Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Baru saja Maira menutup pintu apartemen, ponselnya langsung bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nadia. Isinya singkat, tapi sukses membuat kening Maira berkerut. Nadia menyuruhnya agar sesegera mungkin merayu Hazel supaya mau tidur bersama. Alasannya sederhana tapi membuat Maira makin pusing yaitu agar dia cepat hamil.
“Gila… ini benar-benar gila,” gumam Maira sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Pandangannya menatap langit-langit dengan napas berat.
“Gimana caranya itu si suami nya itu mau tidurin aku? Jangan kan malam pertama,habis ijab Kabul aja,itu si suaminya langsung kabur.”
Ia membalikkan badan, menelungkup, lalu memeluk bantal. Perasaannya campur aduk antara kesal, gugup, dan tertekan. Namun di sisi lain, ia tahu dirinya tak punya banyak pilihan.
“Tapi aku harus cari cara,” desahnya pelan.
“Harus.”
Niat Maira akhirnya bulat. Ia menganggap ini sebagai sebuah misi, meski jelas bukan misi yang mudah. Setelah berpikir cukup lama, sebuah ide muncul di kepalanya. Ide klise, tapi menurutnya patut dicoba.
Karena ini masih malam pertama, Maira memberanikan diri mengirim pesan ke Hazel. Ia menulis bahwa kran di kamar mandinya rusak dan airnya tak mau berhenti mengalir. Dalam kepalanya, ia membayangkan adegan seperti di film yang pernah ditontonnya, di mana sang pria terpesona saat melihat wanita yang basah kuyup karena air.
Beberapa menit berlalu tanpa balasan.
Hazel ternyata memilih mengabaikannya. Namun tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Hazel menyuruhnya memanggil tukang ledeng saja.
Maira langsung membalas, menolak halus dengan alasan takut. Ia sendirian di apartemen dan khawatir kalau tukang ledengnya macam-macam. Pesan itu disusunnya dengan hati-hati, dibuat sepolos mungkin.
Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya Hazel menyerah. Ia pulang ke apartemen.
Begitu pintu terbuka, Hazel langsung disambut suara air dari arah kamar mandi. Ia melangkah mendekat dan mendapati Maira sedang sibuk di sana, berpura-pura memperbaiki kran yang sebenarnya sengaja ia rusak sendiri.
“Huft… untung saja Anda datang,” ucap Maira sambil berpura-pura panik.
Tangannya masih menahan bagian kran yang terus mengalirkan air.
“Kalau tidak, bisa banjir ini.”
Hazel hanya menghela napas. Ia meletakkan jasnya di kursi, lalu melipat lengan kemejanya sampai ke siku, khawatir basah. Langkahnya mendekat ke arah Maira.
“Kamu minggir sebentar, biar saya periksa,” katanya singkat.
Begitu Maira melepaskan tangannya, air dari kran langsung muncrat tak terkendali, mengenai mereka berdua. Maira refleks memekik kecil, sementara Hazel kelabakan menahan aliran air itu.
Kini Hazel yang menahan kran, sedangkan Maira berdiri di sampingnya, berpura-pura kikuk. Ia sengaja mengenakan pakaian berwarna putih yang kini menempel di tubuhnya karena basah. Rambutnya ikut lembap, menambah kesan berantakan yang ia harap terlihat menarik.
Hazel sempat terpaku sesaat. Namun dengan cepat ia memalingkan wajah, jelas berusaha menjaga diri.
Maira yang merasa rencananya mulai berjalan, perlahan mendekat. Wajahnya ia dekatkan ke arah Hazel, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Bisa nggak diperbaiki?” tanyanya polos.
Jarak sedekat itu membuat Hazel gugup. Tangannya yang menahan kran refleks dilepaskan begitu saja, membiarkan air kembali muncrat, kali ini lebih banyak mengenai Maira. Hazel buru-buru keluar dari kamar mandi, mengambil jubah mandi, lalu kembali lagi.
“Kamu ke sini,” perintahnya singkat sambil berdiri di dekat pintu kamar mandi.
Maira menurut, melangkah mendekat dengan harapan yang masih tersisa. Namun alih-alih menyentuhnya seperti yang ia bayangkan, Hazel justru memakaikan jubah mandi itu ke tubuh Maira dengan gerakan cepat.
“Aurat,” ucap Hazel tegas.
Ia lalu mendorong Maira keluar dari kamar mandi dengan lembut tapi pasti. Setelah itu, Hazel kembali ke dalam untuk memperbaiki kran yang rusak, seolah tak terjadi apa-apa.
Maira berdiri di luar kamar mandi sambil menghela napas panjang. Bahunya merosot, semangatnya ikut luruh.
Rencananya gagal total.
Ide menggoda Hazel dengan adegan ala film ternyata sama sekali tidak mempan.
-
-
Kran itu akhirnya berhasil diperbaiki Hazel. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih meneteskan air, kemejanya basah kuyup menempel di tubuh. Wajahnya terlihat lelah, tapi fokusnya tetap terjaga.
Maira yang sudah lebih dulu berganti pakaian berdiri di ambang pintu. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan jubah mandi yang masih kering ke arah Hazel.
Hazel menerimanya dengan anggukan singkat, lalu masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian, ia berdiri terpaku di depan lemari. Alisnya berkerut.
Di dalam lemari itu, semua pakaiannya tersusun rapi. Kemeja, celana, kaus, bahkan pakaian dalamnya tertata dengan sangat rapi, seolah sudah lama menempati tempat itu.
"Gak usah bingung! Semuanya udah dipersiapkan istri anda!" ucap Maira yang berdiri di depan pintu kamar lalu pergi begitu saja.
Hazel menghela napas panjang, entah lega atau justru makin bingung dengan gerakan-gerakan yang dilakukan Nadia terhadap dirinya.
Setelah berganti pakaian, ia melangkah ke ruang tengah. Maira terlihat duduk santai di sofa, tertawa kecil menonton acara televisi, seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Kamu sengaja, ya, ngerusak krannya?” tanya Hazel tiba-tiba. Nada suaranya tenang, tapi serius.
Maira menoleh cepat.
“Anda nuduh?” sahutnya dengan nada sewot.
“Saya nggak nuduh,” jawab Hazel datar.
“Tapi semua itu masih baru. Dan tiba-tiba rusak.”
“Lah, mana saya tahu,” balas Maira sambil mengangkat kedua bahunya, pura-pura santai sambil mencari ide selanjutnya untuk menggoda hazel.
Beberapa detik kemudian, tanpa aba-aba, Maira bergeser dan duduk tepat di samping Hazel. Jarak mereka kini nyaris tak berjarak. Maira tersenyum kecil, jelas punya niat lain.
Hazel langsung menoleh, menatapnya heran.
“Kamu mau apa?”tanyanya bingung.
Maira memiringkan kepala, lalu mengedipkan satu mata dengan senyum menggoda.
“Sentuh adek dong, Bang!!”
Belum sempat Maira berharap lebih jauh, Hazel justru mendorong bahunya pelan tapi tegas. Ia berdiri dan memilih duduk di sofa lain, menjaga jarak.
“Jangan aneh-aneh kamu,” ucap Hazel serius.
“Saya belum siap untuk menyentuh kamu. Dan mungkin tak akan pernah siap.”
“What?” Maira terperangah. Matanya membulat, benar-benar tak menyangka.
Rencananya untuk memaksa keadaan kembali gagal total. Maira bersandar ke sofa, menghela napas panjang dengan kesal. Ternyata meluluhkan seorang Hazel jauh lebih sulit dibanding menggoda para pria yang dulu sering ia hadapi. Hazel bukan tipe yang bisa tumbang hanya dengan godaan singkat dan senyum manis.