Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Liana menatap Abi dengan tatapan yang kosong namun menuntut jawaban.
Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak kemerahan di pipinya.
Kalimat yang sejak tadi tertahan di kerongkongannya akhirnya meluncur dengan getir.
"Lalu, apa artinya aku bagimu, Mas? Apakah pernikahan ini hanya pelarian? Apakah perhatianmu selama ini hanya cara untuk menebus dosa masa lalumu?" Liana berhenti sejenak, suaranya bergetar hebat.
"Kalau Mas memang tidak pernah benar-benar mencintaiku sebagai seorang wanita, kalau keberadaanku hanya untuk memenuhi ambisi Genata akan seorang anak. Kita bercerai saja. Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi."
"A-aku ikhlas.. " Liana hendak melanjutkan kalimatnya, namun suaranya tercekat oleh isak yang kembali naik.
Tanpa peringatan, Abi bergerak maju. Ia merangkup wajah Liana dengan kedua tangannya dan langsung mencium bibir istrinya
Liana membelalakkan matanya. Tubuhnya kaku, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
Ini bukan ciuman biasa. Ia bisa merasakan air mata Abi yang jatuh membasahi pipi mereka berdua.
Abi menciumnya seolah-olah dunianya akan runtuh jika ia melepaskan Liana detik itu juga.
Perlahan, Abi melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Liana.
Napas mereka memburu, menyatu dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku mencintaimu, Li. Sangat mencintaimu," bisik Abi dengan suara serak yang sarat akan beban.
"Dunia Mas sempat gelap, tapi kamu adalah cahaya yang menarik Mas kembali. Mas menikahi kamu karena Mas egois. Mas ingin memilikimu, Mas ingin menjagamu, dan Mas ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa Mas bisa menjadi pria yang pantas untukmu."
Abi menatap mata Liana, kali ini tanpa ada lagi rahasia yang disembunyikan.
"Masa lalu itu adalah kesalahan, tapi mencintaimu adalah satu-satunya hal benar yang pernah Mas lakukan dalam hidup ini. Tolong, jangan bicara tentang cerai. Mas lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilangan kamu dan anak kita."
Liana terpaku, ia bisa merasakan ketulusan yang murni dari getaran tubuh Abi.
Dinding pertahanannya mulai goyah, namun kenyataan tentang Genata masih membayangi.
Liana melingkarkan lengannya di leher Abi, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Isak tangis mereka pecah bersamaan, memenuhi sudut kamar yang semula terasa mencekam.
Di dalam dekapan itu, Liana merasakan detak jantung Abi yang berdegup kencang, sebuah detak jantung yang kini ia sadari telah berjuang sendirian melawan ketakutan selama bertahun-tahun.
"Aku memaafkanmu, Mas. Aku memaafkan masa lalumu," bisik Liana di sela isak tangisnya.
Abi semakin erat memeluk Liana, seolah tidak ingin ada ruang sedikit pun yang bisa memisahkan mereka lagi.
"Terima kasih, Li. Terima kasih sudah tetap di sini."
Liana perlahan melepaskan pelukannya, menghapus air mata di pipi Abi dengan jemarinya yang masih sedikit gemetar.
Sorot matanya kini berubah, tidak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh keberanian yang baru.
"Mas, kita tidak boleh terus lari. Genata akan terus mencekik kita dengan rahasia itu jika kita diam saja," ucap Liana tegas.
"Kita adakan konferensi pers. Kita ungkapkan kebenaran versi kita sebelum dia menghancurkan semuanya. Aku tidak mau perusahaanmu yang sudah kamu bangun dengan keringat dan air mata hancur begitu saja hanya karena ancaman wanita itu."
Abi tertegun, ia tidak menyangka Liana, wanita yang selama ini ia anggap rapuh, justru menjadi orang pertama yang mengajaknya untuk berdiri tegak melawan badai.
"Tapi Li, namamu juga akan terseret. Orang-orang akan membicarakan pernikahan kita, membicarakan masa laluku. Kamu akan tertekan," ujar Abi khawatir akan kondisi mental dan kehamilan Liana.
Liana menggeleng mantap. "Aku lebih kuat dari yang kamu kira, Mas. Selama kita bersama, aku tidak peduli apa kata dunia. Kita harus mematikan kartu as-nya sekarang juga."
Abi menatap Liana dengan rasa bangga dan cinta yang tak terukur.
Ia menyadari bahwa kejujuran telah membebaskan mereka. Dengan mantap, Abi menganggukkan kepalanya.
"Baik, Li. Kita lakukan bersama. Mas akan panggil tim legal dan humas perusahaan sekarang. Kita tidak akan membiarkan dia menang lagi."
Sebelum badai besar yang akan mereka hadapi di depan kamera dan lampu flash para wartawan, Abi ingin memastikan bahwa setidaknya untuk saat ini, rumah mereka kembali menjadi tempat yang aman. Ketegangan tadi pagi telah menguras banyak tenaga mereka.
"Li, sebelum kita mulai semuanya. Mari kita selesaikan sarapan kita dulu," ajak Abi lembut.
Ia membantu Liana berdiri dan menuntunnya kembali ke ruang makan.
Panada yang tadi sempat mendingin kini dihangatkan kembali.
Abi duduk di samping Liana, bukan lagi di kursi yang jauh.
Suasana dapur yang tadinya mencekam karena kedatangan Genata, perlahan kembali hangat oleh sinar matahari pagi yang semakin terang.
Liana mengambil sepotong panada, tangannya masih sedikit gemetar, namun matanya menunjukkan ketenangan.
Ia mematahkan bagian kecil, lalu mengarahkannya ke bibir Abi.
"Makanlah, Mas. Kamu butuh tenaga untuk menghadapi mereka semua nanti," ucap Liana lembut.
Abi menatap mata Liana, mencari sisa-sisa kebencian, namun yang ia temukan hanyalah dukungan yang tulus.
Abi membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
Rasa pedas gurih dari kue itu terasa jauh lebih nikmat karena disuapi oleh wanita yang kini benar-benar menjadi belahan jiwanya.
"Terima kasih, Sayang," bisik Abi setelah menelan makanannya.
Ia kemudian membalas dengan menyuapi Liana sesendok bubur yang masih hangat.
Momen sederhana ini menjadi ritual penguatan bagi mereka.
Di atas meja makan itu, di tengah suapan demi suapan, mereka tidak lagi bicara tentang ketakutan atau rahasia.
Mereka bicara tentang kekuatan. Liana sesekali mengusap punggung tangan Abi, meyakinkan suaminya bahwa apa pun yang dikatakan publik nanti, ia akan tetap berdiri di sampingnya.
Setelah memastikan Liana meminum susu cokelat dan vitaminnya sampai habis, Abi menggenggam tangan istrinya erat.
"Sudah siap?" tanya Abi.
Liana mengangguk mantap. "Sangat siap. Mari kita jemput kebebasan kita, Mas."
Abi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju salah satu hotel berbintang di pusat kota, tempat tim humas perusahaannya telah menyiapkan ruang konferensi pers.
Di dalam mobil yang kedap suara itu, keheningan sempat menyelimuti mereka, namun bukan lagi hening yang mencekam, melainkan hening yang penuh dengan tekad.
Tangan kiri Abi tetap menggenggam erat jemari Liana di atas konsol tengah.
Sesekali ia melirik istrinya, memastikan bahwa Liana tidak merasa terlalu tegang.
"Jika nanti di dalam kamu merasa lelah atau tidak nyaman dengan pertanyaan wartawan, beri kode pada Mas, ya? Kita bisa langsung mengakhirinya," ucap Abi dengan nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan.
Liana membalas genggaman tangan Abi, jarinya mengelus punggung tangan suaminya dengan lembut. "
Aku tidak apa-apa, Mas. Justru aku yang khawatir padamu. Menghadapi publik dengan kejujuran seperti ini butuh keberanian besar. Aku bangga padamu."
Abi menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya.
"Keberanian ini datangnya dari kamu, Li. Kalau bukan karena dukunganmu pagi tadi, mungkin Mas masih bersembunyi di balik pintu kamar itu."
Begitu mobil memasuki pelataran hotel, terlihat kerumunan wartawan dengan kamera yang sudah bersiaga di depan lobi.
Berita tentang konferensi pers mendadak dari CEO muda yang sedang naik daun ini telah menyebar cepat.
Petugas keamanan hotel segera menghampiri mobil Abi untuk membukakan jalan. Sebelum turun, Abi menatap Liana sekali lagi.
"Siap, Sayang?"
"Siap, Mas. Mari kita selesaikan ini," jawab Liana dengan suara mantap.
Abi turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Liana.
Dengan protektif, ia merangkul pinggang istrinya, melindungi Liana dari desakan pemburu berita saat mereka melangkah masuk ke dalam lobi hotel menuju ruangan yang telah disiapkan.
makasih kak 👍
tenang biarkan Liana bahagia walau tidak dgn paman
semua punya derita masing "
mudah tersulut emosi
ringan tangan
lepaskan saja istri keduamu dari pada terus kau lukai
Tahan emosi Abi ini akan menambah kesakitan yang luar biasa untuk istri keduamu
untuk apa ?
selalu ada korban 💪