Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kau Mencintainya?
Dea seketika mematung. Apa dia tak salah mendengar barusan? Jayden mengakhiri hubungan dengannya.
"Jayden, kau nggak bercanda kan?" Jika tadi Dea tampak emosi dan bertanya dengan nada tinggi, tapi sekarang suaranya terdengar rendah, bergetar sedikit.
Jayden membuang napas kasar setelahnya. "Aku lagi nggak bercanda Dea."
"Kenapa? Apa alasan kau memutuskan aku?" tanya Dea lagi, mencoba menahan agar air matanya tak tumpah.
Lagi, lagi hembusan napas berat keluar dari hidung mancung Jayden. "Alasan paling utama aku sudah menikah, dan alasan kedua sikapmu membuat aku muak," katanya, jujur.
Langsung meluruh air mata Dea. Jawaban Jayden membuat dia baru sadar jika sifatnya menjadi alasan Jayden memutuskan hubungan dengannya.
"Jadi benar, kau sudah menikah dengan Casey?" tanyanya, memandang wajah tampan Jayden lekat-lekat.
Melihat air mata Dea, sejujurnya Jayden tak sanggup. Namun, dia sudah menikah dan telah berjanji pada seseorang. Dia tak mau melukai hati Casey lagi, apalagi Casey kemarin sempat sakit.
"Benar, aku sudah menikah dengan Casey beberapa hari yang lalu, sekarang keluarlah Dea, kebenaran ini memang menyakitimu maka dari itu aku minta maaf karena melukaimu." Setelah berkata demikian, Jayden memutuskan duduk kembali sambil mengalihkan pandangan ke lain arah.
Hawa di ruangan mendadak hening. Dea makin syok, air mata tak berhenti mengalir sejak tadi.
Dea bingung harus memberi reaksi apa. Sebab hatinya terasa amat perih, seolah-olah ada benda tajam mengoyak-oyak dadanya sekarang.
Dea tak menyangka, pria yang sangat dia cintai ini, akhirnya memutuskan hubungan dengannya. Padahal Dea sudah memiliki mimpi membangun rumah tangga bersama Jayden, bahkan pernah berimajinasi mempunyai anak dari Jayden nanti.
Bertahun-tahun dia mencoba menjadi wanita lemah lembut agar dicintai Jayden. Dulu, berdasarkan informasi dari teman kuliahnya Jayden menyukai wanita penurut dan lemah lembut. Jadi, untuk mendapatkan hati Jayden, Dea akhirnya mengubah kepribadiannya. Selama ini Dea menggunakan topeng di wajahnya. Meskipun sulit, tapi akhirnya Jayden luluh juga padanya.
Dea perlahan menghentikan tangis lalu mulai mengelap air mata.
"Tunggu sebentar, sebelum aku keluar, boleh aku bertanya sesuatu?"
Melihat Dea sudah tenang, Jayden segera melirik ke depan. "Boleh, tanyalah asal setelah kau mendapatkan jawaban dariku, kau nggak marah-marah lagi seperti tadi."
Dea tersenyum hambar. "Ya, aku akan mencoba tenang."
"Hmm, tanyalah, waktumu 15 menit, sebentar lagi aku harus siap-siap pergi ke ruang OK," jawab Jayden, bersiap-siap mendengar pertanyaan Dea yang mungkin akan ada ledakan di ruangan sebentar lagi.
Akhir-akhir ini Jayden pun dibuat keheranan dengan sikap Dea, mengapa wanita yang dulunya penurut, lemah lembut dan jarang marah, kini berubah 360 derajat.
"Apa kau mencintai Casey?"
Sebuah pertanyaan pendek itu, membuat mata Jayden tiba-tiba berkedip pelan. Lelaki itu tak langsung menjawab, malah menatap Dea dengan kening berkerut samar.
Jayden pikir Dea akan bertanya "kapan kalian menikah?" atau pertanyaan lain "mengapa kau tidak memberitahu aku?"
Waktu itu Jayden punya alasan tersendiri tidak memberitahu Dea. Dia tak mau melukai perasaan Dea. Jayden berencana membuat Casey tidak tahan dengan sikapnya lalu mengugat cerai dirinya sehari atau setelah dua hari menikah. Dan setelah jadi duda, Jayden akan menikahi Dea, begitu pikir Jayden.
Namun, rencana Jayden sepertinya tidak akan tercapai. Sebab perasaannya kini telah berubah. Casey, diam-diam mengambil separuh jiwanya.
Kapan Jayden mulai sadar akan perasaannya? Kemarin, saat Casey jatuh sakit karena alergi. Wanita itu membuat hatinya gelisah.
"Jayden?" Di balik diamnya Jayden, Dea merasa ada harapan bisa merebut kembali hati Jayden. "Kenapa kau nggak menjawab pertanyaanku?"
"Aku mencintai Casey. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan, kalau nggak ada, silakan keluar," kata Jayden. Merasa ada yang aneh dari sikap Dea sekarang, seolah-olah dia sedang menghadapi dua orang yang berbeda.
Dea tersenyum meringis. "Oh baguslah, aku senang mendengarnya."
Jayden mengangguk samar lalu beranjak dari kursi hendak bersiap-siap, mengabaikan Dea yang masih berdiri di depannya sambil memperhatikan Jayden sejak tadi.
"Keluarlah Dea, aku harap kau bisa menerima kalau aku sudah menikah." Tanpa menatap lawan bicara Jayden membuka jam tangan.
"Aku sudah menerima kok, tapi kita masih bisa temanan kan, aku nggak bisa langsung melupakanmu," kata Dea, dengan pelan menghampiri Jayden.
Jayden mengerutkan dahi saat menyadari Dea sedang bergerak ke arahnya sekarang. Perlahan, memandang ke depan. "Bisa, ada apa?"
Tak ada jawaban. Dengan jarak satu meter, Dea justru melempar senyum kecil. Jayden makin kebingungan, lalu melirik ke bawah meja hendak meletakkan jam tangan.
"Keluar–hei Dea!" Jayden dibuat terkejut Dea tiba-tiba memeluknya.
"Jayden sebagai perpisahan kita, aku mau memelukmu sebentar saja."
Secara bersamaan Casey membuka pintu, dadanya langsung remuk redam saat melihat pemandangan di depan. Dalam sekejap dia menutup pintu lagi dan melenggang pergi dari ruangan dengan sangat cepat.
Bruk!
"Jangan gila Dea!"