Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Satu jam kemudian, Jaka Utama berhasil meloloskan diri dari jeratan Hana Yudaningrat. Akhirnya, tidak ada bahaya yang terjadi, dan dia berhasil kembali ke kapal udara pribadinya.
Hari ini, harusnya serangan Racun Tirta Naningsih sudah selesai.
Ratna Menur, si heroine utama, jangan sampai celaka di tangan Naningsih.
Dalam diam, Jaka berdoa. Dia mengambil ancang-ancang dan melompat ke dek kapal udara. Baru saja mendarat, dia dikagetkan oleh suara teriakan yang aneh.
“Yuaaa—!”
“Kyyaaa!”
Satu teriakan melengking yang tinggi dan panjang, disusul satu teriakan pendek. Suara itu berasal dari kamar Naningsih yang berada di sebelah kamarnya.
Apa itu? Gawat! Itu dari kamar Naningsih!
Dan suara satunya... itu suara Ratna Menur!
Fiuh~ untungnya dia masih hidup! Ratna tidak mati. Hadiah-hadiah sistemku aman!
Jaka merasa lega. Dia sangat mengenal suara itu. Itu suara Ratna Menur, tapi mengapa dia berteriak seheboh itu? Apa dia ketakutan melihat kekuatan Naningsih? Jaka harus mencari tahu sekarang mengapa Ratna Menur mencarinya, jika tidak, dia tidak akan tenang.
Jaka dengan cepat melangkah menuju kamar Naningsih. Tepat saat dia hendak mengetuk pintu, pintu terbuka dari dalam dan sebuah bayangan bergegas keluar.
Braakk!
Bayangan itu bertabrakan keras dengan Jaka Utama.
“Aduh! Sakit!”
“Brengsek! Apa kamu tidak punya mata anjing... Menur? Apa yang kamu lakukan di sini? Ohhh, aku sangat merindukanmu!”
Jaka, yang keningnya benjol, hampir saja meledak memaki. Beruntung, dia ingat tepat waktu bahwa dia sedang berperan sebagai pemuja rahasia di depan Ratna Menur, jadi tidak mungkin dia memarahinya.
“Apa kamu baik-baik saja, Menur? Mari kubantu berdiri.”
Sikap Jaka penuh perhatian saat membantu Ratna berdiri dari lantai. Kebaya Ratna agak berantakan, sedemikian rupa sehingga Jaka sempat melihat kain kemben hijau zamrud di balik kerahnya. Pada kain itu terdapat sulaman nama 'Ratna', hanya saja posisinya terbalik.
“Aaaah! Ini Jaka Utama! A-aku mau pulang! Dadah!”
Segera setelah Ratna Menur melihat Jaka, wajahnya yang sudah merona langsung berubah menjadi lebih merah daripada tomat matang. Kemudian aroma wangi berhembus dan tubuhnya melesat secepat kilat keluar dari kapal udara pribadi tersebut. Kecepatannya sangat tinggi sampai Jaka tidak sempat bereaksi.
“Ini... dia... maunya apa sih? Bukannya dia ke sini mencariku? Kenapa malah lari pas melihatku?” Jaka menggaruk kepalanya bingung.
Pada saat itu, aroma harum yang aneh muncul dari belakangnya. Sedikit rasa hangat menjalar, dan saat dia berbalik, di sanalah berdiri Naningsih.
Rambutnya yang panjang diikat tinggi, dan rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. Jubah mandi sutra bermotif bunga ungu tersampir di tubuhnya yang sintal. Garis leher jubah itu merenggang, menonjolkan lekukan yang sangat jelas. Tulang selangka yang putih mulus masih ternoda tetesan air kristal. Secara keseluruhan, dia tampak seperti kecantikan yang menggairahkan yang baru saja selesai melakukan ritual berat. Hanya saja wajahnya tampak dingin.
Bukan sekadar dingin... sepertinya ada sedikit rasa tidak senang? Hal ini membuat nyali Jaka menciut sesaat.
“Ningsih, kamu... ada apa?” tanya Jaka pelan.
Naningsih menatap Jaka dan bertanya dengan nada rendah namun mengintimidasi. “Ke mana saja kamu selama dua hari terakhir ini?”
“Uh...” Jaka tersentak. Sial, dia lupa. Naningsih adalah asisten pribadinya yang hampir tak terpisahkan. Dia bukan hanya mengurus hidup Jaka, tapi juga keselamatannya. “Tidak ke mana-mana, aku cuma mancing santai di sekitar sini, main air, makan ikan bakar di sungai sambil lihat gunung. Nggak ada bahaya kok, beneran.”
Jaka terpaksa mengarang alasan. Dia tidak tahu Naningsih percaya atau tidak, tapi Naningsih hanya menatapnya tajam. “Jangan ada yang kedua kali!” cetus Naningsih dingin sebelum hendak menutup pintu.
“Ningsih tunggu! Kenapa Ratna Menur ada di kamarmu?” seru Jaka.
Tiba-tiba, tatapan Naningsih berubah sedingin es. Ada sedikit... niat membunuh? Jaka tersentak, namun demi tahu alasan Ratna ke sini, dia tetap mendesak.
“Ningsih, Ratna Menur ngapain ke sini? Aku dengar dia sampai menginap sehari semalam. Kamu tahu kan ada apa?” tanya Jaka selembut mungkin sambil memasang senyum paling tampan, takut kalau Naningsih marah dia bakal dihajar.
“ENYAHLAH!”
BRAAKKK!!!
Pintu terbanting keras. Jaka ditinggalkan sendirian di luar dengan senyum yang kaku. Sialan, aku sampai bingung siapa yang majikan dan siapa yang asisten di sini! Kenapa juga aku takut padanya? Ya jelas, takut dia bunuh aku beneran!
Jaka teringat di reinkarnasi sebelumnya, saat dia mencoba mengatur-atur Naningsih, dia hampir saja kehilangan nyawanya. Jaka pun meredam amarahnya.
Sudahlah, mending pikirkan masalah munculnya Hana Yudaningrat di sini. Perubahan sikap Nyai Geni Tirta juga misterius. Duh, capek hati. Jaka menghela napas dan kembali ke kamarnya. Sisa dua hari Musim Berburu ini dia berencana melacak semua kekacauan plot lewat buku harian.
Di dalam gua tebing yang tersembunyi.
“Guru, Hana Yudaningrat itu rupanya melihat bakatku.”
“Makanya dia rutin memberiku bekal kultivasi.”
“Dia ingin aku membantunya menghancurkan Padepokan Matahari suatu hari nanti. Visinya tajam juga.”
Langgeng Sakti duduk bersila, mengonsumsi jamu dan ramuan dari Hana Yudaningrat untuk menyembuhkan lukanya. Dia berkomunikasi dengan Nyai Geni Tirta di dalam pikirannya.
“Guru, bagaimana keadaan Anda? Apa mustika siluman dariku cukup untuk memulihkan kekuatan Anda?”
[Lumayan.]
Di dalam ruang sukma, Nyai Geni Tirta dengan tubuh ekor ularnya menyerap mustika siluman di atas dipan batu. Karena mustika yang diberikan Langgeng cukup banyak dan ada satu yang tingkat 'Transformasi', kekuatannya pulih sekitar delapan puluh persen.
“Guru, menurut Anda, apa aku bisa tembus ke tingkat Dewa Pendekar suatu hari nanti?”
[Bisa.]
Nyai Geni menjawab tanpa ragu. Dulu dia tidak yakin karena Langgeng gampang tergoda wanita dan punya banyak beban emosi. Tapi setelah tahu Langgeng adalah "Protagonis", dia yakin takdir Langgeng akan luar biasa.
“Hahahaha! Berarti Guru memang hebat mengajariku! Bakatku jadi berkembang pesat!” Langgeng tertawa bangga. “Dunia ini memang tempat yang kuat memangsa yang lemah. Aku harus jadi yang paling kuat!”
Langgeng membayangkan masa depannya. Ratna Menur yang cantik, Nyai Ratih yang anggun, Naningsih yang dewasa, Hana Yudaningrat yang menawan... bahkan gurunya sendiri, si loli rambut hitam, Nyai Geni Tirta!
“Aku, Langgeng Sakti, akan menjadi penguasa tertinggi dan memiliki segalanya!”
Kepercayaan diri Langgeng meroket. Dia merasa takdir dunia sudah ada di bawah kakinya.
[Benar, cuma yang kuat yang bisa memiliki segalanya.] Nyai Geni Tirta setuju. Tapi di dalam hatinya dia menambahkan: dan orang kuat yang punya belas kasihan akan kehilangan segalanya.
Tiba-tiba, Nyai Geni merasakan sesuatu. Dia berhenti menyerap energi dan memanggil Buku Harian Jaka Utama dengan bersemangat.
[10 Maret, Hari Mendung.]
[Suasana hatiku lebih suram daripada cuaca hari ini.]
[Ada tiga wanita yang sangat menggangguku.]
“Tiga wanita?”
“Apa ada namaku di sana?”
Nyai Geni menggembungkan pipinya. Dia selalu menantikan pembaruan buku harian Jaka setiap hari untuk mengetahui nasibnya sendiri.