NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : KEMBALI KE TANAH DEBU

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Aluna terbangun bukan oleh ketukan kaku pelayan atau jadwal rapat yang padat, melainkan oleh suara kicauan burung gereja di atas atap seng yang bocor. Ia terbangun di atas kasur tipis di rumah kontrakan Bibi Siti. Bau deterjen murah dan asap dapur menggantikan aroma parfum mewah dan lilin aromaterapi yang biasa menemaninya.

Luna menatap langit-langit kamar yang berjamur. Tangannya terasa ringan; tidak ada lagi cincin stempel Seraphine yang berat. Ia telah menyerahkan segalanya kepada Aris semalam kantor pusat, saham, hingga nama belakangnya yang megah.

"Luna? Sudah bangun, Nak?" suara lembut Bibi Siti terdengar dari balik pintu kayu yang berderit.

Luna duduk, merapikan rambutnya yang kini tidak lagi diatur oleh penata rambut profesional. "Sudah, Bi."

Saat keluar dari kamar, ia melihat Bibi Siti sedang menyiapkan nasi uduk di atas meja plastik kecil. Di sudut ruangan, Xavier berdiri tegak. Ia tidak lagi mengenakan jas mahal, hanya kaos hitam polos dan celana cargo, namun aura pelindungnya tetap tidak pudar.

"Xavier," panggil Luna pelan. "Kenapa kamu masih di sini? Aku sudah tidak punya uang untuk membayarmu. Kamu bebas pergi, mencari pekerjaan pada Aris atau siapa pun."

Xavier menatap Luna dengan mata yang kini terlihat lebih manusiawi, tanpa beban tugas dari Madam Celine. "Saya sudah bilang, Nona. Saya tidak mengikuti nama Seraphine. Saya mengikuti Anda. Dan jika Anda ingin makan nasi uduk di pinggir jalan, saya akan memastikan tidak ada yang meracuni nasi Anda."

Luna tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama hilang. "Panggil aku Luna, Xavier. Hanya Luna."

Meskipun Luna merasa bebas, dunia luar tidak membiarkannya tenang begitu saja. Di televisi tua milik Bibi Siti, berita tentang "Pengunduran Diri Mendadak Aluna Seraphine" masih menjadi topik hangat. Media menyebutnya sebagai skandal terbesar tahun ini, menuduh Luna tidak sanggup menanggung tekanan korporasi.

Luna sedang membantu Bibi Siti mencuci piring saat Kevin datang dengan terengah-engah. Wajahnya yang pucat tampak panik.

"Luna! Kamu harus liat ini!" Kevin menyodorkan sebuah tablet murah miliknya.

Di layar itu, terlihat Aris sedang melakukan konferensi pers pertama sebagai CEO baru. Namun, yang membuat Luna membeku adalah apa yang ada di samping Aris. Madam Celine.

Wanita tua itu duduk di kursi roda dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah pengasingannya ke Zurich hanyalah sebuah kesalahan teknis.

"Aris membawa Madam kembali," bisik Kevin. "Dia menjadikannya sebagai boneka untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan kabar buruknya... Aris mengeluarkan pengumuman bahwa kamu dianggap melakukan penggelapan dana sebelum pergi. Mereka sedang menyiapkan surat perintah penangkapan untukmu."

Luna mengepalkan tangannya yang basah oleh busa sabun. "Dia tidak hanya menginginkan perusahaannya, Xavier. Dia ingin menghancurkan pribadiku agar aku tidak pernah bisa kembali."

Xavier langsung waspada, ia memeriksa jendela dan pintu. "Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Rumah ini terlalu terbuka. Aris akan mengirim orang untuk memastikan 'penggelapan' itu berakhir dengan kematianmu di penjara atau di jalanan."

Tanpa membawa harta sedikit pun, hanya beberapa helai pakaian dan foto ibunya, Luna terpaksa melarikan diri lagi. Namun kali ini, ia tidak menuju hotel mewah atau safe house rahasia.

"Kita akan pergi ke tempat yang tidak pernah terdeteksi oleh radar Seraphine," ucap Xavier sambil menyalakan sebuah mobil tua hasil pinjaman Kevin.

"Ke mana?" tanya Luna.

"Kampung nelayan di pesisir utara. Tempat di mana identitas tidak lebih penting daripada hasil tangkapan hari ini. Kita akan menghilang di sana sampai kita menemukan cara untuk membersihkan namamu dari tuduhan Aris."

Saat mobil mulai bergerak meninggalkan pemukiman kumuh itu, Luna menatap keluar jendela. Ia melihat rumah-rumah yang berderet, orang-orang yang bekerja keras hanya untuk makan sehari-hari. Ia menyadari satu hal: meskipun ia kehilangan takhtanya, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Aris atau Madam Celine.

Kesetiaan.

Xavier di sampingnya, Kevin yang rela mempertaruhkan nyawa dengan datanya, dan Bibi Siti yang tetap memeluknya meski ia bukan siapa-siapa lagi.

"Aris mengira dia telah menang karena memiliki gedung-gedung itu," gumam Luna. "Tapi dia lupa... Seraphine yang sesungguhnya bukan tentang bangunan. Ini tentang darah yang mengalir di nadiku. Dan darah ini tidak akan menyerah begitu saja."

Namun, di tengah perjalanan, sebuah truk besar tiba-tiba memotong jalan mereka. Dari balik truk, muncul beberapa motor sport hitam yang sangat mereka kenali.

"Pasukan elit Aris," desis Xavier. Ia menginjak gas dalam-dalam. "Pegangan, Luna. Perjalanan ini baru saja dimulai."

Deru mesin motor sport hitam itu terdengar seperti geraman serigala yang kelaparan di tengah kegelapan malam. Xavier memutar setir dengan kasar, membawa mobil tua mereka masuk ke gang-gang sempit di area pergudangan tua. Ban mobil berdecit hebat, menyebarkan debu dan aroma karet terbakar.

"Xavier! Mereka semakin dekat!" teriak Kevin sambil menatap kaca spion dengan wajah pucat pasi.

"Nona, merunduk!" perintah Xavier.

DOR! DOR!

Dua lubang peluru muncul di kaca belakang mobil. Beruntung, kaca itu tidak pecah berkeping-keping, namun retakannya merambat seperti jaring laba-laba. Luna meringkuk di lantai mobil, memeluk tas kecil berisi foto ibunya. Jantungnya berdegup kencang, namun ada sesuatu yang aneh dia tidak lagi merasa takut seperti dulu. Rasa sakit dikhianati oleh Madam Celine telah membakar semua rasa takutnya.

"Aris tidak main-main," desis Luna di tengah guncangan mobil. "Dia ingin aku mati sebelum pengadilan mosi tidak percaya itu dimulai."

Xavier melihat sebuah celah di antara dua kontainer besar. Dengan perhitungan yang presisi, dia menginjak rem tangan, memutar mobil 180 derajat, dan melepaskan tembakan balasan melalui jendela samping. Satu pengendara motor terpental, motornya menghantam tumpukan kayu hingga meledak.

"Pegangan!" Xavier memacu mobil masuk ke jalan setapak yang menuju ke arah pelabuhan rakyat. Di sana, kegelapan adalah sekutu terbaik mereka.

Setelah berhasil mengecoh para pengejar di labirin kontainer, mereka sampai di sebuah gubuk nelayan yang tersembunyi di balik rawa bakau. Bau amis laut dan suara air pasang menyambut mereka. Xavier mematikan lampu mobil dan mesin, membiarkan kesunyian malam menelan keberadaan mereka.

Luna keluar dari mobil dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia menatap Xavier yang kini sedang memeriksa sisa peluru di senjatanya. Cahaya bulan sabit memantul di wajah Xavier yang penuh keringat dan debu.

"Kenapa, Xavier?" tanya Luna tiba-tiba.

Xavier berhenti bergerak. "Kenapa apa, Nona?"

"Kenapa kamu tidak membawaku kembali saja pada Aris? Dia pasti menjanjikan imbalan yang jauh lebih besar daripada hidup terlunta-lunta seperti ini bersamaku."

Xavier mendekat, berdiri tepat di depan Luna. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau mesiu terasa kuat. "Nona, sejak hari saya melihat Anda di Zurich, saya menyadari satu hal. Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti Aris dan Madam Celine mereka yang memiliki segalanya tapi tidak punya jiwa. Anda... Anda memiliki api yang mereka takuti. Dan saya lebih memilih mati menjaga api itu daripada hidup di bawah perintah orang-orang tanpa jiwa."

Luna terdiam. Untuk pertama kalinya, dia melihat Xavier bukan sebagai asisten, bukan sebagai pengawal, tapi sebagai seorang pria yang menyerahkan hidupnya demi dirinya.

"Terima kasih," bisik Luna. "Tapi mulai sekarang, berhentilah memanggilku Nona. Panggil aku Luna."

Xavier tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda. "Baik, Luna."

Kevin keluar dari mobil sambil memegang laptopnya yang layarnya sudah retak. "Luna, Xavier, aku berhasil masuk ke jaringan internal Seraphine selama pelarian tadi. Ada sesuatu yang kalian harus lihat."

Mereka berkumpul di sekitar layar kecil yang berkedip. Kevin menunjukkan sebuah memo rahasia yang dikirim Aris kepada dewan direksi.

"Aris berencana menjual divisi manufaktur Seraphine ke perusahaan asing minggu depan. Perusahaan itu ternyata adalah perusahaan cangkang miliknya sendiri di Cayman Islands," jelas Kevin. "Dia tidak ingin membesarkan Seraphine. Dia ingin mempretelinya, mengambil uangnya, dan meninggalkan Madam Celine dengan perusahaan yang sudah kosong."

Luna menatap data itu dengan mata yang berkilat tajam. "Jadi itu alasannya dia membawa Madam kembali. Dia butuh tanda tangan Madam untuk menjual aset-aset itu. Dia memanfaatkan kondisi Madam yang sedang lemah."

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Kevin.

Luna berdiri tegak, menatap ke arah laut lepas. "Aris mengira aku sudah tamat karena aku tidak punya uang. Tapi aku punya sesuatu yang lebih kuat: Kebenaran. Kita tidak akan lari terus, Xavier. Kita akan kembali ke Jakarta. Bukan sebagai penguasa, tapi sebagai saksi yang akan membongkar kedok Aris di depan para pemegang saham."

"Tapi Luna, mereka punya tentara bayaran, punya polisi di kantong mereka," ujar Kevin sangsi.

"Mereka punya itu semua," sahut Luna dingin. "Tapi mereka tidak punya rakyat. Besok, aku akan menemui teman-teman lama kita di Pelita Bangsa dan para pekerja manufaktur yang akan di-PHK. Jika Aris ingin perang, kita akan berikan dia revolusi."

Di bawah temaram lampu gubuk nelayan, Luna tidak lagi terlihat seperti pewaris tahta yang rapuh. Ia membentangkan peta Jakarta di atas meja kayu yang lapuk. Di sampingnya, Kevin sibuk meretas frekuensi komunikasi radio tim keamanan Aris, sementara Xavier berjaga di pintu, bayangannya memanjang di atas pasir.

"Kevin, hubungi Maya," perintah Luna tiba-tiba.

Kevin terhenti, jemarinya membeku di atas keyboard. "Maya? Nona maksudku, Luna... dia itu musuhmu. Kamu yang membuat ibunya bangkrut dan mengusirnya dari sekolah."

"Justru karena itu," sahut Luna dingin. "Maya sekarang hidup di jalanan. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya gara-gara sistem Seraphine. Dia punya akses ke lingkaran anak-anak donatur yang kini juga mulai terancam oleh kebijakan pemotongan biaya Aris. Kita butuh mata dan telinga di dalam sekolah dan lingkungan elit."

Tak butuh waktu lama bagi Kevin untuk menyambungkan panggilan. Suara Maya terdengar serak dan penuh ketakutan di seberang sana.

"Luna? Mau apa lagi kamu? Belum cukup kamu menghancurkanku?" tangis Maya pecah.

"Maya, dengarkan aku baik-baik," Luna bicara dengan nada yang penuh otoritas namun ada sedikit empati yang terselip. "Aris Seraphine sedang menghancurkan perusahaan yang membiayai hidup orang tuamu. Jika dia berhasil menjual divisi manufaktur, ibumu tidak akan hanya bangkrut dia akan dipenjara karena hutang piutang yang ditinggalkan Aris. Bantu aku membongkar ini, dan aku janji akan mengembalikan nama baik keluargamu."

Terjadi keheningan panjang. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Maya akhirnya, suaranya kini dipenuhi dendam pada sistem yang sama yang telah menghancurkannya.

Malam semakin larut, namun pergerakan Luna semakin meluas. Melalui koneksi Kevin di dunia siber, Luna mulai menyebarkan dokumen rencana PHK massal Aris ke serikat buruh pabrik Seraphine Global.

Dalam hitungan jam, pesan-pesan berantai mulai meledak di grup-grup percakapan para pekerja. Api kemarahan mulai menjalar di pinggiran kota. Mereka yang selama ini hanya dianggap sebagai angka di laporan keuangan, kini mulai menyadari bahwa "Nona Muda" yang mereka anggap sombong justru sedang berjuang untuk mereka.

"Mobil sudah siap," Xavier masuk ke dalam gubuk. "Kita akan bergerak ke pabrik pusat di Tangerang. Besok pagi, Aris akan melakukan kunjungan inspeksi di sana sebelum menandatangani surat penjualan aset. Itu adalah panggung kita."

Luna menatap pantulan wajahnya di air laut yang tenang melalui celah lantai gubuk. "Xavier, jika besok segalanya gagal... berjanjilah kamu akan pergi sejauh mungkin. Jangan biarkan mereka menangkapmu karena melindungiku."

Xavier mendekat, ia meletakkan tangannya di bahu Luna sebuah gerakan yang sangat tidak formal, namun sangat berarti. "Saya sudah memilih sisi saya, Luna. Dan sisi saya adalah di sampingmu, sampai akhir."

Luna mengangguk pelan. Ia mengambil sebuah kain hitam untuk menutupi wajahnya. Sang Ratu telah mati, dan hari ini, sang Pemberontak lahir.

Fajar menyingsing di cakrawala Jakarta Utara dengan warna merah saga yang mencekam. Sebuah mobil bak terbuka berisi peralatan nelayan melaju tenang menuju kawasan industri Tangerang. Di dalamnya, Luna duduk di antara jaring-jaring ikan, matanya menatap tajam ke arah gerbang pabrik raksasa yang mulai dikepung oleh ribuan buruh yang berdemonstrasi.

Aris Seraphine tiba dengan iring-iringan limusin mewah dan kawalan polisi anti-huru-hara. Ia keluar dari mobil dengan senyum angkuh, mengira bahwa ia bisa menenangkan massa dengan janji-janji kosong.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!" suara Aris menggelegar melalui megafon saat ia berdiri di atas podium darurat. "Saya di sini untuk membawa kemajuan bagi Seraphine Global!"

Tiba-tiba, suara mikrofon Aris berdenging keras. Layar LED besar di depan gerbang pabrik yang biasanya menampilkan iklan produk, kini berganti menampilkan wajah Aluna.

"BOHONG!" suara Luna menggema, memotong pidato Aris.

Seluruh buruh terdiam. Aris tersentak, wajahnya berubah pucat saat melihat sosok Luna muncul dari tengah kerumunan massa. Luna melepas penutup wajahnya, berdiri di atas pagar beton sambil memegang dokumen asli rencana penjualan perusahaan.

"Aris Seraphine bukan datang untuk kemajuan!" teriak Luna ke arah ribuan buruh. "Dia datang untuk menjual keringat kalian dan melarikan uangnya ke luar negeri! Inilah bukti bahwa dia telah mengkhianati Seraphine dan mengkhianati kalian semua!"

Massa mulai meraung. Barikade polisi mulai goyah. Aris berteriak panik ke arah pengawalnya, "TANGKAP DIA! SEKARANG!"

Namun, Xavier sudah lebih dulu berada di depan Luna, menangkis setiap serangan. Di belakang mereka, ribuan buruh mulai merangsek maju. Hari ini, gedung pencakar langit itu tidak lagi bisa melindungi Aris. Badai yang diciptakan Luna telah sampai di depan pintunya.

Konfrontasi terbuka dimulai! Luna berdiri di garis depan bersama rakyat, sementara Aris terpojok di balik kekuasaannya yang mulai goyah. Mampukah Luna merebut kembali Seraphine tanpa bantuan uang, melainkan dengan kekuatan massa? Dan apakah Madam Celine akan tinggal diam melihat cucunya menghancurkan apa yang ia bangun?

🔥 LIKE jika kalian merinding melihat Luna berdiri di atas pagar beton demi para buruh!

💬 KOMEN : Apa menurut kalian yang akan dilakukan Aris untuk membalas Luna? Apakah dia akan menggunakan senjata api untuk membungkam massa?

📢 SHARE Kita butuh dukungan kalian untuk melihat kemenangan rakyat!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!