NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Panggilan Sekolah

Tiga hari setelah kejadian foto kedua tersebar.

Sore itu, Arya pulang kerja lebih cepat dari biasa.

Begitu masuk rumah, dia ngeliat Luna duduk di ruang tamu. Wajahnya... pucat. Mata merah. Tangan gemetar pegang selembar kertas.

"Bu... ada apa?" tanya Arya sambil jalan mendekat.

Luna... ngeliat Arya dengan mata berkaca-kaca. Nyodorin kertas itu.

"Surat... dari sekolah Aruna..."

Arya ambil kertas itu. Baca.

---

**SURAT PANGGILAN ORANG TUA/WALI**

**Kepada Yth.**

**Bapak/Ibu Orang Tua/Wali dari:**

**Nama: Aruna Pratama**

**Kelas: XI IPA 1**

Dengan hormat,

Bersama surat ini, kami mengundang Bapak/Ibu/Wali untuk hadir dalam pertemuan dengan pihak sekolah terkait kondisi dan perkembangan peserta didik kami.

**Hari/Tanggal: Jumat, 18 Oktober 2024**

**Waktu: 09.00 WIB**

**Tempat: Ruang Kepala Sekolah**

Kehadiran Bapak/Ibu/Wali sangat kami harapkan. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

Hormat kami,

**Kepala SMA Negeri 3 Bandung**

**Drs. Hendra Wijaya, M.Pd.**

---

Arya... menatap surat itu lama.

Tangannya... mengepal. Rahangnya mengeras.

"Mereka... mereka mau ngapain sih sebenernya..." gumamnya marah.

Luna... nangis. "Arya... apa yang harus kita lakukan... apa yang salah Aruna... kenapa dia terus... terus jadi sasaran..."

Arya... memeluk ibunya. "Tenang, Bu. Gue bakal ke sana. Gue bakal jelasin semuanya."

"Tapi... tapi Ayah kamu... dia lagi di luar kota... dia nggak bisa pulang cepet..."

"Gue telepon Ayah sekarang. Ini penting. Ayah harus pulang."

---

Malam itu.

Arya telepon Arjuna Pratama, ayahnya.

Cowok paruh baya itu lagi di Jakarta. Urusan kerjaan.

"Ayah, ini Arya. Ada masalah serius. Aruna dipanggil ke sekolah. Orang tua harus dateng besok pagi."

"Masalah apa?" suara Arjuna terdengar khawatir.

"Panjang ceritanya, Yah. Tapi intinya... Aruna di-bully parah di sekolah. Udah sampai nyebar foto fitnah. Dan sekarang... sekolah manggil kita."

Jeda.

"Ayah pulang sekarang. Tunggu Ayah sampai besok pagi."

"Terima kasih, Yah."

---

Jumat pagi.

Jam delapan.

Arjuna sampai rumah. Wajahnya... lelah. Tapi matanya... penuh kekhawatiran.

"Aruna mana?" tanyanya begitu masuk.

"Di kamar. Belum keluar dari tadi pagi," jawab Luna.

Arjuna naik ke kamar Aruna. Ngetuk pintu. "Aruna, ini Ayah."

Nggak ada jawaban.

Arjuna buka pintu pelan.

Aruna... rebahan di kasur. Ngeliat langit-langit dengan tatapan kosong.

"Aruna, sayang... Ayah pulang. Kita ke sekolah bareng ya," kata Arjuna lembut sambil duduk di tepi kasur.

Aruna... noleh pelan. Ngeliat ayahnya.

"Ayah... maaf... maaf Aruna jadi masalah..." bisiknya pelan.

Arjuna... memeluk anaknya. Erat. "Kamu nggak pernah jadi masalah, sayang. Ayah janji... Ayah bakal lindungi kamu."

---

Jam sembilan.

Keluarga Aruna sampai di sekolah.

Arjuna, Luna, Arya, sama Aruna.

Mereka jalan ke ruang kepala sekolah. Ketuk pintu.

"Masuk," suara dari dalam.

Mereka masuk.

Pak Hendra duduk di meja kerjanya. Di sampingnya ada Bu Sari, guru bimbingan konseling.

"Selamat pagi, Pak, Bu. Silakan duduk," kata Pak Hendra sambil nunjuk kursi di depan mejanya.

Mereka duduk.

Aruna... duduk paling pojok. Kepala nunduk. Tangan gemetar di pangkuan.

"Terima kasih sudah datang. Kami ingin membicarakan kondisi Aruna," kata Pak Hendra dengan nada formal tapi... ada sesuatu di nadanya yang... menyalahkan.

"Ada apa dengan anak saya?" tanya Luna, suaranya bergetar.

Pak Hendra ngeliat catatan di mejanya. "Belakangan ini, Aruna menjadi... pusat dari beberapa masalah di sekolah. Ada rumor yang tersebar, ada konflik dengan siswa lain, bahkan ada perkelahian yang melibatkan temannya."

Arya... langsung marah. Tangannya mengepal. "Aruna itu KORBAN! Dia di-bully! Dia disebarin foto yang memfitnah! Kenapa yang dipanggil keluarganya, bukan keluarga pelaku bully?!"

Pak Hendra... ngeliat Arya dengan tatapan tenang tapi... dingin. "Kami sudah memanggil pihak-pihak terkait juga. Tapi kondisi Aruna saat ini... kami khawatir dia... mengganggu lingkungan belajar siswa lain."

"MENGGANGGU?!" Arjuna ikut marah. Suaranya keras. "Anak saya jadi korban, malah dibilang mengganggu?! Ini nggak masuk akal!"

"Kami memahami posisi Bapak dan Ibu," kata Bu Sari dengan nada lebih lembut. "Tapi kami juga harus memikirkan siswa-siswa lain. Kondisi Aruna yang... yang sering bolos, sering nangis di kelas, bahkan pingsan kemarin... itu membuat siswa lain terganggu."

Luna... nangis. "Dia bolos karena dia takut! Dia nangis karena dia disakiti! Kenapa... kenapa sekolah nggak ngelindungi dia?!"

Pak Hendra menghela napas panjang. "Kami sudah berusaha, Bu. Kami sudah memanggil siswa yang terlibat. Kami sudah kasih sanksi. Tapi... rumor di luar kendali kami. Dan kondisi Aruna... kami rasa..."

Jeda.

"Mungkin akan lebih baik jika Aruna mengambil cuti sementara dari sekolah. Untuk kesehatan mentalnya juga."

Deg.

Semua orang di ruangan itu... terdiam.

Arjuna... menatap Pak Hendra dengan mata terbuka lebar. "Jadi... anak saya yang harus pergi? Bukan pelaku bully-nya?"

"Ini untuk kebaikan Aruna juga, Pak," kata Pak Hendra. "Kami sudah berkonsultasi dengan psikolog sekolah, dan mereka menyarankan Aruna istirahat dari lingkungan yang membuatnya tertekan."

Arya... berdiri. Napasnya ngos-ngosan. "Ini... ini nggak adil! Ini... ini nyalahin korban!"

"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, Mas. Kami hanya memikirkan yang terbaik untuk semua pihak."

"YANG TERBAIK?!" Arya hampir teriak. "YANG TERBAIK ITU USIR PELAKU BULLY-NYA! BUKAN KORBANNYA!"

"Arya, duduk," kata Arjuna tegas.

Arya... duduk lagi. Tapi tangannya masih gemetar.

Luna... nangis terus. Nggak berhenti.

Aruna... cuma diam. Ngeliat lantai. Nggak ngerasain apa-apa lagi.

---

Sepuluh menit kemudian.

Keluarga Aruna keluar dari ruangan itu.

Dengan perasaan... hancur.

Nggak ada yang ngomong.

Mereka jalan ke mobil. Masuk.

Arjuna nyetir. Luna duduk di sebelahnya. Arya sama Aruna di belakang.

Nggak ada yang ngomong.

Cuma... suara mesin mobil yang pelan.

Aruna... duduk di kursi belakang. Ngeliat keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Maafin Aruna, Ma... Pa... Kak..." bisiknya pelan.

Luna noleh. "Aruna... sayang..."

"Aruna jadi memalukan keluarga..." lanjut Aruna dengan suara yang... mati.

"Jangan bilang gitu, sayang! Ini bukan salah kamu!" kata Luna sambil nangis.

Tapi Aruna... nggak dengerin.

Dia udah... terlalu jauh tenggelam dalam kegelapannya sendiri.

---

Aruna merasa dia telah merusak segalanya.

Keluarganya.

Masa depannya.

Hidupnya sendiri.

Dan pikiran itu... semakin mengakar.

Semakin dalam.

Semakin... berbahaya.

Karena saat seseorang percaya... bahwa dia adalah masalah...

Satu-satunya solusi yang dia lihat...

Adalah menghilangkan dirinya sendiri.

---

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!