

Malam pun tiba menyelimuti Jatinangor. Di dalam kamar hotel yang tenang, Arvano sudah terlelap pulas meskipun jam baru menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, tidak dengan Aksara. Kegelisahan di dadanya justru kian membara, membakar rasa kantuknya hingga sirna.

Tanpa suara, Aksara bersiap. Ia memutuskan untuk mencari Aylin secara diam-diam. Karena mobil mewahnya terlalu mencolok dan sulit menembus kemacetan gang, ia akhirnya meminjam sepeda motor milik salah satu petugas hotel.

Aksara menyusuri jalanan yang masih ramai. Tujuannya hanya satu: kembali ke arah Jans Park. Saat sampai di area sekitar gerbang wisata yang sudah sepi itu, ia berhenti di sebuah gerai yang tampak mencolok—tempat yang sempat disinggahi Aylin tadi sore.

"Maaf, Mas. Apa pernah lihat wanita di foto ini?" tanya Aksara sambil menunjukkan layar ponselnya.

Si penjual es memperhatikan foto itu sejenak. "Oh, si Mbak yang mau ke Jakarta itu? Tadi sore sudah diantar ke arah terminal oleh ojek pangkalan sini, Mas."

"Jakarta?" gumam Aksara. Jantungnya mencelos. Namun, entah kenapa, instingnya berteriak bahwa Aylin tidak benar-benar pergi jauh. "Kalau dari sini ke arah terminal, lewat mana jalan yang paling cepat?"

Setelah mendapat penjelasan rute—termasuk jalan-jalan tikus yang biasa diambil ojek—Aksara segera memacu motornya. "Terima kasih, Mas!"

Di saat yang bersamaan, di sebuah gang gelap yang lembap, Aylin perlahan membuka matanya. Rasa pening masih menghantam kepalanya, namun ketakutan jauh lebih mendominasi. Ia menatap sekeliling dengan napas tersengal; gang ini terasa seperti labirin hantu baginya.

Dengan sisa tenaga, Aylin bangkit berdiri. Ia tidak mau menunggu lebih lama di tempat asing ini. Ia harus pergi, ke mana saja asal bukan di sini.

Hanya berselang beberapa menit setelah Aylin pergi dengan langkah gontai, si pengemudi ojek kembali bersama seorang warga.

"Loh! Ke mana si Eneng tadi? Harusnya dia masih di sini!" seru si tukang ojek panik, matanya mencari-cari di balik kegelapan.

"Mungkin sudah ada yang menolong, Pak," sahut warga yang dibawanya. "Sudahlah, Pak. Lebih baik kita pergi saja. Jangan sampai kita malah terlibat masalah kalau ada apa-apa nanti. Ayo!"

Aylin terus berjalan tanpa arah, memeluk tasnya erat seolah itu adalah satu-satunya pelindung. Pikirannya kembali terlempar ke masa SD. Saat itu ia pulang malam setelah berjuang mencari uang, menyusuri gang sempit dan gelap yang persis seperti ini.

Langkah kaki Aylin terhenti. Di depannya, terlihat beberapa preman sedang nongkrong sambil tertawa keras. Suara tawa mereka yang parau bergema di dinding gang, membuat bulu kuduk Aylin berdiri. Segalanya terasa persis seperti memori kelam yang dulu menghancurkannya.

"Enggak... aku harus lewat. Semoga mereka tidak melihatku," bisiknya dengan suara bergetar hebat. Di tengah keputusasaan itu, setitik penyesalan muncul di hatinya. Kenapa aku harus pergi dari Aksara?

Aylin mencoba merapat ke arah yang lebih gelap, berusaha mengecilkan tubuhnya agar tidak terlihat. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Aroma parfumnya atau mungkin suara langkah kakinya yang gemetar menarik perhatian salah satu dari mereka.

"Wah, ada bidadari nyasar di gang gelap begini sendirian?" Suara parau itu membuat jantung Aylin berhenti berdetak.

Ketiga preman itu bangkit, mengepung Aylin hingga gadis itu terpojok di sudut tembok yang lembap. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat mulai menyesakkan rongga dadanya.

"Mau ke mana, Cantik? Sini main dulu sama abang," ucap salah satu preman sambil menjulurkan tangan, mencoba menyentuh pipi Aylin yang masih memar bekas tamparan Lusi.

"Pergi, jangan ganggu saya. Saya mau pulang," katanya dengan berani, walau suaranya bergetar. Aylin, mundur selangkah.

"Galak amat sih, Neng. Ayo ikut Abang, disini dingin loh!" goda salah satu preman, mulai menyentuh tangan Aylin.

"Jangan... tolong jangan sentuh saya!" pekik Aylin dengan suara serak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, bayangan masa kecilnya kini tumpang tindih dengan kenyataan pahit di depannya.

Dua orang preman berhasil memegang tangannya, membuat Aylin panik dan mulai merasakan sesak saat mereka menuju salah satu rumah kosong disana.

"Jangan, tolong! Tolong..." Pekik Aylin, mereka tertawa.

"Teriak sesukamu cantik, percuma disini tidak akan ada yang lewat."

Hahaha, mereka melempar Aylin sampai jatuh merasakan kerasnya tembok yang dingin.

"Engga, jangan lakukan itu." Isak Aylin, dia semakin memeluk tasnya.

Kilas balik masa lalu, menghantui pikirannya. Membuat Aylin kesulitan bernafas preman yang melihat itu berhenti, tapi yang lain tak peduli.

Tangan kasar itu mulai meraba bahunya, kemudian turun hendak menarik paksa tas yang ia dekap sebagai benteng pertahanan terakhir. Saat jemari kasar itu mulai menyentuh kulit lehernya dan tawa menjijikkan mereka kian merapat ke telinganya, Aylin hanya bisa memejamkan mata dengan air mata yang mengalir deras.

Dunia seolah melambat, suara tawa para preman itu perlahan memudar, berganti dengan degup jantungnya sendiri yang berpacu liar. Dalam kegelapan yang menyelimuti penglihatannya, hanya satu nama yang ia panggil dengan sisa kekuatannya.

Mas Aksara, tolong...

Bersambung ...

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!