'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pertunangan
"Ayo sekarang kita makan dulu, ya. Elio, Nenek membuatkan buntut goreng kesukaan Elio. Ayo makan dulu," kata Mama Febi ikut bicara. Rasanya tidak pantas membiarkan tamunya berlama-lama berdiri tanpa memberikan hidangan.
"Mari, Tuan Johan. Kita makan dulu setelah itu kita adu kemampuan," kata Papa Yusuf. Ucapannya sudah seperti mengenal sangat lama. Mereka sudah berencana bermain catur bersama.
"Ayolah, gas. Saya juga sudah lapar," sahut Papa Johan.
"Papa, jangan malu-maluin," bisik Mama Sinta.
"Dengar buntut goreng Papa jadi lapar, Ma" jawab Papa Johan berbisik pula.
Lalu semuanya pergi ke ruang makan. Tomi pun ikut bersama. Zahra membantu Zafirah mendorong kursi roda. Ia bertanya apa Zafirah tau semua ini dan Zafirah menjawab iya.
Zafirah bercerita jika sebenarnya kedua orang tua Zafran melamar Zahra pada Papa Yusuf dan Mama Febi. Namun keduanya tidak bisa memutuskan sebab tidak tau keputusan dari Zahra sendiri.
Akhirnya Zafran memiliki ide untuk melamar Zahra dihadapan semua orang tua namun mereka harus bersembunyi agar Zahra tidak merasa malu.
"Kamu dan dia sangat cocok," kata Zafirah diakhir bercerita.
Zahra hanya tersenyum. Kemudian merendahkan tubuhnya dan berbisik di telinga Zafirah. "Aku berharap tidak lama lagi kamu bisa menemukan laki-laki yang tulus mencintaimu," ucap Zahra.
Zafirah tersenyum. Dalam hati ia mengaminkan doa Zahra. Sekarang ia tidak marah lagi apabila ada yang berkata demikian. Mungkin inilah definisi sudah memaafkan dirinya sendiri.
Sepintas bayangan wajah Rayan melintas di benaknya. Lalu perlahan hilang membayangkan mereka tidak bisa bertemu lagi.
"Wah makanannya banyak sekali, jeng. Harusnya tidak perlu serepot ini," kata Mama Sinta pada Mama Febi. Mereka duduk berdekatan.
"Tidak kok, jeng. Saya tidak tau kalian suka apa jadi hanya memasak ala kadarnya," jawab Mama Febi merendah agar tidak membuat Mama Sinta sungkan.
Lalu mereka semua duduk dan makan. Elio sangat manja pada Zahra dan Zahra pun tidak keberatan memperhatikan Elio hingga membuat Zafran menatapnya iri.
"Jangan iri sama anak sendiri. Tenang ini masih permulaan. Nantinya akan lebih dari ini," goda Papa Johan dan disambut tawa yang lainnya.
"Jangan bertengkar dengan Elio, Bang," sambung Tomi terkekeh geli. Zafran hanya melirik tajam.
Sesudah makan mereka pindah ke ruang tamu agar lebih nyaman untuk membahas rencana pertunangan Zafran dan Zahra.
"Bagaimana kalau tidak usah bertunangan. Langsung menikah saja," usul Zafran yang mendapatkan tatapan aneh dari keempat orang tua.
"Oh harus bertunangan ya. Yasudah kalau begitu," katanya lagi saat merasa ngeri dengan tatapan mereka.
"Bang, Mama tau kamu ingin segera menghalalkan Zahra. Tapi akan lebih baik jika kalian bertunangan dulu agar Zahra merasa nyaman dan dihargai," kata Mama Sinta.
"Benar, nak. Tidak perlu mewah, sederhana saja" sambung Mama Febi.
Akhirnya Zafran setuju untuk bertunangan dengan Zahra. Dan acaranya dua hari lagi. Sedangkan untuk pernikahan akan diadakan satu bulan lagi setelah pernikahan Tomi.
Papa Johan sekalian mengundang Papa Yusuf dan Mama Febi serta Zahra untuk menghadiri pernikahan Tomi satu minggu lagi. Tomi sudah tidak memiliki orang tua. Dan karena Tomi adalah anak dari saudara jauh Mama Sinta, jadi kedua orang tua Zafran sudah menganggap Tomi sebagai anak mereka.
"Baiklah, kami akan datang. Zafirah juga akan menjadi bridesmaid kan," ujar Papa Yusuf.
Setelah semuanya selesai diputuskan, Papa Yusuf dan Papa Johan bermain catur di depan rumah. Sedangkan dua mama sedang mengobrol membahas konsep pernikahan sekaligus menemani Elio menonton televisi. Tomi sudah pulang duluan lalu Zafran dan Zahra mengobrol di ruang tamu.
"Aku tidak menyangka hari ini akhirnya tiba," kata Zafran menatap lembut Zahra.
"Saya.."
"Jangan terlalu formal sama calon suami," tegur Zafran dan Zahra mengangguk dengan malu-malu.
"Aku juga tidak menyangka jika akhirnya ada yang mau menerimaku. Tapi apa mamanya Mas tau keadaan ku ?" tanya Zahra mulai panik.
"Tau. Jangan terlalu panik, sayang. Tidak akan ada yang menuntut apapun dari kamu. Kamu hanya perlu menjadi menjadi istriku saja. Dan jika tidak keberatan, bisakah kamu menyayangi Elio seperti anak kamu juga ?"
"Kenapa masih bertanya. Sebelum dekat dengan Mas aku sudah menyayangi Elio," kata Zahra. Dan Zafran tersenyum. Ia juga suka panggilan baru yang disematkan Zahra untuknya.
"Tapi bisakah tidak memanggilku sayang ?" tanya Zahra pelan. Ia merasa malu saat mendengarnya.
"Lalu aku harus memanggil apa ?" tanya Zafran menggoda Zahra. Ia duduk semakin dekat dengan Zahra dan membuat Zahra berpindah.
'Dia sungguh menjaga dirinya seperti gadis saja,' Zafran tertawa dalam hatinya.
..
Mama Lina masuk ke dalam kamarnya dengan berurai air mata. Dadanya terasa sesak saat membayangkan jika Zahra sebentar lagi akan dimiliki orang lain dan akan memiliki mertua baru.
"Sudah, Ma. Jangan menangis terus. Nanti Mama sakit," kata Santi mengelus punggung Mama Lina.
"Mama tidak bisa membayangkan jika Zahra memiliki mertua lain, San. Mama menyayangi Zahra," tangis Mama Lina semakin kencang.
Santi hanya menghela nafas panjang. Mau bagaimana lagi, mamanya sungguh menyayangi Zahra sepenuh hati. Pasti ada rasa tidak rela juga melihat orang lain menjadi mertuanya.
Sebenarnya, Mama Lina dan Santi tadi dari rumah Zahra sekedar bersilaturahmi seperti biasanya. Namun kali ini kedatangan mereka tidak tepat karena bertepatan dengan datangnya Zafran dan keluarganya.
Pak Adi memberitahu Mama Lina dan Santi jika saat ini keluarga Papa Yusuf sedang menerima tamu penting. Dari dalam mobil, dapat mereka lihat jika ada seorang pria yang berlutut memberikan sebuah cincin pada Zahra. Sebenarnya Mama Lina ingin turun dan memastikan, namun Santi mencegahnya dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Papa Yusuf.
"Biarkan Kak Zahra menikah, Ma. Biarkan dia bahagia. Aku yakin Kak Zahra masih menyayangi Mama," kata Santi membujuk Mama Lina agar berhenti menangis.
"Iya, San iya. Mama juga senang kalau Zahra dapat laki-laki yang lebih baik dari kakakmu. Tapi rasanya Mama masih sedih. Sudah sana kamu keluar. Mama mau tidur saja," Ujar Mama Lina mengusir Santi.
Santi menurut saja. Mamanya sangat terbawa perasaan jika menyangkut Zahra. Sama halnya seperti saat Aditya mengungkapkan dosanya yang sudah tidur dengan Nadia, Mama Lina menangis hingga dua hari dan berakhir di Rumah Sakit karena darah tinggi nya kambuh.
"Santi ada diluar kalau Mama butuh sesuatu," kata Santi kemudian menutup pintu.
Lalu ia menghubungi kakaknya, Amelia agar datang dan menginap disini untuk menjaga Mama Lina. Barangkali jika ada cucu-cucunya membuat Mama Lina terhibur.
..
Habis baca tinggalkan jejak ya😁🤩
karma tak Semanis kurma rasakno.
naudzubillah min dalik. mau seneng diatas derita wanita lain oh tidak bisa.
kalian mulai dng zina kn ya rasakno.
gk kasian juga kesel
harus gmna akuuuuuu😌🤣🤣🤣🤣