NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden, menyinari kamar baru Liana yang bernuansa peach itu.

Liana terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Perlahan, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Abi yang meringkuk di atas sofa.

Kaki panjang suaminya tampak tidak leluasa di sana, dan kemeja yang ia kenakan terlihat sangat kusut karena tidak sempat diganti.

Liana terdiam sejenak. Hatinya sedikit berdesir melihat betapa kerasnya Abi berusaha untuk tetap berada di dekatnya tanpa melanggar janjinya.

"Mas nggak kerja?" tanya Liana dengan suara yang masih agak serak.

Abi tersentak, kelopak matanya perlahan terbuka. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menyadari kehadiran Liana yang berdiri di ambang pintu.

Abi segera membenarkan posisi duduknya, mencoba menghalau rasa pegal di punggungnya sambil tersenyum tipis.

"Selamat pagi, Sayang," jawab Abi dengan suara khas bangun tidur.

Ia melirik jam di dinding. "Mas, kerja nanti berangkat jam sepuluh nanti. Mas sengaja ambil jam agak siang supaya bisa menyiapkan sarapan untukmu dan memastikan kamu sudah meminum obat pagi."

Liana memperhatikan suaminya yang kini mulai berdiri sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

"Duduklah dulu, Li. Mas akan buatkan bubur ayam kesukaanmu dan teh hangat. Jangan terlalu banyak berdiri, kakimu masih lemas," lanjut Abi dengan nada yang sangat protektif namun lembut.

Melihat Abi yang tampak sangat mengantuk namun langsung sigap ingin mengurusnya, Liana tidak memberikan penolakan.

Ada sedikit kehangatan yang mulai mencairkan dinding es di hatinya, meski ia tahu butuh waktu lama untuk benar-benar pulih.

Liana berjalan perlahan mengikuti Abi ke dapur. Melihat punggung suaminya yang sedang sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas, Liana pun berujar pelan, "Mas, boleh aku bantu? Setidaknya memotong sayurannya."

Abi menoleh dengan wajah terkejut, sekaligus sangat senang.

"Boleh, Li? Tapi kamu duduk saja ya, biar Mas yang ambilkan talenan dan sayurnya ke meja makan. Mas tidak mau kamu berdiri terlalu lama."

Abi segera menyiapkan segalanya di meja makan agar Liana bisa bekerja sambil duduk.

Ia membawakan beberapa tangkai seledri, wortel, dan ayam yang sudah direbus.

Mereka pun mulai bekerja berdampingan dalam keheningan yang sedikit canggung.

Hanya terdengar bunyi pisau yang beradu dengan talenan dan gemericik air dari wastafel tempat Abi mencuci beras.

"Mas, tadi malam tidurnya tidak enak ya di sofa?" tanya Liana tanpa menoleh, fokus memotong wortel menjadi dadu kecil.

Abi sempat terhenti sejenak, lalu tersenyum kecil.

"Sedikit pegal, tapi jauh lebih nyenyak daripada tidur di kamar atas sendirian sementara kamu di bawah. Mas cuma ingin pastikan kamu aman."

Liana terdiam, lalu ia menyodorkan piring berisi potongan sayuran kepada Abi.

Saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat memindahkan piring, Liana tidak langsung menarik tangannya seperti biasanya.

Ada getaran kecil, sebuah rasa yang dulu pernah sangat ia cintai, kini mencoba menyelinap kembali di tengah luka.

"Terima kasih sudah memikirkan kenyamananku sampai sedetail ini, Mas," bisik Liana lirih.

Abi menatap Liana dengan penuh kasih, matanya seolah bicara bahwa ia akan melakukan hal yang sama ribuan kali lagi jika itu bisa mengembalikan senyum Liana.

Dapur yang baru itu pun mulai dipenuhi aroma harum kaldu ayam, menjadi saksi pertama dari kerja sama mereka untuk memperbaiki apa yang sempat hancur.

Suasana sarapan yang semula tenang dan hangat seketika berubah mencekam.

Liana baru saja menyesap susu coklat hangatnya saat pintu pagar yang belum sempat dikunci rapat terbuka kasar.

Genata berdiri di sana dengan wajah penuh amarah dan mata yang menyala.

Ternyata, dia telah membuntuti mobil Abi sejak kemarin tanpa mereka sadari.

"Oh, jadi di sini persembunyian kalian?" teriak Genata sinis sambil melangkah masuk ke ruang makan.

Tubuh Liana seketika gemetar hebat. Gelas susu di tangannya bergetar hingga isinya sedikit tumpah.

Abi dengan sigap langsung menggenggam erat tangan Liana, mencoba memberikan perlindungan dan kekuatan.

"Gen! Pergi dari sini! Ini rumah pribadi kami, kamu tidak punya hak ada di sini!" bentak Abi dengan suara menggelegar, matanya menatap tajam penuh ancaman.

Genata tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Liana.

"Mau menceraikan aku, Mas? Kamu yakin? Kamu lupa kalau rahasia besar kamu ada di tanganku?"

"Gen, cukup!" teriak Abi, namun suaranya terdengar sedikit goyah karena kepanikan.

Genata menatap Liana dengan pandangan merendahkan.

"Liana, kamu harus tahu siapa laki-laki yang kamu bangga-banggakan ini. Kamu harus tahu kalau suami kamu ini seorang gay! Dia hanya menjadikanmu tameng untuk menutupi kelainan dan rahasia busuknya selama ini!"

Dunia seolah berhenti berputar bagi Liana. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat.

Ia perlahan menoleh ke arah Abi, mencari bantahan, mencari kejujuran, atau setidaknya penjelasan di mata suaminya.

Wajah Abi kini pucat pasi, cengkeraman tangannya pada tangan Liana terasa semakin dingin dan berkeringat.

"Benar itu, Mas?" bisik Liana dengan suara yang nyaris hilang.

Genata yang merasa sudah memberikan ledakan yang cukup, berbalik badan dengan angkuh.

"Pikirkan itu baik-baik, Liana. Kita belum selesai, Mas Abi!" teriaknya sambil melangkah pergi meninggalkan rumah, menyisakan kehancuran yang lebih dahsyat dari sebelumnya di dalam rumah baru itu.

Abi masuk ke dalam kamar dan segera memutar kunci dari dalam dengan tangan yang bergetar hebat.

Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai.

Napasnya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Suara teriakan Genata tadi masih terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepalanya.

Rahasia yang selama ini ia kubur sedalam mungkin, rahasia yang membuatnya merasa seperti monster, kini telah terbongkar di hadapan Liana satu-satunya orang yang paling ingin ia lindungi.

Pikiran Abi melayang kembali ke kejadian beberapa tahun yang lalu.

Saat di mana ia berada di titik terendah hidupnya, terjebak dalam kebingungan identitas dan pergaulan yang salah.

Ia mengingat bagaimana Genata menemukan bukti-bukti masa lalunya dan menggunakan hal itu untuk mengikatnya dalam pernikahan yang penuh ancaman.

Genata tahu segalanya, dan wanita itu tidak pernah ragu untuk menggunakannya sebagai senjata.

Tok! Tok! Tok!

Suara gedoran pintu kamar memecah keheningan. Itu suara Liana.

"Mas! Mas Abi, buka pintunya!" teriak Liana dari luar.

Suaranya terdengar cemas, bercampur dengan isak tangis yang tertahan.

Abi hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menekan telinganya dengan kedua tangan.

Ia merasa tidak pantas lagi menatap mata Liana yang suci.

Ia merasa telah menodai pernikahan mereka dengan kebohongan besar ini.

"Aku tidak marah sama kamu, Mas! Aku mohon buka pintunya!" Liana terus memohon, suaranya mulai melemah, terdengar sangat pilu.

"Mas, aku mohon jangan begini. Bicara sama aku."

Hati Abi hancur mendengar permintaan itu. Liana, yang baru saja dikhianati oleh kenyataan pahit, justru masih memikirkan dirinya. Namun, rasa malu dan benci pada diri sendiri membuat Abi tetap membisu di balik pintu yang terkunci.

Ia takut jika ia membuka pintu itu, ia akan melihat sorot kejijikan di mata Liana yang akan benar-benar membunuhnya.

"Liana, maafkan aku," bisik Abi pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri di tengah kegelapan kamar.

"M-mas, a-aku..."

Suara Liana terputus, terdengar sangat lirih dan lemah.

Bunyi tubuh yang bersandar berat pada daun pintu membuat jantung Abi mencelos.

Ketakutan akan kondisi fisik Liana mengalahkan rasa malunya.

Dengan tangan gemetar, Abi memutar kunci dan menyentak pintu terbuka.

Ia tepat waktu menangkap tubuh Liana yang hampir luruh ke lantai.

Wajah istrinya sepucat kapas, napasnya pendek-pendek karena syok yang luar biasa.

"Li! Liana, maafkan Mas. Tolong, jangan seperti ini," isak Abi sambil membawa Liana kembali ke tempat tidur.

Ia berlutut di lantai, menggenggam tangan Liana yang dingin, tidak berani menatap matanya.

"Mas akan ceritakan semuanya. Semuanya," bisik Abi dengan suara parau.

Liana hanya diam, air matanya mengalir tanpa suara, menanti penjelasan yang akan mengubah seluruh pandangannya terhadap pria di hadapannya.

"Kejadiannya saat Mas kuliah di Kanada, Li. Saat itu kamu masih sangat kecil, mungkin masih SD," Abi memulai dengan suara bergetar.

"Mas jauh dari rumah, merasa kesepian, dan Mas sempat tersesat. Mas terjebak dalam pencarian identitas yang salah. Mas bertemu dengan lingkungan yang membawa Mas ke jalan itu. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup Mas, sebuah fase kelam yang Mas sesali setiap detik sejak Mas menyadarinya."

Abi menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekik.

"Genata adalah bagian dari masa lalu itu. Dia punya bukti-bukti, foto-foto, dan rekaman masa kuliah Mas. Dia menggunakan itu untuk mengancam Mas saat Mas kembali ke Indonesia. Dia bilang, dia akan menghancurkan reputasi Mas dan keluarga kalau Mas tidak menikahinya."

Liana memejamkan mata, membayangkan betapa lamanya Abi hidup dalam cengkeraman ancaman.

"Pernikahan Mas dengan Genata adalah neraka. Sampai akhirnya dokter menyatakan Genata tidak bisa hamil. Dia makin gila, Li. Dia tidak mau kehilangan hartanya jika Mas menceraikannya. Lalu dia mulai mengincar kamu. Dia tahu kamu adalah kelemahan terbesar Mas sejak dulu. Dia yang memaksa Mas untuk menikahimu, dia ingin Mas memiliki keturunan darimu agar posisi dia tetap aman di keluarga kita. Dia mengancam akan membongkar rahasia itu padamu jika Mas menolak menikahimu."

Abi menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lutut Liana.

"Mas pengecut, Li. Mas pikir dengan menikahi kamu, Mas bisa melindungimu dari pria lain yang mungkin lebih buruk, sekaligus menjaga rahasia ini agar kamu tidak kecewa. Tapi nyatanya, Mas justru menghancurkanmu paling dalam."

Hening menyelimuti kamar itu. Liana merasa dunianya runtuh, namun di sisi lain, ia melihat seorang pria yang selama bertahun-tahun hidup dalam penjara yang dibuatnya sendiri.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!