Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
[9 Maret, matahari bersinar cerah. Plot hari ini tidak terlalu penting.]
[Sebagian besar isinya cuma tentang gimana Langgeng Sakti berburu siluman di hutan, terus ketemu bandit-bandit amatir yang mau rampas buruannya. Dia awalnya sabar dan pemaaf, tapi bandit-bandit itu malah makin ngelunjak, sampai akhirnya Langgeng nggak tahan dan hajar mereka semua. Klasik.]
[Istilah kerennya apa ya? Oh, "tekan dulu, baru angkat".]
[Tapi jujur, naskahnya ampas banget. Bahkan seekor anjing yang jalan di atas keyboard pun bisa nulis lebih bagus dari penulis buku ini.]
[Aksi hajar-menghajar itu nggak memancing musuh yang lebih kuat, nggak ningkatin konflik, nggak ada interaksi sama karakter cewek buat nyenengin pembaca, pokoknya hambar.]
[Sepertinya penulis buku 'Harem Sang Pendekar Dewa' ini memang kurang kopi. Plotnya diulur-ulur sampai berjilid-jilid cuma demi pundi-pundi rupiah dari pembaca daring.]
Jaka Utama menutup buku hariannya.
"Kenapa rasanya aku juga lagi nulis omong kosong ya?"
"Tapi ya mau gimana lagi, di naskah aslinya hari-hari terakhir Musim Berburu memang nggak ada konflik besar. Cuma ajang pamer kekuatan Langgeng Sakti, berburu mustika siluman buat diserap Nyai Geni Tirta supaya kekuatannya pulih, dan semacamnya."
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +2]
[Pesona Wajah +2]
Lho?
"Kenapa nggak ada hadiahnya?!" Jaka tercengang. Biasanya selalu ada barang bagus yang muncul. Perasaan kosong ini bikin dia nggak nyaman, apalagi hadiah-hadiah sistem itu sangat membantu kelangsungan hidupnya.
"Mungkin karena tulisanku terlalu dikit?"
Jaka mencoba memutar otak, mencari plot lain yang bisa ditulis untuk memancing hadiah keluar.
"Oh iya, Hana Yudaningrat! Harusnya dia sampai di Padepokan Tanpa Beban hari ini, kan? Hmm, tulis soal dia saja."
[Hari ini Hana Yudaningrat harusnya sampai di padepokanku.]
[Meski dia bukan heroine utama, dia itu karakter antagonis cewek yang penting banget.]
[Dan yang paling penting... dia itu istriku.]
[Sial, dia itu punya kelainan. Dia suka disakiti dan suka banget kalau aku menyiksanya. Benar-benar mesum garis keras.]
[Begitu Musim Berburu selesai dan aku pulang, aku harus ikut wasiat orang tua buat nikahin Hana Yudaningrat yang aneh ini.]
[Hidupku malang banget. Siangnya harus jadi pemuja rahasia 'anjing polos' Ratna Menur, malamnya harus ngadepin istri yang hobi disiksa. Capek hati, capek fisik.]
[Semoga sistem kasih hadiah buat hiburan...]
Pada saat yang sama, sekitar sepuluh mil di sebelah selatan posisi Jaka. Berdiri seorang wanita di atas dahan pohon beringin raksasa. Parasnya cantik jelita, kebaya birunya berkibar tertiup angin hutan.
Jika Jaka melihat bekas luka berbentuk kupu-kupu kecil di pipi wanita itu, dia pasti akan gemetaran. Wanita ini adalah Hana Yudaningrat!
Dia bukannya di Padepokan Tanpa Beban, tapi malah langsung menyusul ke Pegunungan Merapi ini setelah berangkat dari Padepokan Matahari!
"Jadi aku ini karakter antagonis, ya?" Hana Yudaningrat tersenyum tipis sambil menatap buku harian gaib di tangannya.
"Suamiku sayang, kalau kita sudah menikah nanti, aku akan kasih kamu 'hadiah' yang beda setiap harinya," gumamnya dengan tatapan tajam ke arah bawah pohon.
Di bawah sana, ada tujuh pendekar bertampang sangar yang mengepung seorang pemuda berjubah hitam. Pemuda itu adalah Langgeng Sakti.
"Buku harian bilang bandit rendahan yang ganggu Langgeng. Tapi itu membosankan. Jadi aku sengaja sewa 'Tujuh Pendekar Bengis' buat uji kekuatannya," batin Hana Yudaningrat antusias. Dia ingin tahu apakah Langgeng bisa menang seperti di buku atau justru babak belur.
"Heh, aku nggak ada urusan sama kalian! Kalian mau hajar aku cuma karena aku lebih ganteng?!" teriak Langgeng Sakti emosi.
Tiba-tiba saja tujuh orang aneh ini muncul saat dia sedang melawan babi hutan. Alasan mereka? Cemburu karena Langgeng lebih tampan.
Seorang pria kuntet bermuka licik melompat maju. "Kalau kamu Gusti Jaka, kami bakal lewat saja. Tapi karena kamu bukan dia, kamu harus dihajar! Ayo teman-teman, telanjangi dia dan buang ke rawa!"
Trang! Trang!
Tujuh orang itu menyerbu. Langgeng meraung, tenaga dalamnya meledak sampai bajunya robek memperlihatkan ototnya yang kokoh. Tapi lawan kali ini berat; lima orang di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam' dan dua di tingkat 'Lautan Qi'.
Tiga menit kemudian, Langgeng Sakti merangkak keluar dari lumpur rawa dengan kondisi memprihatinkan, tubuhnya penuh memar.
"Tujuh Pendekar Bengis! Aku nggak akan lepasin kalian! Ini penghinaan!!!"
Suara teriakan Langgeng sampai ke telinga Hana Yudaningrat. "Heh, ternyata Langgeng gagal hajar balik. Berarti isi buku harian ini bisa diubah."
"Tapi keren juga, dia masih hidup meski dikeroyok tujuh orang level atas. Potensinya lumayan." Hana Yudaningrat melompat turun dan mendarat anggun di depan Langgeng.
"Siapa lagi ini?!" Langgeng waspada penuh. Gurunya sedang memulihkan diri di ruang hampa dan nggak bisa bantu sekarang.
"Namaku Hana Yudaningrat, murid Padepokan Matahari. Tapi beberapa hari lagi, aku akan jadi istri pemimpin Padepokan Tanpa Beban. Kamu bisa panggil aku Nyonya Jaka."
"Nyonya Jaka? Mau apa kamu!" Langgeng panik. Apa dia mau bunuh aku buat bela suaminya? Aura wanita ini tenang tapi sangat dalam, minimal tingkat 'Penyatuan Asal'!
Langgeng diam-diam menyiapkan "Kartu As"-nya, sebuah rahasia mematikan yang bahkan gurunya, Nyai Geni Tirta, nggak tahu. Namun, kata-kata Hana Yudaningrat berikutnya menghentikan niatnya.
"Tenang, aku ke sini bukan buat bunuh kamu. Aku lihat bakatmu lumayan. Jadi, aku mau tawarkan kerja sama rahasia."
Di sisi lain, Jaka Utama selesai menulis penutup.
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +2] (12/100)
[Pesona Wajah +2] (12/100)
[Hadiah diperoleh: Aji Kebangkitan Sukma (Aturan)]
[Deskripsi: Langit adalah Ayah, Bumi adalah Ibu, Tuan adalah Dewa Kehidupan. Dapat menghidupkan kembali satu karakter yang sudah mati, hanya sekali.]
[Catatan 1: Karakter yang dihidupkan bisa dibawa ke dunia nyata setelah selesai.]
[Catatan 2: Karakter yang dihidupkan akan menerima secara acak satu dari hadiah Tuan: Raga Manusia Baja, Raga Penawar Segala Racun, Ajian Panglimunan.]
[Peringatan: Hadiah yang diterima karakter tersebut akan hilang permanen dari diri Tuan.]
---